Life After Married

Life After Married
Bab 173- Akhir yang bahagia


__ADS_3

Area ballroom di sebuah hotel begitu riuh. Setiap sudutnya penuh dengan riasan. Begitu mewah dan ramai.


Semua orang berkumpul, berjajar di tempat duduk mereka. Ada pun yang berdiri dengan mata fokus tertuju pada pintu utama yang sebentar lagi akan terbuka.


Tidak lupa sebuah benda pipih mereka pegang yang di arahkan ke arah pintu itu, seakan sudah siap memotret sang ratu pesta hari ini. Siapa lagi jika bukan Karin.


Rio, masih berdiri di depan pelaminan, dengan tubuh tegap menghadap pintu, sudah siap menyambut sang istri yang baru saja sah beberapa menit yang lalu.


Dinda dan Willy tidak lupa berada dekat dengan Rio, sesekali Willy menggoda sahabatnya itu yang tengah gugup sekali.


Lama berdiri membuat mereka pegal, sedetik pintu besar itu terbuka lebar. Semua orang terpaku dan tercengang melihat betapa cantiknya si pengantin wanita.


Rio, terpana hingga tidak berkedip melihat wanita di depannya dengan gaun putih mekar yang ia pakai. Tidak lupa riasan wajah yang sederhana mengubah rupanya secantik bidadari.


Dengan gugup Karin melangkah memasuki ballroom. Pandangan mata semua orang membuatnya malu. Dengan penuh percaya diri langkahnya semakin cepat mendekati Rio.


Ujung gaun itu terus menyapu setiap lantai yang Karin lewati, karena saking panjangnya. Mengikuti irama langkah yang Karin ciptakan.


Suasana kembali ramai dengan tepuk tangan, setelah seorang pria yang menjabat sebagai MC menyambut kehadiran Karin di ruangan itu.


Karin hanya tersenyum simpul sambil menggenggam sebuket bunga di tangannya.


Setelah mendekat, Rio mengulurkan tangannya untuk membawa Karin ke atas pelaminan. Mereka semua terlihat bahagia, para tamu pun di persilahkan menaiki pelaminan untuk memberikan selamat.


*****


Rey, masih di rumah sakit menunggu Velove yang sedang di tangani Dokter. Dan Dokter menyarankan agar Velove di rawat dalam beberapa hari.


Angel duduk terdiam di dalam kamarnya, merenung entah sedang memikirkan siapa. Sedetik tubuhnya terbangun berjalan mendekati sebuah lemari lalu membukanya.


Sebuah koper berukuran sedang ia tarik di bawanya ke atas ranjang. Satu persatu pakaian dalam lemari ia pindahkan ke dalam koper hingga lemari itu kosong tanpa satu benda pun.


Apakah Angel akan pergi?


Ya, setelah lama merenung itulah keputusan yang Angel ambil. Memilih pergi dari rumah itu.


Sebuah ponsel bergetar, dan menyala. Memperlihatkan sebuah kontak dengan nama sayangku yang tertera pada layar datar itu. Bukannya di jawab Angel malah mematikan ponsel itu, lalu memasukannya ke dalam tas dan pergi.


Entah keputusannya ini salah atau benar. Dan entah apa yang akan Angel lakukan setelah ini.


Gemericik air hujan membasahi hamparan aspal yang hitam. Tanah-tanah yang kering menjadi becek yang penuh dengan genangan air keruh. Batang-batang pohon dan dedaunan ikut tersiram menampung air hujan yang turun dari atasnya.


Sebuah tapak kaki yang kotor, terus melangkah menyusuri jalanan basah itu.Tidak berlindung atau berteduh Angel terus melangkah di bawah derasnya air hujan.


Di tempat lain Dinda, Willy, dan Syena tengah asyik bersenandung ria, bercanda, di sepanjang jalan yang mereka lewati. Willy tetap fokus mengendalikan roda empatnya karena curah hujan semakin tinggi dan jalanan semakin tidak terlihat.


