
Bian dan Lea kembali ke kamar mereka. Sepanjang perjalanan mereka terus cekikikan mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Rasanya sangat lucu dan memalukan.
"Udah ah sayang. Capek tahu ketawa mulu," Lea berusaha menghentikan tertawanya.
"Haha ... ampun deh. Parah banget sayang. Seandainya itu gue bakal malu banget sih. Oh Tuhan, tolong gue nggak bisa berhenti tertawanya," ujar Bian.
"Sudah ah sayang. Orang nggak tahu nggak apa-apa. Maklum saja," balas Lea.
"Sakit juga perut gue tertawa Mulu," tertawa Bian sedikit demi sedikit mulai mereda.
Setelah suara tawa keduanya benar-benar berhenti. Mengatur napas masing-masing supaya tidak ngos-ngosan.
Lea menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Seraya berkata, "Aduh capek banget hari ini."
"Makanya nggak usah sok-sokan masak deh," ujar Bian.
"Lho kan aku mau kasih kejutan sama kamu, kalau aku bisa masak," balas Lea.
__ADS_1
"Jadi kamu nggak suka aku masak?" tanya Lea mulai kesal. Sontak dia pun memalingkan wajahnya dari Bian.
"Gitu saja marah, jangan mudah marah gitu dong sayang," pinta Bian seraya mengelayuti tubuh Lea.
"Aku seneng kok, bahkan seneng banget kamu masakin aku," imbuhnya.
"Maksud aku itu, kamu jangan terlalu memaksakan diri kalau kamu capek lah. Aku itu cari istri bukan cari pembantu," ucapnya lembut seraya membelai rambut panjang Lea.
"Tapi kan aku pengen jadi kaya istri lainnya yang melayani suaminya sepenuhnya. Aku pengen menjadi istri idaman," ucap Lea tanpa menoleh kearah Bian.
Tampak Bian menghembuskan napasnya perlahan. Membalikan tubuh Lea agar wajah mereka saling bertemu. Kemudian Bian berkata, "Jadilah diri sendiri sayang, tanpa kamu memaksakan untuk menjadi istri idaman. Jauh sebelum itu kamu sudah jadi istri idaman aku sejak awal bertemu dan selamanya."
"Kamu boleh-boleh saja melayani aku dengan membuat makanan kesukaan aku. Namun, yang perlu ditekankan adalah kamu juga harus memperhatikan dirimu sendiri. Jika kamu capek istirahatlah. Aku tahu kamu banyak tugas di kampus, apalagi menjelang kelulusan kamu."
Bian menangkup pipi Lea dengan kedua tangannya. Mata mereka saling bertatapan tajam dan dalam.
"Ingat ya! Jadilah diri sendiri. Jangan memaksa menjadi orang lain. Sekali lagi aku tekankan, aku mencari istri bukan mencari istri. Bukan mencari pembantu," tegas Bian.
__ADS_1
"Apa kamu merasa pembantu di rumahku ini kurang? Sehingga kamu turun tangan untuk memasak?" imbuhnya.
"Masak sesekali boleh, asalkan kamu sedang libur. Kalau perlu kita masak bersama saja," tambah Bian.
Lea terdiam dan tiba-tiba ingatan kata-kata mami mertuanya melintasi pikirannya tanpa izin. Saat itu juga raut wajah Lea kembali murung. Tetapi mami yanh meminta aku menjadi istri idaman, batinnya.
Bian yang mengetahui perubahan raut wajah sang istri. Kemudian bertanya, "Kenapa diam dan malah sedih? Apa kamu keberatan dengan kata-kata aku sayang?"
Lea mengelengkan kepalanya pelan. "Tetapi mami meminta aku menjadi istri idaman," lirih Lea.
"Mami bilang apa saja sama kamu?" Bian seolah tidak terima.
"Kamu dengarkan kata-kataku karena kamu istri aku bukan istri mami. Dengarkan perintah aku, oke?!" tegas Bian.
"Iya ... iya ... pokoknya nanti kalau aku diomelin mami kamu yang tanggung jawab," Lea pasrah.
"Oke nanti aku yang tanggung jawab," ucap Bian seraya memeluk sang istri.
__ADS_1
"Sayang, ngomong-ngomong masakan kamu beneran enak lho tadi. Nggak heran mereka memuji kamu kaya gitu," bisik Bian tepat ditelinga sang istri.