
"Bu! Bu Karin!" panggil sang Sekretaris.
Beberapa hari ini Karin tidak pernah fokus dan sering melamun. Entah apa yang Karin pikirkan.
Bahkan panggilan Sekretaris-Nya pun tidak ia dengar. Karin, baru menyadari saat sang Sekretaris sudah di depan mata. Diiringi teriakan yang sangat keras, membuat Karin terkejut.
"Sejak kapan kamu ada di sini?" tanyanya.
"Sejak Ibu melamun Bu!" seru si Sekreraris. "Bu ngelamunin apa sih?"
"Tidak ada," jawab Karin. "Ada apa?" tanyanya.
"Tolong tandatangani dokumen ini Bu." Kata si Sekretaris yang menyodorkan beberapa dokumen padanya. Karin, mengambilnya, lalu menandatangani semua dokumen itu.
"Ada lagi?"
"Tidak Bu, terima kasih."
"Tunggu dulu!" tahan Karin, saat Sekretarisnya hendak melangkah, dan kembali berbalik menghadapnya.
"Ada jadwal apa saja hari ini?" tanya Karin.
"Tidak ada Bu, jika hari ini Ibu mau istirahat silakan, dari melamun iya 'kan," ucap Sekretarisnya seraya mengejek.
"Sok tahu kamu! Ya sudah, kamu boleh pergi."
"Baik Bu."
Karin kembali merenung setelah sang Sekretaris meninggalkan ruangannya. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan.
Dengan malasnya tangan itu mendekatkan benda pipih datar pada daun telinganya. Entah siapa yang menghubunginya, tetapi Karin, langsung menyapa seseorang di sebrang sana.
"Halo Ma?" sapa Karin pada suara di balik sambungan telepon.
" … "
"Pulang? Untuk apa Ma?" tanya Karin, pada sang ibu yang memintanya untuk pulang.
" … "
"Besok saja ya Ma."
" … "
"Aduh, Mama ngapain sih pakai masak segala? Kan, aku belum tentu pulang Ma. Banyak kerjaan juga di sini."
" … "
"Ya udah, tapi nanti sore ya. Karin harus siap-siap dulu Ma."
" … "
"Iya-iya. Gak akan telat. Karin tutup teleponnya."
Sambungan telepon pun segera dimatikan. Satu tangan kirinya melirik sejenak arah jarum jam pada arlojinya. Tubuhnya langsung berdiri meninggalkan kantornya.
__ADS_1
****
Di tempat lain, Rio sedang bersiap-siap untuk menemui calon tunangannya bersama keluarga. Wanita yang dijodohkan tanpa tahu siapa nama dan seperti apa rupanya.
Awalnya Rio ingin sekali menolak, namun tidak ada alasan yang tepat. Karin yang akan dijadikan sebagai alasan malah menolak dan mendukungnya menerima perjodohan itu.
"Rio?" panggil sang Ibu yang baru masuk ke dalam kamarnya.
Sedetik Rio yang masih berdiri di depan cermin langsung menoleh ke arah pintu, dimana sang ibu tengah berjalan padanya.
Wanita berambut sanggul, yang sudah tidak muda lagi, tetapi memiliki kulit yang menolak tua. Wajah yang masih berseri, tubuh yang masih tegak dan terlihat segar tidak terlihat usianya di atas 50 tahun-an.
"Tampan sekali putraku ini." Kata wanita itu yang tersenyum pada Rio. Rio, hanya membalas dengan sedikit senyuman.
"Terima kasih ya sayang, kamu sudah mau ikut acara malam ini." Wanita itu mengusap lembut punggung Rio, lalu beralih merapikan kerah kemeja putranya.
"Ingat ya Ma, aku belum menerima perjodohan ini. Mama bilang ini baru perkenalan keputusan tetap ada padaku."
"Iya, Mama tahu. Tapi Mama yakin kamu pasti suka, tidak ada salahnya 'kan mengenal lebih dulu kali saja tertarik dan kalian cocok. Mama sudah tua kapan coba punya cucu."
"Mungkin belum waktunya aku menikah."
"Belum waktunya, tapi kalau tidak di cari kapan nikahnya? Ini anaknya teman Mama. Ya sudah cepat ke bawah papa sudah nunggu."
"Hm." Hanya itu jawaban dari Rio. Wanita itu pun melangkah keluar kamar meninggalkan Rio.
Rio, masih merasa bimbang antara ikut atau tidak. Berulangkali badannya bangkit lalu duduk kembali. Merasa ragu karena keputusannya. Tiba-tiba ponselnya berdering saat di lihat nama Willy yang tertera, membuat Rio langsung menjawabnya.
"Iya Wil?" tanyanya saat sambungan telepon itu sudah tersambung.
