
"Aduh, kemana mereka?"
Rita celingak-celinguk seperti orang bingung. Langkahnya tidak menemukan jejak Danu dan Pengacaranya. Rita semakin penasaran apa yang mereka bicarakan.
"Mama!" teriak Velove membuat Rita menoleh ke arah suara.
"Velove, kamu sedang apa di sini?"
"Aku mau jenguk papa. Mama ngapain celingak-celinguk di sini?"
"Mama sedang mencari Danu." Jawab Rita yang matanya,masih mengedar kemana-mana.
"Untuk apa Ma?"
"Mama penasaran saja. Tadi saat dokter keluar yang di panggil hanya Danu. Dan setelah itu pengacara itu datang entah apa yang mereka bicarakan lalu pergi."
"Tenang Ma, jika pun kita tidak mendapatkan apa pun aku punya senjata untuk itu."
"Senjata!" Rita memicingkan matanya. Menatap curiga pada putrinya.
Velove mengeluarkan sebuah benda kecil tipis di dalam tasnya. Sebuah fleshdisk yang ia gunakan untuk meriset semua data-data perusahaan.
"Aku sudah mendapatkan data perusahaan yang sewaktu-waktu bisa kita jual."
"Memangnya siapa yang akan membeli data perusahaan?" Pertanyaan Rita membuat senyum Velove memudar. Bagaimana bisa ibunya sebodoh ini.
"Mama ini bodoh atau apa sih! Mama pikir data perusahaan tidak bisa kita jual. Justru banyak yang akan menginginkan terutama pesaing bisnis. Kita bisa menjualnya pada pesaing bisnis papa. Musuh perusahaan kita."
"Idemu cemerlang. Apa kita akan mendapatkan uang besar?"
"Tentu, aku tidak akan menjualnya dengan murah."
"Wah, jika begitu kita jual saja sekarang." Ide licik Rita, kembali muncul. Namun sepertinya harapan mereka tidak akan menjadi kenyataan. Karena seseorang berhasil mengambil fleshdisk itu dari tangan putrinya.
"Hei!" pekik Velove seraya menoleh ke belakang.
Mata ibu dan anak itu terbelakak ketika melihat siapa yang sudah mengambil fleshdisk itu.
"Danu!"
"Sayangnya, kalian tidak bisa menjual atau pun mendapatkan uang dari benda ini."
Danu langsung mematahkan benda itu sehancur-hancurnya. Velove dan Rita hanya mematung melihat benda itu di jatuhkan.
Ada rasa sayang, karena senjata satu-satunya berhasil dimusnahkan.
"Aaah," ringis Velove saat Danu menancapkan jarum suntikan untuk menghisap darahnya. Setelah mendapatkan darah itu Danu langsung menghentikan suntikannya, memasukan darah pada botol kecil lalu dimasukkan nya kedalam saku celananya.
"Danu apa yang kamu lakukan!" pekik Rita. Namun Danu tidak mengindahkannya dan langsung pergi.
"Hei!" teriak Rita saat Danu semakin menjauh.
"Mama sakit tahu disuntik kaya gitu." Ringis Velove, sambil mengusap tangan kirinya. Rita langsung melihat tangan putrinya yang tidak mendapatkan bekas luka apa pun. Hanya titik merah yang terlihat mungkin jejak suntikan tadi.
__ADS_1
"Danu mengambil darah untuk apa?" monolognya.
*****
Di dalam kamar Fras terbaring lemah dengan tubuh yang dipenuhi alat medis. Asih masuk ke dalam ruang ICU lengkap dengan busana hijaunya yang biasa di sebut hajmat. Baju khusus di rumah sakit saat memasuki ruang ICU.
Asih berjalan pelan. Sepasang netranya menatap teduh sang mantan suami yang kini sedang berjuang untuk hidupnya.
Mata Fras terlihat sayu, sedikit terbuka untuk melihat wajah Asih yang dirindukan. Bibirnya sedikit tertarik, ingin tersenyum namun sulit.
Jari-jari tangannya terlihat bergerak, ingin menyentuh atau hanya sekedar melambaikan tangan namun tidak mampu. Seakan berat hanya untuk mengangkat jarinya saja.
Asih menatap sedih lelaki yang pernah menjadi pendamping hidupnya walau hanya sebentar. Kondisi Fras saat ini begitu mengkhawatirkan. Tidak pernah terbayangkan jika dirinya akan dipertemukan lagi dalam keadaan seperti ini.
Kenapa harus sekarang penyesalan itu ada. Kenapa tidak sejak dulu disaat kehidupan masih berjalan dengan mulusnya.
Akan kah tuhan memisahkannya lagi disaat mereka sudah bertemu untuk kesekian kalinya. Adakah kesempatan untuk membangun dan membina rumah tangga yang sempat terputus karena perpisahan.
Menjadikan rumah tangga yang kembali utuh setelah lama retak.
Disaat kata maaf terucap, disaat hati mulai luluh untuk memaafkan, disaat itu pula tuhan memberikan cobaan dengan kondisi Fras yang sangat memprihatinkan.
