
Jakarta hospital
Dinda dan Asih turun dari mobilnya. Menatap gedung tinggi di hadapannya. Setelah kabar semalam Dinda dan Asih langsung meluncur. Kembali ke ibu kota.
Dari jauh terlihat Danu berlari menyusuri koridor. Danu bergegas meninggalkan ruang ICU setelah mendapatkan kabar jika Asih sudah sampai dan berada di depan rumah sakit.
Danu mendekat menyambut ramah kedatangan mereka.
"Bu Asih, Dinda, terimakasih karena kalian sudah datang."
"Kami tidak akan lama, dan akan segera kembali ke surabaya. Kami hanya datang untuk melihat keadaannya saja," jelas Asih.
"Tidak apa. Mari kita masuk beliau berada di ruang ICU," ajak Danu, mempersilahkan Asih untuk mengikutinya.
Baru setengah langkah Dinda harus berhenti, tidak melanjutkan langkahnya. Karena suara ponsel yang berdering.
Di ambilnya benda pipih itu lalu dilihat nama yang tertera.
"Ibu, pak Danu duluan saja. Dinda mau jawab telepon dulu."
"Ya sudah, Syena biar sama Oma." Kata Asih yang menuntun tangan Syena. Namun, Danu sebagai pria langsung memangku tubuh kecil itu.
"Biar saya yang gendong," ucap Danu lalu melangkah pergi. Di ikuti Asih dibelakangnya.
Setelah Asih pergi Dinda segera menjawab telepon dari Willy.
"Halo."
"Dinda apa kamu ada di rumah hari ini?" tanya Willy di ujung sana.
"Maaf Wil, aku lupa bilang. Bahwa aku sedang ada di jakarta."
"Jakarta!"
"Iya, aku dapat kabar jika ayah sedang sakit. Jadi aku dan ibu pergi untuk menjenguk."
"Pantas saja rumahmu kosong dan sepi."
"Kamu ada di depan rumahku?" sontak Dinda terkejut, bola matanya membulat sempurna. Perasaannya tidak enak karena Willy ada di depan rumahnya saat ini. "Sedang apa?" lanjut Dinda.
"Aku ingin mengajak mu ke rumah. Ibu ingin bertemu."
Rasa nyesal yang Dinda rasakan. Namun ada rasa heran karena Mayang ingin bertemu dengannya.
"Willy maaf. Aku gak tahu kalau hari ini …"
"Sudah jangan minta maaf," sanggah Willy. "Lagian masih ada hari esok kan. Apa kamu akan lama di jakarta?"
"Tidak, sore ini aku juga akan pulang. Aku hanya menjenguk ayah saja. Karena ayahku kritis."
"Ya sudah, ku tutup teleponnya dulu. Salam pada ayahmu. Jika kamu pulang hubungi aku."
__ADS_1
"Iya."
Sambungan telepon pun di tutup.
Dinda masih melamun memikirkan apa yang membuat Mayang ingin bertemu dengannya. Apa Mayang memintanya untuk menjauhi Willy? Entahlah yang jelas hatinya saat ini jadi gelisah.
"Jangan pikirkan sekarang Dinda. Sekarang lebih baik kamu menjenguk ayahmu," ucap Dinda lalu membuang nafasnya kasar.
Saat hendak melanjutkan langkahnya tiba-tiba …
"Dinda!" teriakan seseorang menghentikan langkahnya. Lalu tubuhnya berbalik menghadap wanita yang baru saja memanggilnya.
Dinda hanya menatap wanita itu dengan wajah datar.
"Untuk apa kamu datang kesini?" tanya Velove, dengan nada ketus. Tatapannya begitu tajam.
"Seharusnya aku yang bertanya. Untuk apa kamu disini?"
Velove berdecak kesal.
"Jelas aku anaknya dan kedatangan ku untuk menjenguknya."
"Anak!" Dinda maju lebih dekat. Hingga wajah mereka beradu pandang. "Aku jelas anak kandungnya kamu siapa?"
"Jaga ucapanmu Dinda."
"Apa yang salah dengan ucapanku? Aku tidak menginzinkanmu mengunjungi ayahku."
"Apa hak mu?" Tiba-tiba Rita muncul. Tatapannya begitu tajam pada Dinda yang kini sedang berdebat dengan putrinya.
Velove tersenyum senang karena mendapat pembelaan dari ibunya.
"Oh ya? Baiklah aku ingin lihat siapa yang berhak masuk aku atau kalian." Dinda meraih ponsel miliknya lalu mengirimkan sebuah pesan. Entah pesan apa yang Dinda kirimkan.
