
Di depan sebuah gedung tinggi kantor firma hukum yang terkenal. Seorang pria bertuxedo abu-abu dengan celana yang senada. Menunggu dengan gelisah.
Berulangkali arloji yang melingkar pada tangan kirinya terus dilihat dengan teliti. Hampir 30 menit berkas yang temannya kirimkan belum juga sampai.
Hingga kekesalannya tidak bisa tertahan. Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Sedetik netranya tertuju pada hamparan parkir yang luas namun tidak ada satu pun ojek yang masuk ke dalam kantornya.
Rio, pun tidak dapat menunggu lagi. Rio kembali masuk ke dalam kantor. Tidak berselang lama sebuah mobil Mercedez Benz memasuki pekarangan kantornya yang luas.
Mobil itu berhenti, setelah merasa parkir dengan benar. Turunlah Karin yang membawa dua buah berkas yang diberikan Bi Ijah.
Satu tangannya mengibas kerah blezer yang ia pakai. Lalu turun ke bawah rok untuk merapikan pakaiannya yang terlihat kusut. Setelah itu Karin pun berjalan memasuki kantor New-Dream.
"Kelvin Rio GN," ucapnya yang membaca nama yang tertera pada amplop itu.
Karin celingukan mencari seseorang yang menunggunya. Namun tidak ada satu pun manusia yang berdiam diri di depan lobby. Karin pun merasa bingung lalu bertanya pada sebagian orang yang keluar masuk kantor.
"Permisi, Mba bisa titip ini." Kata Karin seraya menyodorkan berkas itu.
"Langsung saja Mba ke lantai tiga. Antarkan saja ke ruangannya." Kata wanita itu yang langsung melangkah pergi tanpa mengantarkannya.
"Apa semua orang di firma hukum pada sibuk? Kenapa tidak ada satu pun yang mengantarkanku? Dasar!" rutuknya. Lalu berjalan lebih dalam hingga menaiki lift untuk menuju ke lantai tiga.
Kelvin Rio GN. Nama itu memang asing baginya, tidak mengenal dan tidak pernah tahu jika nama itu adalah Rio mantan kekasihnya.
Pintu lift pun terbuka, kakinya terayun keluar dari lift. Menyusuri lantai yang begitu luas namun sepi. Hanya ada beberapa ruangan kosong di atas sana. Mungkin ruangan khusus meeting dan untuk lain hal.
Karin terus melangkah, hingga kakinya terhenti di depan sebuah pintu dengan name tag Kelvin Rio GN. Tangannya mulai bergerak mengetuk pintu itu dengan perlahan. Hingga terdengar sahutan dari dalam. "Masuk."
Handle pintu pun ia sentuh. Di tarik lalu di turunkan, pintu pun terbuka lebar.
"Permisi," ujar Karin setelah berada di dalam. Sang penghuni ruangan masih sibuk membaca dan menulis beberapa laporan kliennya. Hingga tidak menyadari wajah wanita di hadapannya.
"Maaf, saya hanya ingin mengantarkan berkas titipan dari pak Willy, untuk pak Kelvin."
"Simpan saja di meja," titah Rio. Karin pun mengangguk. Menyimpan berkas itu di atas meja lalu bebalik dan hendak melangkah. Tiba-tiba …
"Tunggu!" ujar Rio, yang langsung mendongak menatap wanita di depannya. Namun tidak menyadari jika itu adalah Karin sang mantan kekasih.
"Lain kali jika mengantar paket yang cepat jangan lambat."
"Paket!" batin Karin. Matanya terbelalak seketika. Tidak terima dengan perkataan Rio yang menganggapnya sebagai kurir. Sedetik tubuhnya pun berbalik ingin meluapkan amarahnya namun, bukannya marah, tubuhnya mematung seketika, ketika melihat pria di hadapannya saat ini.
"Hei pak aku bukan …," ucapnya tertahan. Saat pandangan cintanya kembali bertemu.
Mata mereka saling berpandangan. Kedua bibir itu sama-sama bungkam. Entah apa yang mereka rasakan.
"Karin," lirih Rio.
Karin langsung berlari, keluar dari ruangan itu. Tanpa memperdulikan Rio, yang masih diam mematung. Hingga dirinya tersadar dan langsung bangkit dari kursinya, berlari keluar untuk mengejar Karin.
__ADS_1
"Bodoh! Kenapa aku bisa lupa jika kantor ini adalah kantor Rio juga. Ah sial!"
Karin terus berjalan tanpa henti. Entah masih ingat jalan keluar atau tidak. Yang jelas keadaan sekitarnya semakin sepi.
Hanya terdengar derap langkah dari ketukan sepatu yang ia pakai.
"Dimana lift-Nya? Apa ini jalan yang tadi aku lewati?" pikirnya.
Sedetik netranya menyapu pandangan hingga sebuah tangan tiba-tiba menarik tangannya. Membuat tubuhnya berbalik dan mendarat dalam pelukan seorang pria.
Bisa dirasakan sebuah tangan melingkar pada pinggang rampingnya. Sedetik sentuhan itu membuat tubuhnya menjalar, menciptakan aliran-aliran listrik yang berjalan dari pucuk kepala hingga ujung kakinya.
Sebuah angin sejuk dari embusan nafas menerpa wajahnya. Hingga tanpa sadar sebuah benda kenyal sudah mendarat di bibir ranumnya.
Sejenak dirinya terhanyut. Dalam sedetik mata Karin terbelalak, ketika menyadari ada yang salah pada dirinya. Karin bisa melihat jika Rio lah yang mengecupnya saat ini.
Segera tangan itu mendorong tubuh Rio, yang sudah berani mencumbunya.
"Lancang sekali kamu. Dengar Rio, aku bukan lagi kekasihmu jadi tidak ada hak bagimu untuk menyentuhku!"
