Life After Married

Life After Married
Bab 136- Apakah ini Karma?


__ADS_3

Flashback on


Velove berlalu pergi meninggalkan rumahnya. Tanpa menghiraukan teriakan Rita, dari dalam.


Malam larut, keadaan sepi dan sunyi tidak membuatnya takut untuk melangkahkan kakinya di tengah jalanan yang gelap.


Suara raungan, deruan mobil, dan suara-suara aneh tidak di hiraukannya. Satu tangannya terus mengusap lembut perut buncitnya. Hawa dingin menusuk-nusuk ke dalam kulitnya.


Di tengah jalan raya Velove menghentikan sebuah taksi. Beruntung masih ada taksi yang lewat pada pukul setengah dua belas malam. Taksi itu berhenti tepat di depan sebuah perusahaan besar Sanjaya Grup. Velove turun dari taksi itu melangkah memasuki perusahaan yang sangat sepi, gelap, tanpa penghuni.


Mungkin hanya satu manusia yang bertemu dengannya tidak lain si penjaga malam.


Kedua orang security yang sedang berjaga langsung menghentikan seorang wanita hamil yang akan menerobos masuk ke dalam perusahaan. Dengan pakaian tidur yang di balut cardigan.


Kedua security itu saling berpandangan sebelum akhirnya mereka bertanya, "Maaf Bu, sedang apa di sini?"


"Saya mau ketemu suami saya." Sontak kedua security itu pun mengerutkan keningnya.


Aneh! Pasti itu yang di pikirkan mereka. Apa wanita di depannya tidak melihat perusahaan yang mulai gelap, tidak mungkin juga masih ada satu manusia yang tersisa.


"Suami ibu pasti sudah pulang. Di dalam tidak ada siapa pun semua karyawan sudah pulang."


"Tapi pak?"


"Ibu sedang hamil. Lebih baik kembali ke rumah. Tidak baik di luar seperti ini." Mau tidak mau Velove pun pergi dari tempat itu. Walau harus berdebat lebih dulu bersama dua lelaki berseragam itu.


Langkahnya terhenti di depan trotoar jalan. Nafas beratnya mulai di hembuskan secara perlahan. Di ambilnya ponsel miliknya di dalam saku cardigarnya.


Sudah pasti Velove akan menghubungi Rey, namun sayangnya tidak ada jawaban sama sekali. Hanya suara operator di sebrang sana yang menjawab dengan suara khas-Nya.


Kesal itu yang dirasakannya. Pandangannya mengedar ke setiap arah. Hingga netra-Nya menangkap satu sosok pria yang di carinya.


Rey, turun dari mobilnya. Berjalan sempoyongan menuju sebuah rumah kost-kostan. Velove tentu pasti bertanya-tanya rumah siapa yang suaminya datangi.


Dengan hati kesal, dan amarah yang gemuruh. Kedua kakinya melangkah lebar menghampiri sebuah rumah yang tidak jauh berada di sekitarnya.


Hanya butuh menyebrangi jalan saja.


Langkahnya berhenti sejenak. Saat melihat seorang wanita yang muncul dari balik pintu.


Wanita itu tidak lain adalah Angela. Kekasih gelap Rey.


Hatinya semakin kesal saat Angela membawa masuk suaminya ke dalam rumah.


Entah apa yang terjadi di dalam sana. Dirinya tidak tahu. Namun, langkahnya semakin maju dan mendekat. Di bukanya handle pintu yang mudah terbuka. Sepertinya Angel lupa menguncinya.


Kakinya terus menyusuri setiap tempat yang ada di dalam. Saat di depan sebuah kamar, telinganya mendengar suara-suara laknat dan manja. Sedetik kepalanya menoleh pada pintu kamar. Tatapannya begitu tajam, kedua tangannya mulai mengepal.


Detik itu juga tangannya segera mendorong pintu itu. Dilihatnya sepasang sejoli di dalam kamar. Angel yang terduduk di atas ranjangnya, sedangkan Rey, sedang sibuk memakai sepatunya.


Bagaimana perasaan Velove saat ini? Sakit, itu yang di rasakannya. Tatapannya kini tertuju pada Rey, sudah berdiri menghadapnya.

__ADS_1


Flashback Off


"Velove!"


"Jadi begini kelakuanmu."


"Siapa dia Mas?" tanya Angel yang bangun dari ranjang tidurnya. Melihat wanita asing masuk dalam rumahnya.


Di tatapnya tubuh Velove, dengan keadaan perut yang sudah membuncit. Sedetik tatapannya beralih pada Rey, yang masih tercengang dan terdiam.


"Siapa dia Mas? Apa dia istrimu?" tanya Angle lagi.


"Kamu pikir saya siapa jika bukan istrinya!" sanggah Velove dengan suara meninggi.


"Benarkah itu Mas?"


Rey, masih diam. Mungkin bingung mau menjelaskan apa. Ingin menyangkal namun tidak ada alasan. "Iya." Hanya itu yang Rey katakan.


Angle langsung terduduk lemah. Tidak menyangka lelaki yang dicintainya penuh kepalsuan. Hampir saja kesuciannya terenggut, tidak pernah terbayangkan apa yang terjadi jika Angle tidak menahan Rey, saat itu. Mungkin dirinya sudah tidak suci lagi.


"Kamu pembohong Mas, cintamu palsu." Sedetik Rey, langsung berbalik menghadap Angle yang terduduk di atas ranjang tidurnya.


"Aku mencintaimu Angle, cintaku tidak palsu," ucapnya.


"Apa kamu mengatakan itu pada semua wanita Mas? Kamu tidak memikirkan istrimu yang sedang hamil!" teriak Velove, yang kesal. Begitu mudahnya Rey, mengatakan cinta pada wanita lain.


