
Suara bel berbunyi nyaring. Bersamaan dengan bunyi itu para murid sekolah dasar berhamburan berlarian keluar dari kelas.
Ada yang langsung berlari ke arah gerbang ada juga yang masih menunggu karena jemputan belum datang.
Seorang murid dengan seragam yang sama, pipi chubby, mata belo, dan rambut bergelombang berdiri di depan gerbang sambil mencebikkan bibirnya. Kepalanya ia lirikkan ke samping kiri dan kanan, mencari jemputan yang sepertinya belum datang.
"Papa kemana sih. Kok belum jemput aku." Gumamnya sambil melipat kedua tangan di bawah dadanya.
"Syena!" panggil seorang pria yang membuat mata belo itu berbinar. Bibir mungilnya melengkung sesaat.
"Papa!" teriaknya. Senyuman Syena mengembang, kedua kakinya langsung berlari ke arah pria itu yang di panggil papa. Pria itu pun meregangkan kedua tangannya membiarkan Syena masuk dalam pelukannya.
"Papa tumben jemput aku." Kata Syena, karena yang menjemputnya bukanlah Willy melainkan Rey.
"Papa mau ngajak kamu jalan-jalan mau gak?"
"Tapi aku belum bilang mama Pa." Bibir Rey, mengulum senyum. Sepertinya Syena tidak bisa pergi tanpa izin pada Dinda. Namun Rey, harus bisa membujuknya.
Tubuh Rey, sedikit berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan tinggi badan putrinya. Satu tangannya dibiarkan menyentuh bahu putrinya.
"Mama gak akan marah kok sayang. Kan jalan-jalannya sama papa."
Syena masih berpikir dan enggan menjawab. Syena merasa takut jika Dinda akan marah karena pergi tanpa izin darinya.
"Begini saja biar Papa yang akan bilang ke mama. Kan papa bekerja dikantornya Mama. Mau kan? Hanya sebentar kok."
"Iya deh Pa." Akhirnya Syena pun mengangguk. Rey, tersenyum senang lalu membawa Syena masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Rey pun melaju pergi, bersamaan dengan itu sebuah mobil spyder putih datang dan berhenti. Willy turun dari mobil itu melangkah mendekati gerbang sekolah.
Dilihatnya semua murid yang keluar namun tidak ada Syena diantara murid itu. Willy masih menunggu hingga area sekolah semakin sunyi karena semua murid sudah pergi.
Rasa panik mulai melanda. Di lihatnya arah jarum jam pada arloji ditangannya. Tiga puluh menit lamanya dirinya menunggu namun tidak ada sosok Syena muncul dari arah sekolah.
Hingga pada saat security hendak menutup gerbang Willy langsung mencegahnya.
"Tunggu pak! kenapa ditutup?"
Si security yang hendak menarik gerbang pun terhenti. Menatap Willy dengan heran.
"Semua murid sudah pulang pak. Sekolah mau saya tutup."
"Tidak bisa pak. Anak saya belum keluar."
"Tapi semua murid sudah pada pulang pak."
__ADS_1
"Pokoknya saya ingin cari anak saya kedalam. Bapak juga harus bantu saya. Siapa tahu anak saya masih di dalam kelas."
"Baiklah kalau begitu. Mari kita cari."
Willy langsung berlari memasuki area sekolah. Menyusuri setiap koridor, dan memasuki setiap kelas dan ruangan. Namun tidak ada satu pun murid yang tersisa. Semua kelas dalam keadaan kosong, meja dan bangku pun terlihat rapi.
Willy sangat bingung juga cemas. Untuk pertamakalinya Syena menghilang di sekolah.
Willy dan si security kembali ke area gerbang tanpa Syena.
"Pak saya tidak menemukan anak bapak. Semua kelas, ruangan juga sudah terkunci tidak ada satu murid pun yang tertinggal."
"Lalu dimana anak saya!"
"Ada apa ini?" tanya seorang security yang baru saja datang. Karena sekolah itu di jaga oleh dua security. Dan salah satu security yang sangat mengenal Willy dan Syena.
"Pak Willy. Ada apa ini Pak?"
"Apa bapak melihat Syena? Saya menunggu Syena dari tadi tidak muncul-muncul."
"Iya Pak. Anaknya hilang," ujar si security yang sempat mencari Syena.
"Saya kira Syena sudah pulang tadi. Saya pikir tadi yang jemput Syena itu bapak."
"Maksudnya?"
Apa yang Willy pikirkan saat ini tidak jauh dari Rey. Siapa lagi jika bukan Rey yang menjemput Syena.
