Life After Married

Life After Married
Bab 132- Di Acuhkan


__ADS_3

Dinda menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah. Kakinya langsung turun keluar dari mobil menghampiri Syena yang menunggu di pos security. Raut wajahnya masih menyimpan amarah dan kesal.


"Mama!" teriak Syena yang berlari ke arah Dinda.


"Mama, kok papa gak jemput?"


"Papa tidak bisa sayang, papa sedang sibuk. Maaf Mama telat ya sayang." Kata Dinda seraya memeluk Syena. Dinda pun pamit dan berterima kasih kepada pihak sekolah yang sudah menjaga putrinya.


"Itu Papa Ma!" teriak Syena, yang melihat mobil Willy datang. Dinda hanya meliriknya sekilas.


"Papa." Willy langsung berlari ke arah Syena lalu memeluknya. "Maafkan Papa ya sayang. Karena terlambat."


"Enggak apa-apa kok Pa. Kan Mama juga jemput. Ma, Pa, jalan-jalan dulu yuk." Bagi Syena ini adalah momen langka. Karena kedua orangtuanya menjemputnya bersamaan.


"Tidak sayang kita harus cepat pulang." Tolak Dinda secara halus. Namun tidak dengan Willy yang sangat berharap.


Dinda langsung menarik tangan Syena, begitu pun dengan Willy, yang menarik tangannya. Seolah meminta waktu untuk menjelaskan, namun rasa kesal pada hatinya tidak bisa memberikan waktu itu.


Detik itu juga tangannya langsung dihempaskan. Tanpa pamit Dinda membawa Syena masuk ke dalam mobilnya.


Willy masih diam. Menyadari akan kesalahannya. Namun Willy tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membujuk istrinya itu. Karena kali pertamanya mereka bertengkar.


Dinda terus menyetir mobil dengan tatapan kosongnya. Namun Dinda masih tetap berkosentrasi dalam menyetir.


"Mama papa berantem ya?" perkataan Syena membuat tatapannya teralihkan pada gadis kecil yang duduk di sampingnya. Sedetik kepalanya menggeleng, dan bibirnya tersenyum.


"Tidak sayang. Papa sedang banyak pekerjaan itu sebabnya Mama cepat-cepat membawamu pulang."


"Tapi kok tangan Papa dilepasin Ma."


Dinda tertegun. Tidak menyangka jika Syena memperhatikan sikapnya tadi. Sepertinya Syena sudah mulai mengerti.


"Mama malu sayang, dilihatin orang banyak," ucap Dinda yang memberikan alasan.


"Gak apa-apa Ma. Itu tandanya Papa sayang." Dinda hanya tersenyum satu tangannya mengusap lembut kepala Syena.


Setibanya di rumah Dinda langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Kakinya bergerak turun bersamaan dengan kedua tangan yang membuka pintu.


Setelah itu Dinda berjalan memutari mobil menuju arah Syena berada. Lalu menurunkannya.


"Bik!" panggil Dinda. Tidak lama seorang wanita berpakaian sederhana datang menghampirinya.


"Non Syena sudah pulang. Siapa yang jemput Bu?"


"Saya." Jawab Dinda yang menutup pintu mobilnya. "Bawa Syena ke kamar ya Bik, tolong mandiin sama makan siangnya juga."


"Baik Non." Wanita itu pun menuntun Syena pergi. Dinda masih diam bersandar pada badan mobilnya. Satu tangannya diletakkan pada keningnya membiarkan jari-jarinya memijat keningnya yang berdenyut.

__ADS_1


"Kok aku jadi pusing gini ya?" monolognya. Wajah Dinda saat ini begitu pucat mungkin karena terlalu stres dan banyak pikiran.


Suara deruan mobil terdengar. Membuat Dinda menoleh seketika. Dilihatnya Willy yang turun dari mobil itu membuat Dinda langsung pergi memasuki rumahnya.


Willy yang melihat itu hanya membuang nafasnya berat. Membujuk seorang wanita adalah hal yang paling sulit baginya.


*****


Siang sudah berganti malam. Namun sikap Dinda belum berubah. Masih dingin padanya.


Di dalam kamar Dinda hanya sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Melipat baju, merapihkan buku-buku yang ada di atas meja. Bahkan pekerjaan yang sama sekali tidak penting ia lakukan.


"Dinda!" panggil Willy yang tidak mendapat jawaban.


"Dinda!" bentak Willy yang kesal karena diabaikan. Membuat Dinda terdiam lalu menoleh ke arah suaminya yang duduk di atas ranjang.


"Kamu membentakku Mas." Tatapan Dinda sangat tajam. Willy bangun dari duduknya lalu menghampirinya.


"Maafkan aku. Aku tidak ada maksud untuk membentakmu."


"Jangan sentuh aku." Dinda kembali menghempaskan genggaman Willy pada tangannya.


