Life After Married

Life After Married
Bab 92- Di Antar Pulang


__ADS_3

Rio melajukan mobilnya sedikit santai. Dengan kecepatan rendah. Saat di sebuah belokan dan jalanan menurun pandangan matanya teralihkan pada satu kerumunan.


Karena penasaran Rio, menghentikan mobilnya setelah melihat mobil Marcedes Bens merah yang mengantam sebuah pohon besar yang dikerumuni banyak orang.


"Apa ada kecelakaan? Kenapa tidak ada yang panggil ambulance." Ucapnya lalu membuka seatbelt dan turun dari mobilnya.


Kakinya melangkah menuju kerumunan itu.


"Permisi ada apa ini?" tanya Rio, setelah mendekat.


"Kecelakaan pak. Sepertinya mobil ini menabrak pohon besar ini," jawab salah satu warga.


"Kenapa kalian hanya diam telepon ambulance." Rio, terus masuk pada kerumunan itu. Hingga matanya terbelalak saat melihat wajah Karin, wanita yang pernah di temuinya beberapa hari lalu.


Rio, semakin mengayunkan langkahnya menghampiri Karin lebih dekat yang sedang tergeletak di badan mobilnya. Matanya kembali terbelalak saat melihat Dinda wanita yang ia kenali berada di samping Karin.


"Dinda!"


"Apa sudah ada yang menghubungi ambulance?"


"Tidak ada pak."


"Ya Tuhan. Ya sudah sekarang bantu bawa kedua wanita ini ke mobil saya di sana." Perintah Rey, yang menunjuk mobilnya.


"Baik pak." Berbondong-bondong warga di sana membantu, membopong tubuh Karin dan Dinda memindahkan nya ke dalam mobil.


Sedangkan Rio, menghubungi polisi terlebih dulu karena merasa ada hal yang di curigakan mengenai mobil ini. Dan benar saja saat Rio, menunduk mencoba untuk melihat bagian bawah mobil banyak sekali oli yang bercecaran. Di lihatnya selang minyak di bawah sana terputus seperti ada yang sengaja memotongnya.


"Ini di sengaja. Aku harus telepon polisi."


Setelah menghubungi polisi Rio, teringat pada Willy dan segera menghubunginya.


...Telepon...


"Ya Rio ada apa?" Suara Willy terdengar di ujung sana.


"Will, Dinda!" ujar Rio, panik.


"Dinda, ada apa dengan Dinda?"


"Mereka kecelakaan."


"Mereka?"


"Ya! Dinda bersama teman nya. Aku melihat mobil mereka menabrak pohon besar."


"Dimana? Aku akan segera ke sana."


"Kamu ke rumah sakit saja. Mereka akan ku bawa ke rumah sakit."


"Baiklah kirimkan alamatnya."


"Tentu akan ku kirimkan padamu nanti."


Sambungan telepon pun teputus. Rio, segera berlari ke arah mobilnya masuk dan duduk di bagian kemudi. Terlihat Karin, yang terduduk di jok depan dan Dinda, di jok belakang. Tanpa menunggu lama lagi Rio, segera tarik tuas, banting stir dan tancap gas.


Mobil pun melaju dengan cepat membelah padatnya jalanan ibu kota.


******


Rio, menghentikan mobilnya di pekarangan rumah sakit. Di bukanya pintu mobil dengan keras. Rio, memanggil beberapa perawat seraya menurunkan Dinda, dari mobilnya.


Beberapa perawat datang membawa brankar. Dinda, pun di tidurkan di atas brankar lalu di bawa oleh beberapa perawat.

__ADS_1


Rio, kembali ke dalam mobil menurunkan Karin, dari mobilnya. Tanpa menunggu para perawat yang datang. Dengan langkah sedikit berlari Rio, menggendong tubuh Karin menyusur lorong hingga tiba di ruang UGD.


