
Cukup lama mengantri dalam antrian yang sangat panjang. Akhirnya Rey, bisa mendapatkan icecream yang Syena inginkan. Rey hanya membeli satu cup ice cream. Memang hanya untuk Syena. Dengan langkah gontai Rey, berjalan menuju tempat dimana Syena berada.
Namun, matanya terbelalak saat tidak melihat Syena duduk di atas kursi sana.
"Kemana Syena? Syena!"
Rey, panik hingga menjatuhkan icecream nya. Di carinya di setiap kursi mau pun di bawah kursi. Namun, tidak tidak ada.
Rey, bertanya pada setiap pengunjung berharap ada yang melihat putrinya. Namun, di tempat yang besar seperti itu sangat sulit mencari orang hilang.
Apa lagi banyaknya pengunjung anak-anak tidak memungkinkan bagi mereka untuk fokus pada satu anak.
Jika pun Syena di bawa pergi mereka akan menganggap jika itu Syena bersama ayah atau ibunya.
"Dimana Syena! Oh tuhan." Rey, jadi panik sendiri.
Di usapnya wajahnya dengan kasar. Hari ini benar-benar merugikan. Jika Dinda tahu mungkin sulit bagi Rey, untuk mendekati Syena lagi.
Di tempat lain Syena berada dalam gendongan seorang pria yang memakai hoodie. Pria itu tersenyum menyeringai membawa bocah kecil itu masuk ke dalam rumahnya. Sebuah rumah yang tidak layak di huni yang sangat berantakan.
"Duduk disini." Kata pria itu yang mendudukkan Syena di atas kursi yang penuh dengan debu.
"Om katanya mau ketemu aunty Karin. Dimana aunty Karinnya?"
"Sebentar lagi aunty mu akan datang. Tunggu saja."
Pria itu membuka jaket hoodie-Nya. Memperlihatkan wajahnya yang sangat tampan. Namun mengerikan. Pria itu adalah Vikram, yang sengaja menculik Syena untuk mengundangnya datang.
Karena Vikram tahu, tidak mungkin Karin tega membiarkan putri sahabatnya terluka.
Vikram memberikan Syena mainan. Dan juga makanan. Agar duduk dengan tenang dan tidak rewel. Dirinya menjatuhksn tubuhnya di atas kursi lalu membiarkan jari-jarinya berkutat di atas ponselnya.
*****
Di tempat lain Karin sedang duduk santai di rumah barunya. Tidak lain di apartemen milik Dinda.
Hidupnya sangat tenang saat berada di apartemen milik temannya itu. Tidak ada lagi teror atau hal-hal yang mengusik hidupnya.
Di malam ini Karin hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah. Menonton drama yang ia sukai. Rebahan sambil baca novel dan menikmati cemilannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Karin langsung mengambil ponselnya di atas meja. Dengan santainya jempol itu menggeser layar datar itu. Melihat siapa yang telah mengirim pesan padanya.
Sedetik wajah Karin menegang tubuhnya terlonjak kaget. Benda pipih itu semakin ia dekatkan di lihatnya sebuah rekaman video yang memperlihatkan Syena yang sedang memakan chiki begitu lahapnya.
Namun, yang membuat Karin kaget suasana tempat itu yang mengerikan.
Tiba-tiba …
Aaaah!
Karin berteriak saat wajah Vikram muncul pada akhir video.
"Apa aku tidak salah lihat? Tidak mungkin ini Syena, kan."
__ADS_1
Ting! Notifikasi pesan masuk.
[Jika kamu ingin anak ini selamat datanglah ke jalan xxx sendiri tanpa orang lain]
Satu pesan yang dibacanya. Membuat hatinya semakin cemas dan takut.
"Tidak-tidak, Syena ada di surabaya. Tidak mungkin ada bersama Vikram."
Segera Karin, menghubungi Dinda untuk memastikan apakah benar Syena di culik atau tidak.
****
Dinda dan Danu sudah melihat rekaman CCTV. Terlihat jelas pada rekaman itu. Bahwa Stena berlari mengejar gelembung air sabunnya. Lalu langkahnya terhenti saat dihadang seorang wanita.
"Stop!" ucap Danu, untuk menghentikan rekaman itu. "Zoom!" sambungnya.
Semakin diperbesar. Gambar itu semakin terlihat jelas bahwa wanita itu adalah Velove. Velove terlihat mengiming-iming sesuatu pada Syena, lalu membawanya pergi.
