Life After Married

Life After Married
Bab 142- Hubungan Rahasia


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti tepat di depan pekarangan rumah. Pintu terbuka dengan sendirinya. Rey, turun dari mobil membuka pintu mobil di belakangnya.


Turunlah Velove yang menggendong bayi kecilnya, secara bersamaan Rita turun dari jok depan. Satu tangannya mendorong pintu mobil yang sempat terbuka.


Rita, berjalan mendekati Velove, sepasang tangannya mengambil alih baby Bian dalam pangkuan putrinya.


"Biar Mama saja yang gendong. Rey, kamu bawa barang-barang," titah Rita pada menantunya. Rey pun melangkah kearah belakang mobil, membuka pintu bagasi, menurunkan semua barang-barang yang ada di dalam.


Velove dan Rita melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Saat hendak menurunkan barang terakhir. Willy merasakan sesuatu bergetar dalam saku celananya.


Tangannya merogoh saku depan di bawah ikat pinggangnya. Terlihat sebuah benda pipih keluar, berada dalam genggaman tangan yang langsung menyentuh layar datar pada ponselnya.


[Mas, apa sudah pulang dari rumah sakit? Kapan kamu akan masuk kerja Mas?]


Jempol tangannya mulai bergerak, menari-nari di atas layar datar itu. Menekan beberapa huruf pada keyboard agar menbentuk sebuah kalimat tulisan yang akan di kirim sebagai balasan pesan.


[Ini baru sampai di rumah. Mungkin besok aku sudah mulai masuk kerja]


Setelah membalas pesan, benda pipih itu di masukan kembali ke dalam saku celananya.


Di tutupnya pintu bagasi, kedua tangan Rey, meraih tali tas, lalu menjinjingnya ke dalam rumah.


Bian langsung di tidurkan di dalam bok bayi. Kelopak matanya masih tertutup rapat, barisan bulu mata lentik begitu rapi di antara hidung mancung yang belum nampak sempurna.


Bibir mungil tipis berwarna merah muda menambah kesan tampan, hingga alis tipis yang belum berbulu, dan kepala botak sedikit berambut. Membuat sepasang mata siapa pun betah memandangnya.


Kulit putih, mulus dan halus. Kedua tangan mungil, telinga imut, dan kedua kaki kecil panjang, terlihat jelas bayi itu sangat tampan dan tinggi.


"Ma? Dimana barang ini harus ku simpan?" tanya Rey, yang baru saja muncul dari balik pintu kamar.


"Simpan saja di sana Rey. Untuk tas biru itu punya Velove, bisa kamu simpan di sini saja."


Rey, menyimpan satu tas jinjing berwarna biru di sisi ranjang tidurnya. Lalu membawa tas hijau kembali keluar untuk di simpan di tengah ruangan.


Baru saja mendaratkan bokongnya di atas sofa, ponselnya kembali berdering. Telapak tangannya segera mengambil benda pipih dalam saku.


Kelopak matanya turun menutupi pupil hitam di balik bola mata paling dalam. Bibirnya mulai bergerak membaca isi pesan yang baru di terima.


[Apa aku harus menjenguk bayimu?]


Satu pesan pertanyaan dari Angle. Membuat jempol Rey, bergerak menekan layar pada ponselnya. Satu persatu huruf pada keyboard membentuk sebuah kalimat.


[Tidak perlu, apa lagi datang ke rumah. Nanti istriku curiga, apa kamu lupa sudah bertemu dengannya? Velove pasti mengenalimu walau hanya bertemu sekali.]


Balasnya. Rey, diam sejenak, seraya menyandarkan punggungnya pada sofa. Sedetik suara deringan kembali terdengar, membuat tangannya kembali menyentuh layar datar itu.


[Benar juga Mas, aku dan istrimu sudah pernah bertemu] balas Angle.


[Aku sudah berjanji. Untuk tidak lagi berhubungan denganmu. Aku harap kamu mengerti.]


[Iya Mas. Sekarang aku akan kembali bekerja. Sampa jumpa besok Mas, l love you]


[Love you to]


"Mas?"


Sontak tangan Rey, langsung melempar ponsel pada genggamannya. Panggilan Velove seketika membuatnya gugup. Aturan nafas yang semula tenang tiba-tiba memgembus tidak beraturan. Detakan jantung begitu cepat dari biasanya. Seperti sebuah pompaan yang terus bergerak tanpa berhenti.


"Kamu kenapa Mas?"


"Enggak apa-apa. Tadi aku sempat tertidur, mendengar panggilanmu aku sedikit kaget."


"Ya ampun Mas, tidur di kamar jangan di sini. Pasti kamu capek kan? Bian juga sedang tidur, temani Bian di kamar."


"Iya, nanti aku ke kamar."


"Apa mau makan dulu?"


"Belum lapar. Lagian masih kenyang sudah makan tadi."


"Ya sudah, ayo lanjut tidur lagi di kamar." Tangan Rey di tarik paksa oleh Velove, di tuntunnya ke dalam kamar. Meninggalkan ponselnya yang terjepit di sela-sela pinggir sofa.


