
Warning! Mohon bijak dalam membaca hanya untuk 21+
Dinda dan Willy sudah sampai di dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang. Dinda menutup pintu lalu berjalan dan duduk disamping Willy.
"Maaf ya Wil, karena keinginan ayah kamu harus dipaksa menikahiku."
"Siapa yang dipaksa? Aku tidak merasa. Memang aku belum siap dan tidak pernah terbayangkan jika kita akan menikah secepat ini. Tapi aku tidak merasa terpaksa. Aku hanya merasa sedih."
"Sedih?" tatap Dinda pada Willy.
Willy menghela nafasnya panjang lalu menatap Dinda, disampingnya. Di genggamnya tangan itu dengan lembut.
"Aku sedih karena menikahimu tanpa mempersiapkan apa pun. Tanpa gaun pengantin, hantaran, pesta, bahkan mahar yang kuberikan adalah cincin ibumu sendiri."
"Sebenarnya aku tidak mengharapkan pernikahan seperti ini." Tambah Willy.
"Aku ingin membuatmu bahagia Dinda." Lanjutnya.
"Aku tidak butuh pesta, gaun pengantin, atau pun mahar yang mahal seperti berlian atau permata. Hanya ijab kabul saja aku sudah senang setidaknya kamu menempati janjimu menepati nazarku."
Di raihnya tangan Willy, lalu ia genggam di atas dadanya. Sepasang netranya menatap tulus pada pria yang baru satu hari menjadi suaminya.
"Terima kasih Willy, kamu mau menjadi imamku. Memilihku untuk menjadi istrimu." Satu kecupan Dinda berikan pada punggung tangannya. Entah memiliki keberanian darimana dirinya mengecup punggung tangan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Tangan Willy terangkat untuk menghapus air mata yang menetes di mata istrinya.
"Jangan menangis, aku sudah berjanji pada ayahmu untuk tidak membuatmu menangis. Dan aku lah yang berterimakasih karena kamu telah memilihku untuk menjadi suamimu."
Bibir Dinda tertarik, menciptakan lengkungan seperti bulan sabit. Senyumnya merekah dibarengi dengan tetesan air mata yang mulai turun.
Wajah Willy semakin mendekat, tangannya terayun untuk menyentuh pipi mulus itu yang telah basah dengan air mata.
Kini wajah keduanya semakin mendekat. Willy semakin memajukan tubuhnya juga wajahnya hingga menyisakan satu jari saja antara jarak kedua bibir mereka.
Jantung keduanya saat ini sedang bertalu-talu. Ada rasa gugup dalam hatinya. Menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
"Aku pernah mengatakan padamu. Bahwa aku tidak akan menyentuhmu sebelum menjadi suamimu." Willy berucap dengan kedua tangan yang tidak diam. Tangannya menarik punggung wanita didepannya. Membiarkan tubuh itu semakin dekat dengannya.
"Sekarang aku adalah suamimu. Apa boleh aku menyentuhmu saat ini?" lirih Willy.
Dinda masih bergeming. Tubuhnya sulit bergerak, bibirnya tidak mampu berkata. Namun, sepertinya jawaban Dinda tidak penting antara boleh atau tidak. Karena sebelum Dinda menjawab pertanyaan itu, Willy sudah melakukannya sendiri.
__ADS_1
Entah sejak kapan dagunya tertarik, membuat kepala mereka saling berdekatan. Hingga tatapan keduanya bertemu. Hembusan nafas menerpa, tanpa terasa kedua benda kenyal sudah saling menempel. Dinda hanya diam saat benda kenyal itu mulai mengeksplor lidah dan mulutnya.
Kedua matanya terpejam saat sentuhan itu semakin dalam.
Kini suara indah mulai terdengar manja, entah apa yang Dinda rasakan. Sudah lama dirinya tidak merasakan sentuhan seperti ini.
Membuat sesuatu dalam dirinya berdenyut.
Tangan Willy mulai bergerak. Menjelajah seluruh tubuhnya. Walau hanya sentuhan namun terasa sangat berbeda.
Entah sejak kapan kancing kemejanya terbuka. Memperlihatkan benda kenyal dibalik kaca mata busa itu.
Sedetik Dinda tersadar, setelah terlalu lama terbuai. Tangannya langsung menarik dan menutup kaca mata busa yang sudah terbuka.
"Willy," ucapnya gugup.
Willy hanya diam mematung melihat tingkah Dinda seperti itu. Bahkan Willy baru sadar kancing kemejanya sudah terbuka, entahlah siapa yang melakukannya.
"Kenapa Dinda?" Willy hanya menatapnya bengong.