" … "
" … "
"Katakan pada Dinda, maaf aku tidak bisa. Mungkin lain waktu." Kata Rio, yang hendak menutup teleponnya karena mendengar panggilan dari sang mama.
Namun, dari sebrang sana Willy, menghentikannya. "Ada apa Wil?" tanya Rio, pada Willy yang melarang untuk menutup teleponnya.
" … "
Rio, begitu fokus mendengarkan perkataan demi perkataan dari sahabatnya itu. Dalam satu tarikan nafas ia embuskan. Lalu dirinya berkata, "Kamu tahu dari mana?"
" … "
"Baru perkenalan. Ya, memang benar aku dijodohkan. Tapi aku belum memutuskan apa aku menerimanya atau tidak."
" … "
"Terima kasih Will. Aku tutup teleponnya. Sampai jumpa besok."
Sambungan telepon pun di tutup.
Entah apa yang mereka bicarakan. Sehingga Rio, menatap layar ponselnya dalam waktu yang cukup lama. Satu tarikan nafas ia embuskan lalu bangun dari duduknya berjalan keluar menghampiri sang ibu..
Tanpa penolakan, Rio hanya menurut menaiki mobil orangtuanya demi menuju calon istrinya.
__ADS_1
****
"Mas, bagaimana? Apa Rio akan datang?"
Willy langsung menggeleng. Memberi jawaban dari pembicaraannya dengan Rio. Dinda, meminta Willy untuk mengundang Rio, datang. Untuk membicarakan perihal hubungannya dengan Karin.
"Hari ini pertemuannya. Jadi tidak ada bisa kita hentikan. Sudahlah sayang, mungkin mereka bukan jodoh," ucap Willy. Dinda hanya mengangguk seolah mengerti.
"Semoga saja Karin tidak terluka ya Mas."
Bagaimana pun juga Dinda tetap memikirkan perasaan Karin. Anehnya, kenapa Karin selalu menghindar saat Rio, mendekat.
"Dimana Syena?" tanya Willy yang tidak melihat keadaan Syena, di ruang makan. Bokongnya langsung mendarat di atas kursi.
"Di depan, sedang main sama Bi Ijah," jawab Dinda.
Syena, sedang bermain bersama bonekanya di ruang depan. Tiba-tiba terdengar bel berbunyi. Syena yang mendengar itu langsung menatap pada pintu.
Menoleh pada Bi Ijah lalu bertanya, "Siapa yang datang ya Bi?"
"Sebentar ya Non, Bibi buka dulu pintunya."
Bi Ijah langsung bangun dari duduknya berjalan mendekati pintu. Syena, yang penasaran ikut mengekor di belakang Bi Ijah. Saat pintu terbuka terlihat seorang wanita yang tersenyum seraya melambaikan tangan pada Syena.
"Hai Syena," sapa-Nya.
"Mami Angel!" teriak Syena, membuat Bi Ijah menoleh.
Syena langsung memeluk Angel begitupun sebaliknya. Bi Ijah masih diam termangu menatap kedua manusia di depannya terutama Angel yang baru pertama kali datang ke rumah majikannya.
"Papa tidak ikut?" tanya Syena.
"Mami sendiri, tidak dengan papa."
"Ayo Mami masuk." Syena langsung menuntun tangan Angel untuk masuk dan duduk di kursi yang sudah tersedia.
"Bi, ambilin minum."
"Iya Non," ucap Bi Ijah gugup lalu berjalan ke arah dapur.
Saat melewati meja makan Bi Ijah berpapasan dengan Dinda dan Willy yang bertanya, "Mau kemana Bi?"
"Mau ambilin minum, buat tamu Non."
"Memangnya siapa yang datang Bi?"
"Tidak tahu Non, tapi Non Syena bilang Mami dan akrab banget sama tamu yang baru saja datang." Dinda dan Willy pun saling pandang, yang menjadi pertanyaan bukan siapa tamu yang datang, tetapi panggilan Syena pada tamu itu.
Dinda, langsung berdiri lalu melangkah menuju ruang tamu. Bi Ijah menjadi khawatir takut ada pertengkaran dan berharap itu tidak terjadi.
Setelah Dinda, melangkah Willy pun ikut berdiri berjalan mengikuti Dinda. Saat tiba di ruang depan Dinda, melihat Syena sedang tertawa riang bersama Angel.
Awalnya Dinda tidak mengira jika Angel adalah karyawan di perusahaannya. Namun, saat semakin mendekat wajah keduanya saling memandang. Angel terlihat biasa saja, tetapi tidak dengan Dinda yang merasa terkejut.
"Kamu!"
__ADS_1
Angel, bangun dari duduknya lalu berdiri dan membungkuk hormat. Lalu berkata, "Apa kabar Bu Dinda?"
Dinda masih diam terpaku. Sama sekali tidak menjawab perkataan Angel.