Life After Married

Life After Married
Ingkar Janji


__ADS_3

Pada waktu yang sama ditempat lain. Bian duduk meringkuk diatas lantai penjara. Pandangannya menatap pada ventilasi kecil diatas sana. Terlihat bulan purnama yang sangat indah.


"Rembulan sedang sangat bagus, apa kabarmu juga?" batin Bian.


Kemudian wajahnya murung dengan pertanyaannya sendiri itu. Mengingat kejadian tadi pagi yang mungkin akan membawa trauma yang besar bagi Lea.


"Aku kira kabarmu tidak sebagus rembulan malam ini," gumamnya lesu.


Siapa yang tidak sakit melihat suaminya memeluk wanita lain. Meskipun itu hanya sebuah kesalahpahaman saja.


"Lea gue sangat menyesal." Bian mengusap wajahnya frustrasi.


"Kamu harus dengerin penjelasan aku dulu sayang."


"Kamu hanya salah paham sayang."


"Argh...."

__ADS_1


Bian merasa sangat bersalah telah melakukan hal diluar kendalinya. Sebenarnya saat kejadian itu Gigi yang memaksa untuk memeluknya. Awalnya Bian tidak merespon pelukan Gigi, namun perempuan itu memaksanya. Jadilah kesalahpahaman itu terjadi tatkala Lea tiba-tiba datang.


Eh! Sebentar kesalahpahaman? Bukankah memang itulah ekspresi bahagia Gigi yang sebentar lagi akan dinikahi Bian. Apakah kesalahpahaman yang dimaksud Bian adalah ketidaksengajaan mengiyakan tawaran Gigi. Saat Gigi menawarkan akan membebaskan Bian asalkan harus menikahinya. Ah! Sungguh konyol.


Bayangan kejadian tadi pagi terus berputar dalam otak Bian. Begitu juga dengan kenangan saat Bian mengutarakan janji-janji untuk selalu menjaga, melindungi, dan membahagiakan Lea. Namun, apa yang diperbuat Bian hari ini bisa jadi suatu tindakan yang telah mengingkari semua janjinya.


"Sial! Bodoh sekali gue ini," umpatnya pada diri sendiri.


"Gimana dengan janji gue yang nggak akan pernah membuat Lea menangis?"


"Argh....." Bian melampiaskan amarahnya dengan memukul dinding yang ada disebelahnya.


Flashback on.


Setelah pemakaman ayah Lea usai. Gadis itu duduk den memeluk nisan sang ayah. Air mata menetes tiada hentinya, menumpahkan kesedihan yang amat mendalam. Bahkan sudah hampir satu jam Lea menangis dengan memeluk nisan itu.


"Sayang ayo pulang," ucap Bian lembut seraya mengusap rambut Lea.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Lea yang ada dia semakin menangis. Rasanya tidak mau berpisah dengan sang ayah. Meski jasad ayahnya sudah terkubur di dalam tanah.


Bian semakin mendekati Lea, merangkul bahu kecil gadis itu. Mendekatkan bibirnya ditelinga Lea sembari berbisik, "Sudah ya ayah sudah tenang bersama Tuhan. Sekarang mulailah hidup barumu denganku "


"Aku janji ini adalah air mata terakhir dalam hidupmu. Aku tidak akan membiarkanmu menangis oleh apapun dan siapapun. Ingat janjiku itu sayang." Bian masih berbisik lembut.


Ya, itulah janji Bian untuk melihat yang terakhir kalinya Lea menangis. Tidak ada apapun yang bisa membuatnya menangis lagi. Dan tentu tidak ada siapapun yang bisa membuatnya menangis lagi. Bian akan melakukan segala cara agar Lea tidak menangis lagi. Bian berjanji pada dirinya sendiri, pada Lea dan didepan makam ayah Lea.


Flashback Off.


Teringat kenangan tersebut membuat Bian lagi-lagi memukul dinding ruang tahanan itu. Melampiaskan kekesalan pada dirinya yang munafik ini. Janji yang sudah diingkari sebanyak dua kali. Yang pertama waktu penangkapan Bian saat hari pernikahan Bian dan Lea. Hari itu Bian melihat Lea menangis karena kepergiannya. Dan hari ini lagi dan lagi janji itu dia ingkari.


"Bodoh!" umpatnya lagi.


"Gue nggak akan memaafkan diri gue sendiri jika terjadi sesuatu pada Lea!"


Rembulan sedang sangat bagus, apa kabarmu juga? - Kata Uma

__ADS_1


__ADS_2