"Mm … aku belum mandi. Badanku bau keringat. Aku harus pergi ke kamar mandi."
Tangannya langsung menarik tubuh Dinda hingga tubuh keduanya terjatuh di atas hamparan busa empuk yang berbalut seprei.
Dinda telonjak kaget namun tidak bisa bergerak karena tubuhnya kini berada di bawah kungkungan Willy.
"Sebelum kamu mandi. Biarkan aku menyentuhmu dulu," bisik Willy membuat bulu kuduknya meremang.
Dinda hanya menelan ludah paksa. Begitu pun Willy, saat melihat gundukan kembar tepat di depan matanya. Yang terhalang kaca mata busa biru.
Tubuh Dinda terlihat sangat seksi walau hanya terlihat dada mulusnya saja. Melihat pemandangan seperti ini membuat sesuatu dalam diri Willy terbangun.
Tubuh Willy semakin mendekat, mata Dinda perlahan terpejam. Benda kenyal itu kembali menempel saling bergulat didalam mulutnya.
Perlahan benda itu menuruni leher jenjangnya hingga sesuatu bergerak dibawah kacamata busa itu.
Suara indah dan manja mulai terdengar dan keluar dari mulutnya. Merasakan setiap sentuhan yang kini sudah menjelajah hingga aset terpentingnya.
Entah sejak kapan tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Rasa gugup dan malu seketika hilang. Kini dirinya hanya pasrah tubuhnya di jamah oleh suaminya.
*****
__ADS_1
Di tempat lain Velove dan Rita sudah sampai di rumah Rey, rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama Dinda. Dan rumah saksi bisu perselingkuhannya dengan Velove, sungguh rumah yang penuh dengan kenangan pahit dan kehidupan yang rumit.
Sekarang Rey, harus kembali. Berharap rumah ini tidak akan menjadi saksi kehancuran rumah tangganya lagi melainkan untuk kebahagiaannya.
"Masuklah," ujar Rey yang membuka pintu.
Rita hanya melotot saja. Melihat rumah yang sederhana dan tidak sebesar rumahnya dulu. Membuatnya semakin
kesal karena nasibnya kini berubah 180°.
Rey menarik kedua koper kedalam rumahnya. Mata Rita menatap mengejek pada rumah itu yang hanya memiliki dua kamar yang berada di lantai atas. Dan satu ruangan yang berada di lantai bawah.
Ruangan itu hanya satu yang dijadikan tiga fungsi. Ruang tamu, ruang tv dan ruang makan. Setiap kursi dan meja saling berdempetan. Dan berdesakkan. Sangat berbeda dengan rumah besarnya dulu yang sekarang di tempati Asih.
"Apa ini kamarku! Kecil sekali." Rita terus mengumpat, menggerutu, mengejek rumah itu. Bahkan kamar yang akan di tempatinya saat ini.
"Sudahlah Mah, kamarnya memang sebesar itu. Jangan sok kaya kita bukan orang kaya lagi!" cecar Velove pada ibunya.
"Apa kalian tidak lelah! Berdebat saja dari tadi." Rey, jadi kesal. Karena kedua wanita itu hanya berdebat sepanjang jalan bahkan sampai di rumah pun masih saja berdebat.
"Dari pada berdebat lebih baik bereskan dan rapihkan pakaian kalian. Velove bantu aku membersihkan rumah ini."
"Apa! Aku bersih-bersih!"
"Lalu siapa? Orang lain."
"Aku lelah Rey, mau istirahat." Velove merajuk yang langsung masuk kedalam kamarnya.
Begitu pun dengan Rita yang melakukan hal yang sama.
Rey, hanya membuang nafasnya kasar. Lalu membanting sapu dan lap pelnya. Kedua tangannya ia simpan diatas pinggangnya. Bayangan Dinda kembali terlintas.
Tidak ada wanita seperti Dinda yang melakukan semua pekerjaannya sendiri. Dari menyapu, mengepel, memasak, bahkan mengurus anak. Dan Dinda tidak pernah mengeluh tentang kamar atau luasnya rumah. Bahkan uang belanja pun selalu Dinda terima tanpa menawar.
Tidak adakah wanita seperti Dinda lagi? Ingin rasanya Rey, meminta wanita seperti Dinda untuk menjadi istrinya saat ini.
...----------------...
Gimana reader? Ada gak wanita seperti Dinda lagi kata Rey.
Tidak mudah mendapatkan wanita yang bisa menjadi seorang istri, seorang ibu, dan seorang kekasih dalam waktu bersamaan.
__ADS_1