
Sepanjang perjalanan pulang Rey, terus melamun hingga menyetirpun tidak fokus dan berkali-kali hilang keseimbangan yang hampir membuat mereka celaka.
"Sayang! Kamu tidak lihat ada yang menyebrang!" tegur Velove. Merasa jantungnya hampir saja copot karena Rey, hampir saja menabrak orang.
Orang itupun terlihat marah dan menggedor-gedor kaca mobilnya. Dengan tampang amarah orang itu meluapkan emosinya.
"Bisa nyetir tidak?" bentak orang itu.
"Maaf Pak, maaf." Hanya itu yang Rey, katakan.
Perkataan dokter membuatnya dilema. Di satu sisi Angel menuntut atas pengakuan Rey, segera jika dirinya istri sah Rey yang kedua. Dan di sisi lain Rey, bingung dengan keadaan Velove, yang masih dalam pemulihan.
Penyakit Bipolar yang sangat sulit di sembuhkan. Dan bisa menyebabkan fatal.
"Kamu kenapa sih Mas? Tidak bisakah kamu menyetir dengan benar!"
"Berhenti membentakku. Kamu tidak tahu masalahku." Bukannya meminta maaf Rey, malah menegur balik.
Velove yang di bentakpun tercengang. Rey, tidak peduli dengan Velove. Kedua tangannya kembali memutar bundaran stir bersamaan dengan kedua kaki yang menginjak pedal gas, mobilpun melaju dengan cepat.
Velove, masih diam tidak bersuara. Bentakan Rey, membuat hatinya sakit. Rey terlihat berbeda, emosi dan amarah itu seolah menggambarkan jika Rey, tidak lagi menyayanginya.
Di tempat lain Angel setia menunggu kedatangan suaminya. Sambil menggendong Bian, di ajaknya bermain hingga memasak.
Angel sudah menyiapkan masakan lezat untuk Rey, berharap mereka akan makan berdua, tetapi itu tidak mungkin.
Tidak berselang lama Rey, dan Velove pun datang. Mereka berjalan terpisah, Rey masih terlihat marah dan berlalu masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan Angel, yang menatapnya.
Velove pun sama yang melangkah mendekati Angel, lalu mengambil Bian yang di gendong Angel, dan pergi.
Dari sikap keduanya Angel bisa memastikan jika mereka sedang bertengkar.
"Apa yang terjadi?" batinnya.
Melihat Velove memasuki kamar ibunya. Angel, memilih untuk menyusul Rey ke dalam kamar, tetapi bukan kamar mereka melainkan kamar Velove dan Rey.
Berharap saja semoga Velove tidak melihatnya.
Rey, melemparkan tubuhnya di atas hamparan kasur yang empuk. Kedua matanya di biarkan terpejam.
Suara pintu terdengar, seketika Rey langsung mengerjap melirik ke arah Angel yang berada di depan pintu. Spontan Rey terbangun dan berlari ke arah Angel, menariknya lalu menutup pintu itu dengan rapat.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Rey panik.
"Habisnya kamu tidak melirikku sama sekali," jawab Angel. "Apa kamu dan Velove bertengkar?"
"Aku hanya kesal."
"Kesal?" Tatap Angel, dengan heran.
"Kemarilah." Rey, menuntun Angel untuk duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
Reypun mulai bercerita tentang masalah yang sedang di hadapinya saat ini. Angel tidak bisa mengatakan apa-apa. Namun, sebagai seorang istri Angel tetap menginginkan pengakuan karena tidak ingin terus di anggap wanita penggoda.
Entah cara apa yang akan Angel lakukan, agar Rey, mengakuinya sebagai isteri.
"Masalah ini tidak akan pernah berakhir," ucapnya demikian.
"Kita tidak tahu kapan Velove akan sembuh. Dan aku tidak tahu sampai kapan terus merahasiakan hubungan kita, Jika kamu tidak bisa tegas dalam mengambil sikap, lebih baik aku yang mundur."
"Apa maksudmu?" Rey, langsung emosi.
"Kita cerai."
"Tidak Angel, jangan pernah kamu katakan itu lagi. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan kamu."
"Lalu?"
"Tolong sabar sebentar. Aku juga sedang memikirkan caranya."
"Aku beri kamu waktu satu bulan. Jika selama itu kamu belum mengambil tindakan kita cerai atau aku yang mengatakan semuanya!" tegas Angel.
Rey, diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Lalu kedua tangan itu meraih Angel ke dalam pelukannya.
