
Semua orang masih diam. Menunggu Syena, memberikan potongan kedua kue ulang tahunnya. Di liriknya kedua pria yang terpenting dalam hidupnya.
Rey, ayah kandung yang tersayang. Walaupun tidak pernah ada saat dia butuhkan. Dan Willy, seorang ayah sambung, tetapi orang yang selalu ada untuknya kapan pun dan di mana pun.
Dinda, adalah orang yang paling tegang di antara semuanya. Bagaimana tidak, sudah pasti Syena akan memberikan kue itu pada Rey, ayah kandungnya dan itu akan menyinggung perasaan Willy suaminya. Namun, apa boleh buat, Dinda tidak bisa menghentikan semua itu.
Berharap semua akan baik-baik saja tidak ada perselisihan.
Tanpa di duga, Syena memotong kembali kue itu menjadi dua, Dinda pun merasa heran apa yang Syena lakukan?.
Setelah di potong kue itu di pisah dalam piring yang berbeda, kemudian tangan mungil itu mengambil kedua piring dan di berikan pada kedua pria di depannya.
"Ini untuk kalian berdua. Satu untuk Papa Rey, dan satu untuk Papa Willy." Katanya sambil tersenyum.
Rey, dan Willy, pun tercengang. Tidak percaya dengan apa yang Syena lakukan. Di usia yang masih dini Syena, sudah menunjukkan sikap adilnya.
Dengan tenang Willy dan Rey menerima kue itu. Willy merasa bangga karena di anggap ayah oleh Syena. Sedangkan Rey, merasa sedih, teringat perlakuannya dulu jangankan mementingkan Syena, menjaganya saja tidak bisa.
Malah Rey, meninggalkannya, tetapi Syena tidak memiliki dendam sama sekali.
"Terimakasih," ucap keduanya.
"Sama-sama Papa," jawab Syena.
Lalu kecupan sayang mendarat pada kedua pipinya. Rey, mencium pipi kiri dan Willy, mencium sebelah kanan. Sungguh pemandangan yang sangat harmonis membuat semua orang bertepuk tangan. Dinda pun merasa bangga pada putrinya.
Sekilas senyuman terlukis di bibirnya, lalu melangkah mendekat dan memeluk Syena.
"Mama bangga sayang, pada mu," ucap Dinda lalu mengecup keningnya.
Kini pesta pun berakhir bahagia, semua orang tenang dengan sikap Syena, yang luar biasa.
*****
Dinda, memasuki kamar, terlihat Willy, yang sedang membuka kemejanya. Dinda melangkah mendekat.
Willy menoleh saat sebuah tangan menyentuh pundak dan menarik bajunya.
"Bukan aku yang mengundangnya. Aku tidak tahu Rey akan datang," ucap Dinda, lalu menatap Willy.
"Aku tahu," jawab Willy singkat.
"Kamu tidak marah? Aku harap kamu percaya." Dinda berbalik ingin menyimpan kemeja kotor pada tempatnya. Baru saja ingin melangkah sebuah tangan menghentikannya.
"Apa yang kamu pikirkan?" pertanyaan Willy, membuat tubuh Dinda berbalik. "Aku selalu percaya padamu. Lagi pula Rey, juga berhak atas Syena."
__ADS_1
Senyuman indah terlukis pada bibir keduanya, Willy menarik Dinda dalam dekapannya, memeluk tubuhnya dengan hangat.
"Apa kabar dengan baby ku? Dia tidak rewelkan? Apa dia menendang lagi?"
Willy mengusap perut buncit Dinda, dengan berbagai macam pertanyaan.
"Tidak tahu, hari ini tidak menendang lagi."
"Berarti bayi kita tahu jika kamu lelah hari ini." Dinda hanya mengulum senyum.
"Mandi dan ganti pakaian mu," titah Dinda.
"Lalu kamu?"
"Aku akan menyimpan baju kotor ini."
"Tidak-tidak." Willy menggeleng. Kedua tangannya kembali memeluk Dinda, menariknya lebih rapat dengan tubuhnya. Walau pun terhalang dengan perut buncit tetapi tidak dengan kedua wajah mereka yang kini sudah saling mendekat.
Entah sejak kapan, kedua benda kenyal itu sudah saling membelit dan menyesap.
*****
Rey, mengantarkan Angel pulang. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka. Yang ada hanya keheningan dan saling diam.
Rey, terus melirik Angel yang mendiamkannya. Mungkin Angel masih merasa kesal, karena janji yang selalu di ingkari Rey.
