
"Mas, apa benar Rio akan menikah?"
Willy yang fokus pada laptopnya langsung melirik pada Dinda yang duduk di sampingnya.
"Kata siapa?" tanya Willy.
"Kamu beneran gak tahu?Aku tahu dari Karin. Katanya Rio, dijodohkan dan akan menikah dalam waktu dekat."
"Kalau memang itu benar, seharusnya kita senang, karena Rio akan melepas masa lajangnya."
Berbeda dengan Willy, yang merasa bahagia, tetapi Dinda tidak suka dengan kabar itu. Bibirnya mencebik, dan merajuk pada Willy, agar menghentikan perjodohan itu. Willy, pun merasa heran.
"Tadi siang Karin menangis Mas, apa aku harus bahagia sedangkan sahabatku sendiri bersedih. Sepertinya Karin masih suka sama Rio, apa mungkin Rio, hanya bercanda ya? Supaya Karin cemburu."
"Enggak tahu." Kata Willy, yang menaikan kedua bahunya.
"Ya, kamu tanya dong Mas."
"Iya, nanti. Sekarang sudah malam waktunya tidur."
Willy langsung menutup laptop menyimpannya di atas meja. Tubuhnya segera berbaring memeluk Dinda di sampingnya.
"Kamu masih merasa pusing?"
"Enggak terlalu Mas, mungkin karena sudah empat bulan. Biasanya masa-masa ngidam mulai hilang."
"Coba aku elus perutnya, kok belum kelihatan sayang?"
"Masih empat bulan Mas, kalau sudah lima bulan nanti perut buncitnya sedikit terlihat."
"Oh, ya? Masa sih! Coba aku lngin dengar suaranya." Willy menunduk, mendekatkan telinganya di atas perut Dinda, seolah sedang mendengarkan sesuatu.
Dinda hanya tersenyum melihat tingkah suaminya, apalagi saat mengajak bicara pada sang jabang bayi. Seolah-olah janin dalam perutnya bisa menyahut perkataannya. Baju tidurnya sedikit diangkat memperlihatkan perut rata yang begitu mulus. Satu kecupan Willy, berikan hingga jari tangan yang terus bergrliya menyusuri setiap paha mulusnya.
"Mas," lirih Dinda, yang merasakan sentuhan demi sentuhan.
"Anak kita mau dijenguk ayah katanya, boleh ya aku jenguk."
"Mas, kamu nakal ya."
"Bukan nakal sayang, tapi nengok."
Dalam satu tarikan, selimut itu terbuka lebar, benda kenyal keduanya saling membelit dan menyesap. Dengan perlahan tangan Willy menidurkan tubuh Dinda, dibukanya tali lingeria yang menutupi kulit mulus itu, hingga terlepas tanpa sehelai benang pun.
Dalam seketika tubuh mereka pun menyatu. Suara-suara manja terdengar merdu, Setiap gerakan Willy lakukan dengan lembut, karena takut jika akan menyakiti sang anak di dalam sana. Namun, tidak dengan Dinda, yang meminta lebih dari itu.
*****
__ADS_1
Di tempat lain Rey, dan Angel, baru saja melakukan aktivitas malamnya. Peluh keringat membasahi tubuh keduanya. Mereka tertidur lelap hingga pagi tiba.
"Mas, bangun."
"Hm."
"Ayo, Mas sudah hampir pagi ayo cepat mandi." Angel, menarik tangan Rey. Namun, yang ditarik malah malas terbangun.
"Sebentar sayang, aku ingin memelukmu dulu." Kata Rio, yang memeluk Angel.
"Sudah Mas, ayo bangun. Nanti kamu bebas memelukku saat kita di vila nanti."
"Vila?" Rey, langsung terbangun. Lalu teringat jika hari ini dirinya sudah berjanji akan mengajak Angel, untuk berlibur.
"Aku lupa sayang," ucap Rey.
"Ya sudah sana mandi. Aku akan buatkan sarapan."
Rey, pun bangun dari tidurnya. Melangkah memasuki kamar mandi. Sedangkan Angel, melangkah keluar dari kamar menuju dapur.
Baru saja selesai memasak terdengar suara pintu diketuk dari luar. Angel merasa heran, di pagi seperti ini siapa yang datang ke rumahnya.
"Siapa pagi-pagi gini datang," ujarnya. Lalu melangkah menuju pintu utama.
Dibukanya pintu itu dengan perlahan hingga terbuka lebar. Matanya membulat seketika saat melihat seorang wanita yang datang ke rumahnya. Wanita itu adalah Velove, yang langsung menampar keras wajah Angel, tanpa memberitahukan kesalahannya terlebih dulu.
"Siapa yang menyembunyikan Rey?" tanya Angel balik.
Kali ini Angel tidak akan lemah, tidak peduli seberapa sakit tamparan yang Velove, berikan. Dengan santainya Angel mengguyar rambut yang sempat berantakan.
Dengan tenang netra itu menatap Velove, yang ada di hadapannya.
