
Sesampainya di rumah Keluarga Vernandes, Bian diberikan satu kamar khusus untuk dirinya. Bian sedikit bernapas lega karena akhirnya dapat berpisah dengan perempuan ganjen itu. Mimpi apa dia bisa menurut saja dengan orang itu.
Hal pertama yang dia lakukan adalah membersihkan diri di kamar mandi. Rasa lengket dan gerah pada dirinya sudah tidak bisa ditahan lagi, ingin segera bertemu dengan air.
"Huh, segarnya," kata Bian ketika membasuh mukanya.
Bian menghempaskan dirinya secara kasar pada ranjang itu. Untuk pertama kalinya dia merasakan kembali yang namanya kasur empuk. Dua bulan lebih dia tidur diatas lantai penjara nan dingin itu. Jadi untuk malam ini dia sangat bersyukur.
"Hoams--," berkali-kali Bian menguap.
Tidak butuh waktu yang lama dia pun terlelap dengan posisi terlentang. Posisi yang sama persis ketika menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Matanya dia tutup menggunakan lengan tangannya. Terlelap lah Bian ke dalam alam mimpi.
Ceklek.
Suara pintu kamar yang ditempati Bian terbuka. Seseorang masuk ke dalamnya dengan mengendap-endap. Agar suara langkah kakinya tidak membangunkan Bian. Dia mendekat ke arah ranjang, dimana Bian tertidur.
"Yah, sudah beneran tidur ya?" batinnya sedikit kecewa.
__ADS_1
Tapi tak lama kekecewaan itu berubah menjadi wajah yang sumringah. Sebuah ide licik tampaknya hinggap dipikirannya. Kembali kakinya mengendap-endap naik ke atas ranjang.
"Ih ganteng banget pangeran gue," batin Gigi.
"Aduh badannya kekar banget."
"Ih mukanya lucu banget kalau lagi tidur."
Diambilnya selimut untuk menutupi tubuh kekar lelaki yang ada dihadapannya itu. Sembari menutup tubuh Bian dengan selimut. Sesekali tangan Gigi bermain dengan badan Bian.
"Berisi banget badannya," batin Gigi sembari mengusap dada bidang Bian.
Tangan nakal Gigi itu berhenti mengusap bagian tubuh Bian tatkala matanya menangkap sebuah pemandangan yang lebih menarik. Yaitu pada wajah Bian yang menggemaskan saat dia tertidur. Berbeda sekali dengan saat dia bangun.
Dag Dig dug. Suara jantung Gigi berdetak kencang. Tak tahan rasanya melihat bibir Bian yang seksi itu. Bibir merah muda yang tebal dan menawan. Aduh, dalam hatinya Gigi berteriak histeris. Gigi mengangkat sedikit tubuhnya mendekat ke wajah Bian.
Detak jantungnya semakin cepat ketika wajah keduanya hanya terpisahkan sejauh lima centimeter. Deru napas keduanya pun sangat terasa. Gigi yang sudah tidak tahan lagi semakin mendorong wajahnya mendekat.
__ADS_1
Muach.
Satu ciuman mendarat sempurna dibibir tebal Bian. Yang membuat si empunya bibir terjingkat bangun dari tidurnya.
"Lo apa-apa!" bentak Bian.
"E..e.. gue cuma mau nutup tubuh lo dengan selimut kok," jawab Lea gugup setengah mati.
"Pinter sekali lo beralasan. Nutup selimut terus kenapa lo pake cium-cium gue? Lo pikir gue bodoh!" geram Bian.
Bian tidak habis pikir dengan perempuan ini. Masih dengan kekesalannya Bian meletakkan tangannya dipinggang. Menatap Gigi dengan tatapan mematikan. Maunya apa sih?, pikirnya.
"Sekarang lo keluar!" pekik Bian sembari menujuk pintu keluar.
Tidak perlu Bian mengucapkan perintahnya uang kedua kali. Gigi langsung menghambur keluar kamar itu. Daripada mendapatkan kemarahan dari Bian yang lebih dari itu.
Setelah Gigi benar-benar hilang dari pandangannya. Bian menutup pintu itu dengan keras dan langsung mengunci pintu itu. Mungkin salah dia sendiri karena lupa mengunci pintu kamar sebelum tidur.
__ADS_1
"Breng$ek. Maunya apa sih?" umpatnya dengan kesal.