Life After Married

Life After Married
Bab 135- Kekacauan Rey


__ADS_3

Berbeda dengan Dinda dan Willy yang saat ini sedang berbahagia karena kehamilannya. Willy sebagai suami selalu memperhatikan dan selalu memanjakan Dinda sebagai istrinya. 


Hingga Willy begitu sabar menghadapi masa-masa ngidam yang Dinda alami saat ini. Dari mulai keanehan, perubahan sikap, dan yang lainnya. 


Jika kalian seorang ibu kalian pasti pernah mengalaminya. Dan betapa sulitnya melewati masa-masa ngidam.


"Mas, kamu pakai parfum apa sih! Bau sekali." Ujar Dinda seraya menutup lubang hidungnya. 


"Ini kan parfum yang kamu belikan. Parfum yang biasa ku pakai." 


"Bau ih Mas." 


"Masa sih! wangi juga." 


"Ganti-ganti ah, bau." Detik itu juga Dinda langsung berlari ke kamar mandi. Gejolak dalam perut yang terasa di aduk-aduk sungguh tidak tahan ingin segera memuntahkannya. 


Hingga saat tiba di dalam kamar mandi. Tubuhnya langsung menunduk pada bagian wastafel. Namun tidak ada apa pun yang di keluarkan dari mulutnya, selain cairan bening. 


Willy juga sangat bingung, apa terjadi masalah pada indra penciuman istrinya. Berbagai parfum di belinya dan semua sangat harum. Namun, hanya satu parfum yang Dinda sukai. 


Parfum yang sangat wangi baginya namun tidak bagi Willy, yang harus menahan mual karena baunya. 


"Astaga … ini bau apa? Kenapa orang hamil aneh-aneh sih." 


"Mas kenapa gak di pakai?" 


"Nanti saja sayang. Besok ya, sekarang sudah malam mau tidur juga ngapain pakai parfum." 


"Pakai sekarang Mas. Sini aku pakaikan." Terpaksa Willy menahan bau saat Dinda menyemprotkan parfum itu. 


"Mmm … ini baru wangi." Katanya seraya mengendus wangi parfum itu. 


"Ya udah Mas, sekarang kita tidur." 


"Ah, iya." Willy hanya pasrah saat tangannya di tuntun Dinda untuk tidur di atas ranjangnya. 


Anehnya, Dinda begitu nempel. Bahkan tangannya kini mendekap erat tubuh Willy. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Willy. Setidaknya rasa bau itu tertutupi karena wangi rambut Dinda, yang bisa Willy endus aromanya. 


Di balik kabar bahagia seorang pria begitu terpukul dan sangat kacau. Belum cukup kabar pernikahan yang menyakiti hatinya. Dan sekarang kabar kehamilan yang di dengarnya. 


Rey, duduk bersandar pada sofa yang di temani botol minuman yang berjejer di atas mejanya. 


Teguk demi teguk minuman itu mengalir masuk pada kerongkongannya. Satu botol sepertinya tidak membuatnya tumbang. Dan terus menambah dengan botol yang lain.


Entah apa yang Rey, rasakan. Bukankah dirinya yang berkhianat dan menikah lebih dulu. Namun seakan tidak rela melihat Dinda bahagia. 


Di sisi lain, Velove mondar mandir tidak jelas menunggu Rey, yang belum juga pulang. Di pegangnya sebuah benda pipih untuk menghubungi Rey, berulang kali ia lakukan namun tidak ada jawaban. 


Membuatnya semakin khawatir dan cemas. 


"Ah," ringisnya saat sesuatu terasa pada perutnya.


"Sayang jangan nendang-nendang Mama ya. Papa sebentar lagi pulang." Ujarnya seraya mengusap lembut perut buncitnya. 


Kakinya berjalan sedikit menghampiri kursi yang ada di depannya lalu duduk mendaratkan bokongnya di atas kursi itu. 


Usia kandungannya sudah memasuki 8 bulan. Bayinya mulai aktif dan terus berinteraksi. Menendang-nendang perutnya. 


