Life After Married

Life After Married
Bab 164- Hari lahir Syena


__ADS_3

Di sebuah kamar minimalis. Seorang bocah sedang menenggelamkan wajahnya di atas hamparan kasur yang empuk. Sepertinya bocah itu sedang menangis. 


Suara pintu berdecit ngilu, mulai terbuka lebar. Sepasang pasutri masuk ke dalam kamar itu dengan membawa sebuah cake berhias lilin yang menyala begitu terang memberikan cahaya di malam yang gelap ini. 


Senyum sumringah dari sepasang pasutri begitu mekar. Langkah keduanya semakin mendekati ranjang tidur dengan motif seprei hello kitty. Dalam sedetik wajah keduanya saling pandang. 


DORR!


Dalam seketika suara letusan sebuah balon mengejutkan sang pemilik kamar. Di iringi alunan lagu ucapan selamat ulang tahun membuat bocah itu diam melongo. Entah karena terkejut, sedih, atau bahagia. Wajahnya datar tanpa ekspresi. 


HAPPY BIRTHAY 


"Selamat ulang tahun sayang," ucap Dinda lalu mengecup kening sang putri. 


"Selamat ulang tahun anak Papa." Willy ikut mengecup dan memeluk. 


Syena, yang mendapat kejutan masih diam termangu. Tatapan bingung ia perlihatkan pada kedua orangtuanya. 


"Kenapa bengong sayang? Inikan ulang tahun mu," ucap Dinda yang terus tersenyum melihat tingkah putrinya yang kebingungan. 


"Mama, bukannya tidak ingat?" pertanyaan polos keluar begitu saja dari mulut Syena. 


Dinda semakin tersenyum lebar. Di elusnya rambut hitam bergelombang dengan lembut, lalu berkata, 


"Maafin Mama ya sayang. Mama cuma pura-pura lupa karena mau buat kejutan. Maaf ya, sudah buat anak Mama nangis." 


"Mama!" 


Syena memeluk Dinda, dengan air mata yang terbendung. Sudah kecewa dan marah namun semua hanyalah kebohongan yang ibunya buat. 


Syena, begitu senang lalu meniup api lilin yang menyala. Kini kesedihan Syena sudah terobati dengan kejutan ulang tahun yang di berikan Dinda. 


****


Di tempat lain Rey, merasa heran memikirkan perkataan Syena di telepon tadi. Tanggal 30 tanggal apakah itu? Rey, benar-benar tidak ingat jika itu hari lahir putrinya sendiri. 


"Ada apa Sayang?" tanya Velove, yang melihat Rey, diam termenung di depan pintu kamar. 


"Ngapain di situ Mas? Kamu tidak tidur ini masih malam mau kemana?" 


"Tidak kemana-kamana. Tadi aku baru menjawab telepon Syena " ujarnya lalu berbalik mendekati ranjang tidur. 


Merebahkan tubuhnya menutupi dengan selimut, lalu kembali tidur. Begitupun dengan Velove yang melakukan hal yang sama. 

__ADS_1


"Untuk apa Syena telepon malam-malam?" 


"Syena hanya rindu," jawab Rey. "Ayo tidur lagi," ajak Rey yang langsung meringkuk menghadap Velove, lalu memeluknya. 


Di pagi harinya Rey, sudah bersiap untuk pergi bekerja. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Angel, membuatnya harus melihat dan membaca lebih dulu. 


Rey, tertegun, wajah datar yang di pancarkan setelah membaca pesan itu. Seperti sedang berpikir entah sedang merenungi. 


"Syena ulang tahun," ucapnya demikian. 


Angel, mengingatkan Rey, pada ulang tahun Syena hari ini. Dengan mengirimkan sebuah tulisan singkat yang di kirimkan pada Rey.


[ Mas, apa hari ini kamu akan membawa Syena? Aku sudah menyiapkan kado ulang tahunnya ].


Satu pesan itu membuat Rey, merutuki dirinya sendiri. Bodohnya seorang ayah yang tidak mengingat hari ulangtahun putrinya sendiri. 


[ Kamu tunggu di rumah. Nanti aku menjemputmu ]. 


Satu balasan yang Rey, kirimkan pada Angel. Di sebrang sana Angel tersenyum-senyum, bahagia mendengar Rey, akan datang menjemputnya. 


Sudah satu minggu lebih dirinya tidak pernah bertemu Rey. Apalagi untuk saat ini akan sangat sulit karena keadaan Velove yang sakit. 


"Entah sampai kapan aku bertahan," ucapnya, memikirkan hubungannya dengan Rey. 


*****


"Sayang bisa kamu gendong Bian sebentar?"


Baru saja langkahnya keluar dari kamar, niat ingin cepat-cepat pergi untuk menemui Angel. Nyatanya suara Velove, menghentikannya. 


Sedetik tubuhnya berbalik menghadap Velove, yang berjalan ke arah dapur. 


"Aku buru-buru sayang, harus ke kantor." Alasan yang masuk akal. Hendak akan menuju dapur Velove, langsung berbalik menatap Rey. 


"Sebentar saja. Mama tidak ada, dan aku harus siap-siap untuk pergi. Nanti kita pergi sama-sama sebelum kamu ke kantor antarkan aku dulu ke rumah sakit Bian harus imunisasi." 


Nafas kasar Rey, hembuskan. Dengan terpaksa dirinya melangkah menuju kamar, membawa Bian dalam pangkuannya. 


Sudah 30 menit lamanya. Entah apa yang Velove lakukan di dalam kamar, sampai saat ini tidak kunjung keluar. Hati Rey, mulai gelisah memantau terus arah jarum yang berdetak pada arlojinya. 


Apakah Angel masih menunggunya? Mungkin, dan dirinya terlambat untuk menjemput. 


"Sayang, ayo!" ajak Velove, setelah keluar dari kamar. 

__ADS_1


Rey, sejenak tertegun melihat penampilan Velove, yang sedikit berbeda. Rey, seperti melihat diri Velove yang sebenarnya, Velove, yang dulu menjadi Sekretarisnya. Setelah melahirkan, Velove semakin terlihat cantik. Dari penampilan maupun riasan wajah membuatnya kembali jatuh hati. 


"Kamu kenapa sayang?" teguran Velove mengejutkan lamunannya. 


"Tidak apa-apa. Hanya saja hari ini kamu sangat cantik." Puji Rey, membuat bibir ranum Velove melengkung seketika. 


"Jangan dilihat terus, nanti kamu bosan melihat wajahku sayang." Rey, tersenyum malu. Dalam sekejap Rey, melupakan Angel yang di tempat lain, yang kini masih menunggunya. 


Berkali-kali arloji di tangannya terus di bolak-balik untuk melihat. Sudah satu jam lamanya Rey, tidak kunjung datang. Padahal dirinya sudah merias diri secantik mungkin. 


Rasa kesal dan bosan sudah tidak bisa di tahan. Akhirnya Angel pergi sendiri dengan menaiki mobil taksi yang ia pesan. 


Nafasnya semakin sesak, gejolak hati semakin bergemuruh, menunggu adalah hal yang paling menyakitkan. Di lihatlah benda pipih yang tidak menyala sama sekali, jangankan telepon satu pesan pun tidak Angel dapatkan. 


"Kamu berbohong lagi Mas," gumamnya kesal. 


"Kita pergi kemana Bu?" tanya si supir taksi.


"Jalan Panorama." 


"Baik." 


Supir taksi itu pun segera menarik tuas, dan menginjak pedal gas supaya mobil melaju dengan benar. Sepanjang jalan tidak ada suara yang Angel ucapkan. Mata sipitnya terus memantau pergerakan taman-taman yang berjalan mundur di sepanjan jalan. Hingga gedung-gedung yang bertingkat tinggi seolah bergerak menjauh darinya. 


Hingga saat lampu merah berkedip, semua mobil termasuk taksi yang di tumpanginya berhenti. Angel yang baru menyadari langsung melihat ke arah lampu merah yang menyala, lalu tatapan itu kembali tertuju pada pandangan di depannya. 


Mata sipit itu mulai terbuka lebar, saat melihat sebuah mobil yang dia kenal berhenti tepat di depan matanya. Kaca mobil segera ia turunkan, ingin memanggil sang pemilik roda empat itu. Namun, tatapan ceria berubah menjadi sendu, saat melihat seorang wanita yang berada di dalam mobil itu. 


Rey, dan Velove, yang sedang bercanda ria sambil menunggu jalanan kembali normal. Kehadiran Bian di tengah-tengah mereka membuat hatinya semakin sakit, apa karena Bian Rey, mengingkari janjinya lagi. 


"Jadi karena ini Mas, kamu tidak menjemputku. Setidaknya kamu bilang Mas, bukan membuatku menunggu," batinnya. 


Mobil yang berjajar mulai bergerak, maju dengan perlahan. Hingga saat taksinya melaju mempertemukan pandangannya dengan Rey, bertemu. 


Wajah Rey, seketika terkejut, tetapi Angel langsung memalingkan wajahnya segera. 


"Sayang!" panggil Velove mengejutkannya. 


"Apa?" tanya Rey, linglung.


"Apa! Cepat jalan, lampu merah sudah berhenti." Velove, merasa terganggu oleh suara klakson yang terus berbunyi di belakangnnya. 


Menyadari itu, Rey segera melajukan mobilnya dengan cepat. 

__ADS_1


__ADS_2