
Karin, duduk melamun memikirkan peristiwa semalam. Hatinya benar-benar tidak bisa tenang saat mendengar Vikram, kabur dari penjara.
Suara ponsel bergetar membuyarkan lamunannya. Satu pesan masuk terbaca saat layar ponselnya menyala.
Di raihnya ponsel itu lalu di buka. Kening Karin, mengerut menandakan heran karena pesan itu datang dari nomor yang tidak di kenal.
Sedetik ponsel itu langsung di lemparnya. Raut wajahnya berubah seperti sedang ketakutan.
"Siapa yang mengirim pesan itu? Apa itu Vikram!"
Hati Karin, semakin bertalu-talu. Detakan jantung berpacu lebih cepat. Seketika tubuhnya gemetar, wajahnya langsung pucat setelah membaca pesan yang baru saja di terima nya.
Dadanya mulai naik turun, karena tarikan nafas yang ia hembuskan. Tangan Karin, terulur mencoba mengambil kembali ponsel yang baru saja di lemparnya.
Dengan ragu Karin, membuka kembali pesan itu lalu di bacanya.
[O812 ×××× ××××]
Aku akan terus memantau mu
Tulis pesan itu. Membuat Karin kembali ketakutan.
"Apa Vikram, mengikuti ku? Apa dia ada di sekitar sini sekarang?"
Karin langsung bangkit dari duduknya. Melangkah ke arah jendela kantornya di tariknya tirai itu membuat ruangan sedikit gelap karena tidak ada cahaya yang masuk karena di tutup.
Hampir semua jendela ia tutup. Bahkan ponsel yang terus berdering ia matikan. Dengan cepat kedua tangan nya membuka sim card yang ada pada ponsel, membuang nya ke tong sampah.
Sedangkan di luar sana Dinda, merasa heran panggilannya selalu saja di rijek. Dengan rasa kesal Dinda, melangkah masuk ke dalam gedung pencakar langit yang di duga perusahaan milik Karin.
"Ini anak kenapa sih! Di telepon malah di rijek awas saja jika dia menghubungi ku akan aku abaikan." Umpat Dinda, kesal.
Kakinya terus melangkah memasuki perusahaan itu. Tidak perlu bertanya dimana ruangan Karin, karena Dinda, sering datang ke tempat ini. Bahkan sekretaris Karin, sudah mengenalnya. Tanpa meminta izin Dinda, langsung bisa masuk ke dalam ruangan Karin.
"Karin apa ini? Kenapa gelap seperti ini?" tanya Dinda, saat masuk keadaan ruangan yang sudah gelap. Karin, benar-benar menutup semua kaca jendelanya, agar tidak ada yang bisa melihatnya dari luar.
Mendengar suara Dinda, Karin langsung menyalakan lampu ruangan nya. Menarik tangan Dinda, untuk duduk bersamanya.
"Karin kamu kenapa sih?" tanya Dinda, yang tangannya masih di tarik di bawa duduk di atas sofa.
"Dinda aku benar-benar takut sekarang."
"Takut kenapa?"
"Begini …."
Karin, pun menjelaskan dari awal mula permasalahan nya dengan Vikram. Kenapa Vikram, bisa di penjara dan sekarang kabur. Karena Dinda, tidak tahu apa masalah Karin, sebelumnya. Bahkan Vikram yang masuk penjara pun Dinda, baru mengetahuinya.
"Karin, kenapa kamu tidak cerita?" Dinda merasa kecewa karena sahabatnya tidak cerita tentang masalahnya padanya.
"Bukannya aku ingin memendam sendiri masalah ku Dinda, tetapi aku belum punya waktu yang pas untuk bercerita. Apalagi kamu juga sedang di rundung masalah, saat itu Syena, dan kamu juga sakit. Aku pikir jika aku bercerita yang ada hanya menambah beban pikiranmu."
Dinda, benar-benar terenyuh. Karin, begitu mengerti akan dirinya. Akan tetapi Dinda, merasa sedih karena tidak tahu jika sahabatnya kini sedang ada masalah.
__ADS_1
"Dan ini kamu lihat ini Dinda, aku takut itu Vikram."
Karin memberikan ponselnya. Menunjuk kan pesan yang baru saja di terima nya.
"Kamu tenang dulu Karin, kita bisa laporkan ini pada polisi. Bagaimana pun juga dia sudah meresahkan mu. Dan mengancam mu."
Belum selesai Dinda berkata ponsel Karin, kembali berdering. Karin takut jika itu Vikram. Namun, saat di lihat ternyata itu panggilan dari pak Daman penjaga rumahnya.
Karin, segera menjawab panggilan itu. Mendekatkan ponselnya pada daun telinga.
"Halo Pak Daman Ada apa pak? Apa ada yang melihat rumah?"
"Tidak Non, ini rumah Non …."
"Rumah saya kenapa Pak?"
"Rumah Non, berantakan. Bapak takut ada maling."
"Maksud bapak ada yang masuk ke rumah?"
"Enggak tahu juga Non. Pokoknya rumah Non berantakan deh."
"Baik pak tolong rapikan lagi aja. Tapi bapak hati-hati ya. Bila perlu lapor sama penduduk di sana."
"Iya Bu." Panggilan pun berakhir.
Karin, semakin takut. Apa mungkin Vikram yang masuk ke rumah nya. Jika memang benar berarti benar ancaman nya waktu itu.
"Karin! Karin!"
"Siapa yang menghubungi mu? Apa itu Vikram?"
"Bukan, itu pak Daman, penjaga rumah ku dulu. Katanya rumah ku berantakan seperti ada yang masuk ke dalam rumah ku."