Velove duduk termenung meratapi nasibnya. Saat kandungannya membesar di saat dirinya butuh perhatian dari suaminya namun tidak dengan Rey, yang sering pulang malam dan tidak pernah memperhatikannya sama sekali. 

__ADS_1


Tanpa diinginkan bulir air matanya turun begitu saja dari sudut matanya. 


"Apa ini karmaku?" pikirnya. "Beginikah rasanya dicampak kan dan di acuhkan oleh suami sendiri. Bahkan Rey sama sekali tidak peduli dengan keadaanku yang sedang mengandung anaknya. Tidak seperti awal-awal kehamilan. Rey, begitu senang dan bahagia menyambut kelahiran putranya." 


Memang sikap Rey, berubah setelah tiga bulan lamanya. Mungkin karena Rey tergoda Angela dan membuatnya lupa pada sang istri. 


Velove langsung berdiri dari duduknya, menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Memanggil sang ibu yang sudah terlelap.


"Ma! Mama!" teriaknya namun yang di panggil tidak muncul juga. 


Velove melangkah menuju kamarnya. Mengambil sebuah cardigan lalu dipakainya untuk menghangati tubuhnya. Satu tangannya menyambar sebuah tas yang tergantung pada dinding. Lalu melangkah pergi.


"Ma! Mama!" teriaknya lagi. Namun kali ini membuat Rita terbangun. Rita berjalan keluar sambil mengucek-ngucek matanya. 


"Ada apa malam-malam teriak. Ganggu Mama tidur saja." 


"Ma aku akan pergi jika Rey, pulang beritahu aku." 


"Mau kemana malam-malam begini?" 


"Aku mau mencari Rey, karena Rey, tidak pulang juga." 


Mata Rita membulat sempurna. Rasa kantuknya langsung hilang saat mendengar putrinya akan pergi keluar di waktu malam.


"Untuk apa cari Rey, dia nanti pulang sendiri. Kamu lagi hamil Velove." 


"Velove!" teriaknya. Velove sama sekali tidak mendengarkannya. Dan pergi begitu saja tanpa khawatir akan dirinya. Yang dipikirkannya saat ini adalah Rey, Rey yang belum juga pulang membuatnya khawatir.


"Dasar anak keras kepala," umpat Rita, lalu berbalik menuju arah kamarnya kembali. Mencari ponselnya yang sempat lupa di simpan dimana. Sedetik netranya menangkap satu benda pipih yang tergeletak di samping bantal tidur nya. 


Segera ponsel itu Rita ambil. Lalu menghubungi Rey, dengan ponselnya.


*****


Tok, tok, tok, 


Di sisi lain dengan gaya sempoyongannya, mata teler dalam keadaan mabuk. Tangan Rey, mengetuk-mengetuk pintu. Entah rumah siapa yang dikunjunginya. 


Rey, terus berteriak memukul-mukul pintu itu agar segera di buka.


Tidak berselang lama pintu pun terbuka. Muncullah seorang wanita muda di balik pintu itu. Wanita itu sangat terkejut melihat keadaan Rey seperti itu. 


"Mas Rey!"


Tubuh Rey, langsung terjatuh dalam pelukannya. sesegera mungkin Angela membawa tubuh Rey, masuk ke dalam rumahnya sebelum ada orang yang melihatnya. 


Sesampainya di dalam tubuh Rey, pun ia lempar ke atas ranjangnya. Di bukanya sepatu Rey, satu persatu. Begitu pun dengan jas yang di pakainya. 


"Mas Rey, kenapa mabuk begini sih!" 


Untuk pertama kalinya Angela menghadapi pria mabuk. Bau alkohol yang menyengat membuatnya tidak sanggup dekat-dekat dengan tubuh Rey. 


Namun, tangan Rey terlebih dulu menggapai dan menarik tangannya sebelum dirinya melangkah pergi. 


Tubuh kecilnya seketika terjatuh ke dalam pelukan Rey, dan berada tepat di atas dadanya. 


"Mas! Lepaskan kamu mabuk Mas." 


"Dinda jangan pergi tetaplah di sini." 