Karin sangat marah pada dirinya sendiri. Sentuhan itu sejenak membuatnya nyaman, namun juga mengingatkan tentang masa lalu yang pahit.
Kata putus tanpa sebab membuatnya benci, terhadap laki-laki yang sudah mengecewakannya. Baginya Rio laki-laki yang egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Apa kamu sudah tidak lagi mencintaiku?" tanya Rio, yang entah kenapa perkataan itu yang ia lontarkan. Mungkinkah hatinya masih ada rasa.
"Cinta." Bibir Karin tersungging sesaat. "Kamu pikir saja sendiri apa aku masih mencintaimu. Asal kamu tahu aku belum bisa melupakan masa lalu. Bagiku kamu egois … egois Rio." Katanya seraya mengusap kasar bibir ranum yang sempat Rio cumbu.
Getaran tubuh tidak tertahan. Nafasnya terasa sangat sesak, hingga menekan keras dadanya. Karin terus berlari hingga langkahnya terhenti, tubuhnya melorot pada hamparan lantai yang licin.
Derai air mata turun dengan deras, entah siapa yang Karin tangisi.
Di tempat yang berbeda, Rio melakukan hal yang sama. Merutuki dirinya sendiri yang terlalu bodoh dan egois dalam bersikap.
Menyesal itu yang dirasakan saat ini. Seandainya dulu dirinya tidak egois, mungkin kata putus tidak akan pernah terucap. Pantas saja Karin membencinya karena dirinya berhak di benci.
****
Dengan langkah gontai, Karin keluar dari kantor New-Dream. Tatapannya begitu kosong. Kecupan itu masih terasa dan terbayang-bayang olehnya.
Sedangkan di atas sana, di depan dinding kaca yang gelap. Rio masih bisa melihat sosok wanita yang dikaguminya. Tubuhnya tetap diam, dan matanya tetap fokus pada Karin yang kini sudah memasuki mobilnya. Hingga mobil itu melaju hilang dari pandangannya.
"Apa aku masih bisa mendapatkan hatimu Karin," gumamnya penuh harap.
"Pak, kita harus segera pergi." Seorang wanita muncul dari balik pintu, memberitahukan pada Rio, jika sidang akan segera di mulai dan harus segera pergi.
"Ya, aku segera menyusul," sahut Rio. Yang masih bergeming. Menatap ke arah jalanan, berharap wanita yang dikaguminya kembali.
*****
__ADS_1
Rumah Sakit
Dinda mulai mengerjapkan matanya, dipindainya setiap sudut ruangan yang merasa asing baginya. Karena terakhir kali yang diingat Dinda masih berada di dalam kamar mencari obat untuk Syena.
Sedetik, pikirannya teringat pada Syena, tubuhnya langsung bangun tanpa menyadari keadaannya saat ini. Dinda kembali berbaring saat merasakan nyeri pada bagian perutnya.
Willy yang baru saja kembali langsung mendekat ketika Dinda sudah terbangun.
"Mau kemana? Jangan dulu bergerak." Katanya seraya menidurkan Dinda kembali.
"Dimana Syena?"
"Syena ada di kamar lain. Semalam demamnya tinggi, dan aku membawanya ke rumah sakit. Sekarang sudah membaik jangan khawatir."
"Mas? Kamu sudah tidak marah lagi 'kan? Kamu percaya padaku." Dinda berharap Willy tidak lagi memikirkan perkataan Rey, semalam. Namun, kenyataannya Willy masih bersikap dingin padanya.
"Istirahatlah aku akan segera kembali." Willy melepaskan genggaman tangannya. Lalu melangkah pergi.
"Mau kemana?"
"Mau melihat Syena," jawabnya tanpa menoleh sedikit pun.
"Aku ikut."
"Tidak usah. Jangan kemana-mana kamu harus istirahat," ucap Willy dengan dingin.
*****
Di tempat lain, Rey dan Angel baru saja tiba di rumahnya. Yang masih terlihat berantakan karena ulah Velove.
Pecahan pas bunga masih bertebaran di permukaan lantai. Serta barang-barang yang sempat di lempar terlihat berantakan.
"Mas, apa istrimu akan datang lagi? Bagaimana tanggapanmu apa kamu akan tetap mempertahankan hubungan kita?"
Rey, masih diam. Dirinya saat ini benar-benar dilema. Pikirannya saat ini masih teringat pada Willy, apa yang Willy lakukan dan siapa yang sakit? Syena atau Dinda.
"Mas!" panggilan Angel mengejutkannya. Ternyata Rey tidak mendengarkan perkataannya.
"Kamu kenapa Mas? Kamu tidak mendengar ucapanku tadi?"
"Maaf Angel. Aku sedang tidak fokus."
"Apa kamu memikirkan istrimu? Pergilah, kamu memang harus menjelaskan padanya. Dia pasti menunggumu," ketus Angel yang masih kesal.
"Jangan pikirkan itu. Sekarang aku antar kamu ke kamar. Kamu harus istirahat."
Tangan Rey, langsung menuntun Angel ke dalam kamar. Membaringkannya dengan perlahan. Hingga mata sipit itu menutup dengan sempurna. Entah karena pengaruh obat atau memang sudah sangat mengantuk. Kelopak mata itu tertutup dalam sekejap.
Dalam satu tarikan, selimut yang lebar Rey, tutupkan pada tubuh Angel untuk menghangatkan. Sejenak Rey, terdiam hingga dirinya teringat kembali pada Syena dan Dinda.
__ADS_1
"Aku harus kembali ke rumah sakit. Aku takut jika Syena kenapa-napa," batinnya yang langsung bangkit berdiri. Berjalan keluar meninggalkan Angel.