
Mobil Lamborghini hitam itu melaju pesat di jalanan ibukota. Dengan hanya berbekal ponsel dan dompet Bian berniat mencari keberadaan Lea. Dan akan membayar dengan bayaran yang besar bagi siapapun yang menemukan Lea.
Tujuan pertamanya kali ini adalah kesebuah apartemen elit milik Fahri sekertaris sekaligus sahabatnya. Selain menjadi orang kepercayaan saat bekerja di kantor. Fahri juga sering diandalkannya untuk urusan diluar pekerjaan.
"Hai bos! Lo sudah bebas?" sambut Fahri saat membuka pintu apartemennya.
"Apa kabar?" Fahri memeluk bos sekaligus sahabatnya itu.
"Ayo masuk dulu," ajaknya kemudian.
Fahri mempersilahkan Bian duduk di sofa tamunya. Sementara dia hendak beranjak mengambilkan minuman untuk Bian. Yang segera ditahan oleh Bian.
"Gue nggak butuh minum," ucap Bian.
"Ya sudah. Lo mau apa kemari? Katakan saja mungkin gue bisa membantu," ucap Fahri yang seakan tahu maksud dari sahabatnya itu.
Pastilah ada maksud tertentu Bian datang menemui Fahri sepagi ini. Pasti akan meminta bantuan Fahri. Karena Fahri hafal betul dengan kebiasaan sahabatnya itu. Tidak mungkin Bian datang karena hanya ingin bertemu dengannya tanpa ada maksud tertentu.
__ADS_1
"Gue mau minta tolong lo." Bian mulai membuka suara.
"Gue minta tolong lo suruh orang buat mencari Lea," lanjutnya.
Fahri memainkan alisnya karena belum paham dengan apa yang dikatakan Bian. Dipikirannya hanya menangkap perintah bahwa dia harus mencari Lea. Kenapa harus mencari Lea, pikirnya.
"Lea pergi dari rumah," jelas Bian.
"Hah?" Fahri terkejut dengan penuturan Bian.
"Pantes saja terakhir dia minta gue menghandel semua pekerjaan kantor. Dan waktu gue hubungi dia kemarin ponselnya tidak aktif," ucap Fahri.
Bian menarik napas panjang lalu menghembuskan dengan kasar. Ditatapnya Fahri yang duduk disampingnya. "Mana gue tahu kan gue baru saja bebas."
"Yah pastikan Lea pergi ada alasan bro. Istri Lo itu orang baik. Mana mungkin dia pergi tanpa alasan yang jelas," ucap Fahri.
"Lo pasti buat kesalahan ya sama dia?" tuduh Fahri yaang membuat Bian semakin kesal.
__ADS_1
"Udah cukup! Lo nggak usah menebak-nebak lagi. Yang gue mau lo segera bantu gue cari Lea. Jangan kebanyakan bac0t," tegas Bian yang kembali tersulut emosi.
Fahri memundurkan sedikit posisi duduknya untuk menghindari kemarahan Bian. Diraihnya ponsel yang ada diatas meja. Kemudian dia tampak menuliskan sebuah pesan yang panjang dan kemudian dikirimkan kepada seseorang.
"Gue udah ngirim perintah sama orang suruhan gue buat nyari Lea," ujar Fahri memberitahu.
"Kalau bisa kerahkan banyak orang untuk mencarinya. Gue akan membayar berapapun kalau Lea ditemukan."
"Oke-oke," Fahri kembali membuka ponselnya dan menuliskan pesan tambahan kepada orang suruhannya.
Setelah memastikan pesan terkirim, Fahri beranjak ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk Bian. Agar pikiran dan hatinya bisa sedikit lebih tenang. Disodorkannya botol minuman ke hadapan Bian, "Ini minum dulu biar lo tenang "
Bukannya menerima botol minum pemberian Fahri. Bian justru beranjak dari duduknya dan menuju ke pintu keluar. "Woi, Lo mau kemana?" tanya Fahri.
"Mau cari Lea lah," jawabnya acuh.
"Orang suruhan gue banyak yang sudah mulai mencari keberadaan Lea. Lo duduk aja istirahat dulu," teriak Fahri karena Bian semakin menjauh.
__ADS_1
"Oke setelah lo istirahat. Nanti sore gue bantuin lo nyari Lea," tambahnya namun tetap diacuhkan oleh Bian.
Akhirnya Fahri membiarkan sahabatnya yang keras kepala itu untuk pergi meninggalkan apartemennya. Dia yakin pasti nanti akan balik lagi kemari.