Life After Married

Life After Married
Pergi dari Rumah


__ADS_3

Disepanjang trotoar itu Lea menampakkan langkahnya. Terus berjalan tanpa arah dan tujuan. Dengan mengenakan pakaian sederhana yaitu kaos, celana dan jaket jeans. Tas selempang yang hanya berisi ponsel, identitas diri, dan ATM pribadinya yang isinya tak seberapa.


Lea sengaja tidak mau membawa banyak barang bawaan. Karena semua pakaian masih banyak di apartemennya. Jika mau berganti pakaian tinggal pulang saja ke apartemen. Namun, Lea tidak ingin pulang keana. Dia ingin terus melangkah kakinya entah kemana.


Meskipun air matanya sudah tidak keluar lagi. Namun, mata sembab itu tidak bisa menutupi kesedihannya yang dia rasakan. Matanya tampak kosong menerawang kenangan-kenangan yang telah berlalu.


Flashback On


Kala itu ketika Bian masuk ke ruang rawat itu, tampak ranjang rumah sakit kosong. Dilihatnya Lea jongkok dan menangis tersedu-sedu dipojok ruangan. Segera Bian menghampirinya dan langsung bertanya apa yang terjadi. Namun, dia tak mendapatkan jawaban dari mulut Lea. Yang ada Lea semakin mengeraskan suara tangisnya.


Bian merasa tidak tega mendengar suara tangisan orang yang sangat dia cintai. Langsung ditariknya dengan lembut tubuh Lea kedalam pelukannya. Hingga dagu Bian menyentuh rambut perempuan itu. Sedangkan tangan Bian mengelus punggung Lea dan tangan satunya mengusap rambut Lea. Cara itu selalu dilakukan Bian untuk menenangkan Lea, yang kala itu masih menjadi pacar Bian.


Setelah beberapa saat dan tangis Lea sedikit mereda. Ibu jari Bian mengusap sisa air mata yang ada dipelupuk mata Lea. Perlahan mulai Bian bertanya, "Katakan apa yang terjadi sayang?"


"A...ayah meninggal," ucapnya dengan sesenggukan.


Bian terperangah mendengar ucapan Lea. Secepatnya inikah calon mertua itu pergi meninggalkan dunia ini. Baru saja kemarin rasanya berkenalan dan meminta restu untuk menjalin hubungan serius dengan Lea. Dan sekarang beliau sudah pergi untuk selama-lamanya.


"Sayang i-ini---" ucapan Bian terjeda. Rasanya dia tak mampu berkata-kata lagi. Ditariknya lagi Lea kedalam pelukannya.

__ADS_1


Sejak detik itulah Bian berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga dan melindungi Lea. Menjadi tameng perlindungan bagi Lea dari segala kejahatan. Akan selalu membahagiakan Lea dan tak akan membiarkannya bersedih. Satu-satunya cara untuk melaksanakan janjinya tersebut adalah dengan menjadi pendamping hidup Lea.


"Sayang kamu yang sabar ya," lirih Bian.


"Ada aku disini. Aku akan selalu ada buat kamu."


"Aku akan selalu melindungi kamu."


"Aku akan selalu menjaga kamu kamu."


"Aku akan membahagiakan kamu."


"Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu."


"Aku berjanji."


Begitulah janji yang terucap dari mulut Bian waktu itu. Bahkan Bian berani bersumpah atas nama Tuhan dengan janjinya tersebut. Itu dia lakukan karena cintanya tulus kepada Lea.


"Maka menikahlah denganku," lanjut Bian.

__ADS_1


"Biar aku bisa sepenuhnya menjaga dirimu."


"Aku mohon menikahlah denganku," pintanya dengan bersungguh-sungguh.


Flashback off.


Kenangan saat itu yang penuh janji-janji manis mampir begitu saja dipikirannya. Janji hanyalah tinggal janji, kenyataan tidak seperti saat mengatakannya. Lea muak mengingat kenangan waktu itu.


"Kau jahat! Kau sangat jahat!" batinnya sembari meremas-remas ujung kaosnya karena kesal.


"Kenapa kau menikahi aku kalau akhirnya mengkhianati aku."


Menetes kembali air mata yang sudah berhasil dia tahan selama beberapa menit terakhir ini. Langkahnya semakin tak tentu arah menyusuri jalanan ibukota. Deru suara kendaraan beserta klakson membuat malam itu ramai riuh. Tidak seperti hati Lea yang sendiri dan sepi.


Tin... tin... tin...


"Awas....!" teriak seseorang yang hampir saja menyerempet Lea.


"Woi! Kalau jalan pakai mata jangan pake dengkul!" umpat seorang pria yang mengendarai motor.

__ADS_1


Suara klakson diiringi umpatan dari sang pengendara berhasil menyadarkan Lea dari lamunannya. Lea menundukkan kepalanya sebagai tanda permintaan maaf kepada pengendara motor tersebut.


__ADS_2