__ADS_1


"Dinda!" sedetik tubuh Angela terpaku mendengar Rey, memanggil nama bosnya. Apa mungkin Rey, masih mencintai Dinda. 


"Aku bukan Dinda aku Angela." 


Cemburu dan emosi saat sang kekasih mengingat mantan istrinya. Angela sudah terlanjur mencintai Rey, walau pun tahu Rey, tidak lah sebaik lelaki lain. 


"Dinda!" 


"Mas! Mmm …." 


Belum sempat terbangun bibirnya sudah lahap paksa oleh Rey. Ingin berontak namun tidak bisa. Karena rasa cintalah yang meluluhkannya. 


Kecupan itu semakin memanas. Dengan gerakkan cepat Rey, membalikkan tubuhnya hingga berada di bawah kungkungannya. Tanpa melepaskan pagutan benda kenyalnya. 


Pikiran yang kacau dan hasrat yang tinggi. 


Entah siapa yang ada dalam pikirannya. Apakah Dinda, Velove, atau Angela. 


Suara-suara manja mulai terdengar merdu dan indah saat kedua tangannya mulai bergrliya menelusuri tubuh mulus sang gadis. 


Entah apa yang merasuki pikiran Angel hingga tidak ada rasa takut. Dan pasrah membiarkan Rey, menjelajahi tubuhnya. 


Bahkan dirinya sudah terhanyut dalam belaian. 


Namun keduanya belum mencapai puncak. Dan masih pemanasan. Kedua tubuh mereka masih tertutupi pakaiannya. 


Hingga tangan Rey, hampir saja menyentuh aset terpenting milik gadis itu. Tiba-tiba tangan Angel langsung mendorong dada kekarnya. 


"Mas hentikan!" 


Sontak Rey, langsung terbangun menatap Angel dengan bingung. Sedangkan Angel langsung bangun dan beringsrut sedikit menjauh dari tubuh Rey. Beruntung piyama tidurnya masih dalam keadaan utuh dan menempel pada tubuhnya. Hanya saja bawah piyamanya sudah sedikit terangkat memperlihatkan paha mulusnya. 


"Jangan lakukan itu Mas." Kata Angel sambil menunduk.


Rey, masih tidak mengerti bagaimana bisa dirinya ada di rumah gadis ini. Rey, mencoba mengingat. Satu tangannya ia letakkan di atas kepalanya. 


Bayangan-bayangan sebelumnya mulai muncul. Saat dirinya berada di sebuah club, meminum minuman yang memabukkan hingga berakhir di sini. 


"Maafkan aku," ucapnya pada Angel. Namun Angel masih diam. Mungkin  masih merasa takut karena kesuciannya hampir saja di renggut.


Suara deringan ponsel terdengar nyaring. Rey, mengenal suara itu dan langsung mencari keberadaan ponselnya. 


Tanpa melihat nama yang tertera Rey, langsung menjawab telepon itu.


"Halo?" 


"Rey kamu dimana cepat pulang dan cari istrimu." Bukannya menjawab Rey, malah melihat nama yang tertera pada layar ponselnya terlebih dulu. Dan ternyata Rita lah yang menghubunginya.


"Aku akan segera pulang."


"Pulang-pulang. Gara-gara kamu Velove pergi." 


"Pergi! Pergi kemana?" 


"Mana saya tahu. Pokoknya kamu harus bawa putriku kembali." 


Rita langsung menutup sambungan teleponnya. Rey, masih diam lalu melihat waktu jam yang terpampang pada layar ponselnya.


"23.30. Setengah dua belas malam!" Sontak Rey, terkejut. Malam sudah larut namun Velove berada di luar. Seburuk-buruknya Rey, masih memiliki hati dan rasa cemas pada istrinya apa lagi sedang mengandung. 

__ADS_1


Tanpa pamit Rey, langsung bangun. Mengambil jas dan sepatunya yang sempat terlepas. Saat hendak berdiri dan melangkah pergi Rey, dikejutkan dengan kedatangan seseorang. 


__ADS_2