Merasa tidak ada sahutan, Rey melemparkan stir ke samping kiri agar menepi lalu menghentikannya. Di sentuhnya tangan Angel, di iringi rayuan manja yang lembut.
Satu kecupan mendarat pada punggung tangannya. Membuat Angel menoleh pada Rey.
"Aku tahu kamu marah, tapi cobalah mengerti." Detik itu juga Angel langsung menghempaskan tangannya.
"Mengerti kamu bilang! Kamu pikir menunggu bukan hal yang membosankan. Kurang mengerti apa aku Mas!" Angel tersulut emosi.
"Setidaknya kamu bilang jika kamu tidak akan datang. Sudah berapa janji yang kamu ingkari? Setiap hari aku menunggu, kurang sabar apa aku Mas!. Hingga sampai saat ini aku masih bungkam, masih merahasiakan pernikahan kita. Pernakah kamu berpikir tentang perasaanku Mas? Tidak pernah di akui sebagai istrimu."
Rey, tetap diam.
"Aku tahu posisiku sebagai istri kedua. Tapi, bisakah kamu berbuat adil jangan selalu Velove yang di utamakan?. Aku juga istrimu Mas, setidaknya luangkan waktumu untuk ku. Syena saja bisa adil pada kedua papanya untuk menjaga hati dan perasaanmu tapi kenapa kamu tidak bisa? Bersikap adil pada istri-istrimu."
"Ini lebih sulit dari yang kamu pikirkan. Masalahku dan Syena itu berbeda. Angel, aku janji aku tidak akan mengingkari janjiku lagi. Malam ini aku akan pulang bersamamu."
Baru saja berkata sebuah panggilan masuk dari Velove. Angel, masih diam menunggu apa yang akan Rey lakukan. Rey, baru saja berjanji akan pulang bersamanya, tetapi pikirannya bisa saja berubah.
"Angkatlah. Dan katakan jika kamu tidak akan pulang hari ini."
__ADS_1
Dengan ragu Rey, mengambil ponselnya, di usapnya layar datar itu, suara Velove mulai terdengar dari ujung sana.
"Sayang kamu di mana? Bisakah kamu pulang. Aku tidak bisa menjaga Bian sendirian, Bian rewel dan terus menangis karena habis imunisasi badannya jadi demam."
Tatapan Angel begitu tajam, Rey masih enggan menjawab perkataan Velove.
"Sayang?"
Kata sayang begitu menyakitkan. Darah pada aliran nadinya mulai bergemuruh, bergejolak hingga siap untuk meledak. Angel tidak bisa lagi untuk menunggu dan langsung merampas ponsel dari tangan Rey, berniat untuk mengatakan pada Velove, jika saat ini Rey, bersama dengannya.
Namun, Rey menghentikan itu.
Benda pipih itu kembali Rey rebut, lalu menjawab suara Velove yang terus memanggilnya.
"Apa Mama tidak ada?"
"Mama belum pulang masih di luar kota."
"Aku akan segera pulang," ujar Rey membuat Angel, kesal. Tapi tidak dengan Velove, yang begitu bahagia.
"Aku tunggu ya sayang," ujar Velove sebelum akhirnya panggilan pun di tutup.
BRAK!
Suara bantingan pintu mengejutkan Rey. Di lihatnya Angel, sudah berjalan keluar dari mobilnya. Segera Rey turun lalu mengejar Angel, lalu menarik tangan itu hingga tubuh Angel berbalik.
"Mau kemana?"
"Tidak penting aku mau kemana!" tukas Angel. "Lagi pula kamu akan pergi menemui istrimu 'kan? Untuk apa aku di sini."
"Aku antar kamu pulang."
"Tidak!" tegas Angel, dengan sorot mata yang menyala karena amarah.
"Angel kamu jangan seperti anak kecil."
"Anak kecil? Kamu sadar gak sih Mas? Baru saja kamu berjanji dan ingkari lagi. Kamu bilang akan pulang bersamaku tapi nyatanya …."
"Angel, kamu dengarkan tadi. Bian demam. Aku mohon kamu mengerti. Di rumah tidak ada mama Rita, jadi Velove tidak bisa menjaga Bian sendiri."
"Kalau begitu bawa aku bersamamu."
"Apa? Ma-maksudmu …."
"Yah, bawa aku tinggal bersamamu dengan Velove."
__ADS_1
Mata Rey, membulat sempurna. Bagaimana bisa, mereka tinggal bersama. Sedangkan Velove tidak tahu pernikahan keduanya. Bagaimana dengan Rita, dan apa yang akan terjadi dengan kondisi psikis Velove jika tahu kebenarannya.