"Karin, lebih baik kita lapor polisi saja. Untuk meminta perlindungan. Dan sebaiknya kamu tidak pulang ke rumahmu dulu. Kamu pulang ke apartemen ku saja itu lebih baik. Vikram tidak akan tahu tempat tinggal ku."
"Ya! Benar apa kata mu Dinda. Aku akan tinggal di rumah mu."
"Tapi …"
"Tapi apa?"
"Aku akan segera pindah Karin."
"Pindah! Pindah kemana? Kenapa sih senang sekali pindah." Keluh Karin sambil mencebik 'kan bibirnya. Di saat dirinya mulai senang karena akan tinggal bersama Dinda, yang punya rumah malah memberikan kabar tidak senang. Karena akan pindah rumah. Membuat Karin sedikit kesal.
"Ada alasannya Karin. Kamu tahu 'kan masalah ku? Aku ingin hidup tenang dan memulai hidup baru di kota baru. Tanpa ada bayang-bayang masa lalu."
Kekesalan Karin, sedikit terenyuh karena perkataan dari sahabatnya itu.
"Apa kamu tidak senang bertemu ayah mu? Maksud ku, kalian sudah lama terpisah dan ayah mu dia bukan orang biasa. Dia pemilik perusahaan besar, dia juga sangat menyesali perbuatan nya dulu kan. Menurut ku sebaiknya kamu bisa memulai hidup baru tanpa adanya dendam, dan kamu tidak harus susah-susah hidup seperti ini."
"Kamu bicara sangat mudah Karin. Aku … hati ku sulit untuk menerima nya. Coba kamu bayang 'kan dari kecil aku di tinggal olehnya, tapi apa dia mencari ku? Hanya ibu lah yang bersusah payah membesarkan ku. Dan yang paling menyakitkan wanita yang telah merebut ayahku dia adalah ibu dari wanita yang menghancurkan rumah tangga ku. Apa yang akan kamu lakukan Karin, jika kamu di posisi ku?"
__ADS_1
Karin hanya diam mendengarkan perkataan demi perkataan sahabatnya itu.
"Apa aku harus hidup bersama mereka? Satu atap bersama mantan suami dan pelakor itu. Lalu apa yang akan aku katakan pada Syena? Mungkin dia akan kebingungan karena mempunyai dua ibu."
Air mata Dinda, mulai menetes. Sedetik Karin melupakan ketakutan nya di buat sedih oleh sahabatnya itu.
"Aku tidak ingin Syena mengalami hal yang sama dengan ku. Tidak ingin."
Karin, langsung menarik tubuh Dinda, ke dalam pelukan nya.
"Maaf aku tidak mengerti kan dirimu." Ucap Karin, seraya mengusap lembut punggung Dinda.
"Jadi kapan kamu akan pindah?" tanya Karin, setelah melepas pelukannya.
"Mungkin lusa karena aku juga hsrus beres-beres dulu kan."
"Berarti kamu akan jauh dari pengacara tampan itu dong! sayang sekali."
"Apaan sih! Gak ada hubungan nya kali sama Willy."
"Ada, itu nazar mu."
"Sudah ku bilang aku hanya bercanda."
"Ngelak mulu. Lalu apartemen mu?"
"Mungkin akan aku jual."
"Tidak, jangan!" Dinda, menaik kan alisnya, menatap Karin dengan heran.
"Kenapa?"
"Karena aku akan tinggal di sana. Kamu yang bilang kan kalau Vikram, tidak akan tahu tempat tinggalmu. Jadi sementara waktu aku akan tinggal di sana sampai polisi menemukan Vikram."
"Kenapa kamu tidak pulang ke rumah orang tua mu?"
"Rumah mereka sangat jauh dari perusahaan ku. Lagian, aku belum siap pulang. Yang ada aku di ceramahi nanti. Karena aku salah memilih suami, demi Vikram, aku menentang dan melawan orang tuaku."
"Ya sudah, kalau gitu kita pergi sekarang. Kamu mau ke kantor polisi dulu kan! Kita laporkan tentang teror itu," ujar Dinda, mengingatkan. Karin hanya mengangguk.
Mereka berdua pun melangkah pergi meninggalkan ruangan Karin, yang masih gelap karena tirai jendela. Mereka masuk ke dalam lift untuk menuruni gedung. Sesampainya di lantai dasar mereka menuju parkiran untuk mengambil mobil Karin, sepanjang langkah mereka terus mengobrol, bercanda ria. Hingga sampai di depan mobil mereka pun masuk. Karin, mengambil alih kemudi dan Dinda, duruk di sebelahnya.
Saat mobil mereka pergi seseorang dengan hoodie hitam tersenyum licik seraya menatap kepergian mobil itu. Entah siapa orang itu karena tidak terlihat jelas wajahnya tertutup sempurna dengan hoodie-Nya.
Karin, begitu menikmati perjalanan nya. Hatinya sedikit tenang karena sudah bercerita tentang masalahnya. Dan sekarang mereka akan pergi ke kantor polisi.
Namun saat tiba di sebuah belokan, dan jalanan yang menurun, raut wajah Karin, mendadak panik. Kedua tangannya tetap fokus pada stirnya, kedua kakinya mengatur pedal gas dan rem d bawahnya. Namun, sepertinya ada yang tidak beres. Berkali-kali kakinya di hentak 'kan untuk menginjak rem dan anehnya mobil tidsk berhenti atau mengurangi kecepatan.
"Ya tuhan kenapa ini?" ucap Karin panik.
"Ada apa Karin?" tanya Dinda, datar karena tidak tahu apa yang sedang Karin, khawatirkan.
"Rem! Rem nya blong!"
__ADS_1
"Apa!"