Sedetik bibir keduanya menyatu, entah sejak kapan. Bahkan mereka melakukan hal yang lebih di kamar itu. Tidak sadarkah mereka itu adalah kamar orang lain yang bisa saja si pemilik kamar tiba-tiba muncul.
****
Tanpa terasa Velove, tertidur di kamar Rita. Saat tengah malam Velove terbangun, di lihatnya Bian yang tertidur pulas membuat Velove tidak tega membangunkannya.
"Apa Rey masih marah? Lama sekali dia di kamar."
Velove melangkah keluar menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sedangkan di dalam kamar Rey, dan Angel, masih tertidur pulas tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.
Sesampainya di depan pintu kamar, tangannya terayun menyentuh knop pintu, tetapi sangat sulit untuk terbuka seolah ada sesuatu yang mengganjalnya.
"Di kunci." Kata Velove, yang terus menarik knop pintu kamar agar terbuka.
"Mas! Mas Rey!"
Rey, yang di panggil tidak menghiraukannya. Mungkin tidak mendengar.
"Mas!"
"Mas Rey buka! Apa kamu masih marah karena hal kecil tadi? Mas tolong buka aku ingin berganti pakaian!"
Velove terus berteriak. Namun, sang pemilik kamar masih adem-ademnya tertidur.
Merasa kesal, akhirnya Velove menggedor-gedor pintu itu sekuat tenaga. Tidak peduli pintu itu akan rusak, ya … mungkin itu yang Velove harapkan.
"Rey!"
Mata Rey, langsung mengerjap saat mendengar suara Velove bersamaan dengan kerasnya ketukan pintu. Rey, diam sejenak sebelum akhirnya terbangun menyadari jika ada Angel di sampingnya.
__ADS_1
Seketika Rey, bingung. Apa yang harus di lakukannya.
Velove tidak menyerah ia pun mencari kunci cadangan yang biasa di simpan di dalam laci-laci. Tidak henti-hentinya Velove mencari.
Rey, masih panik sebelum akhirnya membangunkan Angel.
"Angel! Angel bangunlah." Namun, sayang bukannya terbangun Angel hanya ber-Hm ria.
"Angel cepatlah Velove ada di luar."
"Aduh Mas, aku masih ngantuk." Rey, hanya bisa memutar bola matanya malas. Nafas kasar ia hembuskan dan mencoba kembali membangunkan Angel.
"Angel ayolah."
"Mas Rey buka!" teriakan Velove kembali terdengar Rey, semakin panik.
Di luar sana Velove sedang mencoba memasukan satu persatu kunci cadangan. Berharap menemukan yang cocok, tetapi hasilnya nihil, sudah tiga kunci tidak ada yang bisa membuka pintu kamarnya.
Namun, tidak apa. Masih ada dua kunci lagi yang belum di coba dan kemungkinan masih bisa.
"Awas saja kamu Rey, kamu sudah membentakku dan mengunci kamarku."
Di dalam kamar Rey, bergegas turun dari ranjang, berlari menuju lemari mengambil sebuah kaos untuk di pakainya bersama sebuah celana boxer yang menutupi sebagian tubuh dan golok saktinya.
Dengan rambut berantakan dan penampilan yang begitu kacau Rey, memungut pakaian demi pakaian yang berhamburan di bawah lantai.
Pakaian itu terdiri dari pakaiannya juga pakaian Angel, semua ia bawa dan di lempar ke dalam kamar mandi. Tidak lupa sepatu heels yang tertinggal di bawah ranjang langsung ia tendang ke dalam kolong ranjang yang cukup sempit.
Suara kunci ter-klik membuat Rey, semakin gugup sebab, Angel masih belum terbangun, yang masih berada dalam balik selimut. Terpaksa Rey, membangunkan Angel, membalut tubuh itu seperti mummi.
Angel yang tersadar langsung marah karena merasa sesak pada dadanya.
"Mas apa-apaan sih! Mau bunuh aku ya."
"Ssst … jangan berisik di luar ada Velove."
"Velove?" Mata Angel terbuka dengan lebar. Terkejut juga panik bagaimana jika Velove melihatnya, bisa-bisa dirinya tidak
di izinkan lagi untuk tinggal bersama.
Klek,
Suara kunci terbuka.
"Huh, akhirnya terbuka juga," ucap Velove, dan segera membuka pintu.
...----------------...
Apa yang terjadi nih? Kira-kira ketahuan gak ya?
Ayo ... ada yang tahu?
__ADS_1