
"Mama," panggil Velove pada Rita yang tengah menunggunya di depan pintu.
Rita segera memeluk Velove dan Bian, lalu membawa mereka masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di tengah ruangan, Bian di bawa Bi Num pergi ke kamarnya.
"Ada masalah apa?" tanya Rita sudah tahu apa maksud kedatangan putrinya itu.
Setiap ada masalah Velove selalu mengadu pada Rita sang ibunda, dan kini masalah yang Velove hadapi sangatlah besar. Entah Rita akan membantunya atau tidak.
"Masalahnya rumit sekali Ma," jawab Velove.
"Tentang Rey?" tanya Rita.
"Lebih dari itu," ujar Velove menghela nafas sejenak.
"Sikap Rey memang tidak pernah berubah, dingin dan cuek. Aku rasa ini ada kaitannya dengan orang lain, aku curiga Rey memiliki wanita lain di belakangku."
"Maksudmu Rey selingkuh lagi?" tanya Rita, Velove langsung mengangguk.
"Bian pernah mengatakan, bahwa Dika datang ke sekolahnya menjemput seorang siswa yang bernama Reyhan. Dan Bian berkata, jika Reyhan akan merebut ayahnya, karena ucapan Rey yang dia dengar."
"Ucapan apa?" Rita semakin penasaran dan ingin tahu.
"Rey, mengakui jika anak yang bernama Reyhan adalah anaknya," jelas Velove tentang pendengaran Bian waktu itu.
Rita terdiam, memikirkan siapa wanita yang sudah dinikahi Rey selama ini. Sebab, Rita selalu mencari tahu apa saja yang Rey lakukan, selama ini tidak ada yang mencurigakan tentang hubungan gelap menantunya itu.
"Kamu tahu anak yang bernama Reyhan?" tanya Rita.
"Ya, dia satu sekolah dengan Bian. Hanya saja berbeda satu angkatan. Bian satu tahun lebih tua darinya."
"Berarti anak itu berusia lima tahun, apa mungkin Reyhan adalah anak Angel?" Velove tertegun, dia menatap Rita.
"Kepergian Velove tepat lima tahun lalu, ada kemungkinan saat itu Angel sedang hamil anak Rey, tetapi mereka tidak mengetahuinya. Dan sekarang anak itu sudah berusia lima tahun, tapi … dari mana Rey tahu tentang anak itu? Apa mungkin …," ucap Rita tertahan.
"Apa mungkin apa Ma?" tanya Velove.
__ADS_1
"Rey sudah bertemu Angel di kota ini. Apa kamu pernah melihatnya?"
"Tidak. Namun, tingkah Rey sangat mencurigakan. Dia pergi diam-diam, dan memiliki sebuah apartemen tanpa sepengetahuanku," ujar Velove meyakinkan Rita bahwa Rey dan Angel sudah bertemu.
"Mereka sudah pasti bertemu. Aku pikir wanita itu pergi jauh ternyata dia kembali. Velove apa kamu akan membiarkan Rey kembali padanya?"
"Tidak. Sampai kapanpun Rey hanya milikku seorang, begitupun dengan Bian. Tidak akan ada yang bisa merebut Rey sebagai ayah Bian, tidak akan ada sekalipun itu Reyhan."
Velove tidak akan pernah rela, baik dulu mau pun sekarang. Wanita itu tidak akan pernah berbagi cinta dengan siapa pun.
"Lebih baik kita cari tahu dulu, apa benar Reyhan adalah anak Angel atau bukan." Rita menyambung perkataannya.
"Ada masalah yang lebih besar lagi Ma," ujar Velove menghentikan Rita yang meminum teh.
Cangkir teh itu Rita simpan di atas meja, lalu bertanya, "Masalah apa?" Rita bertanya sambil menatap teduh putrinya.
Velove pun menceritakan tentang Bian yang sangat marah dan cemburu terhadap Reyhan. Hingga mendorong tubuh anak itu ke jalanan sampai Reyhan tertabrak sebuah motor. Dan kini Bian sangat ketakutan, juga tidak tahu keadaan Reyhan sekarang.
Rita semakin terkejut dengan masalah cucunya itu.
"Kenapa kamu ceroboh sekali Velove?"