"Dinda kita perlu bicara aku tidak ingin kamu terus seperti ini."


"Bicara apa? Bukankah setiap hari kita bicara?"


"Jadi namanya Jessi. Harus ya, aku tahu nama dia."


Serba salah. Itu yang dipikirkan Willy saat ini. Masa bodo dengan perkataan Dinda. Yang harus dilakukannya saat ini adalah meluruskan kesalahpahamannya.


Seorang lelaki harus ekstra sabar menghadapi amarah seorang wanita yang sedang dilanda cemburu.


"Terserah kamu mau bilang apa sayang. Yang jelas apa yang kamu lihat tadi pagi itu tidak benar. Aku hanya menolongnya saat akan terjatuh."


"Kenapa tidak membiarkan dia jatuh saja Mas." Kata Dinda dengan tatapan dinginnya.


"Namanya juga refleks sayang."


"Oke. Refleks. Karena terlalu refleks kamu tidak menjawab teleponku Mas dan lupa menjemput Syena. Semua alasanmu tidak masuk akal." Sontak Rey, membelalakkan matanya saat tangannya dihempaskan oleh Dinda.


Dinda langsung melangkah keluar dari kamarnya.


Huh, hembuskan nafas kasar Willy keluarkan bersamaan dengan meraup wajahnya kasar. Willy sudah pusing harus menjelaskannya seperti apa lagi hingga hanya bisa mengacak-acak rambutnya.


*****


Meja Makan

__ADS_1


Dinda terus melayani Syena, menuangkan nasinya, memberikan lauknya, dan juga minuangkan minumnya. Setiap malam sebelum makan selalu Dinda lakukan pada putri dan suaminya. Namun tidak kali ini.


Yang Dinda layani hanyalah Syena dan dirinya.


"Mama piring papa masih kosong," ucap Syena. Dinda hanya melirik piring Willy yang masih kosong. Sedetik tatapannya beralih pada Willy yang tersenyum padanya. Berharap Dinda juga melayaninya.


Namun apa yang Dinda katakan tidak sesuai harapannya. Dengan tatapan dinginnya Dinda berkata, "Kamu bisa sendiri 'kan. Ini lauk, nasi, dan sayurnya tinggal ambil saja semua sudah ada di meja. Jangan manja kamu bukan Syena." Katanya seraya mendelikkan matanya.


Willy hanya mencebikkan bibirnya. Bermusuhan dengan sang istri begitu sangat menyiksanya.


*****


Willy masuk kedalam kamarnya melihat Dinda, yang sudah meringkuk di atas ranjangnya.


Malam sudah larut, sudah waktunya untuk tidur. Willy berjalan menghampiri ranjang. Mematikan lampu kamar yang digantinya dengan lampu tidur. Diangkatnya kedua kaki agar terlentang di atas kasur, selimut mulai ia tarik yang langsung merebahkan tubuhnya.


Tidur merupakan istirahat paling nyaman. Setelah menjalani kegiatan dan aktivitas yang melelahkan. Tubuhnya bergerak meringkuk ke arah samping kanannya, menghadap Dinda yang sudah tertidur membelakanginya.


Tangannya mulai bergerak untuk memeluk tubuh sang istri. Namun, tiba-tiba …


"Jangan peluk Mas, gerah."


Sontak bola matanya membulat sempurna. Tanpa rasa dosa tangan Dinda menepis tangannya yang hendak melingkar di perutnya.


Detik itu juga tubuhnya langsung terbangun. Sampai kapan Dinda akan bersikap seperti ini padanya.


Biasanya Dinda tidak akan tidur jika tidak dipeluk olehnya. Namun untuk malam ini Dinda menolak pelukan hangatnya.


"Aku tidak mengerti harus menjelaskannya seperti apa Dinda. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai."


Setelah mengatakan itu Willy langsung turun dari ranjang. Kaki jenjangnya melangkah keluar dari dalam kamar.


Tanpa Willy tahu, bahwa Dinda sama sekali tidak tertidur. Matanya masih terbuka lebar. Bulir air mata sedetik menetes keluar dari sudut matanya.


Apa Dinda menginginkan ini? Tidak, sama sekali tidak ingin melakukannya. Namun entah kenapa hatinya menolak sentuhan hangat suaminya. Terpaksa Dinda memejamkan matanya.


*****


"Papa." Syena terbangun saat ranjang tidurnya bergoyang. Dilihatnya wajah sang ayah yang meringkuk di sampingnya.


"Papa kok tidur di sini?"


"Papa lagi mau tidur sama putri papa. Sudah, ayo tidur lagi ini sudah malam." Mata belo itu kembali terpejam saat tangan sang ayah memeluknya.


Terpaksa untuk malam ini Willy hanya bisa memeluk Syena, sebagai gantinya.


...*****...

__ADS_1


Yang sabar ya Willy 🤣🤣.


__ADS_2