Life After Married

Life After Married
Bab 149-


__ADS_3

Aroma masakan begitu harum. Bau yang tercium hingga menembus lubang penciuman seorang pria yang tertidur di atas sofa, mampu membangunkannya dari alam mimpi.


Matanya perlahan mengerjap, memindai setiap sudut ruangan. Setelah kesadarannya terkumpul Rey, terbangun membenahkan posisi tubuhnya dengan cara duduk.


Di dapur sana, seorang wanita yang begitu cantik. Mata sipitnya seolah menghilang menciptakan garis lurus saat mencium aroma masakannya.


Tangannya kembali menggoyang-goyangkan spatula di atas wajan. Leher jenjangnya terekpose jelas saat rambut gelombangnya di biarkan di ikat. Pakaian sederhana yang melekat tidak menghilangkan aura kecantikan wajahnya di pagi hari.


Tiba-tiba sebuah tangan melingkar pada perut ratanya. Sebuah benda kenyal menelusuri setiap inci leher mulusnya. Membuat Angle geli.


"Mas, geli." Katanya seraya melepas tangan Rey, yang melingkar pada perutnya.


"Tubuhmu wangi sekali." Kata Rey, yang masih mengendus aroma bau maskulin pada leher jenjang kekasihnya.


Pelukan yang semula terlepas kini kembali melingkar hingga membalikkan tubuh wanita yang kini menghadapnya. Di tatapnya wajah mulus itu tanpa berkedip, jari-jari manisnya terus menyapu kulit halus kekasihnya, hingga benda kenyal mereka saling menyatu bagaikan tali yang terikat.


"Sayang, sudah. Aku sedang masak nanti gosong lagi." Kata Angle seraya melepas pagutan bibirnya.


"Aku tidak tahu jika kamu pintar masak," bisik Rey membuat Angle langsung tertawa.


"Sudah Mas, mandi dulu sana. Setelah mandi kita sarapan." Bukannya melangkah pergi, Rey malah mendekatkan bibirnya. Seolah mengerti Angle pun melakukan hal yang sama, satu kecupan lembut ia berikan.


Senyuman indah terlukis pada wajah mereka. Sebelum akhirnya Rey, melangkah pergi dan Angle melanjutkan kembali aktifitas memasaknya.


*****


Hidangan sudah tertata rapi. Angle pun sudah terlihat cantik dengan mini dres yang ia kenakan. Rambut gelombangnya kembali terurai, menutupi lebar pundaknya yang begitu mulus.


"Wah … kelihatannya lezat," ucap Rey, yang baru saja datang.


Tubuhnya masih berdiri di depan meja makan, pagi ini serasa berbeda. Wajahnya begitu berseri. Pandangannya tidak teralihkan dari makanan yang tersaji, tubuhnya segera mendarat pada kursi.


Angle tersenyum melihat Rey, yang begitu semangat, mencicipi masakannya. Kedatangan Rey sangat mengejutkan namun juga membahagiakan.


"Pelan-pelan Mas, makannya."


"Aku tidak bisa pelan karena makanannya enak. Jika kamu memasak seperti ini setiap hari sepertinya aku akan betah di rumah," ucap Rey tanpa sadar menyinggung Angle.


"Iya Mas, jika aku sudah menjadi istrimu." Ucap Angle yang tersenyum hambar.


Tangan Rey, langsung berhenti menggerakan sendok. Mulut yang semula mengunyah juga ikut berhenti. Sedetik netranya menatap Angle di sampingnya.


Namun, objek yang ditatap tidak memandangnya sama sekali, Angle menghindari pandangan Rey, walau sebenarnya tahu jika Rey kini sedang menatapnya.

__ADS_1


"Aku akan menikahimu." Angle langsung tersedak, perkataan Rey mengejutkannya. Tatapanya langsung berpaling pada Rey, Kini mereka berdua saling bertatapan dalam diam.


"Aku akan menikahimu, jika kamu yakin siap menjadi istri keduaku," sambung Rey.


"Jika aku tidak siap, hubungan kita tidak akan sampai sejauh ini," timpal Angle.


"Dari awal aku tahu kamu sudah beristri. Mungkin semenjak itu bisa saja aku pergi. Jika kamu bertanya siap atau yakinkah aku, kamu sudah tahu jawabannya 'kan Mas," sambung Angle, membuat Rey diam seketika.


Hubungan mereka memanglah hubungan terlarang, siapa pun tidak akan merestui hubungannya. Dan semua orang akan merendahkannya sebagai wanita.


Namun, apa salah jika Angle mencintai lelaki yang sudah beristri? Yah, mungkin salah. Dan tidak bagi dirinya.


