
Kepasrahan Bian kala itu ternyata berbuntut panjang. Harus menuruti semua yang dikatakan oleh Gigi. Jika sekali saja Bian menolaknya, maka Gigi akan mengungkit masalah pembebasan dan janjinya. Bagaikan sebuah jebakan dan Bian berhasil tertangkap oleh jebakan itu.
Sesampainya disebuah butik terkenal di ibukota. Keduanya melakukan fitting baju pengantin. Dan betapa terkejutnya si pemilik butik ketika tahu mempelai prianya adalah Bian.
"Lho Bian, bukannya anda-" ucapannya terjeda.
"Mbak Nanda tolong bagian pinggulnya dikecilin lagi dong," Gigi menimpali supaya Nanda tidak melanjutkan ucapannya.
"E...e...iya nanti saya kecilin," jawab Nanda yang masih tercengang.
Selama fitting berlangsung wajah Nanda menyiratkan sebuah pertanyaan besar, perasan baru saja menikah dan kenapa bisa menikah lagi secepat ini. Sementara wajah Bian tampak tidak bersahabat dengan siapapun waktu itu. Hanya Gigi saja yang tampak bahagia.
Seusai menghabiskan banyak waktu di butik itu. Gigi mengajak Bian untuk mampir ke mall dan ke sebuah restoran untuk makan. Dan tetap saja selama makan berlangsung, wajah Bian tidak sedikitpun menampakkan rona bahagia. Hingga akhirnya Gigi membuka suara, "Habis ini temenin ke salon ya."
"Hah? Ogah!" tolak Bian dengan cepat.
"Please, aku ingin tampil cantik saat pernikahan kita. Jadi aku pengen perawatan dulu."
__ADS_1
"Enggak bisa! Kalau mau lo sendiri saja."
"Mau nggak lo harus temenin gue ke salon," paksa Gigi sembari menjulurkan lidahnya.
Bian mendengus kesal dan membuang mukanya. Sungguh tidak terbayangkan sebelumnya Bian akan menurut dengan orang lain. Apalagi menurut dengan Gigi, orang yang tidak pernah dia inginkan hadir dalam rumah tangganya. Sial, umpatnya dalam hati.
"Sayang ayo buruan jalannya cepet sedikit." Gigi menarik tangan Bian yang berjalan dibelakangnya.
Bagaimana tidak jalan pelan-pelan, kalau membawa belanjaan yang berjibun. Bian berjalan dengan lesu dengan paper bag yang memenuhi kedua tangannya. Kalau boleh mengatakan sih Bian tampak seperti babu yang menuruti perintah majikannya.
"Sayang..." ucap Gigi lagi.
"Seharusnya gue istirahat karena baru saja bebas!"
"Ini malah seolah jadi babu lo!"
Langsung saja Bian meluapkan amarahnya kepada gadis yang ada dihadapannya itu. Tidak memperdulikan lagi jika ada orang lain yang melihat kemarahannya. Yang dia inginkan adalah gadis itu tahu kalau Bian sedang capek dan kesal terhadapnya.
__ADS_1
Pemuda itu melenggang meninggal Gigi yang masih mematung ditempatnya semula. Dia merasa malu karena ungkapan Bian yang terlalu keras tadi membuat tatapan beberapa pengunjung mengarah kepadanya. Ketika sadar bahwa Bian sudah pergi duluan, langsung saja Gigi mengejarnya.
"Bian tungguin gue," teriaknya sembari berlari.
"Sayang!" sambungnya.
Masuklah Bian ke dalam mobil terlebih dahulu yang kemudian disusul oleh Gigi. Dengan napas ngos-ngosan, dia naik ke dalam mobil. Menenguk minuman miliknya kemudian mengatur napasnya.
"Pak ke salon seperti biasa dulu ya pak," perintah Gigi pada sopirnya.
"Nggak bisa!" sambar Bian.
"Rumah pak," sambung Bian.
"Salon ya pak!" Gigi tidak mau kalah.
"Rumah!"
__ADS_1
"Salon"
Terjadilah perdebatan antara keduanya yang satu memilih kembali ke rumah dan yang satunya ingin mampir ke salon. Lagi-lagi Gigi mengeluarkan jurus ancamannya dan lagi-lagi Bian hanya bisa pasrah saja. Rasa dendam pada gadis yang berbuat semaunya sendiri itu sudah memuncak. Tinggal menunggu waktu semua dendam dan amarahnya meluap saja. Awas saja kau!, pikir Bian.