Life After Married

Life After Married
Bab 124- Cibiran Jadi Pujian


__ADS_3

Cibiran jadi pujian


Sebuah hotel ternama menjadi tempat di adakannya arisan. Sebenarnya bisa saja memilih tempat yang sederhana, seperti di rumah, di restauran, atau di tempat-tempat sederhana lainnya.


Mungkin karena mereka kalangan sosialita jadi sah-sah saja mau dimana dan di tempat seperti apa.


Mobil yang di tumpangi Dinda berhenti tepat di halaman hotel X. Netranya menatap takjub pada bangunan didepannya. Sebab itu adalah salah satu hotel milik teman Mayang yang tidak lain adalah Rani.


Mungkin Rani ingin membanggakan sedikit kekayaannya.


Sebelum turun, Mayang memberikan ancang-ancang terlebih dulu pada menantunya itu. Dengan niat agar tidak mempermalukan dirinya.


"Kamu pasti belum pernah datang ke acara seperti ini 'kan. Jadi lebih baik diam dan jaga perlakuanmu di depan teman-temanku. Jangan membuatku malu."


Dinda memang tidak pernah mengikuti acara arisan seperti ini. Bukan karena tidak bergaul, namun memang karena tidak ingin.


"Iya Ma." Hanya itu yang Dinda katakan. Karena tidak ingin berdebat dengan sang mertua.


Kini mereka berdua turun dari mobil. Berjalan memasuki hotel. Di dalam sana sudah terlihat beberapa temannya yang sudah berkumpul di salah satu meja ruang VIP.


Tidak ada satu pun dari mereka yang membawa putri atau pun menantu. Mungkin hanya untuk mempermainkan Mayang saja. Supaya membawa Dinda ke tempat ini.


Ekspresi Mayang sepertinya sangat kesal karena merasa dibohongi.


Mayang dan Dinda pun melangkah menuju meja bundar yang sudah di penuhi banyaknya wanita yang saling bercengkrama.


"Halo Jeung Mayang," sapa seorang wanita yang tampilannya begitu waw! make up yang tebal melapisi kulit tua yang mulai keriput. Tidak lupa dengan perhiasan yang melingkar di tangan dan jari tangannya.


Hanya satu yang Dinda katakan saat melihat wanita itu. "Nora" namun kata-kata itu hanya keluar dari dalam hatinya.


Mayang tidak berekspresi. Masih memasang wajah kesal dan juteknya. Tanpa basa-basi Mayang langsung duduk di kursinya.


Dinda masih berdiri, memilih untuk menyapa para wanita-wanita itu dengan senyuman ramahnya. Sebelum akhirnya mendaratkan bokongnya.


"Ini menantumu Jeung? Cantik ya, siapa namanya?" Ibu-ibu memang pandai berbasa-basi.


"Dinda," jawab Dinda singkat.


"Kenapa tidak ada satu pun anak atau menantu kalian yang ikut? Kalian membohongiku." Ketus Mayang.


"Jangan marah dong Jeung. Namanya juga usaha mau kenalan sama menantu Jeung. Ngomong-ngomong kok nikahnya gak bilang-bilang sih! Gak ada resepsi juga lagi."


Mayang mendengus kesal. Lagi-lagi pertanyaan itu yang dilontarkan.


"Memang pernikahan kami mendadak," jawab Dinda santai. Namun jantung Mayang sudah berdetak tak karuan. Takut jika Dinda salah berucap.


"Kenapa?"


"Sepertinya saya tidak harus menjelaskan. Karena itu urusan keluarga saya."

__ADS_1


Suara bisikkan mulai terdengar. Tidak sedikit dari mereka menganggap bahwa Dinda dan Willy menikah karena sebuah kecelakaan. Seperti halnya hamil di luar nikah.


"Sudah jangan bicara lagi." Mayang sudah sangat kesal meminta Dinda untuk tidak berkata lagi.


Tidak berselang lama datanglah kedua wanita pemilik hotel ini. Tidak lain adalah Shila dan Rani. Mereka sangat ranah dan menyapa Dinda, apalagi Shila yang sudah sempat bertemu.


Namun kata-kata Rani yang sedikit menyinggung.


"Aduh Jeung, jika saja berbesan dengan Jeung Rani, mungkin Jeung akan menjadi besan pemilik hotel ini. Sayangnya tidak jodoh ya Jeung."


Bola mata Mayang membulat malas mendengar ocehan-ocehan teman-temannya.


"Gimana lagi jodohnya sama janda." Sedikit namun menyayat hati. Tidak hanya Mayang, Dinda juga merasakan hal yang sama.


"Sepertinya mereka hanya ingin membanding-bandingkan" batin Dinda.Yang masih diam.


"Saya memang janda dan memiliki anak." Mata Mayang sudah melotot tajam saat Dinda mengatakan hal itu.


"Saya juga merasa heran, kenapa semua orang selalu berpikiran buruk tentang status itu. Padahal janda juga seorang wanita, bahkan sudah menjadi seorang ibu. Mungkin karena itu Willy menikahiku."


"Kadang aku berpikir kenapa memilih ku dari pada gadis lain. Namun itu menjadi kebanggan tersendiri karena seorang janda lebih unggul dibandingkan seorang gadis."


"Apa maksudmu?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Rani, merasa tersinggung atas ucapannya.


"Maksudku jangan takut hanya karena menjadi seorang janda. Status bukanlah hal yang terpenting dalam pernikahan melainkan hati dan ketulusan cinta. Itu tandanya suamiku sangat mencintaiku walau pun aku sudah memiliki anak."