"Cintamu tidak palsu tetapi kamu menipuku," ucap Angle dengan suara yang lemah. Sedetik tubuhnya berdiri sepasang netranya menatap tajam pada Rey. Lalu berkata,"Kamu bilang kamu belum menikah. Kamu tidak punya istri. Nyatanya istrimu ada di hadapanku. Dan lebih parahnya istrimu sedang hamil."


Rey, tidak mampu berucap lagi. Kedua tangannya hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Lagi-lagi dirinya melakukan kesalahan. Kesalahan yang sama yang dilakukannya di masa lalu.


Butiran bening mulai turun dari sudut mata Angle, membuat mata sipitnya semakin tidak terlihat karena sembab.


Velove, tidak peduli dengan keadaan saat ini. Mau Angle menangis, atau Rey, menyesali perbuatannya. Karena hatinya kini sudah di penuhi amarah, emosi, dan sakit pastinya.


Entah sejak kapan telapak tangannya sudah mendarat pada pipi seorang gadis yang baru saja bercumbu dengan suaminya.


Angle tercengang, apa lagi Rey yang terkejut dengan perlakuan Velove, yang tiba-tiba saja menampar wajah Angle. Sontak Rey, langsung menarik tangan Velove, agar menjauh dari kekasihnya.


"Apa yang kamu lakukan!"


"Kenapa? Dia pantas mendapatkannya."


Masih diingat saat Dinda menampar wajahnya dulu. Saat mengetahui hubungan gelapnya dengan Rey. Sekarang, dirinya yang melakukan itu pada Angle.


Sesakit inikah yang di rahasiakan Dinda saat itu. Kenapa dirinya juga harus mengalami hal yang sama.


"Dia tidak salah aku yang salah." Rey, membela.


"Tidak mungkin dia tidak tahu jika kamu tidak punya istri. Itu hanya alasannya saja karena tidak ingin di salahkan!" bantah Velove.


"Aku memang tidak tahu Mba, Mas Rey yang bilang dia tidak punya istri. Dia hanya bilang dia seorang duda dan yang ku tahu mantan istrinya adalah Bu Dinda." Angel membela dirinya.

__ADS_1


Namun Velove, tidak peduli dengan semua penjelasan itu. Rasa sakitnya tidak bisa di obati dengan satu penjelasan. Di tengah malam dirinya rela pergi hanya untuk mencari Rey, tidak peduli dengan keadaannya yang sedang hamil. Namun apa balasannya. Velove harus melihat pengkhianatan suaminya.


"Ayo kita pergi," ajak Rey, yang menarik tangannya namun segera ia tepiskan.


"Jangan menyentuh tanganku." Katanya yang langsung melangkah pergi. Segera Rey, berlari mengikuti langkah Velove yang sudah menjauh.


"Velove tunggu." Rey berlari hingga langkahnya terhenti di dekat Velove, dan langsung menarik tangannya. "Ayo masuk ke dalam mobil." Lagi-lagi Velove menepis tangan Rey, yang menariknya untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu keras kepala ya. Aku bilang masuk, masuk! Ini sudah malam Velove, mau kemana lagi!"


"Kamu pikir saja, setelah apa yang kamu lakukan apa aku masih sudi bersamamu."


"Apa kamu masih mempermasalahkan itu? Oke, aku minta maaf. Sekarang kita pulang bersama."


"Sudahku bilang aku tidak ingin pergi bersamamu."


"Velove!" bentak Rey, penuh emosi. Namun tiba-tiba emosinya berubah jadi panik. Saat tiba-tiba Velove meringis seraya menyentuh perutnya.


Cairan bening dan merah turun menyusuri kaki jenjangnya. Lama-lama tubuhnya mulai melemah. Mulutnya menjerit, hingga matanya terpejam.


"Da-darah."


"Velove!"


Sedetik tubuhnya terjatuh. Membuat tangan Rey dengan cepat merengkuh tubuhnya. Rey langsung memangku tubuh Velove memasukkan nya ke dalam mobil.


Tanpa menunggu lama lagi Rey, melajukan mobilnya semakin cepat.


******


Di sisi lain Rita masih menunggu kedatangan putri dan menantunya. Berulangkali jarum jam pada arlojinya ia lihat. Hingga duduk pun tidak tenang.


Pukul 01.00 tepatnya jam satu pagi anak dan menantunya belum juga kembali. Membuatnya semakin khawatir dan cemas.


Apa lagi kedua ponsel mereka tidak ada yang menjawab panggilannya sama sekali. Hatinya semakin gelisah, hingga satu panggilan masuk pada ponselnya di lihatnya nama Rey yang tertera. Tanpa menunggu lama lagi Rita langsung menjawab panggilan itu.


Entah apa yang Rey, katakan. Namun matanya terbelalak seketika. Dirinya langsung berlari meninggalkan rumahnya. Tidak peduli pakaian tidur yang sedang di pakainya saat ini.


Bahkan Rita tidak memikirkan dengan apa dirinya akan pergi. Pandangannya terus mengedar ke sepanjang jalan tidak ada angkutan umum mau pun taksi di tengah malam seperti ini. Keadaan jalanan sangat sepi bahkan terasa angker.


Hingga dari jarak jauh dirinya berdiri. Netranya melihat beberapa motor yang berjajar di sebuah gardu. Mungkin saja itu adalah ojek malam.


Rita pun langsung berlari ke arah tukang ojek yang sedang bercengkrama ditemani secangkir kopi hitamnya.


"Pak ojek."


"Kemana Bu?"


"Rumah sakit, ayo cepat."


"Iya Bu."

__ADS_1


Salah satu tukang ojek pun bergegas pergi mengantarkan Rita ke tempat tujuan.


__ADS_2