Dinda terus bercanda bersama putrinya, sesekali mata indahnya memandang ke arah luar jendela. Dalam waktu bersamaan Dinda melihat Angel yang berjalan di sebrang sana, yang menuntun koper dalam keadaan tubuh yang basah.


"Seperti Angel?" batinnya yang terus memperhatikan Angel dari dalam mobilnya.


"Iya itu Angel, tapi ngapain dia hujan-hujanan," pikirnya lalu menghentikan Willy untuk mengemudi.


"Berhenti!"


Sontak Willy pun menginjak rem, mobil mereka berhenti dalam seketika.


"Ada apa Ma?" tanya Syena yang merasakan mobilnya tiba-tiba berhenti. Willy pun menanyakan hal yang sama.


"Iya sayang ada apa? Kenapa memintaku berhenti?"


"Aku melihat Angel."


"Angel?"


"Istri kedua Rey." Barulah Willy mengingat siapa itu Angel, wanita yang pernah datang ke rumahnya beberapa hari yang lalu.


"Tunggu di sini Mas, aku akan menemuinya dia kehujanan."


"Tunggu sayang untuk apa kamu turun? Di luar hujan deras. Kita pergi bersama, di mana kamu melihatnya?"


"Di sana?" tunjuk Dinda ke arah belakang mobilnya dan Angel masih terlihat di sana.


Dengan segera Willy membelokan arah berbalik memutari jalanan sebelumnya. Dinda merasa cemas dan berpikir jika Angel sedang bertengkar dengan Rey, apalagi terlihat sebuah koper yang Angel tuntun.


"Mama? Papa? Kita mau kemana lagi?"


"Bentar ya sayang, ada teman Mama yang kehujanan," jelas Dinda.


Sedetik Willy menghentikan mobilnya, Angel pun melirik ke arah samping kanannya di mana mobil Dinda berhenti.


Sejenak Angel berharap jika itu mobil Rey, tetapi itu hanya harapannya saja dan tidak akan kenyataan.


"Mama baik," ucap Syena yang memang mengenali Angel.


Kaca mobil Dinda turunkan, agar Angel melihatnya dengan jelas.


"Dinda," gumam Angel.

__ADS_1


"Angel kenapa hujan-hujanan? Masuklah," titah Dinda sedikit berteriak. Karena curah hujan yang tinggi membuat suara tidak terdengar.


Willy, turun dari mobil yang menggunakan payung. Berjalan memutar mendekati Angel, lalu membawa koper itu ke dalam bagasi dan meminta Angel untuk masuk.


Angel pun tidak bisa menolak, karena tubuhnya sudah sangat kedinginan. Akhirnya mereka masuk kembali ke dalam mobil dan pergi.


*****


"Ini teh-Nya." Kata Dinda seraya memberikan secangkir teh hangat pada Angel, yang kini sudah berganti pakaian.


"Terimakasih," ucap Angel lalu menyeruput teh-Nya.


"Apa kamu sedang ada masalah? Di mana Rey kenapa tidak menjemputmu?"


Angel terdiam sejenak lalu berkata, "Aku yang pergi tanpa memberitahunya."


"Kalian bertengkar?"


"Tidak, Rey sedang menemani Velove di rumah sakit. Ada masalah di antara kami," ucapnya demikian.


Angel pun menceritakan permasalahan rumah tangganya, dan termasuk penyakit bipolar yang Velove derita. Dinda cukup terkejut dengan kabar buruk itu ternyata saat itu Rey, mengantarkan Velove untuk menemui psikolognya.


"Lalu kenapa kamu pergi?"


"Aku ingin memenangkan diri saja," ucap Angel memberi alasan. Namun, tidak dengan hatinya yang sedang menimbang-nimbang sesuatu.


"Aku harus segera pergi, terimakasih sudah membawaku ke sini."


"Tapi Angel, di luar masih hujan, kamu menginap saja."


"Aku tidak enak jika harus menginap di sini. Aku takut mengganggu mu juga suamimu. Lagi pula apartemenku dekat dari sini."


"Biar Willy antar ya?"


"Tidak usah Dinda aku tidak ingin merepotkan. Aku pergi dulu."


Dinda tidak bisa menahan atau melarang, membiarkan Angel pergi dari rumahnya.