"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu Rey ada di sini. Jika kamu tidak memanggil Rey, aku akan katakan pada seluruh komplek jika kamu perebut suami orang. Dan kalian telah berzina."
"Berzina? Apa kamu punya bukti jika kami berzina?"
"Kamu pikir mereka bodoh! Coba pikirkan seorang wanita dan pria dalam satu atap apa yang mereka lakukan?"
"Tanpa bukti kamu menuduh kami berzina. Silahkan! Panggil semua orang aku tidak takut. Karena aku tidak merasa melakukan hal kotor itu."
"Baiklah, akan ku pastikan kamu menyesal."
Velove hendak melangkah, memanggil para penghuni komplek. Dengan niat ingin mempermalukan Angel, agar semua orang tahu jika di tempat mereka ada seorang wanita yang berzina dengan seorang pria, yang tinggal bersama.
Namun, langkahnya terhenti karena seruan dari seseorang yang dia cari. Rey, baru saja keluar dari kamarnya. Hendak berjalan menuju meja makan. Namun, netranya terlebih dulu menangkap sosok wanita yang ia kenal.
"Velove!" panggilnya sedikit berteriak.
__ADS_1
Merasa namanya di panggil, Velove segera berbalik menatap Rey, di dalam sana. Aliran darah pada nadinya semakin mendidih, kepalan tangan yang siap di layangkan masih tertahan.
Rey, langsung terbelalak saat kepalan tangan itu mendarat pada wajah istrinya. Pasti kalian berpikir jika Velove, akan menampar Rey. Namun, nyatanya Angel lah yang ditampar.
"Velove!" teriak Rey. Segera melangkah mendekati kedua istrinya.
Bukannya berhenti, Velove semakin menjadi. Teriakan, serta pukulan membuat sekitar komplek riuh hingga mengundang banyak tetangga yang datang.
Tidak sedikit dari mereka memandang rendah pada Angel. Tidak sedikit pula yang bertanya-tanya karena yang mereka tahu Angel dan Rey, adalah sepasang pengantin baru.
"Velove, hentikan!" bentak Rey, bersamaan dengan satu tamparan yang mendarat pada wajah Velove.
Velove, tercengang yang mendapat tamparan itu tiba-tiba.
"Kamu lebih memilih wanita ini Mas! Dan kamu menamparku, apa kamu tidak ingat Bian! Tiga bulan kamu pergi, ternyata bersama wanita ini."
"Diam!" bentak Rey. "Ayo masuk," ajak Rey, pada Angel. Namun, tertahan karena Velove, menarik tangan Angel yang Rey, tuntun.
Sedetik langkah mereka terhenti. Tatapan tajam Rey, kembali pada Velove, yang kini terlihat jelas amarah di wajahnya.
"Jika kamu berani masuk, jangan harap kamu akan bertemu Bian. Dan kamu akan kehilangan Bian untuk selama-lamanya," ancam Velove.
Rey, mengacuhkan ucapannya. Dan hendak melangkah lebih dalam, tetapi ancaman Velove kembali menghentikannya.
"Berhenti! Atau kamu akan kehilangan Bian!" tegasnya. Lalu melangkah keluar dari gerbang menuju mobilnya yang terparkir.
Angel dan Rey, masih diam. Hingga mata Rey, terbelalak saat seorang balita di gendong oleh Velove. Balita itu tidak lain adalah Bian, yang masih imut dan lucunya. Bahkan usianya masih dini belum bisa berkata apapun.
"Velove apa yang kamu lakukan!" teriaknya saat senjata tajam Velove arahkan pada Bian, putranya.
"Velove, jangan main-main dengan pisau itu. Jauhkan barang itu dari Bian."
"Mas! Selamatkan Bian," ujar Angel, yang merasa kasihan pada bayi yang tidak berdosa.
Namun, Bian hanyalah seorang bayi yang tidak mengerti apa pun. Mulutnya terus melebarkan senyum dan gelak tawa, padahal nyawanya sedang di pertaruhkan.
"Sekarang siapa yang kamu pilih? Aku atau dia."
"Tenang Velove, bisa kita bicarakan baik-baik. Berikan Bian padaku dulu."
"Tidak! Aku ingin jawaban darimu. Aku atau dia yang kamu pilih. Jika kamu memilihnya kamu tidak akan bisa melihat Bian lagi."
"Oke, aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu dan Bian tetap pilihanku."
Rey, semakin mendekat. Mencoba mengambil benda tajam yang Velove, pegang. Namun, belum sempat pisau itu dipegang. Velove langsung mundur menyadari apa yang akan Rey lakukan.
"Kamu pikir aku bodoh. Aku tidak percaya dengan semua yang kamu katakan. Sekarang aku berikan kamu pilihan terakhir. Aku atau dia."
__ADS_1
Suasana semakin menengang. Tidak ada satu pun yang membantu atau berani mengambil pisau yang sudah mengarah pada Bian. Bahkan para tetangga yang melihat pun hanya bisa menjerit, merasa kasihan pada Bian bayi yang tidak berdosa.