
Ketika hati masih cemas memikirkan keadaan Dwita. Seorang wanita yang tidak lain adalah perawat di rumah sakit tersebut datang menghampiri. Membawa kabar mengenai kondisi Dwita terkini.
"Mari tuan, nona saya antarkan," ajak perawat itu dengan ramah dan sopan.
Perbincangan singkat antara perawat dan pihak keluarga itu membuat pihak keluarga panik. Secara serentak Pranoto, Bian, dan Lea berdiri dari duduknya. Berlari kecil keluar dari ruang tunggu VIP. Mengikuti langkah perawat itu berjalan.
Langkah kaki itu terhenti pada sebuah ruangan yang bertuliskan ICU. Ya, berdasarkan informasi dari perawat tadi. Saat ini Dwita dipindahkan ke ruang ICU karena kondisinya yang semakin memburuk.
"Ya Tuhan. Semoga mami baik-baik saja," doa Lea dalam hati.
Ketiga orang itu hanya dapat melihat Dwita dari balik jendela kaca khusus. Untuk sementara pihak keluarga dilarang untuk mendekatinya. Melalui jendela kaca itulah, mata ketiga orang itu disuguhkan pemandangan Dwita yang terkulai lemah.
"Sayang yang sabar ya," lirih Lea tepat ditelinga Bian.
Beberapa petugas medis masih terlihat mengotak-atik peralatan medis yang ditempelkan pada hampir seluruh tubuh Dwita. Mulai dari alat bantu pernapasan, pengukur detak jantung, dan peralatan medis lainnya. Terlihat jelas bahwa para petugas medis itu bekerja dengan teliti dan hati-hati. Demi istri dari seseorang yang berpengaruh di negara ini.
__ADS_1
"Permisi Tuan Pranoto, anda telah ditunggu Dokter Alex di ruangannya," ucap perawat yang sedari tadi mengantar mereka.
Pranoto hanya mengangguk saja, memandang jendela kaca itu sejenak. Lalu berbalik badan dan mengikuti langkah perawat itu menuju ruangan Alex.
"Silahkan tuan," ujar perawat membukakan pintu ruangan Alex.
Dokter Alex yang awalnya duduk pada kursi kerjanya. Seketika berdiri dan menundukkan badannya untuk menyambut kedatangan Pranoto. Tangannya mempersilahkan Pranoto untuk duduk pada kursi yang ada dihadapannya.
"Bagaiman keadaan Dwita?" tanya Pranoto tanpa basa-basi.
"Jadi begini Tuan. Saat ini kondisi Nyonya Dwita sangat lemah. Sehingga kami memindahkan beliau ke ruang ICU," jawab Alex.
"Lalu apa penyakit yang diderita Dwita sampai harus masuk ke ruang ICU?" tanya Pranoto penasaran.
"Dari hasil pemeriksaan kami, Nyonya Dwita mengalami serangan jantung." Alex menyerahkan sebuah berkas hasil pemeriksaan kepada Pranoto.
__ADS_1
Pranoto mengernyitkan heran dengan jawaban Alex. Membaca sekilas berkas yang diberikan Alex memang terdapat tulisan bahwa Dwita mengalami serangan jantung. Namun Alex tidak tahu banyak mengenai berkas hasil pemeriksaan tersebut. Maklum saja Pranoto ahli di bidang bisnis bukan di bidang kesehatan.
"Mana mungkin Dwita mengalami serangan jantung. Dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung." Pranoto tampak kurang yakin dengan apa yang dikatakan Alex.
"Mohon maaf Tuan. Namanya serangan jantung adalah penyakit yang mendadak. Bisa menyerang siapapun, baik yang memiliki riwayat penyakit jantung ataupun tidak." Alex menjelaskan.
Pranoto merasa janggal dengan pernyataan Alex. Tetapi karena dirinya sedang tidak ingin berdebat. Maka Pranoto mengalah dan mengiyakan apa yang dikatakan Alex. Baginya saat ini bukanlah apa penyakit Dwita yang sebenarnya. Yang terpenting adalah Dwita segera sadar dan membaik.
"Baiklah, saya minta anda beserta tim medis di rumah sakit ini harus bisa menyelamatkan Dwita," tukas Pranoto.
"Panggil dokter yang ahli dalam bidangnya, gunakan peralatan tercanggih. Pokoknya Dwita harus segera sembuh," tutup Pranoto.
"Baik Tuan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Nyonya Dwita," ucap Alex.
Perbincangan serius antara Pranoto dan Alex pun usai. Pranoto meninggalkan ruangan Alex dengan perasaan yang tetap mengganjal hatinya. Sementara Alex bernapas lega karena Pranoto tidak banyak melakukan protes. Biasanya Pranoto terkenal sebagai orang yang kritis dan tidak mudah percaya. Makanya Alex mengiyakan saat Pranoto meminta uji ulang terhadap penyakit yang diderita Dwita.
__ADS_1
Wah ada apa ya ini???? Masih mau lanjut?