
Danu menutup panggilan teleponnya. Tanpa di sadari Danu kehilangan jejak Syena.
Danu memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Lalu berjalan ke arah kursi yang dimana dirinya menunggu Syena kala itu.
"Syena ayo kita kembali ke kamar Opah."
Danu tertegun. Pikirannya mencoba mengingat dimana terakhir kali melihat bocah kecil itu.
Sepasang netranya menyapu sekeliling taman berharap menemukan sosok yang di harapkan. Sontak matanya membulat sempurna, kepanikan pun terjadi Danu, kebingungan mencari Syena yang memang sudah tidak ada. Hingga berlari menyusuri taman itu.
*****
"Papa!" teriak Syena yang turun dari pangkuan Velove.
Velove berhasil membawa Syena. Namun tidak membohonginya yang berjanji mempertemukan Syena dengan Rey.
Syena berlari ke arah Rey, yang masih tercengang karena kedatangan Syena yang tiba-tiba di kantornya.
"Papa!"
Rey, langsung bangun dari duduknya. Berjalan keluar menghambur tubuh mungil itu.
Sebagai ayah Rey, sangat merindukan putrinya itu. Hingga Rey, tidak melepaskan pelukannya itu.
"Syena, kamu datang dengan siapa?" tanya Rey, setelah melepaskan pelukan Syena.
"Dengan Tante." Tunjuk Syena pada Velove.
"Kamu bertemu dimana dengannya?" tanya Rey, pada Velove.
"Aku bertemunya di rumah sakit. Saat menjenguk papa."
"Jadi Dinda ada disana?"
Velove hanya mengangguk.
"Papa … papa … aku mau telepon mama." Kata Syena yang menggoyang-goyangkan tangan Rey.
"Untuk apa sayang?"
"Nanti mama nangis cari aku Pa. Syena belum izin sama mama."
Mata Rey, langsung melirik ke arah Velove, yang masih berdiri di depan pintu. Velove mendengus kesal. Karena mulut bocah itu tidak bisa diam.
"Kamu membawanya tanpa izin dari Dinda? Kamu tahu apa yang akan Dinda lakukan. Dia akan marah padaku jika tahu dan tidak akan membiarkanku bertemu Syena lagi."
Rey, mengingat sikap Dinda yang selalu melarangnya bertemu Syena. Dan kebencian Dinda padanya.
Rey, memang ingin membawa Syena untuk tinggal bersamanya. Namun itu tidak mungkin. Karena Dinda tidak akan mengizinkan.
Ide buruk sempat terlintas dalam pikirannya untuk merebut Syena dari Dinda namun, jika dipikirkan itu hanya akan membuatnya rugi. Dinda tidak akan percaya lagi padanya.
__ADS_1
Satu tangannya merogoh ponsel miliknya. Berniat untuk menghubungi Dinda. Namun, langkah Velove lebih cepat. Satu tangannya berhasil mengambil ponsel itu dari Rey.
"Kamu mau apa? Mau hubungin Dinda? Untuk apa?" Velove bertanya dengan nada kesal. Kedua tangannya ia lipat'kan di bawah dada dengan ponsel yang masih terus di genggamnya.
"Kamu pikir Dinda akan izinkan! Kamu yang bilang ingin bertemu Syena. Setelah aku capek-capek bawa Syena kesini kamu malah ingin menghubungi Dinda. Yang ada Dinda akan mengambil Syena kembali." Tatapannya mendelik ke arah Syena sejenak.
"Sekarang kamu nikmati hari-hari ini bersama putrimu. Kalian bisa bermain sepuasnya tanpa batas." Velove memberikan ponsel Rey, kembali.
Sedetik tubuhnya berjongkok menyetarakan dengan tubuh mungil itu.
"Syena, jika kamu ingin bilang pada mama. Yang ada mama kamu tidak akan mengizinkan Syena, bermain dengan papa. Syena kangen papa kan? Mau main sama papa?"
Kepala kecil itu langsung mengangguk.
"Sekarang Syena bermainlah bersama papa. Urusan mama biar tante yang urus." Ujar Velove yang kembali berdiri.
"Cepat bawa Syena pergi. Jangan biarkan dia ingat mamanya.",
Rey, langsung memangku Syena lalu pergi dari kantornya.
Velove masih diam. Tidak pergi mengikuti Rey. Namun langkahnya malah terayun ke arah meja Rey, lalu duduk di kursi kebesarannya. Menyimpan tasnya lalu kedua tangannya di biarkan menari-nari di atas keyboard. Dan kedua matanya fokus menatap laptop di depannya.
