Life After Married

Life After Married
Season 2


__ADS_3

Dua jam sudah berlalu, operasi yang dijalankan Reyhan akhirnya selesai, semua orang yang menunggu bisa tenang, tetapi Angel masih merasa cemas karena Reyhan belum sadarkan diri.


Di depan kaca ruang ICU Angel ditemani Joshua, Rey bersama Dika datang menghampiri Angel. Entah apa yang akan pria itu lakukan kali ini, mentang-mentang sudah tahu siapa Reyhan sebenarnya, Rey menatap Angel dengan tajam lalu berkata, "Kita perlu bicara." 


Angel segera menoleh ke arah suara, Joshua segera menjauhkan Angel dari Rey yang berdiri di sampingnya, tetapi Angel menahannya. Angel meyakinkan Joshua bahwa dirinya baik-baik saja. 


Joshua hanya diam, membiarkan Angel berbicara dengan Rey. 


"Apa yang ingin kamu tahu?" tanya Angel dengan tenang. 


"Banyak, tapi tidak di sini. Karena ada orang lain." Rey berkata seraya melirik pada Joshua. 


Rey pergi meninggalkan ruang ICU, Angel mengikutinya hingga langkah mereka terhenti di ujung lorong yang sepi. 


"Ada apa?" tanya Angel to the poin.


"Sejak kapan kamu tahu hamil? Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku?" 


Angel sudah bisa menebak Rey pasti akan menanyakan hal itu. 


"Setelah kita bercerai," jawab Angel. 


"Apa kamu sengaja merahasiakannya? Di persidangan kita bertemu apa kamu mengatakan itu? Seharusnya kamu mengatakannya padaku." 


"Apa akan ada yang berubah jika aku mengatakannya?" Angel bertanya seraya menatap Rey.


"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan bahwa Reyhan adalah anakku?" tanya Rey dengan emosi.


"Aku rasa tidak perlu, karena kita sudah bercerai," jawab Angel.


"Apa kamu tetap akan merahasiakannya? Kamu pikiri itu yang terbaik untuk Reyhan?" tanya Rey dengan emosi.


"Apa menurutmu jika Reyhan tahu siapa ayahnya itu yang terbaik untuk Reyhan? Tidak Rey, belum tentu menurutmu baik juga baik untuk Reyhan. Sekarang kamu sudah mengetahui siapa Reyhan, jadi mulai saat ini jangan ganggu aku lagi. Aku berterima kasih karena kamu sudah mendonorkan darahmu, kamu boleh pergi." 


"Apa kamu takut jika Reyhan tahu kalau aku ayahnya?" 


"Aku tidak pernah takut, karena cepat lambat Reyhan akan tahu." 


"Setelah Reyhan sembuh aku akan membawanya," ucap Rey membuat Angel langsung menatapnya. 


Inilah yang Angel takutkan, Rey akan membawa Reyhan. "Kamu tidak ada hak untuk membawa Reyhan." Angel berkata seraya menatap Rey kesal.


"Kenapa? Aku ayahnya." 


"Tapi aku ibunya yang melahirkannya."


"Apa kamu memang tidak akan mengatakan pada Reyhan jika aku ayahnya?" 


"Akan ada saatnya Reyhan tahu." 


"Sekarang sudah saatnya," sanggah Rey.


"Tunggu Rey, kamu jangan hanya memikirkan dirimu saja tapi pikirkankah Reyhan. Ada banyak alasan yang bisa aku berikan pada Reyhan jika bertanya di mana dan siapa ayahnya. Namun, alasan apa yang akan kamu berikan jika Reyhan bertanya siapa ibunya? Apa kamu lupa jika di rumahmu ada Velove? Anak seusia Reyhan tidak akan mengerti, kecuali setelah dewasa dia akan mengerti sendiri. Jika kamu ingin yang terbaik untuk Reyhan pikirkanlah perkataanku." 


