Life After Married

Life After Married
Pencarian Lea


__ADS_3

Bian bergegas mencari keberadaan Lea di apartemen milik Lea. Namun, tampaknya apartemen tidak ada siapapun disana. Dia hendak mencari ke kampus Lea, sama juga hasilnya nihil. Bahkan dia telah mencari ke tempat-tempat favorit Lea seperti studio foto, kafe, bar, taman, dan lain-lainnya.


Malam itu Bian memutuskan untuk menghentikan pencarian sejenak. Dia mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang terletak disebuah kafe outdoor. Kafe langganan Bian dan Lea karena desain tempatnya sangat romantis.


"Argh ....... " teriaknya.


Wajahnya tertunduk lemas memikirkan Lea. Dia benar-benar merasakan kehilangan. Mungkin kehilangan yang dia rasakan saat ini jauh lebih sakit daripada kehilangan mantannya dulu. Mantan yang sudah berpacaran kurang lebih sepuluh tahun.


Meskipun hubungan pacaran Bian dan Lea terbilang singkat. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah saja. Namun bagi Bian, Lea adalah candu bagi hidupnya. Dengan melihatnya saja sudah menjadi moodboster baginya.


"Bodoh!" umpatnya.


Tak habis pikir dia bisa membuat Lea pergi dari rumah. Atas kesalahannya sendiri yang membuat Lea sakit hati lalu pergi. Andaikan saat itu nggak terjadi, pikirnya.

__ADS_1


"Perempuan itu memang breng$ek!" umpatnya.


"Awas saja!" ucapnya dengan penuh amarah.


Bian mengotak-atik ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada seseorang. Agar bertugas untuk membalaskan dendam kepada perempuan yang membuat rumah tangganya hancur.


***


Di rumah Renata.


"Sudah ya Lea. Lo tenangin diri lo, belajar ikhlas," nasihat yang selalu diucapkan Renata. Yang kemudian jawaban Lea selalu mengelengkan kepalanya.


Lea benar juga, bagaimana bisa mau ikhlas. Kalau pernikahan seumur jagung mereka harus hancur secepatnya ini. Bahkan Lea sama sekali belum pernah merasakan kehidupan berumah tangga dengan Bian. Meski statusnya resmi dimata hukum dan agama.

__ADS_1


Malam itu setelah Lea tertidur disamping Renata. Diambilnya ponsel Lea yang sudah berhari-hari tidak disentuh. Dinyalakan ponsel itu, namun dengan posisi data dimatikan. Agar tidak terlacak melalui GPS posisi ponsel Lea.


Renata menyimpulkan bahwa dia harus menghubungi seseorang yang dikontak Lea tertuliskan nama "Fahri Ahmad". Pasalnya kontak tersebut yang paling sering berhubungan dengan Lea. Mungkin orang itu bisa membantunya.


"Ehm ... Kayaknya gue harus hubungin orang ini deh," ucapnya seraya mengambil ponselnya.


Setelah mendapatkan balasan dari Fahri, Renata tidak langsung mengatakan keberadaan Lea. Namun, dengan hati-hati dia menyelidiki siapa sebenarnya Fahri ini. Apakah dia orang yang tepat untuk dimintai bantuan. Awalnya Renata mengaku juga sedang berusaha mencari keberadaan sahabatnya, Lea.


"Oh ternyata sekertaris Bian," gumam Renata.


"Apa gue langsung bilang saja ya kalau Lea ada sama gue?"


"Eh... tapi jangan dulu. Sebaiknya gue terus menyelidiki bagaimana keadaan Bian setelah ditinggal Lea "

__ADS_1


Monolog dalam hati Renata yang menyimpulkan bahwa tidak langsung mengatakan keberadaan Lea kepada Fahri. Dia menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan itu semua. Sekaligus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Lea dan Bian. Pasalnya Renata tahu betul Lea bukanlah orang yang gegabah memutuskan sesuatu. Termasuk pergi dari rumah ketika ada masalah.


"Apakah murni kekecewaan Lea yang membuatnya pergi dari rumah? Atau karena hal lain?" gumam Renata.


__ADS_2