*****


"Sayang cari apa?" tanya Velove yang melihat Rey, kebingungan. Kepalanya celingak-celinguk tidak tentu arah. Kedua tangannya meraba dan mengacak-acak isi dalam tasnya.


"Aku cari ponselku dimana ya?" jawab Rey.


"Coba kamu ingat-ingat terakhir menyimpan dimana?"


"Aku lupa sayang."

__ADS_1


Velove, menidurkan Bian sejenak, setelah nyusuinya. Tubuhnya beranjak dari kasur, kakinya terayun melangkah keluar dari kamar.


Sepasang netranya mengedar ke setiap penjuru tempat, laci-laci pada meja, semua sudah ia obrak-abrik hanya untuk mencari satu benda milik Rey.


Velove, berhenti sejenak. Matanya terus mengedar ke setiap arah. Berharap menemukan benda yang di carinya. Saat hendak membersihkan sofa, netranya tidak sengaja melihat benda pipih yang terjepit di ujung sofa.


"Sepertinya ponsel ini tertinggal saat Mas Rey, tertidur."


Saat hendak menghidupkan, layar datar itu tidak membiaskan cahaya sama sekali. Yang ada hanya layar hitam dan gelap.


"Sepertinya batrainya habis."


Velove langsung berjalan menuju kamar, memberikan ponsel itu pada Rey.


"Mas ini ponselmu." Tanpa permisi tangan Rey, langsung merampas ponsel itu dari tangannya. Velove tertegun melihat kepanikan Rey, pada ponselnya.


"Dimana kamu menemukan ini?"


"Di sofa. Kamu kenapa Mas jadi panik gitu?" Bukannya menjawab Rey, malah balik tanya.


"Kok mati?"


"Batrainya habis mungkin. Saat ku temukan juga sudah mati." Embusan nafas perlahan turun. Rey, merasa lega karena Velove tidak melihat isi chat-Nya.


"Charger dulu Mas."


"Nanti aku charger di kantor saja. Aku berangkat dulu ya sayang." Satu kecupan mendarat pada kening Velove, lalu Rey, melangkah ke dekat kasur untuk mengecup baby Bian.


Setelah merasa puas mengecup Rey, langsung pergi meninggalkan Velove yang masih bergeming.


"Aneh," gumamnya setelah kepergian Rey.


*****


Di sebuah ruangan dalam perusahaan. Angle sedang membungkus sebuah kado dengan kertas berwarna-warni. Membentuknya semenarik mungkin.


Tingkahnya mengundang perhatian teman-temannya. Membuat mereka penasaran apa yang sedang di buatnya.


"Angle kamu buat kado untuk siapa?"


"Untuk melihat bayi ya pak Rey."


"Sepertinya tidak. Aku hanya akan menitipkannya pada pak Rey."


"Seharusnya kamu kasih langsung kepada istrinya. Kamu 'kan sekretaris pak Rey."


Tidak ada satu pun yang tahu hubungan Angle dengan Rey. Angle hanya menanggapi ucapan mereka dengan senyuman.


Bagaimana jika mereka tahu apa mereka akan membencinya. Hubungan rahasia memang tidaklah menyenangkan, ingin rasanya di ketahui banyak orang bahwa Rey, adalah kekasihnya.


Namun itu sudah menjadi pilihannya untuk menjadi kekasih gelap, yang hanya Angle sendirilah yang tahu.


"Rey," ucapnya saat melihat tubuh Rey, yang berjalan ke arahnya. Seketika bibirnya mengembang, tidak peduli lagi dengan hubungan rahasia, bertemu dengan Rey saja sudah membuatnya bahagia.


"Pagi pak?" sapa Angle saat Rey sudah mendekat. Ingin rasanya memeluk namun harus tertahan.


"Pagi," jawab Rey, datar.


Mereka tidak memperlihatkan sikap hubungan sepasang kekasih. Mereka bersikap layaknya bawahan dan atasan. Namun tidak dengan mimik wajah yang terlihat. Senyuman indah yang di pancarkan keduanya, dan kedipan mata yang Rey berikan.


"Ku tunggu kamu di ruanganku," bisik Rey, lalu melangkah memasuki ruangannya.


Helaan nafas panjang Angle, embuskan. Satu tangannya membawa sebuah paper bag yang tersimpan di atas meja, tidak lupa beberapa berkas yang Angle bawa, sebagai pekerjaan hari ini.


Ketukan pintu terdengar lembut. Rey, yang baru saja duduk menyahut. Meminta masuk pada seseorang yang sudah mengetuk pintu ruangannya.


Pintu terbuka lebar muncullah Angle, yang langsung mendapat senyuman dari Rey. Baru saja tangannya bergerak menutup pintu, tiba-tiba saja Rey, sudah berdiri di belakangnya.


Di tariknya tengkuk leher itu dengan lembut, menyatukan sepasang benda kenyal yang saling menyesap.


"Aku merindukanmu," ucap Rey. Yang kembali menyatukan benda kenyal milik mereka.


"Aku juga merindukanmu Mas," ucap Angle, saat kedua benda kenyal itu sudah terlepas.