*****


Keesokan paginya, Angel mendatangi rumah sakit di mana Velove di rawat saat ini. Dengan ragu Angel melangkah melewati lorong demi lorong menuju kamar Velove berada.


Akan tetapi Angel memilih untuk berhenti, sebelum sampai di kamar itu. Sepertinya Angel berubah pikiran dan akan menemui Rey, di tempat lain.


Di sinilah Angel sekarang. Duduk di tengah keramaian taman yang di penuhi dengan bunga dan pohon-pohon tinggi yang melindunginya dari sinar matahari.


"Angel." Merasa namanya ada yang memanggil Angel pun langsung berdiri menghadap Rey, yang masih bertengger di belakangnya.


Sekilas senyum Angel pancarkan lalu memeluk Rey. Mereka berdua pun duduk di sana.


"Bagaimana keadaan Velove?"


"Sudah lebih baik, tapi maaf Angel sepertinya kamu harus lebih bersabar karena aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya jika kamu adalah istriku."


Angel hanya menunduk, dengan ekspresi yang datar. Satu tarikan nafas Angel hembuskan lalu berkata,


"Rey, kedatanganku ke sini bukan untuk itu. Tapi ada hal yang ingin aku katakan."


Angel mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya, yang di berikan kepada Rey.


Rey, yang menerima pun sedikit bingung lalu membuka amplop itu, yang ternyata sebuah surat. Di bukanya surat itu yang membuat bola matanya membulat sempurna.


"Aku sudah memutuskan yang terbaik untuk kita semua."


"Sudah Ku bilang aku tidak akan menceraikan mu." Rey, sedikit marah karena Angel memintanya untuk cerai.


"Sampai kapan Rey? Sampai Velove sembuh? Tapi kapan? Aku merasa bersalah saat melihat keadaan Velove kemarin. Tidak seharusnya cinta di paksakan, dan dalam cinta selalu ada pengorbanan. Aku mengalah dari keegoisan ku selama ini. Dan ini sudah keputusanku aku mundur, pisah mungkin jalan yang terbaik."


"Angel! Jika kamu ingin aku mengatakan status pernikahan kita, kita katakan sekarang."


Rey benar-benar tidak terima.


"Rey, apa kamu tidak bisa memilih antara aku dan Velove? Jikapun iya dan kamu memilih ku lalu bagaimana dengan anakmu? Apa kamu tega meninggalkan Bian?"


Rey tertegun, pikirannya saat ini sedang berkecamuk.


"Velove dan Bian lebih berhak akan dirimu. Bian masih kecil yang harus kamu perhatikan. Dan Velove, kesehatan mentalnya harus di pertaruhkan. Apa kamu tega? Melihat Velove menjadi gila, dan Bian yang terabaikan. Janganlah egois Rey, kenapa aku memilih pisah dan mundur karena aku berpikir jika aku tidak membebani mu. Lagi pula aku pun tidak memiliki anak darimu. Semoga kamu mengerti Rey."


Angel pun pergi meninggalkan Rey, yang masih terdiam.


*****


Rey kembali ke kamar Velove, terlihat Bian yang tertawa dalam pangkuan Velove, yang begitu bahagia. Sepertinya keputusan Angel memang benar, Velove dan Bian adalah keluarga Rey, yang lebih membutuhkannya.


Rey, tidak ingin dirinya kehilangan anak lagi. Sudah cukup dirinya gagal menjadi seorang ayah bagi Syena. Kini Rey harus bertanggungjawab atas Bian, tidak akan meninggalkannya, dan harus menjadi ayah yang baik.


"Bian!" panggil Rey, lalu memangku Bian.

__ADS_1


Begitu damainya keluarga itu, Bian yang tertawa, Velove yang tersenyum dan Rita yang bahagia. Melihat kehidupan putrinya kini.


Sedetik Rey melirik pada Rita, lalu memberikan selembar surat padanya.


Rita membuka surat itu, tidak percaya dengan apa yang dia baca. Namun Rey, meyakinkannya bahwa dirinya dan Angel sudah berakhir. Kehidupannya kini hanya untuk Bian dan Velove.


