Life After Married

Life After Married
Bab 153- Penuh Emosi


__ADS_3

Dinda terlihat murung. Raut wajahnya begitu masam. Bahkan makanan yang sudah di siapkan tidak disentuh sedikit pun. Entah karena tidak berselera atau sedang merajuk pada suaminya.


Pintu terbuka lebar, terlihat Willy yang menggendong Syena memasuki


kamarnya. Bukannya menyambut kedatangan Syena, Dinda malah merebahkan kembali tubuhnya di atas brankar. Sengaja membelakangi pintu, meringkuk berpura-pura tidur. 


"Pa, Mama sedang tidur," ujar Syena. 


Willy langsung menurunkan tubuh mungilnya di atas sofa. Lalu berjalan mendekati brankar tidur yang di tempati Dinda. 


Sedetik langkahnya terhenti, melihat makanan yang tersaji di atas meja yang masih utuh. Lalu pandangan itu teralihkan pada sang istri yang meringkuk membelakanginya. 


Dinda masih diam, menunggu Willy berujar. Dan benar saja tangan Willy mulai menyentuh punggungnya. Detik itu juga matanya langsung terpejam.


"Dinda! Dinda bangun makan dulu," ucap Willy demikian. 


"Dinda!" 


"Pa, mungkin Mama ngantuk Pa," ujar Syena. Willy langsung menoleh pada Syena yang duduk di atas sofa. 


"Tapi Mama belum makan sayang. Papa coba bangunin lagi ya." 


"Pakai sun sayang Pa," usul Syena, meminta Willy untuk mengecup ibunya. Karena Syena selalu melihat keharmonisan ayah dan ibunya. Setiap bangun pagi tidak pernah lupa kecupan sayang untuk Dinda yang Willy berikan. Dan itu sudah menjadi kebiasaan keluarganya.


Willy hanya tersenyum hambar, namun tidak dengan Dinda, yang sangat berharap menunggu kecupan mendarat pada keningnya. 


"Sayang, ayo bangun. Kamu belum makan ayo makan dulu." 


Kecupan tidak Dinda dapatkan, setidaknya kata sayang ia dengar. Dinda pun mengalah tidak lagi berpura-pura dan terbangun. Mulutnya bergumam seolah baru saja bangun dari tidur. 


"Ada apa Mas?" 


"Makan dulu, ini sudah disiapkan." 


"Enggak lapar Mas. Kamu saja yang makan." 


"Dikit saja." 


"Enggak mau Mas." 


"Dinda!" 


"Untuk apa aku makan. Kamu juga masih marah." Dengan sengaja Dinda mencebikan bibirnya, seolah sedang merajuk. Tatapan sedih tidak lupa ia perlihatkan berharap akan meluluhkan hati suaminya. 


"Makan gak!" 


"Enggak." 


"Kamu mau aku marah lagi!" 


"Tuh 'kan. Kamu juga masih marah Mas. Kalau kamu marah kenapa peduli! mau aku makan atau tidak terserah aku Mas. Makan saja sendiri aku gak lapar." 


"Dinda!" 


Baru saja Dinda akan merebahkan lagi tubuhnya, tangan Willy segera meraih, menahan tubuh itu agar kembali duduk. 


"Apaan sih Mas." 


"Nurut gak jadi istri. Iya aku gak akan marah lagi. Sekarang makan ya? Kasihan nanti bayi kita kelaparan sayang," ucap Willy dengan lembut membuat Dinda mengulum senyum.


"Suapin," ucap Dinda dengan manja. Willy hanya mengangguk, mengalah demi istri agar bisa makan. 

__ADS_1


"Iya, aku suapin." Tangannya langsung mengambil sepiring nasi dan lauk pauk yang sudah tersedia. 


Dibukanya perekat bening yang menutupi piring. Satu sendok di arahkan pada segumpal nasi putih yang bersatu dengan lauk. 


Dinda membuka mulutnya, menunggu suapan nasi yang akan masuk. Bibirnya bergoyang-goyang saat makanan itu mulai dikunyah. 


Satu jari tangan mendarat di bibirnya. Willy, mengusap lembut noda masakan yang menempel pada bibirnya. Dinda merasa senang Willy kini memperhatikannya lagi.