Rey, langsung kembali menuju meja kerjanya. Di ikuti Angle, yang mengekor di belakang. Tangan Rey, mulai mencari sebuah charger untuk mengisi batrai handphone-Nya.


"Kenapa isi batrai di sini Mas?"


"Chat kemarin belum sempat ku hapus. Jika di rumah istriku bisa tahu."


Sedih, itu yang dirasakan Angle. Bahkan sebuah pesan chat saja harus di sembunyikan.

__ADS_1


"Oh iya, ini aku bawakan hadiah untuk putramu Mas, semoga cocok." Kata Angle, seraya menyimpan satu pepar bag di atas meja kerja Rey.


"Apa ini?"


"Hanya hadiah kecil."


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Angle tersenyum hambar. Melihat Rey, yang masih sibuk dengan ponselnya. Tanpa melihat kearahnya. Kebosanan pun di rasakannya. Membuat tubuhnya langsung berbalik hendak pergi. Namun, tangan Rey, menahan tangannya, membuat Angle kembali berbalik.


"Mau kemana?"


"Mau keluar, sepertinya aku sudah tidak dibutuhkan lagi di sini," ketus nya karena kesal.


"Siapa bilang." Kata Rey yang langsung bangun dari kursinya. "Aku punya hadiah juga untukmu," sambungnya.


Sedetik mata sipit itu terbelalak. Saat melihat sebuah kalung silver yang terayun di jari jemari Rey. Permata biru menambah kesan cantik pada kalung itu. Bibirnya tidak mampu berkata.


Kalung itu mulai terpasang pada leher jenjang mulus miliknya. Rasa jenuh, kesal dan bosannya seketika hilang. Bibirnya melengkung sesaat. Sebelum akhirnya pelukan hangat Rey, berikan. Membuat kedua tubuh mereka saling menyatu.


"Terima kasih."


"Kamu suka?"


"Hm … ini adalah hadiah terindah untukku."


"Hadiah itu tidak sebanding dengan cintamu padaku. Terima kasih sudah mencintaiku Angle."


"Aku mencintaimu Mas, berharap kamu akan menjadi milikku seutuhnya," batinnya.


Ya, Angle hanya bisa membatin. Karena dirinya tidak tahu bagaimana akhir dari hubungannya. Apa Rey, akan tetap menjadi miliknya seutuhnya. Atau hubungannya akan kandas, karena Rey, lebih memilih istri dan anaknya.


******


Di tempat lain Dinda dan Willy sangat sedih, karena harus berpisah lagi dengan orang tua mereka.


Asih, Mayang, dan Rose, hari ini akan kembali ke surabaya. Meninggalkan anak dan cucunya.


Pelukan hangat tidak mampu mengobati rasa rindu yang akan selalu datang. Namun setidaknya pelukan itu menjadi penenang hati mereka.


"Jaga dirimu baik-baik ya sayang. Jaga kandunganmu." Kata Asih saat memeluk Dinda, wajahnya terlihat sendu, seakan tidak rela jauh dari sang ibu.


"Kenapa Ibu tidak tinggal di jakarta saja?"


"Tidak bisa sayang. Ibu tidak mungkin meninggalkan bunga daisy Ibu" Kata Asih yang menggoda putrinya agar tersenyum.


Dinda pun mengerti rumah itu penuh dengan kenangan. Setitik butiran bening turun dari sudut matanya. Lambaian tangan perpisahan membuat langkah mereka semakin jauh.


Hingga suara panggilan yang menggema memenuhi seisi bandara. Membuat wajah Asih, Mayang, dan Rose semakin menjauh tidak terlihat.


"Sudah jangan menangis. Kita bisa datang ke surabaya kapan pun. Jangan sedih lagi." Kata Willy yang menyapu air mata yang membasahi wajah Dinda.


"Sekarang kita pulang, kasihan Syena menunggu di rumah." Willy langsung memeluk Dinda, menuntunnya untuk pergi meninggalkan bandara.


"Mas, aku lapar."


"Kita cari restoran dekat sini ya."


"Boleh, tapi aku mau makan kue beras yang ada gula merahnya Mas."


"Kue beras yang gula merah? Apa?"


"Bentar." Dinda langsung merogoh ponselnya, memperlihatkan sebuah gambar kue berbentuk kerucut, yang dimasak dalam anyaman kayu.


"Ini Mas namanya awug." Tunjuk Dinda pada gambar. Willy merasa heran, karena nama kue itu sedikit langka dan tidak pemiliar.


"Dimana kita cari makanan ini?"


"Ada di bandung kalau tidak daerah sukabumi Mas." Sontak mata bulatnya terbelalak. Apa kali ini Willy harus pergi ke daerah itu hanya untuk mencari kue awug.


...****************...


Note:


Awug adalah kue yang terbuat dari tepung beras, yang di masukan ke dalam anyaman kerucut ( orang sunda bilang aseupan ) Yang di isi gula aren merah di dalamnya.


Orang bandung biasa menyebutnya awug


Orang sukabumi biasa menyebutnya dodongkal

__ADS_1


__ADS_2