
Di sebuah kamar Dinda, duduk termenung di atas ranjang tidurnya. Wajahnya terlihat pucat sangat pucat. Bibir ranumnya kering, matanya menerawang entah kemana. Kondisi Dinda, saat ini begitu lemah.
Asih, muncul dari balik pintu. Kedua tangannya membawa sebuah nampan yang berisi satu mangkuk dan segelas air putih. Nampan itu Asih, letak 'kan di atas nakas samping tempat tidurnya. Lalu, mendaratkan bokongnya pada bibir ranjang.
"Bagaiman keadaanmu?" tanya Asih, dengan rasa cemas.
"Dinda, baik-baik saja Bu. Hanya sedikit pusing saja."
"Apa yang sudah terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu pulang dalam keadaan sakit?"
Dinda, masih diam belum enggan menjawab.
"Tidak biasanya kamu mendadak sakit seperti ini. Mungkin karena kamu terlalu lelah menjaga Syena, saat di rumah sakit. Dan sekarang kamu yang sakit." Tambah Asih.
"Dimana Syena, ibu?" Bukannya menjawab pertanyaan yang Asih, lontarkan. Dinda, malah kembali bertanya.
"Syena, bersama Karin, di kamarnya. Ibu sempat bingung menjaga kalian berdua. Beruntung Karin, mendatangkan dokter untukmu dan sekarang Karin, sedang ada di kamar Syena," jelas Asih.
"Ibu!" panggil Dinda, sedikit tertahan dengan tatapan matanya yang kosong.
"Ibu pernah bilang, apa yang akan aku lakukan jika bertemu dengan ayah. Apa Ibu sudah bertemu dengannya? Itu sebabnya Ibu bertanya seperti itu?" tanya Dinda, yang melirik Asih.
Asih, menjadi gugup dan salah tingkah. Hingga menghindari pertanyaan Dinda, pada satu nampan yang sempat di bawanya tadi.
"Lebih baik kamu makan dulu." Asih, mengalihkan pembicaraan kedua tangannya mengambil satu piring yang ada di atas nakas. Hingga perkataan Dinda, menghentikan kedua tangannya itu membuat Asih, tertegun.
"Aku bertemu dengannya. Di perusahaan."
Dinda, menunduk sedih. Bulir air mata mulai menetes pada sudut kelopak matanya. Asih, langsung menatap putrinya dalam diam.
"Aku pikir hati ini tidak akan sakit jika bertemu dengannya. Dan yang paling lebih menyakitkan. Wanita yang selama ini menghancurkan hidupku ternyata adikku sendiri. Bahkan aku melihat mantan suamiku di sana."
Hati Asih, semakin sesak ketika mendengar penuturan kata dari putrinya. Bendungan air matanya kini sudah tidak tertahan lagi.
"Apa hidup ini kutukan Ibu?"
Dengan berderai air mata Asih, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sedih, itu yang ia rasakan saat ini. Tidak pernah menyangka jika Dinda, akan bertemu Fras, secepat ini. Bahkan, Asih berusaha menutupi, melarang Rey, bertemu Syena. Semua ia lakukan agar Dinda, tidak mengetahui siapa Velove, sebenarnya.
"Apa kutukan ini juga akan berlaku untuk Syena? Katakan Ibu! Apa Syena, juga akan mengalami hal ini?"
__ADS_1
Sakit! Hati Asih, semakin sakit. Mengingat Dinda, menganggap pernikahannya hanya sebuah kutukan.
Pernikahannya dengan Fras, harus berakhir karena seorang wanita. Dan sekarang anak wanita itu juga merebut suami anaknya, menghancurkan kehidupannya. Hingga Dinda, berpikir jika ini sebuah kutukan dan takut terjadi pada putrinya sendiri.
"Dinda, tidak ingin Syena, mengalami hal yang sama Bu! Apa Syena, tidak bisa bahagia? Cukup Dinda, Bu yang mengalami semua ini. Cukup Dinda!"
Tangisan Dinda, pecah.
"Tidak Dinda, jangan katakan ini kutukan. Syena, tidak akan mengalami semua ini. Percayalah Syena, akan hidup bahagia. Pasti … itu pasti."
Asih, terisak. Kedua tangannya langsung memeluk tubuh Dinda, yang bergetar karena isakan tangisnya. Di ujung pintu Karin, diam berdiri melihat drama keluarga yang temannya alami.
Sebagai sahabat Karin tidak pernah tahu tentang kehidupan Dinda, yang ternyata sangat pahit dan penuh luka. Tidak bisa di bayangkan adiknya sendiri yang merebut suaminya.
