Life After Married

Life After Married
Bab 163- Saling memahami


__ADS_3

"Kamu yakin sudah siap menikah? Aku sudah pernah menikah dan aku tahu hubungan setelah pernikahan itu tidaklah mudah." 


"Sekarang aku tanya apa yang tidak mudah? Bisa kamu jelaskan?" 


Tanpa di duga Rio, bertanya balik. Karin bingung harus menjawab apa?.


"Aku tidak bisa jelaskan," jawabnya.


"Kenapa? Bukankah kamu sudah mengalaminya?" 


Kini mereka hanya saling diam.


"Kepercayaan, pengertian. Itu yang tidak mudah bukan?" Rio, kembali berkata. "Mempercayai pasangan kita adalah yang tersulit, terkadang se-percaya apa pun kita selalu di khianati. Pengertian, kadang selalu di lupakan oleh mereka yang sudah menikah. Kadang keegoisan merekalah yang membuat saling mengerti runtuh. Jika kamu siap menikah dan menjalani hidup bersamaku. Marilah sama-sama untuk belajar saling percaya dan mengerti. Sesibuk apapun pekerjaan kita tetaplah luangkan waktu untuk berdua. Jangan sampai hal yang sudah terjadi kembali terjadi. Membiarkan seseorang menunggu hanya karena keegoisan semata." 


Tetes air mata luruh begitu saja dari sudut matanya. Karin, merasa sedih mengingat masa-masa lalu saat dirinya yang egois melupakan janji bersama Rio, hanya demi pekerjaannya. Membuat hubungan mereka kandas di tengah jalan.


"Apa aku egois?" tanya Karin, lirih. Rio, tidak menjawab pertanyaan itu melainkan memeluk tubuh Karin dengan hangat. 


"Aku yang egois. Yang hanya mementingkan perasaanku sendiri. Aku memutuskan hubungan dalam sepihak, tidak peduli hatimu terluka," lirih Rio. 


Mungkin mereka merasa menyesal atas apa yang terjadi di masa lalu.  


Setelah saling lama berpelukan, berbicara dari hati ke hati, kini mereka berdua bisa saling mengerti dan memahami. 


Diusapnya perlahan air mata yang membasahi wajah mantan kekasih yang akan menjadi calon istrinya nanti. Terlihat senyuman pada wajah Karin, hatinya kini jauh lebih baik. 


Rio, lelaki yang dingin kini mulai berubah menjadi lembut. Senyuman bahagia terpancar di wajahnya. Jari tangannya mulai merapihkan anak rambut yang menghalangi mata indah calon istrinya. 


"Sudah, jangan menangis lagi. Sekarang aku antarkan kamu ke kantor saat makan siang nanti kita pergi ke butik." 


"Hm," balas Karin, bergumam malu. 


Tangan Rio, mulai mengendalikan stir mobilnya, menginjak pedal gas lalu mobil pun meluncur jauh membelah jalanan kota. 


"Jangan lupa nanti siang ku jemput." Rio, mengingatkan. 


"Iya," jawab Karin memastikan bahwa tidak akan lupa. 


Karin, turun dari mobilnya, melihat Rio, sejenak sebelum akhirnya pergi membawa mobilnya. Rio, pun semakin menjauh, setelah tidak terlihat barulah Karin, melangkah masuk ke dalam perusahaannya. 


*****


"Mama!" teriak Syena yang masih mengenakan baju sekolahnya. Sepertinya Syena, memang baru pulang sekolah, dan langsung berlari ke arah dapur di mana Dinda, berdiri. 


Dinda, menyambutnya dengan pelukan.


"Sudah pulang anak Mama, di jemput Papa?" tanya Dinda, setelah melepaskan pelukannya.


"Tidak Ma, di jemput Bibi. Papa lagi kerja. Mama sedang apa?" 


"Mama sedang bikin puding sayang, mau?" 


"Mau Ma!" teriak Syena antusias saat melihat puding coklat kesukaannya. 


"Oke. Tapi ganti baju dulu." 


"Iya Ma." Syena pun berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Syena biasa ganti baju sendiri tanpa di bantu, selain sudah Dinda siapkan, karena itu untuk menjadikan Syena lebih mandiri. 


Di meja makan Dinda sudah menyiapkan puding kesukaan anaknya, Syena berlari lalu duduk di meja makan. Dinda hanya tersenyum melihat putrinya yang semakin cantik, dan menggemaskan. 

__ADS_1


"Pelan-pelan sayang," ujar Dinda. 


"Udah lama Ma, gak makan puding," balasnya.


"Masa! Kan Bi Ijah suka buatin." 


"Tapi enggak seenak Mama." 


"Nanti Mama buatin lagi ya." Dinda hanya tersenyum. Selama masa ngidam Dinda, memang tidak bisa melakukan apapun, jangankan membuat puding mencium baunya saja sudah mual. 


Namun, sekarang usia kandungannya sudah menginjak 5 bulan, jadi sudah melewati masa ngidamnya.


"Mama, besok ingat tidak hari apa?" 


"Hari rabu." 


"Bukan itu Ma, ada lagi." Kesal Syena, sambil mengerucutkan bibirnya. Dinda, pura-pura tidak ingat jika besok adalah hari kelahiran putrinya. Namun, sepertinya Syena, merasa kecewa. 


"Besok ada pesta tidak Ma?" 


"Pesta? Pesta apa?" 


"Ih … masa Mama lupa sih! Kalau besok ulang tahunku. Biasanya Mama suka adain pesta, aku kan mau adain pesta di sekolah," batin Syena, sambil berpikir.


