Life After Married

Life After Married
Bab 162- Menerima perjodohan


__ADS_3

Di saat Rima dan Mira berjalan ke halaman belakang. Tiba-tiba Rio, mendapat panggilan dari klien-Nya. Membuatnya harus pergi sebentar untuk menjawab.


"Pa, aku angkat telepon dulu." Izin Rio pada ayahnya.


Rio, langsung bangun berdiri dari duduknya. Melangkah jauh meninggalkan ayahnya.


Cukup lama dirinya menjawab berbicara pada sambungan telepon. Begitu khusu dan fokus. Sepertinya memang sangat penting. Membuat Rio, akan datang segera meninggalkan acara bersama keluarganya ini.


Namun, saat tiba di dalam. Kehadiran seseorang membuatnya lupa pada pekerjaannya itu.


"Ma, Pa, maaf aku harus pergi sekar …," ucap Rio tertahan. Saat melihat wanita cantik di depannya. Mata mereka membulat sempurna.


"Karin!"


"Rio!" ucap mereka bersamaan.


"Kalian saling kenal?" tanya Mira, yang mendengar panggilan mereka.


"Kenal," jawab Karin dan Rio lagi.


Mira dan Rima semakin senang, karena putri-putri mereka ternyata sudah saling mengenal. Rima langsung menuntun Karin untuk duduk di sofa, begitupun dengan Mira, yang menarik tangan Rio, lalu mendaratkan bokongnya di atas sofa yang kosong.


Entah apa yang akan di katakan Rio. Namun sepertinya Rio melupakan itu.


Tidak pernah terbayangkan jika Karin adalah wanita yang akan di jodohkan untuknya. Begitupun dengan Karin. Hatinya yang sempat terluka karena mendengar kabar jika Rio akan menikah.


Namun, bagaimana perasaan mereka saat ini. Di tempat ini mereka berdua di pertemukan, Karin yang selalu menghindar apakah bisa menghindar saat ini? Rio, yang selalu mengejar apa akan melepaskan Karin, begitu saja?.


"Rio, katakan pada Mama bagaimana kalian bisa mengenal? Kenapa tidak pernah mengenalkannya pada Mama dan Papa?" tanya Mira yang begitu penasaran.


Rio masih diam belum menjawab. Sepasang netranya masih menatap wanita di depannya.


"Karin adalah …."


"Teman!" sanggah Karin, memotong pembicaraan Rio. "Kebetulan Rio, adalah temannya Willy suami temanku. Jadi kami saling mengenal karena kami teman mereka," lanjut Karin.


Rio, membuang nafasnya kasar. Baru saja dirinya ingin mengatakan jika Karin adalah mantan kekasihnya. Namun, entah kenapa Karin, malah menyanggahnya.


"Rio? Karin? Apa kalian tidak mengingat masa kecil kalian? Dari kecil kalian sering bertemu 'kan?" ujar Rima.


Rio, terdiam sejenak mencoba mengingat masa-masa itu. Sedetik bibirnya melengkung, di iringi dengan tawaan renyah.


"Ada apa Rio?" tanya Mira heran.


"Apa Karin ini bocah kecil yang cengeng itu? Yang sering aku kerjain dia selalu nangis?"


"Nah, iya. Kamu sudah ingat. Sekarang wanita cengeng itu adalah Karin yang akan di jodohkan denganmu. Apa kamu setuju Rio?"

__ADS_1


"Kenapa Mama tidak bilang jika Karin adalah wanita yang akan di jodohkan denganku?"


"Mama pikir akan memberitahukanmu saat kalian bertemu."


"Mama tahu? sebenarnya aku akan menolak perjodohan ini. Namun, karena seseorang aku menghadiri pertemuan ini." Kata Rio yang tatapan matanya tidak berpaling dari Karin.


Hati Karin merasa gugup. Debaran jantungnya saat ini berdetak lebih cepat. Antara takut dan belum siap. Jika Rio, menolak,p siapkah hatinya terluka untuk ke sekian kalinya. Haruskah dirinya yang lebih dulu menerima perjodohan ini?


"Maksudmu apa Rio? Kamu jangan mempermalukan Mama," bisik Mira pada Rio. Mendengar perkataan Rio, membuatnya berpikir jika putranya akan menolak perjodohan itu.


Rio, beralih menatap ibunya lalu tersenyum. "Bukankah keputusan ada di tanganku Ma?"


"Tapi Rio." Mira menatap tajam. Namun, tidak dengan Rio yang terus memancarkan senyumnya.


Kini tatapan Rio, beralih pada Karin dan Rima, yang sudah siap dengan keputusan yang Rio berikan.


"Rio dengarkan Mama dulu." Mira kembali berkata namun Rio abaikan.


Dalam satu tarikan Rio mengembuskan nafasnya kasar. Semua orang merasa gelisah dengan jawaban yang akan Rio, berikan. Menolak atau menerima. Namun, bagaimana dengan Karin? Mungkin Karin akan menolak jika itu jawaban yang Rio berikan. Dan Karin akan menerima jika Rio, menerima perjodohan ini.


