
"Aku ingin menjelaskan apa yang terjadi 20 tahun lalu. Selama hidupku aku tidak pernah tenang karena aku belum menjelaskan apa pun padamu."
"Apa yang mau kamu jelaskan? Itu sudah berlalu. Dinda, sudah besar dan kita sudah tidak ada hubungan apa pun. Jadi tidak penting penjelasan itu."
"Bagiku itu sangat penting. Karena aku tidak pernah mengkhianatimu Asih, tidak pernah. Mungkin ini sudah terlambat, tidak ada artinya dan tidak berguna. Tapi setidaknya kamu tidak membenciku Asih, dan aku ingin hubungan kita menjadi lebih baik. Aku ingin bertemu Dinda dan aku ingin bemain dengan cucuku. Aku ingin dia memanggilku kakek." Kata Fras yang tersenyum seraya menatap Syena yang berdiri di samping Asih.
Lucunya, bocah kecil itu menampakkan barisan gigi putihnya. Matanya belonya terlihat indah, satu tangannya terus menepuk-nepuk pahanya yang berbalut selimut.
Senyuman Syena begitu menenangkan jiwa.
"Aku tidak akan melarangmu untuk menemui cucumu. Jika aku melakukan itu untuk apa aku membawanya kemari."
Asih, menarik tangan Syena, memindahkan tempat berdirinya anak itu semakin dekat dengan Fras, bahkan kini Fras bisa memandang wajah anak itu lebih jelas.
Fras tertawa begitu pun dengan Syena.
"Syena, ini Opah, kamu bisa memanggilnya Opa," ujar Asih, yang menunduk pada Syena. Bocah kecil itu pun menikuti apa yang Asih ucapkan.
"O … pah."
Fras begitu senang di panggil Opah oleh cucunya. Sayangnya tangan kekarnya tidak bisa memeluk tubuh kecil itu. Karena tubuhnya saat ini tidak bisa bergerak bebas.
"Opah sakit ya? Mau Syena sun Opah?" Fras mengangguk. Syena mendongak pada Asih, meminta bantuan pada Oma nya.
"Oma aku mau sun Opah." Asih, langsung memangku tubuh kecilnya. Mendekatkannya pada Fras, lalu membiarkan bibir mungil itu menyentuh pipi Fras yang mulai keriput.
"Aku udah sun Opah nanti Opah sembuh. Kita berdoa ya Opah." Kedua tangan itu menengadah ke atas udara bibir mungilnya mengucapkan beberapa doa yang dia tahu.
"Ya Allah, tolong sembuhkan Opah, agar sehat lagi dan aku bisa bermain sama Opah. Aamiin."
Kedua tangan itu di usapkan nya pada wajahnya. Asih dan Fras hanya mengkutinya.
"Oma? Oma gak sun Opah?" sontak pertanyaan Syena membuat Asih tercengang. Bahkan pipinya kini sudah memerah menahan malu.
Fras pun merasakan hal yang sama. Membuat keduanya kini merasa canggung.
Syena memicingkan matanya, menatap kedua orangtua itu dengan bingung. Beruntung Dinda datang membuat kecanggungan mereka menjadi lebih santai.
"Mama!" teriak Syena, yang berlari ke arah Dinda.
Dinda langsung bersimpuh untuk memeluk putrinya itu.
"Mama kok lama?"
"Mama angkat telepon dulu sayang."
"Dari siapa Ma?"
"Om pengacara."
__ADS_1
"Kok sama Syena enggak. Om pengacara curang sama Mama saja telepon sama aku enggak."
Sontak Dinda tertawa melihat tingkah lucu putrinya. Tawanya langsung memudar ketika netranya menatap sosok pria yang ia rindukan juga ia benci.
Tubuhnya langsung berdiri membiarkan Syena yang mengoceh sendiri. Melihat pemandangan itu Danu mengerti jika mereka membutuhkan waktu untuk bicara.
Danu langsung membawa Syena pergi mengajaknya bermain keluar dari ruangan ICU.
Tatapan Dinda begitu datar. Kakinya melangkah lebih maju dan mendekat ke arah Fras dan Asih.
"Dinda."
Fras merasa terkejut. Karena sebelumnya tidak tahu jika Dinda ikut datang menjenguknya.
"Apa kabar ayah? Bagaimana keadaan ayah?" tanya Dinda yang berdiri di samping ranjang Fras. Berhadapan dengan Asih.
"Baik. kesehatan ayah sudah membaik," ucap Fras dengan nada bergetar.
