
Hari berikutnya masih di rumah sakit menunggu Dwita yang sedang dalam masa kritis. Suasana ruang tunggu VIP itu sangat hening. Pranoto sedang menunggui Dwita melalui jendela kaca.
"Sayang bagaimana ini?" tanya Bian menghampiri Lea yang sedang duduk di sofa.
"Bagaimana apanya?" tanya Lea menatap Bian dengan bingung.
Bian duduk dan merangkul bahu istrinya, mendekatkan kepala istrinya pada dada bidangnya.
"Tentang ke Maldives sayang," ucap Bian.
Matanya melihat pada jam dinding yang tertempel pada sisi ruangan. Jam menunjukkan pukul 09.45 pagi. Berarti kurang lebih dua jam lagi pesawat akan berangkat.
"Astaga sayang ... santai saja kali," ucap Lea.
"Aku gak enak sama kamu," balas Bian.
"Ini kan impian kamu pergi ke Maldives," imbuh Bian.
Lea menarik napas kemudian menghembuskannya. Melirik kearah sang suami. Senyum indah itu perlahan mengembang dibibir perempuan cantik itu.
"Kan kondisinya juga kaya gini sayang. Aku gak apa-apa kok. Malah aku gak enak sama kamu karena sudah booking semuanya," ucap Lea.
__ADS_1
"Kasian uang kamu jadi melayang deh." Lea tersenyum.
Kemudian senyum itu langsung berubah menjadi cemberut. "Kan nggak murah untuk pergi kesana. Terus hangus semua," imbuh Lea.
Memang benar apa yang dikatakan Lea bahwa untuk pergi ke Maldives membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Lalu dengan adanya kejadian serangan jantung yang dialami Dwita. Membuat mau tidak mau uang yang sudah dikeluarkan Bian untuk ke Maldives hangus. Entah berapa banyak kerugian akibat gagal honeymoon ini.
"Kamu juga santai saja. Tidak usah memikirkan uang yang telah hangus," ucap Bian semakin mengeratkan rangkulan tangannya pada bahu Lea.
"Sabian tidak akan bangkrut cuma gara-gara hal sepele gagal honeymoon ke Maldives," bisiknya tepat ditelinga Lea.
Saking dekatnya Bian berbisik hingga hembusan napasnya terdengar jelas ditelinga Lea. Membuat bulu-bulu halus disekitarnya menjadi merinding. Tetapi tampaknya lelaki itu memang sengaja menggoda Lea. Lihat saja semakin lema bibir itu semakin mendekat kearah telinga Lea.
"I love you," lirih Bian dan beberapa detik kemudian bibirnya menempel pada telinga Lea. Lama kelamaan berjalan turun hingga sampai pada pipi halus milik istrinya.
Kini mereka sudah saling berhadapan. Dangat dekat, bahkan tidak sudah tidak ada jark diantara mereka. Napas keduanya menderu dengan jelas. Bian sudah pada puncak keinginannya untuk segera mencium bibir ranum nan merah muda milik istrinya.
Ceklek!
Namun tiba-tiba suara pintu yang terbuka segera membuat keduanya tersentak. Dan saling menjauhkan diri satu sama lain. Mata mereka langsung menuju kearah pintu.
"Maaf tuan saya sudah mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada jawaban," ucap lelaki yang baru saja masuk.
__ADS_1
Seorang lelaki masuk terlebih dahulu, kemudian disusul oleh seorang perempuan dibelakangnya. Mereka adalah Farhan dan Renata, datang untuk mengetahui kondisi terbaru Dwita. Karena memang Farhan adalah orang terdekat Bian dalam pekerjaannya. Sementara Renata merupakan sahabat lama dari Lea. Keduanya orang terdekat Bian dan Lea. Mengetahui kabar Dwita masuk ruang ICU, Farhan dan Renata segera ingin menjenguknya.
"Berduaan saja nih," sambut Lea.
"Kebetulan enggak sengaja ketemu di lobi tadi," ucap Renata seraya mencium pipi kanan dan kiri Lea.
Farhan dan Renata dipersilahkan duduk pada sofa panjang di ruangan tersebut. Mereka berempat pun duduk saling berhadapan.
"Farhan tolong Lo batalin semua yang sudah gue booking untuk ke Maldives dong," pinta Bian.
"Siap Tuan." Farhan merogoh ponsel dari saku celananya.
"Apa Lo saja yang mengantikan Gue dan Lea liburan ke Maldives?" tanya Bian.
Sekertaris itu mengernyitkan alisnya, menatap bingung kepada tuannya. "Maksudnya?" tanya Farhan.
"Ya Lo honeymoon sana," tegas Bian.
"Sa-saya? Honeymoon? Sa-sama siapa?" tanya Farhan.
"Sama Renata," celetuk Lea asal.
__ADS_1
Sontak Farhan melihat kearah Renata, kemudian kembali menatap Bian dan Lea. Farhan pun mengelengkan kepalanya. Dan akhirnya semua tertawanya dengan bercandaan Lea.