"Aku pikir kisah cintaku yang berakhir luka. Ternyata kehidupan mereka lebih dari sekedar luka." Lirih Karin, dengan punggung yang bersandar pada pintu.
****
Di tempat lain Danu, memberikan beberapa lembar foto dan berkas. Pada Fras, yang duduk di kursi kerjanya.
Di ambilnya lensa mata berbentuk kotak, dengan kedua sisi berwarna hitam, di pasangkannya pada wajahnya untuk menutup matanya. Setelah memakai kaca mata itu Fras, langsung mengambil beberapa foto dan berkas yang Danu, tunjukkan.
"Saya sudah menghubunginya dia membenarkan semua itu. Dan ini data tempat tinggalnya. Mereka tinggal di apartemen xxx jalan xxx tepat di seberang Miranda Grup," sambung Danu.
"Aku sempat mengunjungi apartemen itu. Namun, tidak bertemu dengan mantan istri dan putrimu. Jadi saya hanya mengambil beberapa gambar yang mungkin anda perlukan." Danu menjelaskan.
Fras, sedetik tertegun dan melamun. Punggungnya bersandar pada kursi, kepalanya ia dongak 'kan ke atas langit-langit kamar. Entah apa yang sedang di pikirkannya.
"Seperti apa kehidupan mereka selama ini? Apa mereka kesulitan sehingga tinggal di apartemen itu."
Fras, mendadak sedih saat melihat foto sebuah apartemen. Yang menurutnya tidaklah mewah memang itu kenyataannya. Karena apartemen yang Dinda, huni tidak mempunyai fasilitas seperti lift, dan hanya menggunakan tangga untuk menempuh perjalanan ke atas gedung, yang di gunakan untuk menaiki dan menuruni apartemen.
"Maafkan aku Asih. Maafkan Ayah Dinda," gumamnya penuh penyesalan.
"Satu informasi lagi yang belum saya sampaikan. Dinda, ternyata sudah menikah dan memiliki anak tapi … dia sudah bercerai dengan suaminya."
"Siapa nama suaminya? Kenapa mereka bercerai?" tanya Fras. Namun Danu, tidak mengetahuinya. Lebih tepatnya tidak mencari tahu tentang pernikahan Dinda, karena baginya itu tidak penting.
"Maaf Pak, soal itu saya tidak mencari tahu."
__ADS_1
Fras, membuang nafas kasar.
"Ya sudah, kamu boleh pergi. Terima kasih atas informasi yang sudah kamu berikan."
"Sama-sama Pak. kalau begitu saya pamit."
"Tunggu Danu!" ucapan Fras, menghentikan langkah Danu, yang ingin pergi.
"Iya pak?" tanya Danu, yang berbalik menghadap Fras.
"Bagaimana informasi tentang Rey? Apa kamu sudah mencari tahu tentang keluarga dan kehidupannya dulu?"
"Maaf Pak, saya belum mencari tahu lebih lanjut. Yang saya tahu Rey, dulu bekerja di perusahaa industri bersama nona Velove. Dia menjabat sebagai manajer dan putri anda sebagai asistennya," jelas Danu.
"Lalu soal perceraian itu? Apa kamu tahu mantan istrinya?"
"Maaf Pak, saya belum mencari tahu. Tapi … saya dengar pengacara Maudy yang membantu kasus persidangannya saat itu. Apa perlu saya tanyakan padanya? Kemungkinan dia tahu dan masih menyimpan data-datanya."
"Biar nanti saya yang bicara padanya. Kamu fokus saja bekerja dan pantau terus Rey, bagaimana dia melakukan pekerjaannya."
"Baik Pak. Saya mengerti."
"Kamu boleh pergi." Titah Fras, Danu pun membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruang kerjanya.
****
Di sebuah taman, di belakang halaman rumah yang luas. Ibu dan anak sedang berbincang. Perbincangan mereka sepertinya sangat serius seraya di temani secangkir teh hangat di atas meja bundar di depannya.
"Aku kira, aku tidak akan merasakan hidup seperti ini lagi." Ucap Velove, sambil menyeruput tehnya menghirup udara segar di area taman.
Rita, yang duduk di sampingnya hanya fokus menatap lurus ke depan.
"Jika kamu tetap ingin hidup seperti ini, ada hal penting yang harus kamu lakukan," ujar Rita, membuat Velove, beralih menatapnya.
"Apa!" tanya Velove, yang terheran-heran.
Rita, menyeruput tehnya sejenak lalu berkata, "Menjadi ahli waris Sanjaya Grup."
__ADS_1