Syena yang sedari tadi melihat percakapan dan tingkah kedua orangtuanya. Langsung tertawa. "Mama manja," ucapnya demikian. 


"Mama sama Papa kalau lagi marahan lucu." Katanya lagi yang tertawa renyah. 


Suap demi suap Willy, berikan. Entah kenapa Dinda begitu manja saat ini. Namun keduanya merasa senang.


Pintu terbuka lebar, membuat mereka semua menoleh. Dilihatnya Karin dan Bi Ijah yang baru saja masuk. Dengan riangnya Syena menyambut Karin. 


Kaki mungil itu turun dari sofa, berlari menghambur memeluk Karin. 


"Aunty!" teriaknya, membuat Karin yang terkejut karena mendapat pelukan tiba-tiba.


"Eh, Syena. Sudah sembuh sayang? Aunty dengar sakit." 


"Udah sembuh Aunty," jawab Syena yang langsung dipeluk dan digendong oleh Karin. Bi Ijah juga merasa senang karena anak majikannya sudah sembuh. 


"Bi, Mama sama Papa sudah baikan," ucap Syena tiba-tiba. Membuat Karin dan Bi Ijah menatap dua manusia di depannya dengan heran.


Sebab, Bi Ijah pun tidak tahu jika majikannya sedang ada masalah. Namun, Bi Ijah bisa mendengar keributan yang terjadi pada malam itu. Tetapi tidak dengan Karin, yang masih menatap Willy dan Dinda dengan curiga. 


"Memangnya kalian bertengkar karena apa?" tanya Karin. Dinda dan Willy langsung mengelak, mengatakan jika hubungan mereka baik-baik saja. 


"Kami baik-baik saja. Iya 'kan sayang?" tanya Dinda, Willy pun mengangguk dan menjawab, "Iya, Papa dan Mama baik-baik saja kok sayang, kata siapa kami bertengkar." Katanya seraya memeluk Dinda. 


Karin, Syena dan Bi Ijah pun duduk di atas sofa, sedangkan Willy membereskan piring kotor setelah menyuapi Dinda. Mereka semua bercengkrama. 


Karin mendekat ke arah Dinda, bertanya tentang keadaannya. Tiba-tiba seorang tamu tidak diundang masuk ke dalam kamarnya. 


Semua orang menoleh, ada ekpresi terkejut yang Dinda pancarkan, mata bulat itu melebar sempurna. Tetapi tidak dengan Syena, yang bahagia kedatangan orang itu.


"Papa!" teriak Syena, yang berlari ke arah Rey, yang masih berdiri di depan pintu. 


Willy, langsung diam saat mendengar teriakan Syena. Sudah bisa dipastikan Rey, 'lah yang datang. Detik itu juga Willy langsung keluar dari dalam kamar mandi. 


Iris matanya menatap lebar, bersamaan dengan itu pandangan Rey, tertuju pada Willy, membuat kedua pasang mata saling bertemu. 


Dinda, merasa takut jika Willy masih menyimpan rasa cemburu. Apalagi Rey, yang selalu berkata semaunya. 


"Kenapa kalian semua diam? Sayang apa kedatangan Papa mengganggu?" tanya Rey, pada Syena yang berada dalam pelukannya.


"Tidak, Pa. Syena senang banget. Tapi Syena gak senang jika main ke rumah Papa." 


"Kenapa?" 


"Takut Bunda," ucap Syena. Membuat Rey, bingung. Sebab Syena tidak pernah mengatakan apa pun setelah kepergiaan dari rumahnya malam itu.


"Apa yang Velove lakukan? kenapa Syena sangat takut? apa mungkin itu yang membuat Syena tidak jadi menginap. Lebih baik aku tanyakan pada Velove nanti," batinnya lalu menurunkan Syena dalam pelukannya. 


"Dinda bagaimana keadaanmu?" tanya Rey, yang akan mendekati Dinda. Namun, langkahnya tertahan karena Willy menghadangnya. 


Rey, menyunggingkan bibirnya seketika. Kesal, karena Willy menghadang jalannya. 


"Duduklah, kamu tidak perlu mendekati istri saya. Dinda harus istirahat," tegas Willy. 

__ADS_1


Suasana semakin menegang. Tatapan keduanya sama-sama tajam. Membuat Dinda semakin takut jika akan terjadi lagi perkelahian. 