"Kamu yakin? Bagaimana dengan CCTV?"
Velove kembali tegang, dia melupakan rekaman CCTV, mungkin tidak ada orang yang melihatnya, tetapi rekaman CCTV itu bisa menjadi bukti dan membuat Bian jadi tersangka.
"Bagaimana bisa aku melupakan itu," ujar Velove yang semakin tidak tenang.
"Mama, bagaimana jika orang tua Reyhan atau pihak sekolah melihat rekaman CCTV itu. Mama apa yang harus aku lakukan? Bagaimana nasib Bian." Velove semakin khawatir.
"Bukan hanya Bian, dirimu juga terancam. Bukankah kamu ada di sana saat kejadian," ungkap Rita membuat Velove semakin cemas.
"Siapa yang menemukan Reyhan pertama kali?" tanya Rita, Velove masih mengingat. Dan yang menemukan Bian pertama kali adalah seorang guru, mungkin wali kelasnya.
"Tenangkan pikiranmu Velove, jika seperti ini kamu akan ketahuan. Tenang saja, jika tidak ada yang menghubungimu dari pihak sekolah itu artinya semua baik-baik saja. Lebih baik kamu pastikan besok rekaman CCTV itu."
__ADS_1
Velove manarik nafasnya panjang, menenangkan diri lalu meneguk teh hangatnya sampai habis. Velove dan Rita memasuki kamar Bian, mereka melihat Bian yang sudah tertidur.
"Untuk Bian biarkan dia tinggal di sini sementara, dan biarkan dia cuti sekolah untuk sementara. Kamu kasih saja alasan bahwa Bian sakit biar mereka percaya," ujar Rita memberikan saran.
Velove hanya mengangguk karena dia pun merencanakan itu.
.
.
Angel masih berada di rumah sakit, menunggu Reyhan yang masih belum tersadar. Joshua masih tetap di sampingnya, menjaga Angel yang sudah pasti sangat lelah hingga tertidur di atas kursi.
Joshua membuka mantelnya dibiarkan menjadi bantalan untuk kepala Angel. Rey, pun datang membawakan selimut untuk Angel.
Joshua menatap pria itu tidak suka, tetapi Rey biasa saja tidak peduli.
"Kenapa kamu tidak pulang?" tanya Joshua dengan kesal.
"Aku ayah kandungnya, di dalam sana adalah anakku, apa aku harus pergi? Wajar saja jika aku ada di sini. Seharusnya kamu yang pergi." Rey berkata seolah menyindir bahwa Joshua bukan siapa-siapa.
"Kamu lupa, apa yang Angel katakan. Dia memilih aku yang ada di sampingnya dari pada kamu yang ada di sini. Apa kamu tidak dengar? Angel ingin kamu pergi." Rasa kesal dan cemburu tidak dapat lagi Joshua tahan, hingga pria itu bicara dengan emosi.
Rey tidak tahu malu dan percaya diri, perkataannya sangat menyebalkan.
"Aku yang menyelamatkan Reyhan, jika tanpa darahku Reyhan tidak mungkin bisa selamat," ucap Rey percaya diri lalu duduk di samping Angel.
"Apa tidak ada kursi lain? Minggirlah, kamu tidak lihat Angel sedang tidur."
"Tali ini selimutku," bantah Rey merasa sudah menyelimuti Angel.
Joshua membuka selimut itu dan melemparkan pada Rey lalu berkata, "Ambil saja. Angel tidak membutuhkannya," tegas Joshua, mengambil mantel di bawah kepala Angel, menjadikannya selimut, lalu memindahkan kepala Angel ke atas pahanya.
Rey dan Joshua saling menatap tajam dalam sesaat. Wajah mereka sama-sama kesal apalagi Rey, yang berpindah kursi jauh dari mereka, bersama selimut yang dia bawa.
Joshua belum menutup mata sebelum Rey benar-benar terlelap.
__ADS_1
"Menyebalkan," umpat Rey lalu berbaring di atas kursi, menutup tubuhnya dengan selimut.
Lama-lama mata Joshua pun lelah, yang terus memperhatikan Rey. Pada akhirnya Joshua pun ikut tertidur dengan posisi tubuh bersandar pada tembok. Pria itu tidak merasa pegal, membiarkan Angel di atas pahanya.