
Syena masih menangis mengkhawatirkan sang ibu yang sedang sakit. Hingga Syena tidak ingin masuk kedalam rumah sebelum sang ibu datang. Sampai saat ini Syena masih duduk di depan teras.
Tidak berselang lama datanglah sebuah mobil yang memasuki rumahnya. Sedetik tubuhnya tercekat ingin menghampiri mobil itu, karena Syena mengenal jika itu mobil papanya.
"Mama!" teriaknya yang langsung berlari ke arah Dinda yang baru saja turun dari mobilnya.
Dinda langsung berjongkok lalu memeluknya.
"Mama? Mama sakit apa? Apa kata dokter?"
"Kata dokter Syena akan punya adik."
"Adik?"
"Syena senang 'kan kalau punya adik?"
"Senang Ma. Tapi dimana adikku Ma?" tanya Syena polos. Dinda tersenyum begitu pun dengan Willy.
Willy pun berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan tubuh Syena. Tangannya langsung mengusap pucuk kepala Syena dengan lembut. Lalu berkata,
"Dede bayi masih ada di dalam perut Mama." Katanya yang sambil mengusap perut rata Dinda.
"Dede bayi ada di dalam perut? Kasihan dong Ma, kenapa gak di suruh keluar saja Ma, biar kumpul sama-sama."
Dinda dan Willy pun tertawa mendengar celotehan putri mereka.
******
Kabar kehamilan Dinda menjadi kabar gembira bagi semua keluarga. Dinda dan Willy segera mengabarkan berita baik ini kepada orangtua mereka.
Dinda langsung mengabari Asih, yang sudah lama menetap di surabaya. Asih memilih tinggal di sana, karena amanat dari Fras yang tidak boleh meninggalkan rumah itu lagi. Setiap harinya Asih hanya di temani seorang pelayan dan tukang kebun yang membantu merawat bunga daisy nya.
Luasnya hamparan kebun yang di tanami bunga daisy, membuat rumahnya terlihat indah dan cantik. Apalagi saat memandangi bunga itu, membuat hati kita tenang.
Asih duduk di atas balkon kamarnya seraya memandangi bunga-bunganya yang terhampar di bawah sana. Bayangannya melayang-layang seolah anak dan cucunya sedang bermain di taman sana.
Entah karena terlalu rindu, Asih jadi membayangkan Dinda dan Syena.
"Bu!" panggilan seseorang membuyarkan lamunannya. Bayangannya pun hilang seketika.
Seorang wanita berpakaian sederhana namun masih terlihat muda, berjalan dengan hati-hati ke arah Asih yang duduk di atas kursinya.
"Ada apa Sari?"
"Ini Bu, ada telepon dari Bu Dinda, katanya mau ngobrol sama ibu." Senyum sumringah langsung terpancar di wajahnya. Mendengar Dinda yang menghubunginya.
"Mana teleponnya Sari." Segera tangannya mengambil sebuah ponsel yang Sari berikan. Di dekatkannya benda pipih itu pada daun telinganya.
"Dinda!"
__ADS_1
"Ibu apa kabar?"
"Ibu kesepian tidak ada kamu. Bagaimana kabarmu sehat? Syena Willy juga sehat 'kan?"
"Alhamdulillah Bu, kami semua baik dan sehat. Ibu sedang apa?"
"Apa lagi yang ibu lakukan jika bukan memandangi bunga daisy." Kata Asih, seraya mengedarkan pandangannya ke bawah taman.
"Ibu Dinda ada kabar baik buat ibu."
"Kabar baik? Kabar baik apa?" Asih terheran-heran.
"Tapi Ibu janji ya, jangan terkejut."
"Memangnya apa kabar baiknya?"
"Ibu akan punya cucu lagi."
Mata Asih terbelakak seketika, sudah di pastikan Asih sangat terkejut juga bahagia. Bibirnya melengkung sempurna namun matanya tercipta bendungan air bening yang membuat matanya berkaca-kaca.
"Kamu sedang hamil Dinda? Benarkah itu. Ya tuhan ini benar-benar kabar baik. Sekarang juga ibu akan ke jakarta." Saking bahagianya Asih ingin segera mungkin berkunjung ke rumah putrinya. Tidak peduli hari sudah mulai gelap, namun Dinda menahannya, karena jika tidak Asih pasti langsung pergi.
"Tidak Bu, jangan hari ini. Ini sudah sore, besok saja pak Danu akan menjemput Ibu. Aku tidak mau Ibu pergi sendiri."
"Sendiri! Ibu tidak sendiri akan ada Sari yang menemani Ibu."
