
"Om, ini kan rumah om?" ujar Syena, saat Willy membawa ke kantornya. New-Dream
"Dan itu rumah aku." Tunjuk Syena pada apartemen yang berada tepat di samping kantornya. Syena masih memanggil Willy dengan sebutan Om, karena Syena belum mengetahui jika Willy adalah papa barunya.
"Iya sayang. Kita main dulu di sini ya? Kangen gak sama Om Rio?"
"Kangen Om?" jawab Syena dengan angguk 'kan.
"Kita masuk ya, kita temui Om Rio di dalam." Tanpa Willy tahu Rio, tidak berada di dalam kantornya.
Kakinya terus terayun hingga sampai di depan pintu yang terbuat dari kaca transfaran. Membuat suasana dalam kantor terlihat jelas.
Di tariknya handle pintu namun, tidak membuat pintu itu terbuka.
"Di kunci sayang. Sepertinya Om Rio, tidak ada di dalam." Ujar Willy, yang terus menarik handle pintu.
"Kemana Rio?" batinnya yang menurunkan Syena, dari pangkuannya.
Dirogohnya ponsel dalam saku celananya. Willy, ingin menghubungi Rio namun, suara Syena menghentikan gerakkan jempolnya yang ingin mengusap layar datar itu.
"Papa!" teriakan Syena mengalihkan pandangannya.
Dilihatnya Rey, sedang berdiri di depan kantornya. Syena yang melihat itu langsung berlari ke arah Rey. Willy hanya bisa diam tidak dapat mencegah karena bagaimana pun Rey, adalah papanya.
Rey, segera berjongkok untuk memeluk putrinya yang kini sedang berlari ke arahnya.
"Papa!"
"Sayang, Papa kangen," ucap Rey, yang memeluk dan mencium Syena. "Maafkan papa ya sayang papa ninggalin kamu membiarkan kamu dibawa orang lain."
Tidak henti-hentinya Rey, menciumi Syena. Hingga ciumannya terhenti saat melihat kaki jenjang Willy berada di hadapannya.
Rey mendongak lalu berdiri. Tatapannya tidak berpaling dari pria yang sudah resmi menikahi mantan istrinya. Kini mata keduanya saling bertatapan.
*****
Di tempat lain semua orang sedang berkumpul. Entah apa yang mereka tunggu. Asih dan Dinda duduk tenang tanpa mengharapkan apa pun. Tidak peduli apa maksud Danu meminta mereka semua untuk berkumpul.
Rita dan Velove wajahnya sama-sama menegang. Ada kecemasan dalam hati mereka karena takut harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Tak sabar ingin segera mendengar apa yang akan Danu katakan.
Danu dan Firman seorang pria yang sudah di percaya untuk menjadi pengacara Fras. Mereka duduk berdampingan dengan wajah datarnya.
"Pak Danu? Ada apa kita kumpul di sini?" tanya Asih yang tidak tahu dengan tujuan Danu.
"Ck, pura-pura tidak tahu," umpat Rita kesal.
__ADS_1
Danu menghela nafasnya panjang. Lalu berkata, "Saya mengajak kalian untuk kumpul di sini. Karena saya mempunyai amanat dari almarhumah untuk segera menyampaikan nya pada kalian."
Rita sudah menduga apa yang akan di katakan Danu. Tidak lain pasti mengenai harta gono-gini.
"Sudah cepat katakan. Aku tidak ingin mereka berlama-lama di sini!" sinis Rita penuh percaya diri.
"Sebelumnya saya ingin menyampaikan. Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat. Tidak ada sandiwara atau kecurangan apa pun. Keputusan ini murni hasil keputusan almarhum."
Tidak ada yang bicara selain Danu, mereka semua diam.
Firman langsung mengeluarkan berkas-berkas dari dalam tasnya. Membuat mata Rita semakin menatap tajam. Karena penasaran apa isi dalam berkas itu.
"Saya akan menyampaikan siapa saja yang mendapatkan hak waris," ucap Firman.
"Di sini tertulis jika beliau memiliki istri bernama Rita Utami." Perkataan Firman membuat Rita tersenyum bangga.
"Sudah pasti aku yang mendapatkan seluruh harta mas Fras," batinnya.
"Namun sebelumnya beliau pernah memiliki istri dari pernikahan pertamanya dan memiliki anak bernama Dinda Kirana."
"Yang berhak menerima hak waris adalah anak kandung, dan juga istrinya yang selama ini mendampingi hidupnya."