"Jika kamu sudah berkorban. Aku pun sama, akan aku lakukan."


"Kamu yakin Mas? Bagaimana dengan istrimu?"


Bukannya menjawab, Rey langsung mengacuhkan pertanyaan itu. Seolah tidak ingin membahasnya. Jika ditanya kenapa Rey melakukan itu? Apa dirinya tidak menyadari kesalahan sebelumnya? Entahlah, yang jelas hatinya selama ini begitu hampa.


Entah apa tujuan hidupnya. Jika kalian bertanya apa Rey akan berubah? Mungkin iya, pasti ada alasan bagi Rey kenapa bersikap layaknya laki-laki kurang ajar.


Laki-laki pembohong dan hanya menyakiti wanita.


"Mas, apa yang terjadi semalam? Apa kamu bertengkar?"


Kedua tangan yang menopang di atas meja, tiba-tiba meraup wajahnya kasar. Angle bisa melihat dengan jelas, begitu berat masalah kekasihnya itu.


Diusapnya punggung Rey, dengan lembut. Berharap akan menenangkan hatinya.


"Jika kamu masih lelah, istirahatlah. Kamu bisa tidur di kamar, aku akan pergi bekerja."


"Tetaplah Di sini." Kata Rey, yang menggenggam tangan Angle yang akan terlepas dan menjauh darinya.


Angle berpikir sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk.


*****


Di tempat lain Velove terus menatap layar ponselnya. Tidak ada satu pesan atau pun panggilan yang masuk dari Rey. Dirinya sudah sangat menyesal karena selalu egois.


Bukan untuk pertama kalinya Rey, pergi dari rumah hanya karena masalah pertengkaran mereka. Sebelum ada Bian atau setelahnya tidak pernah berubah. Entah apa yang salah dengan kehidupan mereka.


"Mah kira-kira kemana perginya Rey?"


"Kamu bertanya ke Mama, seharusnya kamu tanya sama Rey," pungkas Rita.

__ADS_1


"Rey tidak menghubungiku sama sekali Ma," keluh Velove. Rita hanya menatap putrinya itu dengan tatapan kesal.


"Lalu apa Mama yang harus menghubunginya? Kamu sendiri yang harus hubungi dia."


Sejenak Velove memejamkan matanya. Lalu menghubungi Rey seperti apa yang Rita perintahkan. Wajahnya terlihat kesal karena tidak ada jawaban dari Rey sama sekali.


"Tidak di angkat," ujarnya.


"Mungkin Rey butuh waktu sendiri," sela Rita. "Seharusnya kamu bisa mengendalikan emosimu, mungkin Rey, tidak akan pergi. Coba kamu pikirkan kemana Rey pergi? Apa ada tempat yang dia tuju?"


mq berpikir. Tiba-tiba matanya membulat seketika, tubuhnya langsung beranjak berdiri, entah apa yang ada dalam pikirannya. Seolah tahu keberadaan Rey saat ini.


"Ma aku titip Bian." Katanya yang langsung melangkah pergi tanpa menengok ke arah Rita.


"Mau kemana?" teriak Rita yang tidak di perdulikan.


****


"Stop Pak," tegas Velove pada si sopir taksi yang ia naiki.


Tangannya memberikan beberapa lembar uang pada si sopir, lalu turun dari taksi tersebut. Tubuhnya masih berdiri dan belum melangkah, tatapan matanya fokus pada sebuah rumah di depannya


Tatapannya begitu menakutkan. Sedetik langkahnya terhenti saat pandangannya teralihkan pada sebuah mobil yang ia kenal.


Nafasnya tercekat sesaat. Tatapannya perpindah pada pintu. Dengan kasarnya pintu itu ia pukul.


Tok, tok, tok,


Tok, tok, tok,


Berulangkali pintu itu di ketuk. Namun, belum ada jawaban dari sang empu rumah. Hingga pada saat tangannya kembali terayun, ingin memukul.


Tiba-tiba pintu itu terbuka lebar.


Wajah tenangnya menjadi sangar. Aura ketenangannya tiba-tiba menghilang, dan berganti amarah, saat melihat seorang wanita yang baru saja membukakan pintu untuknya.


Wanita itu pun tidak kalah terkejut, menatap Velove dengan tajam.


*****


Siapa kira-kira yang datang?


Jangan lupa like, komentar, Vote, hadiah plus bintang 5 nya juga ya 🤗.

__ADS_1


Terima kasih reader ku, yang masih setia mengikuti kisah Dinda, terus ikuti hingga selesai ya.


__ADS_2