Rey terdiam setelah mendengar ucapan Angel. Tidak hanya Reyhan yang harus dipikirkan, ada Bian yang juga harus Rey pikirkan. Mungkin Bian tidak akan mudah menerima Reyhan sebagai saudaranya. 

__ADS_1


"Aku tidak akan menghalangimu bertemu Reyhan, tapi aku tidak akan membiarkanmu membawa Reyhan," ucap Angel penuh penekanan lalu pergi meninggalkan Rey. 


Angel kembali pada Joshua, yang masih menunggunya di ruang ICU. Joshua berdiri ketika Angel datang. Pria itu tidak berani bertanya, melihat mimik wajah Angel saja Joshua sudah tahu apa yang sudah terjadi.


"Apa yang dia katakan? Apa dia mengancammu?" tanya Joshua setelah Angel duduk di sampingnya.


"Rey, ingin membawa Reyhan, tapi aku tidak akan membiarkan itu," jawab Angel.


"Kamu jangan khawatir, aku akan mempersiapkan pengacara untukmu. Rey tidak akan bisa mengambil Reyhan," ujar Joshua. 


"Aku tidak memikirkan itu untuk saat ini, yang aku pikirkan hanyalah kesembuhan Reyhan." Angel kembali melihat Reyhan pada dinding kaca. Ingin sekali mengusap wajah dan menggenggam tangan mungil itu, tetapi Reyhan belum diizinkan untuk dijenguk siapa pun. 


.


.


Velove dan Bian masih ketakutan, Bian terus melamun memikirkan peristiwa tadi pagi, bagaimana jika ada orang yang melihat dan bagaimana jika Reyhan tidak selamat. 


"Mama, apa aku akan di penjara?" tanya Bian. Velove hanya diam, menatap putranya itu yang sangat ketakutan. 


"Sudah berapa kali Mama katakan, jangan mengingat hal itu, apa kamu yang menabraknya?" tanya Velove Bian segera menggeleng. 


"Jadi untuk apa polisi mencari mu? Minumlah." Velove berkata seraya memberikan obat penenang untuk putranya. 


"Obat apa ini Mama?" 


"Minum saja. Biar kamu tenang dan tidur." Bian langsung meminumnya, setelah itu Bian tertidur. 


'Aku harus melindungi Bian bagaimanapun caranya. Apa maksud Bian mengatakan bahwa Reyhan akan merebut ayahnya, siapa wanita yang sudah melahirkan Reyhan?' batin Velove. 


"Halo Ma," ucap Velove ketika sambungan telepon itu terhubung. "Apa Mama bisa ke rumah? Kapan Mama ada waktu aku dan Bian akan datang," katanya pada Rita di ujung sana.


"Baiklah, Ma. Ada hal penting yang ingin aku katakan, ini tentang Bian. Rencana kita akan menginap di rumah Mama untuk beberapa hari." Setelah mengatakan itu Velove menutup sambungan teleponnya. 


Rey, dan Dika masih berada di rumah sakit. Namun, dalam jarak yang cukup jauh dari Angel dan Joshua. 


Dika mendekat ke arah Rey lalu berkata, "Bos, orang itu sudah menghubungi ku. Dia meminta bayaran sesuai kesepakatan." 


"Kamu berikan saja bayarannya, tapi aku tidak bisa pergi. Kamu saja yang temui, aku tidak ingin pria itu mengenal wajahku," ujar Rey


"Baiklah, Bos. Aku pergi."  


Rey, hanya mengangguk membiarkan Dika pergi. 


Rey mendekat ke arah Angel dan Joshua, lalu duduk di antara mereka. 


"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Angel. 


"Aku juga ingin menunggu putraku," jawab Rey. 


Angel mendengus, lalu kembali diam. 


"Kamu belum makan, sebaiknya kita ke kantin. Selagi ada orang yang menjaga Reyhan," ujar Joshua menyindir Rey.


Angel melirik Rey sekilas lalu menatap Joshua. "Iya," ujarnya lalu berdiri dan melangkah pergi bersama Joshua.