"Terima kasih pak informasinya. Saya harus segera pergi mencari anak saya." Willy berlari menuju mobilnya. Lalu masuk, mobil pun melaju pergi.
*****
Di tempat lain Syena dan Rey, sedang berada di sebuah restorant. Namun ada yang membuat bocah itu merasa heran. Ada orang lain yang bergabung dengannya.
Seorang wanita yang tidak dikenali bahkan baru saja bertemu.
"Ini anak bapak?" tanya wanita itu.
"Iya, anakku dengan Dinda. Aku sudah pernah bilang jika Dinda adalah mantan istriku. Dan kami sudah lama cerai. Apa kamu keberatan?"
"Tidak Pak. Justru aku menyukai anak kecil. Tapi apa bapak sekarang sudah punya istri?"
Rey, hanya tersenyum mendengar celotehan wanita itu. Sungguh wanita yang polos tidak mencari tahu tentang kehidupan Rey, terlebih dulu.
"Kalau aku sudah punya istri apa kamu keberatan?"
__ADS_1
Sedetik wanita itu tertegun. Senyumnya langsung menciut. Seakan kecewa karena Rey, sudah memiliki istri. Namun, kekecewaannya tidak berlangsung lama karena Rey, berhasil merayunya kembali.
"Jangan kaget. Aku cuma bercanda. Saat ini aku masih sendiri."
"Tidak bohong kan pak?"
"Kalau aku berbohong untuk apa aku membawa Syena. Lebih baik aku berbohong jika aku seorang pejaka. Kamu tidak percaya?"
"Aku percaya kok Pak." Senyum wanita itu kembali mengembang.
Bodoh. Satu kata untuk wanita itu, bisa-bisanya dia langsung percaya begitu saja. Sedangkan Rey, langsung tersenyum merasa menang karena berhasil menaklukkan wanita muda juga seorang gadis.
Wanita itu juga baik dan menyukai Syena. Namun, Syena terlihat bingung menatap wanita yang bersama papanya. Masalahnya wanita itu bukanlah Velove, mama keduanya.
*****
Syena langsung di antar pulang oleh Rey. Baru saja turun dari mobil kedatangan Rey dan Syena sudah disambut dengan tatapan tajam dari Dinda, juga Willy yang menunggu di depan teras.
"Mama!" teriak Syena yang berlari ke arah Dinda. Rey masih diam di depan mobilnya.
"Mama aku di ajak jalan sama papa."
"Syena, kamu masuk ke dalam ya sayang." Dinda langsung memberikan Syena pada asisten rumah tangganya. Syena pun dibawa masuk ke dalam rumah.
Kini tinggal Dinda, Willy, dan Rey yang sama-sama memberikan tatapan tajamnya.
Langkah Dinda terayun sedikit lebih maju menghadap Rey, yang masih berdiri di depan mobilnya.
Kesal sudah pasti yang Dinda rasakan. Apalagi saat mengetahui tingkah Rey, di perusahaannya.
"Kamu tidak punya etika ya Rey. Seenaknya membawa Syena pergi."
"Seenaknya? Syena juga putriku Dinda. Aku berhak membawa Syena pergi."
"Membawa pergi diam-diam. Tanpa memberitahuku. Apa itu hal yang benar? Kamu memang ayahnya tapi membawa Syena harus dengan izinku. Kamu pikir aku tidak khawatir saat Syena tiba-tiba hilang dari sekolah. Willy, dia begitu cemas karena Syena tidak di temukan. Tapi kamu malah bersenang-senang."
Sepertinya ucapan Dinda tidak berpengaruh. Rey terlihat santai dan tidak merasa bersalah sama sekali. Tatapannya terus tertuju pada Willy, yang menatapnya tajam.
"Jika bukan karena seseorang memberitahuku. Mungkin kamu sudah ku laporkan pada polisi." Rey, hanya tersenyum sinis menanggapi perkataan Willy.
"Jangan terlalu berlebihan. Buktinya Syena happy, dan sekarang pulang dengan selamat. Aku ayahnya tidak mungkin menyakiti putriku sendiri." Kata Rey, yang langsung masuk ke dalam mobilnya.
Dinda merasa kesal. Tangannya mengepal kuat menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Namun emosinya seketika mereda saat tangan Willy memeluknya erat.
"Tenanglah. Rey, sudah pergi Syena pun sudah kembali. Lebih baik kita masuk Syena pasti menunggu." Dengan lembutnya tangan Willy, mengusap punggungnya. Membuat emosi Dinda turun dan kembali tenang.
__ADS_1
...***************...
Rey, bikin emosi 😠😠