
"Apa yang kalian cari?"
Sebuah suara mengejutkan mereka, kecemasan dan ketakutan terlihat pada diri Velove, kecuali Rita yang masih terlihat tenang.
Mereka berdua berbalik bersamaan menghadap arah sumber suara. Sedetik matanya membulat melihat orang yang ada di hadapannya saat ini.
"Danu," lirih Rita dengan ekpresi wajah yang menegang.
"Apa yang kalian cari di dalam brankar itu?" tatap Danu dengan tajam.
"Ini bukan urusan mu. Kamu sudah tidak sopan ya Danu, masuk ke dalam rumah ku tanpa izin."
"Sejak kapan saya harus meminta izin pada anda. Tuan Fras sudah mengizinkan saya untuk masuk ke dalam rumah ini termasuk kamar ini. Kalian kalah cepat dengan saya karena semua dokumen yang kalian ingin kan ada pada saya."
Rita membelalakkan matanya saat Danu menunjukkan beberapa berkas yang dia butuh kan.
"Sial!" gumamnya.
*****
Berbeda dengan susana tegang di kediaman Rita. Asih dan Dinda masih saling diam di depan mobil barunya.
Antara percaya atau tidak jika yang di katakan Asih adalah kebenaran.
"Dinda, ini memang bukan milik kakek mu. Ibu yang membelinya untuk mu. Karena ibu pikir kamu akan membutuhkan nya. Apa lagi kamu akan mulai bekerja di perusahaan tidak mungkin kan kamu menaiki taksi setiap hari. Lagian ini bukan uang ibu tetapi uang pemberian kakek mu."
Masih bisa bernafas dengan lega. Asih masih tetap merahasiakan kebenarannya. Mungkin itu lah yang terbaik. Berharap Dinda akan percaya dengan semua kata-katanya.
"Mama!" teriak kan Syena mengalihkan pandangan mereka. Bocah kecil itu berlari ke arah ibu dan neneknya. Tubuh Dinda langsung berjongkok mengambil Syena pada pangkuannya.
"Mama ini mobil siapa?" tanya Syena yang menunjuk mobil di depannya.
"Mobil Mama," jawab Dinda.
"Wah asyik … Syena punya mobil."
"Syena senang?" tanya Asih sambil mengusap pucuk kepalanya dengan lembut. Syena yang di tanya pun langsung mengangguk.
Kini tatapan Asih beralih pada Dinda, yang sempat mempertanyakan tentang mobil ini.
Mungkin Dinda berpikir jika yang harus di pikirkan nya saat ini bukan lah keinginannya. Melainkan kebahagiaan Syena. Melihat Syena bahagia seperti ini sebaiknya lupakan dari mana dan dari siapa mobil ini.
"Nanti kita jalan-jalan ya. Kita keliling surabaya."
"Asyik!" Syena bersorak ria.
__ADS_1
Asih menatap sendu pada anak dan cucunya. Jika dulu Fras melakukan ini mungkin Dinda akan hidup bahagia. Namun, bukan sepenuhnya salah Fras, dirinya pun salah karena terlalu memikirkan ego nya.
*****
Di malam hari Dinda sibuk merapikan semua pakaian nya mengeluarkan nya dari dalam koper, memasukkan nya ke dalam lemari.
Ya, Dinda memang melakukan nya sendiri karena Karin, Willy, dan Rio sudah kembali ke jakarta.
"Dinda boleh Ibu masuk." Suara Asih terdengar lembut. Dari luar Asih melihat Dinda sedang merapikan pakaiannya.
"Masuk saja Bu," jawab Dinda tanpa menghentikan kegiatan nya.
"Kenapa tidak minta bantuin Ibu. Ibu kan bisa bantu Dinda." Kata Asih, yang langsung mengambil satu buah celana jeans untuk di lipatnya.
"Dinda masih sanggup kok Bu, kerjakan sendiri. Syena sudah tidur Bu?"
"Iya, baru saja. Mungkin lelah."
"Oh ya Dinda, ibu mau tanya?" lanjut Asih yang melirik ke arah Dinda.
"Tanya apa Bu?"
"Apa kamu ada hubungan spesial dengan Willy?" Sedetik tangan Dinda, terhenti bergerak melipat baju-bajunya.
"Ibu tidak akan marah jika kalian memang ada hubungan spesial. Kalian juga sudah pada dewasa kan. Tapi kamu jangan lupa bahwa kamu punya Syena. Jangan hanya karena mencintainya kamu melupakan Syena." Ucap Asih yang menyentuh tangan Dinda.