Jika boleh meminta Asih ingin sekali meminta kesembuhan untuk sang mantan suami. Jika tuhan mendengarkan doanya.
"A-As-Sih," ucap Fras terbata-bata. Tidak terlalu terdengar karena suaranya terhalang oleh masker oksigen yang menutup hidung dan mulutnya.
Namun Asih masih bisa mendengar.
Perlahan Asih meraih tangan yang sudah tidak kencang lagi. Tangan itu ia genggam berharap dapat menghilangkan rasa sakitnya.
"Cu-cu-ku," ucap Fras untuk kedua kalinya. Mungkinkah Fras ingin bertemu Syena. Mungkin saja ada rasa khawatir pada cucunya.
"Syena baik-baik saja. Cucu kita sudah ditemukan dan dalam keadaan sehat."
Terpancar sedikit senyuman pada wajah Fras. Hatinya sedikit lega karena mendengar cucunya yang sudah ditemukan.
"A-Asih ma-ma-afkan saya."
"Sudah Mas, aku sudah memaafkan kamu. Tolong jangan katakan maaf lagi." Asih berkata dengan suara bergetar. Netranya tak dapat lagi menahan bendungan air mata yang siap jatuh kapan saja.
Rasanya tidak tega melihat Fras dalam keadaan seperti ini.
"Aku … aku lega bisa bertemu denganmu seperti ini. Aku akan pergi dengan tenang, tidak ada lagi penyesalan dalam hi-dup ku."
"Tidak Mas, jangan katakan itu. Kamu akan sembuh. Pasti sembuh." Asih semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Bukankah kamu ingin bermain dengan Syena? Setelah kamu sembuh kamu bisa bermain sepuasnya dengan cucumu. Jadi aku mohon tetaplah bertahan."
"Ayah!" suara Dinda mengalihkan pandangan mereka.
Terlihat Dinda yang mengenakan hajmat berwarna hijau, lengkap dengan penutup kepalanya. Fras hanya mengulum senyum menatap putrinya yang masih berdiri di dekat pintu.
Senyumnya memudar saat melihat seorang pria yang ada di belakang putrinya.
__ADS_1
Willy, itulah dia. Saat dirinya hendak bertemu Dinda, tuhan mempertemukan mereka di tempat ini.
Dinda yang mendapat kabar dari Danu tentang keadaan Fras yang kondisinya semakin buruk, membuatnya segera pergi ke rumah sakit. Dan mereka tiba dalam waktu bersamaan.
Willy, yang berniat menjenguk sang mertua pun ikut masuk kedalam ruang ICU.
"Ayah!" teriak Dinda yang menghampiri.
Dinda mendekat seraya menggenggam tangan Fras erat. Matanya mulai berkaca-kaca. Entah kenapa hatinya sedih dan ingin menangis. Padahal dulu rasa kecewa dan benci begitu melekat dalam hatinya.
"Ayah maafkan Dinda, maafkan Dinda." Tangis Dinda pun pecah. "Dinda mohon jangan tinggalkan Dinda, Dinda masih ingin bersama ayah. Syena cucu ayah dia merindukan kakeknya dan ingin bermain denganmu."
Fras hanya tersenyum. Matanya kini menatap ke arah Willy yang berdiri disamping putrinya.
Asih menyadari tatapan itu.
"Namanya Willy, dia lelaki yang selalu membantu kita. Dan lelaki yang bisa membahagiakan putrimu. Willy yang dicintai Dinda," jelas Asih.
"Tetaplah bertahan Fras. Masih ada yang harus kamu lakukan sebelum pergi. Dulu saat Dinda menikah tidak ada ayahnya yang menjadi wali. Sekarang aku ingin kamu menjadi wali pernikahannya. Jadi ku mohon sembuhlah, bertahanlah untuk putrimu."
"A-apa kamu benar-benar mencintai putriku?" tanya Fras yang di tujukan pada Willy.
Willy mengangguk dan berkata, "Saya sangat mencintainya."
"Berjanjilah untuk tidak menyakiti hatinya apalagi menduakannya. Berjanjilah."
Willy menarik nafas dalam lalu di hembuskan.
"Saya janji, tidak akan menyakitinya."
"Dinda," lirih Fras.
"Iya ayah?"
"Apa kamu mencintainya?" Dinda hanya mengangguk.
"Kamu bahagia?" Dinda kembali mengangguk menjawab pertanyaan Fras.
"Jika kalian bahagia menikahlah."
"Saya akan menikahi Dinda, itu pasti. Setelah anda sembuh," ucap Willy.
"Aku ingin kamu menikahi putriku detik ini juga."
"Apa!"
Asih, Dinda, dan Willy sama-sama terkejut dengan keinginan Fras yang memang tidak masuk akal.
Karena menikah tidak mudah. Dan tidak bisa mendadak. Harus mempersiapkan beberapa hal termasuk berkas-berkas dan syarat-syarat pernikahan.
"Kamu ingin aku menjadi wali. Dan aku ingin menyaksikan pernikahan putriku detik ini juga."
"Ta-tapi …" Willy, terlihat bimbang antara setuju atau tidak.
__ADS_1
...----------------...
Kira-kira apakah Willy menyetujuinya?