"Sudah jangan katakan apa pun lagi." Mayang sudah geram. Hingga membisikkan kata-kata itu.


Seorang wanita dengan rambut terurai. Bibir merah merona dengan make up minimalis yang melapisi kulit putihnya. Satu tangannya terangkat memperlihat cincin berlian yang indah melingkar di jari manisnya.


Tangan itu mulai mengambil benda pipih, berlayar, slim, datar dalam tasnya. Di gesernya layar itu. Satu jarinya meng-klik satu ikon aplikasi sebagai mesin pengocok arisan.


"Kita mulai ya."


Namun, saat hendak dimulai. Tiba-tiba seorang pelayan hotel datang menghampiri meja mereka. Pelayan itu berjalan ke arah Rani untuk menanyakan seseorang.


"Permisi Bu, ada yang ingin bertemu ibu," ujar pelayan pria itu dengan seragam yang rapi dan khusus melekat di tubuhnya.


"Siapa?" tanya Rani. Si pelayan itu pun mempersilahkan seorang wanita yang berjalan di belakangnya untuk berbicara dengan Rani.


Seorang wanita dengan pakaian formal setelan jas dan rok yang melekat ditubuh rampingnya. Rambut yang diikat memperlihatkan leher jenjang mulusnya wanita itu sangat muda tidak berbeda dengan Dinda dan juga Shila.


Rani menatap heran, bahkan kedua matanya menyipit juga kening yang berkerut. Karena tidak mengenali wanita itu.


"Apa anda dengan ibu Rani pemilik hotel ini?" tanya wanita itu.


"Iya."


"Saya kesini untuk mencari ibu Dinda? Saya dapat kabar beliau datang bersama ibu mertuanya."

__ADS_1


Sontak semua orang menoleh pada Dinda, yang duduk di samping Mayang. Tatapan mereka tidak bisa diartikan. Namun, tidak


dengan Dinda yang hanya mengulum senyum.


Wanita itu adalah Siska, sekretarisnya. Ditengah obrolan saat itu. Dinda mendapatkan satu pesan dari Siska, untuk segera datang ke perusahaan karena ada seorang klien yang ingin bertemu dengannya. Tidak hanya itu Siska juga butuh tandatangannya untuk sebuah proyek terbarunya.


Mengingat ucapan-ucapan para teman mertuanya yang selalu membanding-bandingkan dan menghina dirinya.


Dalam kesempatan itu Dinda meminta Siska untuk datang langsung ke tempat ini. Bukan ingin pamer atau sombong, melainkan hanya ingin menutup mulut para bibir lemes seperti mereka.


Tatapan mereka semua tidak berpaling pada Siska yang berjalan kearah Dinda. Siska menyodorkan satu dokumen di atas meja, tanpa mengatakan apa pun satu tangan Dinda bergerak menandatangani dokumen itu dengan sebuah pena.


"Terima kasih Bu," ujar Siska. Membuat semua semakin heran.


"Apa kamu bekerja di sebuah perusahaan?" tanya Mayang pada Dinda, namun pertanyaannya langsung dijawab oleh Siska.


"Bu Dinda bukan hanya bekerja namun beliau adalah pemilik perusahaan kami."


"Pemilik perusahaan? Maksudmu Bos?" tanya seorang teman Mayang yang tercengang.


Siska hanya tersenyum lalu mengangguk.


"Ini mertuanya ya Bu? Kalau boleh izin mohon maaf Bu Dinda, tidak bisa berlama-lama karena ada pertemuan penting dengan klien."


Tidak ada yang menjawab bahkan Mayang pun terdiam.


"Ma, maaf Dinda harus pergi," ujar Dinda pada Mayang. Lalu berdiri dan berpamitan pada mereka semua.


Dinda pun bergegas pergi.


"Bos! Bu Mayang menantu mu seorang Bos? Kenapa tidak bilang. Kalau begini sih janda juga tidak apa asal kaya." Sontak tawa renyah memenuhi meja mereka. Terkecuali Rani dan Shila, yang merasa kesal karena awal cibiran berakhir jadi pujian.


"Oh ya, ngomong-ngomong perusahaan apa Bu?"


Mayang terdiam juga gugup. Karena tidak tahu perusahaan apa yang di pimpin Dinda. Di saat kebingungan tiba-tiba ponselnya berdering. Saat dilihat ternyata satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.


Kening Mayang mengkerut, sedetik bibirnya melengkung saat tahu ternyata Dinda lah yang mengirim pesan itu.


"Sanjaya Grup dan Snack Food. Jika kalian tidak tahu, kalian bisa searching karena perusahaan itu sudah terkenal."


Mereka semua langsung mengecek ponsel mereka masing-masing. Sedetik sepasang matanya membelalak seolah merasa takjub.


"Oh ya, kalian bebas pesan apa pun, mau makan apa silahkan karena menantuku sudah membayarnya."


Bibir Mayang melengkung, melihat wajah terkejut dari teman-temannya. Sungguh diluar dugaan cibiran yang awalnya diberikan kini menjadi sebuah pujian. Dan sangat beruntung pula hari ini Mayang lah yang mendapat giliran.


...----------------...


Sok tuh pasti. Pasti heboh dong hehe

__ADS_1


Dinda pasti disayang mertua nih!


Like dan komentarnya jangan lupa ya reader 😘


__ADS_2