"Terimakasih Tuhan," batin Rita merasa bersyukur.


*****


"Mama?" panggil Syena pada Dinda yang tengah berbaring di atas sofa.


"Apa sayang?" sahut Dinda yang merangkul Syena.


"Perut Mama sudah besar ya. Kapan dede bayi keluar Ma?"


"Kapan ya? Harus nunggu 3 bulan lagi ya sayang."


"Ya, lama dong. Aku pengen banget liat Ma."


"Kamu mau lihat?"


"Heem." Syena mengangguk.


"Mas, sudah siap belum?" teriak Dinda, pada Willy yang masih di dalam kamar. Tidak lama kemudian Willy pun turun.


"Sudah, ayo kita berangkat sekarang," ajak Willy.


"Mama Papa mau pergi kemana?"


Dinda tersenyum lalu berkata, "Katanya mau lihat dede bayi, ayo kita pergi."


"Beneran Ma aku bisa lihat?" Dinda mengangguk di iringi dengan senyuman.


Mereka semua pergi bersama menuju rumah sakit. Syena dan Willy begitu antusias ingin melihat gambaran sang bayi dalam layar monitor.


Sesuai janji, Willy membawa Dinda ke Dokter kandungan, untuk melakukan USG. Selain ingin melihat gambaran bayinya, mendengar detak jantungnya, mereka pun sangat penasaran dengan jenis kelamin anak keduanya.


"Detak jantungnya sangat keras, itu artinya dede bayinya sehat," ujar Dokter.


"Benarkah Dokter? Itu bayi kami?" tanya Willy yang melihat layar monitor.


"Sepertinya bayinya senang ya di jenguk ayah dan kakaknya."


"Adikku cowok atau cewek Dok?" tanya Syena yang ada dalam gendongan Willy.


"Sebentar ya Dokter cek dulu, semoga terlihat ya." Dokter itu pun semakin memutarkan sebuah alat USG di atas permukaan perut Dinda. Dokter itu pun tersenyum.


"Bu Dinda apa sekarang mau di beritahu? Tidak jadi kejutan lagi?"


Dinda berpikir sejenak, lalu menatap Willy dan Syena bergantian. Merasa kasihan pada mereka yang begitu ingin tahu jenis kelamin bayinya.


"Iya Dok, aku juga penasaran. Beritahukan saja."


"Baiklah, selamat ya dalam rekaman USG ini anak Ibu dan Bapak, berjenis kelamin laki-laki."


"Laki-laki!"


"Asyik adikku cowok, pasti tampan kaya Papa," ujar Syena dengan gemasnya. Membuat mereka semua tertawa.


*****


Dinda dan Willy terus menatap gambar USG yang di berikan Dokter. Keduanya pun saling pandang lalu tersenyum.


"Semoga baby boy selalu sehat ya Mas, tidak sabar menyambut kehadirannya ke dunia."


"Tidak lama lagi sayang, baby boy akan berkumpul dengan kita semua."


Dinda pun mengangguk, lalu bersandar pada pundak suaminya. Satu kecupan Willy daratkan pada keningnya, tidak lupa tangannya memeluk Dinda.


Tatapan keduanya kini menatap lurus ke depan, tersenyum lebar memperhatikan Syena yang tengah bermain gelembung balon di tengah taman.


...----------------...


...SELESAI...


*Terimakasih sudah setia mengikuti kisah Dinda hingga akhir. Maaf jika masih ada kata yang salah baik dalam bacaan dan tulisan. Semoga kalian terhibur dengan cerita ini .


Terimakasih juga yang sudah memberikan dukungannya. Vote, Hadiah, bintang 5, like dan komentarnya.


Berakhirnya novel ini bukan berarti akhir dari karyaku, aku sangat berharap banget dukungan kalian untuk karyaku yang baru.


Jangan lupa mampir, kalian bisa klik profil author untuk melihatnya.


Follow IG @dini_rtn


Follow tiktok @diniratna757

__ADS_1


Jangan lupa follow ya 😉*.


__ADS_2