Karena syok dan terluka Karin sudah tidak sadarkan diri saat di tempat kejadian. Rio setia menunggu. Dia duduk di kursi tunggu hingga Willy, datang. Willy, berlari menyusiri lorong hingga sampai di ruang UGD.


Dinda, bukan lah keluarganya akan tetapi kecemasan Willy, terhadap Dinda kebih dari sekedar keluarga.


"Rio!" teriak Willy, memanggilnya. Membuat Rio beranjak dari kursi lalu berdiri.


"Bagaimana keadaan Dinda?"


"Masih di tangani dokter. Lukanya tidak terlalu serius mungkin karena syok mereka pingsan."


"Dimana kejadiannya? Dan kenapa kamu bisa ada di sana?"


"Satu-satu Wil, kalau tanya." keluh Rio. "Aku pulang dari tugas saat di tengah jalan ku melihat banyak orang berkerumun saat ku tengok ternyata sebuah kecelakaan dan saat ku lihat kedua wanita itu adalah Dinda dan …."


"Karin," sanggah Willy.


"Ya, itu. Kamu bisa tahu?" Rio, menaikan alisnya menatap Willy, dengan tatapan curiga.


"Bu Asih, bilang jika mendapat firasat buruk mungkin ini firasat buruknya. Syukurkah jika Dinda, baik-baik saja hanya luka ringan saja."


"Khawatir ya? Hah!" Rio, menaik turunkan alisnya yang sedang menggoda temannya."


"Ya jelas khawatir lah. Kamu pikir aku tersenyum gitu."


"Gitu saja marah. Dasar pengacara baper."


"Apa!" Willy emosi.


"Udah jangan marah," ujar Rio saat mendapat tatapan tajam dari Willy.


"Eh Wil, gue curiga jika kecelakaan ini di sengaja."


"Maksud mu?" tanya Willy.


"Kita tunggu polisi-polisi itu menjelaskan " Tunjuk Rio, pada kedua orang polisi yang mendekat. Willy masih bingung dan heran.


"Dengan pak Rio?" tanya salah satu petugas polisi pada Rio, yang hanya mengangguk sebagai jawaban. Mereka berdua saling berjabatan begitu juga dengan Willy.


"Begini Pak, kami sudah mendatangi (TKP) Kami juga sudah memeriksa mobil itu. Ada kemungkinan kecelakaan ini di sebabkan karena rem blong. Dan sepertinya ada unsur kesengajaan karena selang minyak terpotong."


"Benar apa dugaan ku," gumam Rio.


"Kami akan menyelidiki lebih lanjut kasus ini. Bagaimana keadaan korban?" tanya polisi


"Mereka hanya luka ringan tidak cedera. Mungkin karena Syok mereka jatuh pingsan." jawab Rio.


"Syukurlah jika korban tidak apa-apa. Saya permisi pak."


"Tunggu dulu."Kata Rio,menghentikan langkah kedua polisi itu. Rio, memberikan kartu namanya agar polisi bisa menghubunginya nanti.


"Ini kartu nama saya. Saya seorang pengacara, jadi saya ingin tahu perkembangannya. Kasus ini saya ambil."


"Baiklah. Terima kasih pak Rio."


Kedua polisi itu pun melangkah pergi meninggalkan kedua pengacara muda yang masih menunggu kabar kedua wanita yang saat ini sedang mendapat perawatan.


Rio, bernafas lega. Sedangkan Willy diam mematung dengan wajah datarnya. Memikirkan perkataan polisi tadi.


"Jadi kecelakaan ini sengaja!" gumamnya namun terdengar oleh Rio. Rio menoleh lalu berkata,


"Ya. Mungkin Karin menabrak pohon itu untuk menghentikan mobilnya. Yang buat ku penasaran siapa yang dengan sengaja melakukan itu."

__ADS_1


"Entahlah." Ujar Willy, yang mengangkat kedua bahunya.