Tangan Dinda sudah mengepal kuat. Amarahnya sudah memuncak ketika tahu siapa yang membawa putrinya.
Tubuh Dinda langsung bangkit dan berlalu pergi. Danu langsung mengikuti langkahnya.
"Dinda tunggu! Kamu mau kemana?"
"Mau kemana lagi jika bukan menemui wanita itu."
"Tenang dulu. Biarku antar. Velove pasti membawanya pada Rey. Sekarang kita pergi ke perusahaan." Dinda mengangguk lalu mengikuti langkah Danu menuju mobilnya.
Di perusahaan Velove tersenyum senang setelah memindahkan beberapa data perusahaan pada fleshdisk nya. Berniat untuk menjualnya jika suatu hari nanti dirinya ditendang pergi oleh Fras.
Fleshdisk itu ia masukan kedalam tasnya.
Brakk!
Suara pintu mengejutkannya. Di lihatnya Dinda dengan Danu yang datang ke kantornya.
Tatapan Dinda sangat tajam. Sama seperti tatapan membunuh.
Velove bangkit dari duduknya. Berjalan dengan santai ke arah Dinda.
"Apa kalian tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu!"
Bukannya menjawab perkataan Velove, Dinda langsung bertanya pada intinya.
"Dimana putriku! Bawa kemana kamu Syena!"
Velove menghela nafasnya panjang dan dalam.
"Katakan dimana Syena!" kini Danu yang angkat bicara.
"Kenapa kalian panik sekali sih! Aku membawa Syena pada papanya. Dinda apa kamu tidak kasihan melihat Syena yang merindukan papanya. Mereka pantas bersama."
"Apa pun alasanmu tetap salah. Kamu membawa Syena tanpa seizinku."
"Karena jika aku meminta izin. Kamu tidak akan mengizinkan aku tahu itu. Aku hanya tidak tega melihat Rey, sedih karena merindukan putrinya."
__ADS_1
"Jangan banyak bicara coba katakan dimana Syena!"
Dengan malas Velove membuka tas miliknya. Mengambil satu benda pipih yang datar dan slim. Di dekatkan nya benda pipih itu ke daun telinganya.
Velove diam beberapa detik sebelum akhirnya suara Rey, terdengsr di ujung sana.
"Halo!" Suara Rey, terdengar lemah.
"Kamu dimana? Bawa Syena pulang sekarang. Ada Dinda disini."
"Apa! Dinda? Dinda ada disana?"
"Iya, dia mencari Syena. Sekarang kamu dimana?"
"Aku tidak bisa pulang."
"Kenapa?"
"Syena hilang aku harus mencarinya."
"Apa Syena hilang!"
Sontak ucapan pekikan Velove terdengar oleh Dinda dan Danu. Membuat Dinda langsung merampas ponselnya.
"Hei! Ponselku."
Dinda tidak memperdulikan perkataan Velove dia langsung berbicara pada Rey.
"Rey, dimana Syena! Cepat bawa kembali Syena padaku."
"Maaf Dinda, aku tidak bisa membawa Syena sekarang. Syena hilang aku sedang mencarinya."
"Apa!"
Tubuh Dinda langsung lemah dan terjatuh. Ponsel Velove pun ia jatuhkan.
"Rey, aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi hal buruk pada putriku." Sedetik tubuhnya kembali berdiri dan berlalu pergi.
"Dinda!" teriak Danu namun tak diindahkan oleh Dinda. Danu langsung berlari mengikuti Dinda, sambil menghubungi Rey, menanyakan dimana Rey berada.
Velove tidak merasa khawatir sama sekali. Yang dikhawatirkannya saat ini hanyalah ponselnya yang Dinda jatuhkan.
"Ponselku." Velove terus mengusap-ngusap layar datar itu.
"Pak Danu, Syena hilang Pak!"
"Kita cari sama-sama. Kita pergi ke taman hiburan dimana Syena dan Rey berada."
Dinda mengangguk lalu melangkah maduk ke dalam mobil milik Danu. Baru saja duduk suara deringan ponselnya terdengar. Dinda langsung melihat nama yang tertera pada layar.
Ternyata Karin, yang langsung dijawabnya.
"Halo Karin?"
"Dinda apa benar Syena hilang?"
__ADS_1
"Entahlah Karin, tapi aku sekarang sedang mencari Syena. Sudah dulu ya Karin, aku harus mencari Syena dulu."
Sambungan telepon pun di tutup. Danu langsung melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan.