
Dengan susah payah Velove, membuka pintu kamarnya hingga berganti-ganti kunci, pada kunci terakhir akhirnya pintupun terbuka.
Knop pintu mulai ia tekan lalu di tarik, sedikit celah terlihat di saat pintu terbuka dengan lebar. Velove memindai setiap sudut ruangan, mencari Rey, yang entah ada di mana.
Satu langkah ia ayunkan, memasuki kamar lebih dalam. Tidak lama kemudian suara klik dari sebuah pintu terdengar. Rey keluar dari kamar mandi. Dengan mengenakan setengah handuk yang melilit pinggangnya.
Satu tangan kanannya menggosok-gosok rambut yang basah dengan handuk.
"Kamu mandi jam segini Mas?" tanya Velove heran.
Namun, Rey pura-pura terkejut karena ada Velove di kamarnya. Tampangnya yang polos dan datar ia perlihatkan. Seakan tidak tahu jika apa yang terjadi sebelumnya.
"Sejak kapan kamu di sini?"
Sungguh sandiwara yang konyol Rey.
"Sejak kapan? Apa kamu tidak mendengar aku berteriak dari luar?"
Rey hanya mengangkat kedua bahu serta ekspresi bibir mencebik, sebagai jawaban.
"Kamu tidak lihat aku habis mandi."
"Tapi untuk apa kamu mengunci kamar ini?"
"Aku tidak ingin di ganggu. Hari ini aku sangat lelah, itu sebabnya aku mengunci pintu aku ingin tidur." Alasan Rey yang cukup masuk akal.
Rey berjalan gontai menuju lemari berpura-pura ingin mengambil pakaiannya. Namun, sejenak langkahnya terhenti saat melihat sebuah kacamata busa di bawah ranjang tidurnya.
Keteganganpun terjadi saat Velove juga melangkah mendekati ranjang sepertinya ingin merapikan selimut yang berantakan.
"Mau apa?" tukas Rey, yang entah sejak kapan sudah berada di depan Velove.
"Kamu kenapa? Aku ingin merapikan selimut ini."
"Tidak usah," tegasnya.
Mungkin di balik selimut itu ada sesuatu yang tidak di perlihatkan. Ehtah itu pakaian atau sejenis lainnya. Atau mungkin Angel bersembunyi di sana.
"Kamu kenapa seperti ketakutan?"
"Ketakutan? Ketakutan apa?" elak Rey.
Satu kakinya berusaha menendang kacamata busa itu ke kolong ranjang tidur. Jika kalian lihat ada banyak benda di kolong itu, selain kacamata busa, sepatu heels dan sehelai kain bertengger di sana.
"Tidak perlu di bereskan, aku akan kembali tidur."
"Terserah," sinis Velove lalu melangkah menuju lemari dan mengambil beberapa pakaian untuknya.
Pakaian itu ia peluk, pintu lemaripun ia tutup lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Stop!"
Lagi-lagi Rey, mengehentikan langkahnya. Velove mengembuskan nafasnya kasar lalu berbalik menghadap Rey. Kesal, itu yang Velove rasakan, apa Rey masih marah? Pikirnya jika memang benar sungguh seperti anak kecil saja.
"Apa lagi?
"Mau kemana?" Velove memutar bola matanya malas.
"Kamu tidak lihat aku membawa pakaian? Apa aku harus bilang jika aku akan berganti di dalam kamar mandi."
__ADS_1
"Kamu tidak boleh?"
"Apa?"
"Ganti saja pakaianmu di sini, tidak perlu masuk ke kamar mandi."
"Apa! Apa kamu ingin melihat tubuhku? Oke, aku melakukannya."
Dengan kesal Velove membuka seluruh pakaiannya yang hanya menyisakan kacamata busa dan segitiga biru. Begitu mulus tubuh itu membuat Rey, tidak mampu menutup mata.
Lama sekali Velove memakai bajunya, ia sengaja memperlihatkan seluruh lengkuk tubuh indahnya kepada Rey. Apa yang Rey lakukan saat ini? Hanya bisa menelan salivanya.
Golok saktinya kembali hidup dan mulai berdiri. Sialnya Rey tidak bisa menyalurkan hasratnya. Kenapa tidak? Bukankah Rey berhak atas Velove? Ya, tapi tidak untuk saat ini.
Bagaimana dengan Angel? Yang entah di mana Rey menyembunyikannya. Rey, masih diam mematung tanpa di sadari Velove sudah mendekat, menyambar langsung benda kenyal yang sedari tadi diam.
Apa Rey melepaskannya?
Dengan mata membulat Rey, merasa terkejut. Namun bukan berarti Rey, melepaskannya. Golok sakti yang sudah menegang menuntun Rey, untuk membalas dan menyalurkan hasrat itu segera.
Dengan lembut benda kenyal itu di terkam, di kecap, hingga saling membelit. Setelah merasa puas, apa Rey menghentikan itu? Jika kalian berpikir seperti itu, salah.
Rey, langsung membawa tubuh indah yang menggoda masuk ke dalam ranjang panas. Tidak peduli lagi apa yang ada di balik selimut, Velove pun tidak akan memperhatikannya.
Ranjang panas kembali bergoyang, mereka berdua seperti sedang akting laga, berguling-guling hingga jungkir balik. Ranjangpun bergetar hingga semua barang dari balik selimutpun berhamburan.
Semua barang itu yang tidak lain adalah milik Angel, yang saat ini tengah bersandar pada dinding tembok bata. Tubuhnya di lilit handuk, yang setengah menutup tubuhnya.
Angel, mulai bingung apa yang akan di lakukannya di tempat itu. Ruangan pengap berlantai licin yang di lengkapi cermin yang menempel pada dinding. Westafel bening seolah masih baru juga bersih, yang di penuhi berbagai alat mandi di atasnya.
Dari jarak satu meter terdapat sebuah benda memanjang, memiliki lubang yang bisa di isi air. Sebuah bathup yang juga masih terlihat kosong tanpa sabun dan busa.
"Di mana Mas Rey? Apa Velove masih ada di luar?" pikir Angel.
"Sepi," ucapnya.
Memang sepi karena dua manusia yang bergelut dalam ranjang panas kini tengah berbaring lemah. Rey, tertidur sejenak setelah menyemburkan lahar vanila untuk kedua kalinya.
Walaupun begitu sangat memuaskan.
Mempunyai dua istri kadang membingungkan. Membuat pusing dan dilema. Namun di sisi lain, ada rasa kepuasan dalam diri karena hasrat yang mudah tersalurkan.
Apa yang akan Rey, lakukan setelah ini?
Membiarkan alur hidupnya berjalan begitu saja, tetap merahasiakan pernikahan keduanya, dan tetap hidup bersama isteri pertamanya.
Rey, langsung mengerjap dan terbangun. Diliriknya sang wanita yang tersenyum indah, dengan kedua mata yang masih terpejam. Velove, masih tertidur dengan lelapnya.
Sedetik Rey, teringat Angel. Kaki jenjang itu langsung turun dan melangkah menuju kamar mandi. Sebelum itu Rey, memungut satu persatu pakaian yang terdampar di atas permukaan lantai. Lalu kembali melangkah menuju kamar mandi setelah memastikan jika Velove benar-benar tertidur.
Klek,
Pintu terbuka, Angel langsung menyempulkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Rey yang datang, Angel sudah sangat pegal menunggu dirinya.
"Kamu kemana saja sih Mas! Pegel tahu."
"Ssst … jangan berisik Velove masih di luar," bisik Rey.
"Jadi dia belum pergi?"
__ADS_1
"Velove sedang tidur."
"Lalu bagaimana denganku?"
"Kamu sudah mandikan?" Angel mengangguk.
"Sekarang kamu ganti pakaian ini aku sudah membawanya. Aku tunggu di luar." Rey, pun kembali keluar setelah memberikan pakaian itu.
Angel mulai memakai satu persatu pakaiannya, akan tetapi ia merasa heran karena tidak menemukan kacamata busanya. Namun, biarlah Angel tetap memakai baju itu tanpa penutup dada.
Di luar Rey, setia berdiri di depan kamar mandi sesekali melihat Velove, yang masih terlelap.
"Mas?"
Rey kembali tegang saat Velove memanggilnya. Apa itu hanya gumaman atau benar-benar terbangun? Dan ternyata Velove terbangun dan kini sudah terduduk di atas ranjang.
"Sayang kamu kenapa bangun?" Rey, langsung mendekat. Sesekali melihat pintu kamar mandi takut, jika Angel tiba-tiba keluar.
"Aku lupa, Bian ku tinggal di bawah. Di kamar Mama."
"Sudah, nanti biar aku suruh Angel untuk menemani Bian."
"Apa Angel belum tidur?"
"Tidak apa nanti aku bangunkan. Kamu tidur lagi sayang pasti lelahkan?"
Velove tersenyum lalu kembali tidur.
Huh,
Satu tarikan nafas Rey, hembuskan. Akhirnya Velove kembali tidur. Dan kini tinggal Angel.
Rey, melangkah ke kamar mandi. Membuka pintu memastikan Angel sudah selesai.
"Kamu sudah selesai?"
"Sudah."
"Ayo keluar. Tapi pelan-pelan."
Angel mengangguk mengerti. Tanpa suara dengan langkah berjinjit mereka keluar dari kamar.
"Angel tunggu, aku lupa jika Bian ada di kamar mama Rita. Aku mohon tidurlah dengannya."
Sejenak Angel terdiam. Sebelum akhirnya mengangguk.
"Iya."
"Makasih sayang." Kata Rey, lalu mengecup bibir Angel sekilas. Bukannya senang Angel malah menatap curiga, karena ada aroma yang mencurigakan dari tubuh Rey.
"Mas, kok aku cium bau pandan ya?"
"Bau pandan apaan sayang?"
"Seperti bau …."
"Sudah, aku kembali masuk takut Velove bangun. Kamu jangan lupa ke kamar mama Rita temani Bian."
"Iya."
__ADS_1
Rey, langsung masuk ke dalam kamar. Sedangkan Angel, masing mencari asal bau pandan yang ia cium, bau pandan yang berasal dari semburan vanila yang menempel pada kaos yang Rey, gunakan.
"Perasaan aku sudah mandi, kok masih bau pandan." Pikir Angel, lalu melangkah menuruni tangga menuju lantai dasar.