"Terima kasih Dinda, kamu sudah datang menjenguk ku. Terima kasih."
Dinda hanya diam sambil mengangguk.
"Maafkan ayah Nak, maafkan kesalahan ayah yang dulu. Tolong jangan membenci ayah aku mohon."
Jika memang ada rasa benci pada nya. Mungkin itu hanya sebatas emosi. Namun dalam hati seorang anak tidak mungkin sebenci itu pada ayahnya.
Seburuk apapun ayah kita, pasti ada rasa peduli dan rasa sayang yang sulit dihilangkan. Lisan bisa berkata tidak tapi hati tidak bisa berbohong.
Dinda masih ingat bagaimana sikapnya pada Fras saat mereka bertemu. Jangankan mencium punggung tangannya sebagai tanda baktinya pada sang ayah. Dinda malah membiarkan sang ayah menangis dan mengabaikannya.
"Boleh ayah memelukmu." Dinda mengangguk sambil tersenyum.
Tubuhnya mendekat, membenamkan wajahnya pada dada bidang sang ayah. Agar Fras bisa memeluknya. Asih tersenyum sedih, air matanya tak mampu untuk di bendung melihat pemandangan indah di hadapannya saat ini.
Maaf adalah kata yang sulit diucapkan. Namun dengan kata maaf mengajarkan hati ini untuk ikhlas dan saling memaafkan.
*****
Berbeda dengan suasana sedih di dalam ruang ICU. Tawa renyah menghiasi hari-hari Danu karena tingkah lucu si mungil Syena.
Syena begitu ceria bermain, berlari, dan tertawa di tengah taman. Sambil memainkan sabun balon yang Danu belikan.
Danu hanya duduk di kursi yang sudah di sediakan. Membiarkan bocah itu bermain sendirian.
Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Danu langsung berdiri menjawab panggilan itu.
Ternyata panggilan itu dari perusahaan. Membuatnya harus fokus mendengarkan suara dari sebrang sana.
Sedetik Danu melupakan Syena, yang asyik bermain. Syena terus mengejar gelembung sabunnya yang terbang di udara.
__ADS_1
Hingga berjalan terlalu jauh. Langkahnya terhenti saat seorang wanita berada di hadapannya, mencegah tubuhnya untuk maju lebih jauh.
Syena mendongak menatap wanita itu dengan polos. Wanita itu adalah Velove yang tersenyum ke arahnya.
Tubuh mungil itu perlahan mundur. Syena merasa takut karena tidak mengenali wanita di depannya saat ini.
"Hai Syena," panggil Velove yang tubuhnya semakin condong kebawah. Mendekati tubuh kecil itu.
"Tante kok tahu nama aku."
Walau masih polos Syena, tidak mudah untuk di dekati. Karena selalu mengingat pesan ibu yang tidak boleh percaya pada orang yang baru dia kenal.
"Jelas tante tahu dong. Karena tante adalah tantemu. Kemarilah tante punya sesuatu untukmu." Velove menunjukkan sebuah cokelat yang diambil dari dalam tasnya.
"Kenapa sayang? Kamu gak suka coklat?"
Syena hanya menggeleng.
"Syena, dengarkan Mama, jangan pernah mengambil barang apapun dari orang yang tidak kita kenal. Misalnya, ada yang kasih Syena permen tapi Syena gak kenal siapa yang ngasih permen itu. Selain Mama, Oma, tante Karin tidak boleh ya sayang."
"Memangnya kenapa Ma?"
"Takut orang jahat. Syena ngerti kan!"
"Kalau Om pengacara boleh?"
"Kalau Om pengacara Syena kenal gak?"
"Kenal."
"Kalau Syena kenal tidak apa-apa. Karena Om pengacara teman Mama juga."
Hanya itu yang selalu di ingat Syena.
"Anak ini tidak mudah di bujuk," batin Velove. Yang langsung berdiri menjauh dari Syena.
"Syena mau ketemu papa gak?"
"Papa?"
"Ya, papa Rey. Katanya papa kangen banget sama Syena, kasihan papa sedih." Velove membuat ekpresi sedih sebisa mungkin.
Tak hanya itu Velove juga menunjukkan foto Rey, bahwa dia benar-benar mengenal Rey.
"Tante tahu Mama dimana?"
"Tahu sayang. Sekarang ikut tante ayo."
"Tapi …." Syena terlihat berpikir.
__ADS_1
...----------------...
Kira-kira Syena ikut apa enggak ya?