"Pesta apa sayang? Besok itu baru hari rabu kamu masih sekolah." 


"Aku ke kamar dulu ya mau tidur siang." Dinda hanya mengangguk menanggapi ucapan Syena. Bibirnya tersenyum melihat putrinya yang ngambek berlari ke arah kamarnya. 


Di tempat lain Karin, masih berada di ruang kerjanya. Mengamati layar datar di depan matanya. Kuku-kuku akriliknya menari-nari di atas keyboard dengan lincahnya. 


Hingga saat deringan ponsel terdengar, sedetik tatapan matanya beralih pada benda pipih datar yang menyala. Di raihnya benda pipih itu membuat bibirnya melengkung seketika.


"Halo," ujarnya yang masih malu-malu.


"Aku sudah ada di depan," ucap seseorang di sebrang sana.


"Oke, aku segera turun." 


Sambungan telepon pun langsung tertutup. Karin, langsung berdiri mematikan layar laptopnya. Saat hendak keluar Sekretarisnya muncul dari balik pintu, mengingatkan jika sebentar lagi jadwal meeting bersama klien-Nya. 


Karin, tertegun sejenak. Dia melupakan jadwal penting itu. Namun, Rio sudah menunggunya. Haruskah dirinya membatalkan janjinya dan memilih meeting?. 


Dalam satu tarikan nafas Karin memutuskan. Tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, jangan egois, memberikan waktu luangnya. 


"Batalkan saja meeting-Nya. Saya ada urusan penting dan harus pergi sekarang." 


"Tapi Bu? Mereka sudah ada di ruang meeting." 


"Wakilkan saja olehmu. Maaf aku harus pergi." 


Karin berlalu pergi melewati sang Sekretaris yang masih bengong. Kali ini Karin, tidak akan egois dan memilih menepati janjinya pada Rio.


Rio tersenyum melihat Karin, berjalan keluar dari perusahaannya. Kali ini mereka benar-benar meluangkan waktu bersama.


***** 


Sore hari telah tiba, Willy baru saja pulang dari kantornya, Dinda langsung menyambut kedatangannya, mencium punggung tangannya saat Willy memasuki pintu. 


Satu kecupan Willy berikan pada keningnya, juga pada perut buncitnya yang kini sudah membesar. 

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" 


"Sudah Mas. Kamu mau mandi dulu atau mau makan dulu?" 


"Mandi dulu deh. Oh iya Syena mana?" 


"Lagi ngambek." 


"Ngambek?" Willy, mengerutkan keningnya. "Ngambek kenapa?" 


"Besok 'kan hari ulang tahunnya, aku pura-pura lupa Mas. Dia pikir aku benar-benar lupa." 


"Kamu ini." 


"Ya, biarin Mas. Besok kita kasih kejutan." Willy hanya geleng-geleng kepala. Melihat istrinya yang senang mengerjai anaknya. 


Di dalam kamar Syena masih cemberut, memikirkan kenapa tidak ada yang mengingat hari ulang tahunnya besok. Syena berpikir untuk menghubungi Rey, berharap papanya masih mengingat hari kelahirannya. 


Syena keluar dari kamar berjalan menuruni tangga. Lalu berlari ke arah ruang tengah di raihnya sebuah telepon lalu di dekatkan pada telinga. Di putarnya beberapa tombol angka untuk menghubungkannya kepada Rey. 


Lama menunggu akhirnya sambungan telepon pun terhubung. 


"Halo Papa?" ucap Syena. 


"Syena? ada apa sayang?" tanya Rey, di sebrang sana. 


"Papa sedang apa?" 


"Papa masih di jalan baru pulang. Kenapa sayang?" 


"Papa ingat tidak besok hari apa?" 


"Hari? Hari rabu." 


"Iya hari rabu tapi itu hari apa? Masa papa lupa." 


Tidak ada sahutan dari Rey, mungkin sedang berpikir. 


"Besok tanggal 30 Papa. Apa Papa tidak ingat?" 


"Oh, maaf sayang Papa lupa tanggal. Memangnya ada apa dengan tanggal 30?" 


Tiba-tiba wajah Syena, langsung kecewa. Bibir mungilnya mengerucut, dalam satu gerakan telepon itu di tutup. Syena terlihat marah dan kecewa karena sang ayah tidak mengingat hari kelahirannya. 


Syena, langsung berlari ke arah kamarnya lagi. Menutup pintu dengan kencangnya membuat Dinda, dan Willy, terhenyak mendengar bantingan  keras itu. 


"Suara apa itu?" tanya Willy saat hendak menyelimuti tubuhnya. 


"Sepertinya dari kamar Syena Mas," ujar Dinda, yang mengenali suara itu. 


Mereka kini saling berpandangan. Dinda, tahu sedang marah dan Willy, ingin menemui Syena karena tidak tega. Sedangkan Dinda, menahan tangan Willy, untuk tidak menemui Syena saat ini. 


Bukannya Dinda, tidak kasihan, tetapi melihat arah jarum jam yang sedikit lagi menunjukan pukul 12 malam Dinda, sengaja ingin membuat kejutan untuk putrinya, dan tidak ingin itu gagal. 


Willy, menatap Dinda begitu memohon, agar tidak melanjutkan niatnya. Willy merasa tidak tega. 


"Sebentar lagi Mas. Tunggu saja." Willy, hanya bisa mengembuskan nafas nya kasar. 


...----------------...

__ADS_1


Apa kabar reader maaf ya baru bisa update lagi. Karena kemarin aku masih pemulihan dan harus banyak istirahat. Terimakasih yang selalu nunggu updatenya jangan lupa like dan komentarnya ya.


__ADS_2