"Aku … menolak pertunangan dalam perjodohan ini."


"Rio!"


"Mama dengarkan? Aku menolak pertunangan itu artinya aku tidak ingin ada pertunangan tetapi pernikahan."


"Maksudmu?"


"Ayah mengerti Ma. Maksud Rio, dia ingin menikahi Karin langsung tanpa ada pertunangan," jelas ayahnya.


Mira dan Rima pun tersenyum mendengar penjelasan itu. Kini tinggal Karin yang memberi jawaban. Namun, sepertinya Karin terlalu gugup sehingga tidak mampu berkata.


"A-aku …."


"Aku anggap kamu setuju," ujar Rio.


"Mama anggap juga seperti itu," kata Rima, yang begitu senang dengan perjodohan ini.


Mereka pun langsung menentukan tanggal pernikahan. Rio, menjadikan situasi ini kesempatan untuknya. Tanpa berpikir panjang Rio, menentukan hari pernikahannya pada minggu ini. Satu minggu setelah malam ini.


Karin yang mendengar itu pun tidak terima. Karena baginya itu terlalu cepat. Namun, tidak dengan kedua orangtua mereka yang sangat setuju dengan keputusan Rio.


"Mama! Mama tidak bisa gitu. Karin tidak setuju dengan pernikahan yang akan di lakukan minggu ini."


Karin terus protes hingga mengikuti langkah Rima, ke kamarnya.


"Karin, itu sudah keputusan bulat. Malam ini Mama akan telepon Papa untuk segera pulang karena harus mempersiapkan pernikahanmu."

__ADS_1


"Kenapa sih tidak ada yang mendengar perkataanku!" gerutu Karin, lalu melangkah pergi meninggalkan kamar Rima.


Berbeda dengan Karin yang begitu kesal. Sepanjang perjalanan pulang Rio, terus tersenyum merasa menang karena sudah mendapatkan Karin. Mungkin jika dirinya tahu hubungan keluarga mereka sangat dekat, sudah dari dulu Rio, meminta ibunya untuk melamar Karin.


*****


Keesokan paginya Karin, akan pergi dari rumah ibunya, kembali ke apartemen miliknya. Namun, baru saja melangkah keluar, tiba-tiba terhenti saat melihat seorang pria yang bersandar pada badan mobil dan tersenyum padanya.


Rio, sudah berada di depan rumahnya sepagi ini.


"Karin, pergilah bersama Rio, nanti siang kamu ada feeting baju. Mama sudah menjadwalkannya. Kalian hanya pilih-pilih saja semua baju pengantin sudah Mama atur."


Karin hanya bisa mengembuskan nafasnya kasar.


"Nak Rio, hati-hati. Titip Karin."


"Ia Tante!" teriak Rio. Lalu membuka pintu untuk Karin, yang melangkah ke arah mobilnya.


Wajah Karin begitu datar tanpa ekspresi.


"Mulai besok tidak usah menjemputku lagi."


"Kenapa? Setelah menikah kita akan sering melakukannya." Kata Rio, yang tetap fokus dengan stir mobilnya.


"Apa kamu tidak bisa mengundurkan hari pernikahan? Bagiku itu terlalu cepat."


"Bagiku tidak. Karena aku ingin memilikimu seutuhnya."


"Kamu yakin sudah siap menikah? Aku sudah pernah menikah dan aku tahu hubungan setelah pernikahan itu tidaklah mudah."


"Sekarang aku tanya apa yang tidak mudah? Bisa kamu jelaskan?"


Tanpa di duga Rio, bertanya balik. Karin bingung harus menjawab apa?.


"Aku tidak bisa jelaskan," jawabnya.


"Kenapa? Bukankah kamu sudah mengalaminya?"


Kini mereka hanya saling diam.


"Kepercayaan, pengertian. Itu yang tidak mudah bukan? Mempercayai pasangan kita adalah yang tersulit, terkadang sepercaya apa pun kita selalu di khianati. Pengertian, kadang selalu di lupakan oleh mereka yang sudah menikah. Kadang ke-egoisan merekalah yang membuat saling mengerti runtuh."


"Jika kamu siap menikah dan menjalani hidup bersamaku. Marilah sama-sama untuk belajar saling percaya dan mengerti. Sesibuk apapun pekerjaan kita tetaplah luangkan waktu untuk berdua. Jangan sampai hal yang sudah terjadi kembali terjadi. Membiarkan seseorang menunggu hanya karena keegoisan semata."


Tetes air mata luruh begitu saja dari sudut matanya. Karin, merasa sedih mengingat masa-masa lalu saat dirinya yang egois melupakan janji bersama Rio, hanya demi pekerjaannya. Membuat hubungan mereka kandas di tengah jalan.


"Apa aku egois?" tanya Karin, lirih. Rio, tidak menjawab pertanyaan itu melainkan memeluk tubuh Karin dengan hangat.

__ADS_1


"Aku yang egois. Yang hanya mementingkan perasaanku. Aku memutuskan hubungan tidak peduli hatimu terluka," lirih Rio.


Mungkin mereka merasa menyesal atas apa yang terjadi di masa lalu.


__ADS_2