Setelah merasa pesannya terkirim Dinda memasukkan kembali ponselnya. Kini hanya ada keheningan dan saling menatap tajam diantara mereka.
tidak berselang lama Danu datang mencegah mereka berdua untuk masuk.
"Sudahlah Velove kita masuk, untuk apa kita diam disini." Rita hendak melangkah namun suara Danu menghentikannya.
"Tunggu!" teriak Danu dari ujung koridor. Membuat mata Rita mendelik ke arah Dinda.
"Kalian tidak bisa masuk."
"Kenapa? Apa karena anak ini! Danu kamu lupa saya masih istri sahnya bosmu jadi tidak ada hak kamu untuk melarang saya."
Rita sangat marah. Namun Danu menanggapinya dengan santai.
"Saya tidak melarang. Anda bisa menunggu disini, karena saat ini hanya Dinda yang boleh masuk dan menjenguk pak Fras."
Rita, mengigit bibirnya karena kesal.
__ADS_1
"Ayo Dinda, ayahmu sudah menunggu."
"Apa ayah sudah sadar?" Danu hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya.
Rita merasa terancam karena Fras sudah kembali sadar.
"Fras sudah sadar bagaimana ini," batinnya dengan cemas.
*****
Asih dan Fras masih diam tanpa kata. Fras hanya menatap sayu mantan istrinya itu. Begitu pun dengan Asih, yang menatap sendu Fras yang tebaring lemah.
Terlihat jelas penyesalan dimata mereka. Entah penyesalan apa yang mereka rasakan.
"Asih, terimakasih kamu sudah datang dan menemuiku," ucap Fras dengan suara bergetar.
Fras masih ingat bagaimana pertemuan terakhirnya dulu. Asih yang kecewa dan benci padanya begitu pun dengan Dinda. Tapi kini Fras bisa kembali melihat wajah itu, wajah tenang tanpa emosi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Asih datar. "Bukankah kamu memiliki istri kenapa istrimu tidak bisa menjagamu." lanjutnya.
"Istriku saat ini tidak sepandai dirimu yang pandai merawatku dulu. Mengatur pola makan, menjaga kesehatanku, sehingga aku lupa pada diriku sendiri."
"Bukankah dia yang kamu pilih. Jika memang kamu tidak nyaman kenapa bertahan selama 20 tahun ini. Kamu bisa hidup dengannya bahkan dalam keadaan sehat."
"Aku bertahan demi hari ini, hari dimana tuhan mempertemukan kita." Kata Fras yang menatap Asih. Kini mereka berdua hanya saling tatap dalam diam.
Sedetik Asih memalingkan wajahnya lalu membuang nafasnya kasar.
"Aku hanya datang karena permintaan Danu. Sekarang kamu sudah sadar dan keadaanmu sudah lebih baik aku akan pergi sekarang." Asih hendak pergi namun tangannya di cekal oleh Fras.
Asih langsung menatap Fras, seraya menepiskan cekalan itu.
"Aku ingin menjelaskan apa yang terjadi 20 tahun lalu. Selama hidupku aku tidak pernah tenang karena aku belum menjelaskan apa pun padamu."
"Apa yang mau kamu jelaskan? Itu sudah berlalu. Dinda, sudah besar dan kita sudah tidak ada hubungan apa pun. Jadi tidak penting penjelasan itu."
"Bagiku itu sangat penting. Karena aku tidak pernah mengkhianatimu Asih, tidak pernah. Mungkin ini sudah terlambat, tidak ada artinya dan tidak berguna. Tapi setidaknya kamu tidak membenciku Asih, dan aku ingin hubungan kita menjadi lebih baik. Aku ingin bertemu Dinda dan aku ingin bemain dengan cucuku. Aku ingin dia memanggilku kakek." Kata Fras yang tersenyum seraya menatap Syena yang berdiri di samping Asih.
Lucunya, bocah kecil itu menampakkan barisan gigi putihnya. Matanya belonya terlihat indah, satu tangannya terus menepuk-nepuk pahanya yang berbalut selimut.
Senyuman Syena begitu menenangkan jiwa.
"Aku tidak akan melarangmu untuk menemui cucumu. Jika aku melakukan itu untuk apa aku membawanya kemari."
Asih, menarik tangan Syena, memindahkan tempat berdirinya anak itu semakin dekat dengan Fras, bahkan kini Fras bisa memandang wajah anak itu lebih jelas.
...----------------...
Uuuh Syena 😘😘 lucunya.
Aku lucu kan. Jangan lupa kasih hadiah untukku yang kakak-kakak reader ku. Mmuuah ... 😘
__ADS_1
Salam si cantik dan imut
"Syena"