"Ibu! Dinda tidak mau jika Ibu membantah. Besok saja pak Danu yang jemput Ibu. Sekalian besok Dinda juga akan merayakan pesta kecil-kecilan. Sebagai Syukuran karena Dinda hamil ini adalah anak pertama Mas Willy."
"Hem …"
"Ingat! Jangan capek-capek. Istirahat tidsk usah bekerja, tinggalkan perusahaan biarkan Danu yang memimpin."
"Iya Ibu."
"Mertuamu apa sudah di beritahu?"
"Mungkin Mas Willy sudah memberitahunya. Nanti Dinda tanyakan lagi. Sudah dulu ya Bu Dinda tutup teleponnya."
"Eh tunggu … Ibu mau ngobrol sama Syena."
"Syenanya tidur Bu. Nanti saja kalau Syena bangun Dinda telepon lagi."
"Ya sudah. Salam untuk Willy."
"Iya Bu."
Sambungsn telepon pun tertutup. Asih langsung menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Memberikannya kembali pada Sari.
"Sari, siapkan pakaian saya juga pakaianmu. Besok kita akan ke jakarta. Dinda hamil saya mau punya cucu lagi," pamer Asih.
__ADS_1
"Selamat ya Bu, Sari ikut senang."
"Ya sudah sekarang siapkan barang-barang untuk besok."
"Baik Bu." Sari pun berlenggang pergi. Asih langsung memanggil tukang kebunnya untuk memetik beberapa bunga daisy yang akan di bawanya besok.
Tidak hanya Asih yang sangat antusias. Keluarga Willy tidak jauh berbeda begitu antusias dan semangat menyambut cucu pertama mereka.
"Ibu!" teriak Mayang histeris membuat Rose yang tertidur langsung terhenyak. Teriakan Mayang begitu memekakan telinganya.
"Ada apa Mayang teriak-teriak seperti itu?"
"Ibu aku mau punya cucu. Akhirnya setelah sekian lama menunggu Dinda hamil juga."
"Jadi Dinda hamil?"
"Iya Bu. Baru saja Willy menghubungiku. Dan kita di minta untuk ke jakarta besok."
"Ini kabar baik. Ya sudah kita berangkat saja sekarang."
"Ibu! Ini sudah sore dan kita belum menyiapkan apa pun."
"Ya sudah sekarang kita siap-siap. Maksudnya siapin barang yang mau di bawa."
"Iya Bu. Pokoknya aku harus kasih tahu teman-temanku. Bahwa aku akan punya cucu." Mayang langsung memberitahuksn teman-teman sosialitanya. Karena lagi dan lagi Mayang selalu saja di ejek karena Willy belum bisa memberikan keturunan.
*****
Tidak hanya kedua keluarga yang bahagia. Teman dan sahabat pun di beritahu. Karin, dan Mirna sangat antusias juga senang. Namun, Karin sedikit sedih karena nasib dirinya tidak baik seperti Dinda. Yang mempunyai suami yang baik dan juga anak yang lucu. Apa lagi sekarang akan melahirkan anak keduanya.
"Selamat ya Dinda, kamu hamil anak kedua. Semoga bayimu selalu sehat."
"Terima kasih Karin. Jangan lupa besok datang ya aku ada acara syukuran untuk kehamilan ku."
"Oke. Aku akan datang bersama Mirna."
"Harus. Karena kalian sahabatku." Karin hanya tersenyum simpul. Setelah cukup lama berbicara sambungan telepon pun di tutup.
Di simpannya ponsel itu di atas meja kerjanya. Tatapannya menerawang kosong ke depan entah apa yang Karin lihat. Karena hanya bayangan awan dan langit sore yang nampak.
Karin punya segalanya, harta kekayaan jangan diragukan lagi. Namun hanya cinta yang tidak Karin miliki. Hubungan asmaranya selalu kandas.
"Kapan ya aku punya anak? Karin, Karin, nikah saja belum sudah memikirkan anak." Ujarnya yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudahlah aku selesaikan dulu pekerjaanku." Karin menepis pikirannya mengalihkan kembali pada pekerjaannya.
Bagi wanita seperti Karin yang sangat matang dan dewasa, semua teman-temannya sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Karin juga menginginkan hal itu.
Berbagai kegiatan kencan sudah dilakukannya, bahkan dirinya sudah pernah dijodohkan. Namun, selalu saja berakhir menyakitkan.
__ADS_1
Semua lelaki yang di kencaninya selalu mengkhianatinya. Entah apa yang di pikirkan lelaki, entah apa kekurangan Karin, cantik, kaya, Karin miliki semuanya namun kenapa semua pria selalu mengkhianatinya.