
"Makasih ya Bu Dinda, sudah mendengar curhatan hatiku. Demi hubungan baik apa aku boleh kembali datang?"
"Ya, silakan."
"Terima kasih, aku pamit." Angel pun melangkah pergi. Dinda hanya berdiri di ambang pintu seraya menatap kepergian Angel.
"Siapa dia?" tanya Willy tiba-tiba.
"Angel, istri Rey yang kedua." Spontan mata Willy terbelalak saat mendengar perkataan Dinda. Namun, tidak dengan Dinda yang terlihat santai, baginya itu hal biasa.
"Kenapa terkejut?" tanya Dinda, pada Willy yang masih tercengang.
"Tidak apa-apa aku hanya … bukankah Rey punya istri?"
"Sudahku bilang istri kedua. Kenapa bengong? Apa mau melakukan yang sama?"
"Tidak! Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Baguslah. Jika kamu berubah pikiran sebelum melakukannya kamu harus ingat bayi dalam perutku." Tatap Dinda tajam, lalu berlenggang pergi. Entah kenapa Dinda jadi emosi seperti itu.
"Papa!" teriak Syena, memanggil Willy yang sedang bengong.
"Papa kok bengong? Mana seroknya? Katanya mau nanam bunga," protes Syena.
"Ah iya, Papa lupa." Willy berkata seraya memukul keningnya. "Ya sudah, Papa ambil dulu kamu tunggu di sini ya."
"Oke Pa. Jangan lama-lama ya Pa."
Willy melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil serok sedangkan Syena kembali ke taman.
****
Di sisi lain Rio sangat gelisah. Tepat malam ini dirinya akan bertemu dengan wanita yang sudah di jodohkan orangtuanya. Sepanjang jalan dirinya hanya diam tanpa suara.
Sepasang netranya terus menatap luar jendela. Pohon-pohon yang berjalan mundur, dan jalanan yang cukup ramai seolah menjadi pemandangan yang indah bagi Rio.
Seorang wanita yang berada di depan hanya melirik putranya sejenak. Mencoba menebak apa yang sedang di pikirkan Rio saat ini. Nafas berat ia hembuskan, melirik sang suami yang fokus mengemudikan stir.
Pria itu hanya menyentuh tangannya lembut, seraya melihat bayangan Rio pada pantulan cermin di atas kepalanya. Menyakinkan sang istri bahwa semua akan baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian, mobil mereka memasuki sebuah rumah, yang cukup besar. Terasa asing bagi Rio, tapi tidak bagi si pemilik rumah yang menyambut dengan hangat. Pintu gerbang terbuka lebar, tidak ada yang melarang atau bertanya ada kepentingan apa mereka datang.
Rio, merasa heran si penjaga rumah pun sudah mengenal orangtuanya. Membiarkan mobil mereka masuk lalu berhenti tepat di pekarangan rumah yang luas.
"Sayang ayo turun, kita sudah sampai." Rio semakin gugup saat ibunya mengajak turun.
Rio, bersama kedua orangtuanya turun dari mobil. Wajah mereka begitu berseri karena akan bertemu teman lama, tetapi berbeda dengan Rio, yang ada dalam pikirannya hanyalah Karin.
Ingin rasanya Rio, pergi dari tempat itu. Namun, bersikap tidak sopan bukanlah dirinya. Dengan terpaksa kakinya melangkah memasuki rumah itu.
Seorang wanita seusia ibunya menyambut dengan ramah. Bahkan mereka saling memeluk dan tersenyum.
"Mira, senang sekali. Hari ini kamu datang ke rumahku, aku sudah menunggumu dari tadi." Kata si pemilik rumah yang melepas pelukannya.
"Ini Rio? Yang kamu ceritakan itu?"
"Iya, dia putraku Rio. Rio, kemarilah kenalkan ini teman Mama, Bu Rima."
Rio, pun mendekat lalu membungkuk meraih tangan Rima yang dikecupnya dengan lembut. Begitu sopan, itu yang Rima, pikirkan.
"Sopan sekali dia. Berbeda dengan menantuku," batin Rima.
