Life After Married

Life After Married
Masih Penasaran


__ADS_3

"Kamu nggak pengen gitu dekat lagi dengan Oliv? Tanya apa kesibukan dia saat ini atau dengan siapa dia menjalin hubungan saat ini?" tanya Lea.


Bian menghela napas panjang dan kemudian dia hembuskan.


"Pengen sih pengen, tapi karena kesibukan masing-masing dari kita sehingga tidak ada waktu untuk ngobrol berdua," jawab Bian.


"Ya justru karena semua sibuk itu, saling menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing," usul Lea.


"Ah nggak deh," tolak Bian.


"Kamu ini ketemu aku saja bisa. Menyempatkan untuk ketemu dan ngobrol sama adek sendiri nggak bis. Huh! banyak alasan," ledek Lea.


"Lha kan itu beda sayang," Bian belasan.


"Tidak ada orang yang benar-benar sibuk, hanya saja dia tidak masuk kedalam prioritas kamu," tegas Lea.


Bian hanya terdiam mendengar ucapan sang istri. Rupanya benar apa yang dikatakan Lea kepadanya. Memang selama ini Bian juga menyadari bahwa dirinya kurang memprioritaskan keluarga. Iya juga ya, hehe ... pikirnya.


"Kenapa kok diam?" tanya Lea.


"Yang aku katakan benar kan?" imbuhnya.

__ADS_1


"Ngaku!" seru Lea.


"Hehe ..." Bian hanya cengengesan menjawab tebakan yang dilontarkan oleh Lea.


Tidak lama setelah diam sejenak, "Oliv itu sama saja sama mami. Makanya aku nggak terlalu suka banyak ngobrol dengan dia."


"Maksudnya?" Lea mengernyitkan dahi bingung.


"Ya kamu tahu sendirilah kalau sifat mami dan Oliv itu sebelas dua belas. Sama-sama keras kepala, kalau punya keinginan harus segera tercapai. Dengan berbagai cara baik dan buruk mereka lakukan, asal apa yang didinginkan tercapai," kata Bian.


"Terus mami, Olivya, dan Gigi adalah komposisi yang lengkap untuk memengaruhi orang lain. Mereka itu mempunyai misi yang sama," lanjut Bian.


"Apa misi mereka?" tanya Lea lagi.


Lea tampak berpikir sejenak dengan teka-teki yang diberikan oleh sang suami.


"Menjodohkan kamu dengan Gigi?" lirih Lea karena takut salah berbicara.


"Betul sekali. Kamu kok pinter sih," sambut Bian seraya mencubit gemas hidung mancung Lea.


"Sejak dulu misi mereka memang menyatukan gue dan Gigi. Dan tidak perah berhasil sampai kapanpun itu," tegas Bian.

__ADS_1


"Pantas saja mereka kompak sekali memaki aku," batin Lea.


"Oh itu sudah sejak lama ya sayang? Perjodohan antara kamu dan Gigi?" Gigi bertanya kembali.


"Iya mungkin sejak bayi kali ya. Keluargaku dan keluarga Gigi bersahabat sejak mami dan papi muda. Dan kami pun didekatkan sejak balita, mulai dari kelompok belajar yang sama, sekolah dari TK-SMA yang sama. Dan kamu hanya berpisah waktu kuliah saja," jelas Bian.


"Kenapa tidak kamu terima saja perjodohan itu sayang?" tanya Lea.


"Enak saja! Mana mungkin aku menjalani hidup berumah tangga tanpa cinta?" ucap Bian.


"Siapa tahu kamu berminat gitu sama sahabat sejak kecil kamu," ucap Lea.


Bian hanya menggelengkan kepalanya. Bagi Bian sahabat ya akan menjadi sahabat selamanya. Untuk pasangan hidup biar hati yang menentukan.


"Lalu bagaimana dengan Olivya? Kamu tahu nggak siapa pacar dia sekarang?" tanya Lea lagi yang kembali fokus pada pembahasan Olivya.


"Kenapa kamu tertarik sekali dengan pacar Olivya? Memangnya kenapa?" tanya Bian.


"E ... Nggak apa-apa. Cuma penasaran saja sih," Lea berasalan.


"Kenapa kamu tidak bertanya sendiri pada orangnya?" tanya Bian.

__ADS_1


Tidak ada orang yang benar-benar sibuk, hanya saja dia tidak masuk kedalam prioritas kamu.


__ADS_2