
"Sayang, siapa sih pacarnya Oliv?" tanya Lea saat mereka bersantai di depan televisi kamar mereka.
"Nggak tahu sih selama ini suka gonta-ganti pacar dia itu," jawab Bian.
"Tahu nggak namanya siapa saja?" tanya Lea.
"Nggak tahu juga sih." Bian menggeleng.
"Memangnya kenapa?" sambungnya.
"Nggak apa-apa kok sayang. Pengen tahu saja sih. Penasaran soalnya." Lea beralasan.
"Lha kan kamu teman kuliahnya, yang tahu keseharian dia di kampus," ucap Bian.
"Iya juga sih ya," lirih Lea kemudian menghadapkan matanya kearah televisi.
Beberapa saat keduanya menikmati acara televisi yang sedang berlangsung. Sesekali gelak tawa terdengar dari mulut keduanya. Ya, karena malam itu mereka sedang menyaksikan acara komedi malam.
"Sayang, memang selama ini kamu tidak terlalu dekat dengan Oliv ya?" tanya Lea disela-sela acara menontonnya.
__ADS_1
"Waktu kecil aku dekat banget sama Oliv, namun seiring berjalannya waktu kami agak berjauhan. Mungkin sejak aku sibuk kuliah dan kita berpisah rumah. Nah, pas aku menyelesaikan kuliah dan balik ke rumah. Giliran dia yang sibuk dengan kuliahnya," jelas Bian.
"Selain dia sibuk kuliah, aku juga sibuk sama perusahaan kan," imbuhnya.
"Tapi masa family time kalian nggak ngobrol banyak gitu. Tanya bagaimana kuliah dan aktivitas diluar kuliah gitu?" tanya Lea.
Bian tampak menghembuskan napas berat. Mengingat jarang sekali keluarganya mengadakan acara family time. Bahkan adanya sarapan dan makan malam bersama dilakukan akhir-akhir ini. Biasanya Bian memilih untuk sarapan di kantor dan makan malam bersama rekan bisnis atau tidak bersama Lea saat masih pacaran.
"Family time?" ulang Bian seraya mengelengkan kepalanya.
"Itu hanya aku lihat di film-film saja sayang. Mungkin kalau ditanya kapan terakhir merasakan family time yang paling aku kenang," Bian tampak mengingat ke memori beberapa tahun yang lalu.
"Ehm ... ada kali ya 15-17 tahun yang lalu," Bian memprediksi.
"Ya, karena dulu perusahaan keluargaku belum berkembang pesat seperti sekarang," ucap Bian.
Lea manggut-manggut mendengarkan penjelasan sang suami. Merasa iba dengan suaminya itu. Pasalnya Lea adalah anak satu-satunya dikeluarkannya dan perhatian kedua orang tuannya tercurahkan penuh untuknya. Mendengar sekilas cerita Bian saja sudah membuat dia membayangkan betapa minimnya komunikasi di keluarga ini.
"Terus setelah perusahaan berkembang pesat. Sudah tidak ada lagi waktu kumpul keluarga?" tanya Lea.
__ADS_1
Bian menggelengkan kepalanya lagi untuk menjawab pertanyaan sang istri.
"Lalu untuk kumpul keluarga besar?" Lea lanjut bertanya.
"Keluargaku seolah tidak lagi menganggap penting keluarganya. Setelah perusahaan kami berkembang pesat. Papi sibuk sekali dengan bisnisnya, setiap hari berangkat pagi pulang malam. Sering keluar kota dan keluar negeri. Nah, disaat itu juga papi mengutus aku kuliah di Jerman. Ambil sekolah bisnis terbaik disana untuk melanjutkan perusahaan keluarga." Bian menjelaskan.
"Lalu mami?" sela Lea.
"Seharusnya kamu tahu apa yang dilakukan mami," ucap Bian.
Lea mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban bahwa dia tidak tahu. Daripada salah menebak mending langsung bertanya. Jujur saja Lea mengenal keluarga Bian setelah menikah ini.
"Masa kamu nggak tahu sih sayang," ucap Bian sembari mengacak rambut Lea.
"Ya layaknya istri pengusaha yang sukanya arisan, kumpul-kumpul, makan-makan, jalan-jalan, gitulah pokonya kerjaannya menghabiskan uang," lanjut Bian.
"Jadi sejak dulu mami kaya gitu?" Lea memastikan.
"Iya ... " ucap Bian sembari mengangguk.
__ADS_1
"Kamu nanti juga mau seperti itu ya?" goda Bian.
"Ih enak saja," tolak Lea segera.