
Obrolan seputar tugas akhir pun usai, berlanjut obrolan ringan lainnya. Waktu berjalan cepat mengiringi acara makan malam Bian dan Lea. Sampai ketika pelayan membawakan menu dessert sebagi penutup makan malam kali ini.
"Sayang aku mau ngomong serius sama kamu boleh?" tanya Bian dengan wajah serius.
"Boleh, tanya apa nih?" Lea balik bertanya.
Bian menggenggam kedua tangan Lea dan menyatukan dengan dua tangannya. Matanya menatap serius ke arah kedua bola mata Lea. Tampaknya kali ini Bian sedang beneran serius.
"Maukah kamu kembali pulang ke rumahku?" tanya Bian.
"Tinggal disana bersama kedua orang tuaku dan adikku," sambungnya.
Lea terkesiap mendengar ajakan Bian untuk kembali tinggal di rumahnya. Rumah yang beberapa waktu lalu memang menjadi tempat tinggal baginya. Dan rumah yang pernah meninggalkan luka dan trauma baginya. Bagaimana bisa Bian mengajaknya kesana lagi.
"Aku gak yakin bisa kembali tinggal disana," batin Lea.
"Tapi aku juga tidak mau mengecewakan suami aku," lanjutnya..
__ADS_1
Disisi lain kenangan saat kejadian yang menyisakan trauma itu masih melekat dipikirannya. Bukannya Lea sengaja mengingatnya, namun kenangan itu otomatis teringat tatkala dia ingat Dwita, Olivya, dan Gigi. Berulang kali Lea mencoba membuang jauh kenangan itu, namun tetap saja dia kembali ingat.
"Sayang ... kok kamu diam?" Bian membuyarkan lamunan Lea.
"Apa kamu tidak bersedia untuk tinggal disana lagi?" tebak Bian.
"E ... e ... aku belum siap," lirih Lea.
"Kita sudah cukup lama tinggal di apartemen sayang. Aku rasa kamu sudah cukup tenang. Dan mari kita kembali ke rumah," ucap Bian.
"Aku hanya ingin menyatukan kamu dan keluarga aku sayang. Tolonglah aku," ucap Bian.
"Kamu tahu kan mami memang tidak menerima aku sejak awal?" lirih Lea.
"Nah itu sebabnya, kita harus tinggal di rumah. Supaya perlahan mami akan menerima kamu," Bian semakin mengeratkan genggamannya.
"Tapi waktu itu-" ucapan Lea terjeda tatkala Bian lebih dulu menyahut.
__ADS_1
"Tapi waktu itu aku tidak ada disamping kamu jadinya aku tida bisa melindungi kamu. Dan sekarang aku pastikan aku akan selalu ada disamping kamu sayang," Bian meyakinkan Lea.
"Percayalah," lanjutnya.
Suasana hening sejenak, Bian memang sengaja memberikan waktu untuk Lea berpikir. Bukannya Bian tidak mampu membeli hunian yang sama mewahnya seperti rumahnya saat ini. Melainkan tujuannya mengajak Lea kembali ke rumah, tak lain untuk memperbaiki hubungan antara Lea dan keluarganya. Bian akan berusaha membuat keluarga menerima Lea, wanita pilihannya.
"Keputusan ini harus aku ambil. Karena mereka adalah keluarga aku dan kamu adalah istri pilihan aku. Jadi aku harus menyatukan kalian berdua," ucap Bian lagi memecah keheningan malam itu.
"Tolonglah aku sayang," punya Bian dengan tulus.
Setelah berpikir agak lama, Lea juga memiliki niat baik untuk menjadi menantu yang diterima di keluarga itu. Itu terbukti sejak dulu Lea selalu menuruti kata-kata mami mertuanya. Meskipun sering dihujat dan dihina, Lea tetap kuat.
"Baiklah kalau itu harus kita lakukan untuk hubungan yang lebih baik," jawab Lea lembut.
Senyum sumringah terukir di wajah perfeksionis Bian. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Lea untuk memandang lebih dekat perempuan cantik di depannya itu. Tidak lama setelahnya kedua bibit tersebut sudah menyatu dengan sempurna.
Para pelayan yang tadinya berada disekitar meja tersebut. Seakan peka dengan keadaan. Perlahan mundur serempak dan meninggalkan tempat itu. Membiarkan customer mereka melakukan adegan itu.
__ADS_1