
Siang itu disebuah klinik ibu dan anak "Mommy Care", Lea berniat untuk konsultasi dengan dokter yang telah direkomendasikan oleh Bian. Dia datang sendirian setelah menyelesaikan beberapa urusan di kampus. Jadinya Lea agak terlambat. Yang tadinya rencana konsultasi jam 10.30 WIB, namun pada pukul 11.30 WIB Lea baru saja sampai.
"Aw! Maaf ... maaf ... " ucap Lea kepada seseorang yang ditabraknya.
Lea setengah berlari masuk ke klinik tersebut, karena terburu-buru. Tanpa sengaja saat dia memasukkan kunci mobil ke dalam tasnya, dia menabrak seorang laki-laki. Ketika ditatapnya wajah laki-laki itu Lea terkesiap melihatnya.
"Lho dia?" batin Lea dalam hati.
"Maaf ya," lirih Lea.
Laki-laki tersebut tidak menanggapi kata maaf dari Lea. Justru langsung melenggang pergi begitu saja. Lea merasa heran dengan laki-laki yang dia tabrak itu ternyata teman satu fakultas dengan dia. Lebih tepatnya kakak tingkat yang se-fakultas dengan dia.
Dahulunya Lea sempat kenal dengan laki-laki itu, karena dia berusaha mendekati Lea. Namun Lea tidak suka dan menolak cintanya, dia menjadi menjauh dari Lea. Dan sekarang pura-pura tidak kenal saat bertemu. Ah, dasar laki-laki aneh, dulu deketin sekarang pura-pura gak kenal, pikirnya.
"Eh tetapi kok dia habis dari klinik ibu dan anak?" batinnya lagi sembari memandangi kepergian laki-laki itu sampai dia masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Terus pakai gandengan sama cewek lagi," batinnya lagi.
"Hmm ... mungkin kakaknya, sepupunya, atau ... ibunya?" Lea mencoba berpikir positif.
"Entahlah, bukan urusan gue," Lea berbalik dan masuk ke dalam klinik tersebut.
Keterlambatan yang dibuat Lea berimbas dirinya harus menunggu beberapa menit lagi untuk konsultasi. Karena antriannya sudah dipakai oleh pasien lain. Lea pun duduk di kursi ruang tunggu.
"Apa dia sudah nikah ya?" batin Lea lagi.
"Eh tapi kalau nikah kok nggak ada kabar apapun. Dia kan anak hits di kampus," batinnya lagi.
"Juga nggak mungkin dia bersama sanak keluarganya. Soalnya mesra banget pakai gandengan tangan."
"Mana perempuannya muda juga kayak seumuran dengan dia."
__ADS_1
Masih dengan dugaan-dugaan tersebut, Lea membuka ponselnya. Berniat untuk membuka media sosial milik laki-laki itu. Sudah SCROLL dari atas sampai bawah. Tetapi Lea tidak menemukan satu foto pun pernikahan. Setidaknya satu foto perempuan yang bersama nya tadi. Ah kok nggak ada, pikirnya.
"Nyonya Milea Anindhita Dinata" panggil suster.
Namun, tidak ada sahutan dari Lea yang tampaknya dia sedang melamun.
"Nyonya Milea Anindhita Dinata," panggil suster itu lagi.
Ketika tidak ada sahutan lagi, suster itu mendekati Lea. Dikarenakan Lea cukup terkenal dan terpandang di kota itu. Jadi suster pun tahu jika perempuan yang sedang melamun di ruang tunggu itu adalah Milea Anindhita Dinata.
"Maaf Nyonya Milea. Sekarang giliran anda masuk ke ruang periksa," ucap suster tersebut dengan sopan dan lembut.
"E ... e ... i-iya sus, baiklah," ucapnya gelagapan.
Lea pun segera beranjak dari duduknya dan dituntun menuju ruang yang dimaksud oleh sang suster. Di dalam Lea menjalani konsultasi dan sedikit pemeriksaan untuk mengecek kondisi rahimnya. Setelah dinyatakan bagus oleh dokter, Lea pun memilih jenis KB yang dipesan oleh suaminya. Yang bagus, kualitas baik, aman, nyaman, dan harganya mahal. Maklum saja istri sultan.
__ADS_1