Setelah lama berbincang mereka berdua masuk ke dalam ruang UGD. Untuk melihat keadaan Karin dan Dinda.


Sesampainya di dalam Willy, melihat Dinda sudah terbangun dan duduk di atas ranjang pasien. Dengan perban yang menempel di sisi dahinya.


"Kamu baik-baik saja? Apa terasa sakit?" tanya Willy, yang mengejutkan Dinda.


Mata Dinda, menatap sesaat. Dirinya tertegun juga bingung bagaimana bisa ada Willy, bersamanya.


"Willy, Rio?"


"Kamu pasti bingung kenapa aku di sini. Rio yang memberitahukan kecelakaan mu. Dan bu Asih juga yang memintaku untuk mencarimu. Ibu mu sangat panik dan khawatir."


"Ibu! Syena!"


"Syena baik-baik saja."


"Apa ibuku tahu kecelakaa ini?"


"Tidak, aku tidak memberitahunya karena takut mereka khawatir."


"Terima kasih Willy. Tapi apa kamu mau membawaku pulang. Aku takut ibu cemas dan menunggu ku." Ujar Dinda, memohon tanpa sengaja menyentuh tangan Willy, membuat Willy, sedikit salah tingkah.


Sedangkan Rio, dia hanya tertawa dalam hati melihat itu. lalu suara deheman nya keluar membuat Dinda sadar akan sikapnya dan melepas genggamannya.


"Maaf," lirih Dinda.


"Tidak apa-apa. Tapi lukamu?"


"Aku sudah tidak apa-apa. Hanya terbentur saja besok akan lebih baik."


"Ya sudah kita pergi sekarang?" ajak Willy.


"Ah iya," jawab Dinda, malu. "Tapi tunggu dulu, dimana Karin?"


"Temanmu masih tidur. Betah banget dia di rumah sakit," cerocos Rio, yang memang tidak merasa suka pada Karin.


Dinda, melihat ranjang di sampingnya yang memperlihatkan Karin, masih terbaring lemah.


"Aku titip padamu ya Rio."


"Apa! Kenapa aku!" Rio, terkejut merasa tidak senang dengan permintaan Dinda.


"Aku mohon sekali ini saja. Teman ku sedang dalam bahaya ada seseorang yang ingin mencelakainya jadi ku mohon tolong jaga dia."


Rio, menghembuskan nafasnya kasar. Melihat Dinda yang memohon dengan wajah sedihnya membuatnya tidak bisa menolak. Dan perkataan Dinda, tentang seseorang yang ingin mencelakai Karin, sangat mengganggu pikirannya.


Mungkin kah ada hubungannya dengan rem blong? Entahlah Rio, masih menduga.


"Sudahlah Rio, apa susahnya menunggu," cecar Willy. Membuat Willy, semakin kesal.


"Dinda ayo kita pulang. Karin akan baik-baik saja bersamanya."


"Terima kasih Rio." Dinda, tersenyum yang di balas senyuman paksa oleh Rio.


Willy membantu Dinda, turun dari ranjangnya. Memapahnya keluar dari ruang UGD. Dinda yang memang sedang merasa sakit pada sekujur tubuhnya tidak bisa menolak, saat Willy memapah tubuhnya menuntun tangannya dan melingkarkan satu tangannya untuk memeluk tubuhnya dari belakang.


Sedetik Dinda, teringat dengan nazarnya membuat bayangan itu langsung di tepisnya. Perlakuan Willy, yang lembut membuat hatinya kembali bergetar.


...****************...


Hai reader ku jangan lupa like dan komentarnya ya 🙏. Boleh dong author minta sesuatu dari pembacaku tersayang, tercinta, tolong kasih bintang 5 dong untuk Dinda. Kasih ulsan juga yang bagus ya. Yang sudah kasih makasih yang belum jangan lupa ya.

__ADS_1


Jika masih bingung caranya bisa lihat gambar d bawah ini. Klik yang angka👉 5⭐.



__ADS_2