Hati Rita sempat panas karena mendengar hak waris akan jatuh pada anak kandung namun seketika bibirnya melengkung menciptakan senyuman saat posisinya sebagai istri di sebut.
"Apa! Kenapa begini? Kalian tidak bisa seenaknya mencoret hak waris. Saya adalah istrinya yang berhak dan anak saya Velove." Rita tidak terima.
"Bisakah anda diam!" bentak Danu. Membuat bibirnya seketika rapat.
"Lanjutkan saja." Firman kembali melanjutkan perkataannya.
"Saudara Rita memang istri yang selama ini menemani semasa hidupnya dan berhak mendapatkan sebagian hak waris darinya. Namun, ada beberapa faktor yang menyebabkan pemberi waris mencabut nama anda dari hak waris. Salah satunya karena anda mencoba membunuh pewaris sebelum pewaris tiada."
"Tidak! Kata siapa itu fitnah!"
"Pewaris yang mengatakannya. Karena anda mencoba mencabut selang oksigen yang melingkar di bawah hidungnya. Tanpa sengaja anda ingin membunuhnya."
"Ya itu benar, karena saya melihatnya," ucap Asih. Membuat Rita semakin kesal.
"Ada saksi yang melihat, anda tidak bisa mengelak," ujar Firman membuat Rita bungkam. Firman melanjutkan lagi perkataannya.
"Dan untuk Velove, anda tidak berhak mendapatkan hak waris karena tidak ada hubungan darah dengan pewaris."
"Siapa bilang! Anda tidak bisa seenaknya seperti ini!" bantah Rita.
"Kami memiliki bukti." Firman mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Ini hasil tes DNA antara Velove dan pewaris. Dinyatakan darah kalian sama sekali tidak cocok itu tandanya anda bukan hak waris dan tidak berhak menerima warisan ini."
Rita teringat kejadian beberapa hari lalu di rumah sakit. Saat Danu mengambil paksa darah Velove dengan suntikan. Ternyata darah itu untuk mengambil tes DNA putrinya yang memang bukan anak kandung Fras.
"Jadi, saya sampaikan yang mendapatkan hak waris adalah Dinda Kirana sebagai anak kandung pewaris."
Deg!
Mata Dinda terbelalak mendengar tuturan kata dari Firman. Tidak pernah mengharapkan atau membayangkan jika dirinya akan mendaparkan bagian atau hak waris apalagi seluruh kekayaan Fras jatuh padanya.
"Tidak! Ini tidak adil. Saya tidak terima." Rita lagi-lagi berontak tidak setuju dengan putusan Firman sebagai pengacara. Namun itu sudah menjadi putusan yang tidak bisa dirubah atau di ganggu gugat.
"Tenang dulu Bu Rita, kalian tetap mendapat bagian. Karena almarhum masih menganggap kalian keluarga. Dan ini adalah hasil untuk kalian." Danu memberikan sebuah amplop coklat pada Rita. Yang saat dilihat ternyata itu adalah uang yang lumayan banyak dan cukup. Namun Rita merasa tidak puas dengan bagiannya.
Mereka akhirnya pergi dari tempat itu dengan rasa kecewa.
*****
Di tempat lain Willy dan Rey, saling diam dan duduk di sebuah taman.
"Aku ingin tahu apa tujuanmu menikahi Dinda."
"Tujuan! Tentu saja untuk membahagiakannya."
"Bohong. Aku tidak percaya."
"Terserah, yang jelas saya adalah suami sahnya dan saya tidak akan menyakiti Dinda seperti yang kamu lakukan."
"Apa kamu mencintainya?" tanya Rey, yang menatap Willy. "Cinta bisa berubah kapan pun Willy. Apa kamu yakin kamu menerima Dinda dan putriku Syena? Tapi aku tidak yakin kamu menyayangi putriku dengan tulus."
"Terserah apa katamu. Aku tidak butuh untuk kamu percayai. Cukup tuhan yang tahu ketulusan hatiku."
Rey, berdiri lalu memangku Syena dalam pangkuannya.
"Akan ku berikan Dinda untukmu. Tapi aku ingin kamu memberikan Syena untukku."
Sontak Willy langsung bangkit dari duduknya menatap tajam ke arah Rey, yang berdiri di hadapannya.
"Tidak akan aku berikan. Karena Syena adalah kebahagiaan Dinda."
"Oh ya! Aku tidak yakin jik Syena bahagia denganmu."
"Syena? Katakan siapa papamu? Papa atau Om Willy?"
Pertanyaan Rey, membuat bocah kecil itu bingung. Mata belonya menatap kedua pria di dekatnya.
__ADS_1