"Karin, aku mohon bantu aku," bisik Dinda, Karin yang mendengar merasa bingung, menatap heran pada sahabatnya itu. 


"Kamu mengertikan maksudku?" ucap Dinda lagi. Sedetik tatapannya beralih pada kedua pria yang masih bertatap tajam. 


Melihat itu Karin pun mengerti, yang langsung membawa Rey, keluar dari kamar itu. 


"Rey, ikut aku." Kata Karin, yang langsung menarik tangan Rey keluar. Rey, merasa bingung namun tidak bisa melepaskan genggaman tangan itu karena cengkraman Karin begitu kuat.


Dinda merasa lega, akhirnya Rey keluar dari kamarnya. Namun, tiba-tiba perutnya terasa keram membuatnya meringis kesakitan.


"Ah," ringisnya membuat Willy langsung menoleh. Dan berlari ke arah Dinda.


"Ada apa?" tanya Willy panik.


"Gak tahu Mas, perutku tiba-tiba sakit. Ah." 


"Bik! tolong panggilkan dokter Bik!" teriak Willy, Bi Ijah pun ikut panik yang langsung berlari keluar untuk memanggil dokter.


*****


"Lepas!" bentak Rey, saat Karin sudah membawanya jauh dari kamar Dinda. Cengkraman tangannya Rey hempaskan dengan kasar, membuat tubuh Karin condong kebelakang dan hampir saja terjatuh. Jika tangan seseorang tidak menahan punggunggnya. 


"Jangan berbuat kasar pada wanita!" tegas orang itu. Membuat Karin mendongak. 


"Rio!" panggilnya sedikit terkejut. 


Tangan Rio, langsung menarik tubuh Karin. Membiarkan Karin berada di belakang punggungnya. Wajah Rio begitu dingin menatap pria yang baru saja mendorong mantan kekasihnya itu. 


"Siapa lagi ini," ujar Rey dengan kesal. "Dengar ya! Ini bukan urusanmu. Apa dia kekasihmu Karin!" 


Karin langsung menggeleng. 


"Kekasih atau bukan tidak ada hubungannya dengan sikapmu tadi. Apa kamu tidak bisa lembut pada wanita?" sanggah Rio.


"Aku cuma memintamu untuk pergi Rey, jangan ganggu Dinda!" teriak Karin membuat Rio menoleh. 


"Siapa dia?" tanyanya pada Karin.


"Dia Rey, mantan suaminya Dinda," bisik Karin. Rio pun mulai ingat Rey adalah lelaki yang sempat membuat Syena menangis. Saat membawanya ke sebuah mal. 


"Jangan pernah melarangku menemui Dinda atau pun Syena!" tegas Rey. 


"Tidak ada yang melarang jika kamu ingin menemui Syena. Tapi tidak dengan Dinda!" sanggah Karin.


"Maksudmu aku tidak berhak menemuinya?" 


"Ya! Karena Dinda bukan milikmu lagi Rey. Jika kamu bersikap seperti itu. Kamu tidak akan bisa lagi menemui Syena. Kamu ingat 'kan saat Dinda melarangmu bertemu Syena, kamu tidak inginkan itu terjadi. Mulai sekarang jagalah jarak, antara kamu dan Dinda. Karena jika kamu terus mendekat akan banyak konflik yang terjadi. Dan kamu juga bisa kehilangan pekerjaanmu, kamu harus sadar itu Rey." 


Rey, masih diam. Perkataan Karin memang ada benarnya. Namun, Rey tidak bisa berbohong jika dirinya masih memperdulikan Dinda. Rasa itu belum hilang dan masih ada. 


Setelah lama berpikir Rey, pun melangkah pergi meninggalkan Karin dan Rio, yang saling diam. 


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rio.


"Ya, aku baik-baik saja," jawab Karin sedikit canggung. Karena masih mengingat ciuman itu. 


"Kamu melarangku menyentuh tanganmu. Tapi kamu sendiri menyentuh tangan pria lain." Karin langsung menatap Rio, dengan dingin. Namun objek yang ditatap malah melangkah pergi. 


"Apa maksudnya," gumam Karin kesal.

__ADS_1


__ADS_2