Entah apa yang sedang dilakukannya.
*****
Di tempat lain Danu masih kebingungan mencari Syena. Sedangkan Dinda, Asih dan Fras masih saling mengobrol. Dan Mereka baru menyadari hilangnya Syena dari pandangan mereka.
"Dinda dimana Syena?" Asih pun baru menyadarinya.
"Mungkin bersama Danu. Biar Dinda cari dulu." Dinda segera pergi keluar untuk mencari Syena.
Sepanjang lorong sudah dia susuri. Namun tidak ada tanda-tanda Syena atau pun Danu. Dinda semakin khawatir lalu menghubungi Danu.
"Kenapa tidak dijawab sih! Sebenarnya kemana mereka." Dinda mematikan ponselnya lalu melanjutkan lagi langkahnya mencari Syena.
Di persimpangan lorong Dinda berpapasan dengan Danu yang tercengang melihatnya. Danu tidak akan bisa lagi menghindar. Terpaksa harus mengatakan yang sebenarnya.
"Pak Danu dimana Syena?"
"Syena tadi bersamaku tapi …."
"Tapi apa pak?"
"Syena hilang Dinda."
"Apa! Kok bisa sih Pak!"
"Maaf Dinda, tadi kami bermain di taman saat itu saya dapat telepon dari perusahaan saya hanya menjawabnya sebentar. Namun setelah saya selesai bicara lewat telepon Syena sudah tidak ada."
Tubuh Dinda mendadak lemas. Kemana Syena, apa terjadi hal buruk padanya? Itulah yang dipikirkan Dinda saat ini.
__ADS_1
"Saya sudah lapor pada pihak rumah sakit dan semua security. Mereka sedang mencari Syena saat ini."
"Iya, jika Syena masih ada di rumah sakit ini. Bagaimana jika ada seseorang yang membawanya?"
Dinda sangat khawatir jika Syena di culik. Dan memang itulah kenyataannya.
"Saya akan pergi ke ruangan CCTV Karena rumah sakit ini di fasilitasi CCTV. Semoga saja ada petunjuk tentang Syena, kemana Syena pergi."
"Aku ikut."
Dinda dan Danu pun langsung pergi ke ruangan itu.
*****
Rey, membawa Syena pergi ke sebuah tamanbermain. Mata belo itu langsung menatap takjub pada setiap wahana yang ada.
Sepasang netranya tidak berhenti memutar, menatap satu persatu permainan dan aneka jajanan yang berjajar.
"Syena senang gak? Mau main apa. Syena bebas main apa saja."
"Itu Pa! Itu." Tunjuk Syena pada satu wahana yang menyerupai mobil.
Memang itu sebuah mobil namun hanya mobil mainan. Yang hanya bisa melaju di tempat itu saja.
Rey, segera membawa Syena kesana. Mendudukkan Syena di samping kursi kemudi yang ia duduki. Perlahan Rey, memutar, mengendalikan mobil itu.
Setelah merasa puas mereka kembali berjalan mengunjungi tempat yang asing namun, banyak hal yang mengejutkan. Manusia berperan bersama hewan.
Sirkus itulah namanya. Hewan dan manusia bekerjasama, kompak dalam menciptakan permainan yang seru.
Syena merasa lelah, lalu mereka istirahat sejenak. Mencari tempat yang nyaman untuk berteduh. Syena terlihat sangat senang bahkan sangat lahap memakan sosis bakar yang baru di belinya.
"Papa ice cream Pa, ice cream." Rengek Syena saat meminta sebuah ice cream. Rey, langsung menurut memangku tubuhnya mendekat ke arah penjual ice cream berada.
"Syena mau ice cream rasa apa?"
"Strowbery," jawabnya.
"Syena tunggu disini ya Jangan kemana-mana. Papa beli ice cream dulu oke."
"Oke Pa."
Syena duduk di sebuah kursi yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan si penjual ice cream.
Melihat antrian yang cukup panjang juga berdesakkan. Rey, lebih baik menunda Syena di tempat duduk sana. Meninggalkannya sebentar untuk membeli icre cream yang diinginkan putrinya.
Syena, menurut dan hanya duduk disana. Menunggu Rey, kembali padanya.
Tiba-tiba datang seorang pria yang duduk di sampingnya. Pria itu memakai celana jeans, jaket hoodie yang kepalannya ditutupi upluk hoodienya.
Orang itu melirik ke arah Syena, bersamaan dengan Syena yang melirik kearahnya lalu tersenyum.
__ADS_1