__ADS_1
"Ayo silahkan masuk," ajak Rima, lalu melangkah memasuki ruangan utama. Yang di suguhkan dengan sofa-sofa besar untuk mereka duduki, ruangan yang sangat luas dengan interior yang klasik.
Pajangan-pajangan kuno, serta guci-guci antik mememuhi seisi ruangan. Siapa pun yang datang akan sangat betah berada di tempat itu. Seolah sedang memasuki sebuah musium.
"Masih suka mengoleksi ya Rim?" tanya Mira, yang sangat tahu jika temannya itu begitu menyukai barang-barang antik. Rima, hanya menjawab dengan senyuman.
Tidak berselang lama datanglah seorang pelayan, yang menghidangkan segala jamuan di atas meja.
"Terimakasih Bi," ucap Rima pada pelayan itu lalu melangkah pergi.
"Silakan," ucap Rima, mempersilahkan para tamunya untuk menikmati jamuan yang sudah tersedia.
"Rim, mana anakmu katanya mau di perkenalkan pada kami." Kata Mira, seraya meneguk secangkir teh.
"Putriku masih di atas. Dia baru saja pulang karena ku paksa." Kata Rima diiringi tawaan renyah.
"Memangnya putrimu tidak tinggal di sini?"
"Setelah dia memiliki perusahaan sendiri. Tidak pernah tinggal bersama, anaknya selalu ingin mandiri. Bahkan dia berani menentangku sebagai ibunya."
"Menentang? Maksudnya?" Mira bertanya-tanya.
Rima, mendadak gugup.
"Mira, bisa kita bicara sebentar?" tanya Rima, membuat Mira dan suaminya saling pandang. Namun, tidak dengan Rio, yang fokus dengan ponselnya.
"Bicara apa ya Rim?"
"Ikutlah denganku," ucap Mira. "Maaf ya Pak saya permisi sebentar ada yang harus saya bicarakan dengan Mira." Rima, meminta izin pada suami Mira, lalu melangkah menuju halaman belakang. Mira pun mengekorinya.
Setibanya di sebuah paviliun mereka menghentikan langkahnya. Mira, masih bertanya-tanya apa yang akan di katakan oleh Rima. Begitupun dengan Rima, yang merasa ragu jika Mira akan menerima kekurangan putrinya setelah mengatakan kebenaran ini.
"Ini tentang putriku," jawab Rima.
"Memangnya kenapa dengan putrimu? Apa dia tidak menerima perjodohan ini? Kalau memang putrimu tidak terima, aku tidak akan marah. Namun, setidaknya kita mempertemukan mereka terlebih dulu. Kali saja setelah bertemu mereka berubah pikiran."
"Bukan itu maksudku Mir, sebenarnya … putriku bukanlah seorang gadis. Dia sudah pernah menikah. Seperti apa yang sudah ku katakan. Dia menentangku menikah dengan seorang pria tanpa restu dariku. Namun, sekarang mereka sudah terpisah. Mungkin putriku sudah menyadari seperti apa pria yang sudah dia nikahi, selama ini dia di butakan oleh cinta. Aku harap kamu tidak marah, aku tidak bermaksud untuk menutupi status putriku."
Di sentuhnya tangan itu perlahan. Mira tidak marah, melainkan tersenyum.
"Semua orang pasti punya masa lalu. Dan aku tidak mempermasalahkan status putrimu. Gadis atau bukan, jika putrimu bisa membahagiakan putraku apa aku harus menentangnya? Jangan di pikirkan masalah itu ya Rim, dari awal aku sudah tahu jika putrimu sudah pernah menikah. Jika aku marah, mungkin aku tidak akan datang malam ini."
"Terimakasih ya Mir, aku tenang sekarang. Tidak ada lagi yang harus aku tutupi."
"Sekarang kita kembali ke dalam. Putra dan suamiku pasti menunggu."
"Aku akan panggil putriku dulu, kamu duluan saja ya."
"Baiklah."
Mereka pun berjalan terpisah. Mira, melangkah menuju ruang utama sedangkan Rima, menaiki anak tangga menuju kamar putrinya.
*****
Di dalam kamar seorang wanita sedang merias wajahnya secantik mungkin. Dengan dress blue bermotif bunga melekat, membalut lengkuk tubuhnya. Rambut panjang di biarkan terurai menutupi dadanya yang sedikit terlihat.