Siapa pun yang menjadi seorang ibu seperti Asih, pasti ingin yang terbaik untuk putrinya.
Salah kah jika Dinda kembali jatuh cinta dan menginginkan lebih pada lelaki yang di cintai nya. Itu tidak salah namun, bukan hanya masalah hati yang di pikirkan nya saat ini.
Masih ada hati yang lain yang harus di perhatikan.
Sebagai seorang ibu tunggal. Bukan hanya cinta yang di cari nya melainkan sosok ayah untuk anaknya.
Tangan Dinda bergerak memindahkan pakaian yang sudah di lipatnya ke atas ranjang. Sedetik tubuhnya bergeser mendekat ke arah Asih yang duduk di sampingnya.
Di raihnya tangan yang mulai keriput itu, di genggam oleh kedua tangannya. Dinda mengerti apa yang di khawatirkan ibunya saat ini.
Dinda menghela nafas dalam sebelum akhirnya berkata, "Bagaimana menurut pandangan Ibu? Seperti apakah Willy di mata Ibu. Apa Willy lelaki yang baik untuk ku dan bisa menjadi ayah yang baik untuk Syena."
Asih tertegun sesaat. Mengingat kembali pemandangan yang di saksikan nya tadi siang.
"Kebahagiaan, senyuman, itu yang Ibu lihat saat kalian bersama." Ucap Asih yang menatap Dinda dengan lekat.
Sedetik tubuhnya maju, kedua tangannya Dinda rentang kan untuk memeluk Asih. Asih tidak hanya diam. Kedua tangannya terayun membalas pelukan putrinya.
__ADS_1
"Jika itu yang Ibu lihat, itu juga yang Dinda rasakan." Kata Dinda demikian lalu melepas pelukannya.
"Awalnya Dinda tidak pernah menyangka jika akan jatuh cinta kembali. Bayangan masa lalu selalu membuat Dinda takut untuk membuka hati. Rasa sakit hati membuat Dinda trauma dan takut, bahkan Dinda berpikir jika pria mana pun sama saja. Di dunia ini tidak ada lelaki yang setia."
Mata Asih mulai berkaca-kaca mendengar perkataan Dinda. Dulu itu lah yang di rasakan Asih. Sakit hati, trauma, dan takut.
"Namun saat pertama ku bertemu dengan seorang pria. Yang datang bagaikan malaikat. Menolongku dari pria jahat yang akan menodai tubuh ini."
Dinda masih ingat kapan kali pertama bertemu dengan Willy. Saat dimana Rey, datang mengancamnya dan hampir menodainya. Di saat itu lah Willy datang sebagai penyelamat.
"Hingga sekarang pria itu selalu menolong dan membantu ku. Dari menjadi pengacara, orang yang misterius membantu tanpa pamrih. Dan sekarang hatiku berlabuh padanya."
Dinda tertegun sejenak, satu tangannya terangkat untuk menghapus bulir air mata yang hampir terjatuh. Lalu menghela nafasnya panjang.
"Ibu bisa melihat kan bagaimana Willy memperlakukan Syena. Jangan pada Syena, Willy juga menghormatiku sebagai wanita." Ucap Dinda lalu tersenyum pada Asih.
"Dinda yakin Willy laki-laki baik. Semoga saja dia jodoh yang di berikan tuhan untuk ku Bu. Semoga Willy bisa menjadi ayah yang baik untuk Syena."
"Aamiin, semoga ya sayang. Ibu berharap kamu selalu bahagia."
"Jadi ibu memberi restu? "
"Ibu akan selalu mendukungmu sayang jika itu yang terbaik untukmu. Dari awal Ibu memang menyukai Willy, Ibu yakin dia anak baik."
"Terima kasih Bu."
"Sama-sama sayang."
Dinda dan Asih kembali berpelukan. Hanya sejenak lalu kembali melepaskan.
"Ibu jadi menangis seperti ini." keluh Asih yang menyeka air matanya.
"Tangisan kebahagiaan Bu," ucap Dinda.
"Aamiin," timpal Asih.
"Baju sudah di masuk kan ke lemari?"
"Belum, Bu ada beberapa lagi."
"Ya sudah sini biar Ibu bantu."
Mereka berdua kembali melanjutkan kegiatan lipat melipatnya. Sambil mengobrol renyah dan tertawa renyah.
...----------------...
__ADS_1
"Tempat curhat yang ternyaman adalah Ibu
Jadi lah seorang Ibu yang bisa menjadi teman untuk anak-anak mu."