__ADS_1


Rey menatap kepergiaan mereka kesal. Celingukan tidak ada siapa pun di sekelilingnya lalu pergi menyusyl Angel. 


Angel dan Joshua baru saja sampai di kantin. Mereka memesan makan dan minum, tiba-tiba Rey hadir ikut bergabung bersama mereka. Lalu memesan makanan yang sama. 


"Angel apa kita perlu pindah meja?" tanya Joshua yang langsung disanggah Rey.


"Silahkan saja jika ada tempat yang kosong," ujar Rey demikian. 


"Biarkan saja Joshua, lagian kita lebih dulu duduk di sini, jika ada yang harus pergi bukan kita tapi dia." Angel berkata seraya melirik pada Rey. 


Tidak berselang lama pesanan mereka pun datang. Angel dan Joshua saling mencicipi makanan mereka, tertawa dan bercanda bersama. Rey yang diabaikan sangat kesal hanya bisa menusuk-nusuk makanannya sendiri.


Apalagi saat Joshua menyuapi Angel, hati Rey semakin dicabik-cabik. Emosi bercampur rasa cemburu. 


"Sepertinya makananmu terlalu pedas, kamu butuh minuman dingin?" tawar Angel pada Rey yang wajahnya sudah sangat merah penuh dengan amarah.


Rey hanya diam. 


"Angel cobalah ini, makanan di rumah sakit ini sangat enak tidak kalah dengan cafe-cafe di luaran." Joshua sengaja terus menyuapi Angel, ingin melihat sekesal apa Rey padanya. 


"Tunggu dulu, ada saos di bibirmu." Kata Joshua seraya mengusap lembut bibir Angel. 


Rey tidak tahan lagi melihat kemesraan itu, pria itu pun memilih pergi. 


Angel dan Joshua tertawa ketika Rey meninggalkan meja mereka. 


"Apa kamu melihat wajahnya, merah seperti api," ujar Joshua tertawa renyah. 


"Aku tidak peduli seperti apa wajahnya yang penting pria itu sudah pergi," kata Angel membuat Joshua terdiam. 


Dalam diam Joshua tersenyum, ternyata Angel sudah melupakan Rey sebagai pria yang pernah dia cinta. 


.


.


"Menyebalkan." Rey menggerutu. "Mereka pikir aku akan cemburu, main romantis-romantisan di depanku. Walaupun tidak cemburu aku masih kesal," ungkap Rey. 


"Siapa lagi ini."


Rey semakin kesal ketika ada seseorang yang menghubunginya di saat seperti ini. Dilihat nama Velove yang tertera, Rey segera menjawab panggilan itu. 


"Iya ada apa?" tanya Rey singkat dan ketus. Velove yang berada di lain tempat merasa kesal dengan sapaan Rey. 


"Kamu di mana?" tanya Velove menahan amarah.


Rey menghela nafas sejenak lalu menjawab, "Masih ada pekerjaan, kenapa?" tanya Rey balik. 


"Aku dan Bian akan pergi menginap di rumah Mama untuk beberapa hari," ujar Velove yang hanya dijawab dengan gumaman.


"Hem." Hanya itu yang Rey katakan lalu menutup sambungan teleponnya. 


Velove terdiam, menatap ponselnya. Rey sama sekali tidak menanyakan kabar Bian atau dirinya. Benar-benar tidak peduli. 


"Pantas saja Bian takut jika ayahnya dimiliki orang lain. Sikap Rey yang seperti ini tidak akan bisa berbuat adil pada kedua putranya yang berbeda. Siapapun itu Reyhan, aku tidak akan membiarkan dia mengambil Rey dari kami. Hanya Bian anak Rey, dan Rey hanya ayah untuk Bian bukan yang lain." 

__ADS_1


Velove, memasukan ponsel itu ke dalam tasnya lalu pergi membawa Bian ke rumah Rita. Selain bercerita tentang masalah Bian, Velove pasti bercerita tentang anak yang bernama Reyhan. Entah apa yang akan terjadi pada Reyhan nanti.


__ADS_2