Di pandangnya bayangan diri pada pantulan cermin, yang menatap sedih dirinya.
"Haruskah aku menerima perjodohan ini? Mungkin memang iya. Tidak ada alasan untuk aku menolak," ucapnya lirih.
Tok, tok, tok.
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar. Sudah bisa di tebak siapa yang mengetuk. Tidak lain adalah ibunya. Dalam satu tarikan nafas ia hembuskan, lalu bangkit berdiri melangkah menuju pintu.
Pintu terbuka lebar. Wanita itu tersenyum melihat kecantikan putrinya.
"Kamu cantik sekali sayang."
"Ma? Apa harus ya aku berdandan seperti ini? Tidak ada pesta 'kan Ma, untuk apa aku berdandan seperti ini."
"Kamu ini 'kan mau bertemu calon tunanganmu dan mertuamu. Jadi harus terlihat cantik. Tadi Mama sudah bertemu sama calon mantu Mama, tampan sekali."
"Mama sangat senang? Kenapa saat Vikram, melamarku dulu Mama tidak senang?"
"Jangan menyebut nama lelaki itu lagi. Tanpa Mama katakan kamu sudah tahu jawabannya. Karena seorang ibu menginginkan yang terbaik untuk anaknya."
"Ya, dulu aku salah. Karena aku terlalu mencintainya."
"Lupakan pria itu. Sekarang kita turun ke bawah. Mereka sudah menunggu."
Rima menuntun tangan putrinya, lalu menuruni anak tangga menuju ruang utama. Di bawah sana Mira dan suaminya saling bercengkrama, saat Rima, datang wajah mereka langsung tercengang melihat seorang wanita yang ada di samping Rima.
Mira, dan suami langsung berdiri menatap takjub pada wanita yang akan menjadi menantunya nanti.
"Mira, kenalkan ini Karin, putriku," ucap Rima.
Mira, yang tersenyum langsung berjalan memeluk Karin, bahkan mengecup keningnya berkali-kali. "Ini Karin? Beda sekali, dulu saat ke sini Karin masih kecil, masih suka aku gendong."
Karin, menatap heran pada Mira dan Rima. Lalu Rima pun menjelaskan, "Ini tante Mira, teman lama Mama. Dulu kamu masih kecil sekitar lima tahunan. Suka di gendong, dan kamu juga sering bermain dengan putranya."
"Maaf, tante Karin, tidak ingat."
"Tidak apa-apa, itu juga sudah lama. Iya 'kan Rim?" Rima hanya mengangguk.
"Di mana putramu?" tanya Rima, yang tidak melihat keberadaan Rio, di sana.
"Tadi dapat telepon, begitulah putraku tidak pernah mengabaikan pekerjaannya di mana pun. Itulah sebabnya sampai sekarang belum menikah, jangankan memikirkan calon istri. Memikirkan dirinya saja tidak pernah." Mira, menggerutu.
"Karin-Karin kamu cantik sekali." Kata Mira, yang terus membelai wajah Karin lembut.
Rio, berjalan memasuki ruangan. Matanya tetap fokus pada ponsel yang di pegang. Tidak menyadari seorang wanita cantik di depannya.
Langkahnya terburu-buru. Sepertinya ada hal yang tidak bisa di tinggalkan. Entah itu masalah pekerjaan atau bukan.
"Itu Rio," ujar Rima, membuat semua mata tertuju pada pria yang sedang berjalan ke arahnya.
"Ma, Pa, maaf aku harus pergi sekar …," ucap Rio tertahan. Saat melihat wanita cantik di depannya.
"Karin!"
"Rio!"
Mata keduanya membulat sempurna.
...----------------...
Maaf ya reader author baru update lagi. Tadinya hari ini aku mau double update. Tapi karena kondisi badan yang belum sehat sanggup nya hanya satu bab saja. Doakan aku ya semoga cepat sembuh dan bisa rajin update setiap hari.
Terimakasih buat kalian yang selalu menunggu update dari aku. Jangan lupa like dan komentarnya.
Salam author
Dini_ra
__ADS_1