Life After Married

Life After Married
Sangat Marah


__ADS_3

Pagi ini akhirnya Bian bersiap untuk kembali ke rumahnya. Dia menolak untuk sarapan karena tidak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya. Buru-buru dia berjalan keluar dari rumah Keluarga Vernandes.


"Bian tungguin gue," teriak Gigi yang mengejarnya.


Bian menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Dia memicingkan matanya seolah bingung apa maksud dari Gigi. Sampai akhirnya Gigi berhenti tepat dibelakang Bian.


"Lo mau kemana?" tanya Bian tanpa menoleh ke Gigi.


"Mau nemenin lo lah," jawabnya polos.


"What?! Mau temenin gue?" ulang Bian.


Gigi menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan apa yang dikatakan oleh Bian. Langsung Bian menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan kemauan Gigi. "Gak bisa! Lo gak boleh ikut!"


"Gue harus ikut!" tukas Gigi.


"Tidak!" balas Bian.


"Enak saja, gue yang susah payah mengeluarkan lo dari penjara. Terus lo mau bertingkah seenak jidat lo?" ujar Gigi.


"Nggak bisa!" imbuhnya.


"Terserah lo!" sungut Bian.


Senyum kemenangan terpancar pada wajah Gigi, karena akhirnya dia bisa mengikuti kemana Bian pergi. Dan selama diperjalanan tidak ada sepatah katapun yang terucap dari keduanya. Hening dan dingin menyertai perjalanan mereka pagi itu.

__ADS_1


Sesampainya di halaman rumah Bian. Sesegera mungkin Bian turun dari mobil dan meninggalkan Gigi. Langkah kakinya cepat memasuki rumah dan menaiki tangga. Ya, tujuan pertamanya adalah menemui istrinya.


Ceklek.


Pintu kamarnya terbuka, terlihat pemandangan ranjang yang sangat rapi. Seperti tidak digunakan untuk tidur malam ini. Langkah kaki Bian lanjut menuju kamar mandi. Setelah dibukanya ternyata tidak ada siapapun didalam.


"Lea ... " panggil Bian dengan sangat keras.


"Lea kamu dimana sayang?" teriaknya sembari membuka satu persatu ruangan yang ada di kamarnya..


"Lea ... "


Setelah dipastikannya tidak ada Lea didalam kamar. Bian beranjak keluar dan mencari Lea ke ruang makan. Barangkali Lea sedang memasak atau sarapan.


"Lea ... " Bian terus memanggil nama istrinya.


"Bian sayang kamu sudah pulang nak? Bagaimana kabarmu nak?" sapa Dwita kepada anaknya.


"Lea dimana?" tanya Bian tanpa basa-basi.


"Sini sarapan dulu. Kamu pasti lapar," ajak Dwita tanpa mempedulikan pertanyaan Bian.


"Jawab pertanyaan gue!" bentak Bian.


"Lea dimana?" lanjutnya.

__ADS_1


Ketiga orang yang sedang menikmati sarapan itu sontak saling tatap. Tidak lupa dengan senyum sinis dari ketiganya yang menyiratkan sebuah kemenangan.


"Lea pergi dari rumah kak," sahut Olivya dengan santainya.


"Apa yang kau bilang?" Bian meyakinkan apa yang dia dengar barusan.


"Lea pergi dari rumah kak," ulang Olivya dengan santai namun penuh dengan penekanan.


Ketika yakin apa yang dia dengar tidak salah. Bian tertegun seolah tidak percaya bahwa Lea pergi dari rumah. Pasti ada yang tidak beres dengan orang-orang di rumah ini, pikirnya.


"Gak mungkin Lea pergi dari rumah begitu saja!" tegas Bian.


"Katakan sama gue ada apa sebenarnya di rumah ini," sambungnya.


Dwita menarik napas dalam kemudian menghembuskan secara perlahan. Memasang wajah sedihnya, seolah-olah merasa sedih dengan kepergian Lea. "Benar Bian, Lea pergi dari rumah sendiri. Mami juga sedih mendengar keputusannya."


"Mami sudah berusaha menahannya agar tidak pergi. Namun dia tetap meminta untuk pergi dan tidak akan pernah kembali katanya seperti itu. Mami sedih Bian," ucapnya disertai air mata palsunya.


"Apa yang dikatakan mami benar kak. Lea sangat keras kepala saat dinasehati mami supaya tetep tinggal disini. Menunggu kakak bebas dari penjara," timpal Olivya.


Bian melengos seakan muak dengan penjelasan yang disampaikan dua orang didepannya.


"Sudahlah Bian. Lepaskan Lea dan perhatikan calon istrimu ini," Dwita melirik ke arah Gigi.


"Fokuslah ke pernikahan yang akan segera dilaksanakan," imbuhnya.

__ADS_1


Penuturan Dwita itu membuat Bian naik pitam. Bisa-bisanya disaat yang sedang kacau seperti ini, Dwita masih memikirkan pernikahan itu. Pernikahan balas budi yang diminta oleh pihak Gigi.


"Gue nggak percaya dengan kata-kata lo semua!" teriak Bian sebelum akhirnya berlalu menaiki anak tangga.


__ADS_2