Life After Married

Life After Married
Bab 102- Tanggapan calon mertua.


__ADS_3

Fras menunduk lesu. Kedua tangannya di biarkan mengusap wajah yang penuh dengan peluh. Air mata tidak dia tahan masa lalu itu sungguh menyakitkan.


"Tapi bagaimana jika ternyata anda tidak bersalah pak?" tanya Danu membuat Fras, menoleh memandang wajahnya.


"Jika anda memang di fitnah."


"Maksudmu apa?" Fras tidak mengerti atau mungkin pikirannya yang sedang kacau saat ini.


"Bagaimana jika Bu Rita membohongi anda, dan kenyataan bahwa Velove bukan lah anak kandung anda."


Fras tertegun, memikirkan perkataan Danu. Mungkin kah Velove bukan anaknya? Apa mungkin dirinya di jebak.


"Kenapa kamu berkata seperti itu Danu?"


"Coba anda pikirkan. Tiba-tiba anda di pukul dan jatuh pingsan. Saat terbangun anda sudah berada di sebuah kamar bersama seorang wanita. Tidak mungkin anda berjalan sendiri kan Pak? Anda pingsan begitu pun dengan Bu Rita. Berarti ada seseorang yang menjebak kalian."


"Jika memang itu benar, tetap tidak ada artinya mengungkap kebeneran saat ini. Aku sudah terlanjur menikahinya dan aku juga sudah bercerai dengan Asih."


"Tapi ada peluang besar untuk anda memulai kembali hidup bersama wanita yang anda cintai."


"Danu, ada apa denganmu? Tiba-tiba kamu bertanya kenapa aku menikahi Rita, lalu kamu bilang bagaimana jika Velove bukan lah anak kandungku. Sekarang kamu bilang ada peluang untuk ku kembali bersama dengan Asih."


"Ya, memang itu lah kenyataan nya Pak. Bahwa Velove bukan lah anak kandung anda. Bu Rita yang mengatakannya "


"Apa! Ri-rita."


"Dia telah membohongi anda. Bahkan dia mengancam akan menendangku jika aku berani mengatakan kebenaran ini pada anda."


"Jadi aku di jebak. Rita sudah …"


"Pak Fras."


Suasana sedih seketika berubah panik. Danu panik yang langsung berlari ke arsh Fras yang kini sedang memegang dadanya. Mungkin sakit jantungnya kembali kambuh.


Aaah …


"Pak! Pak Fras anda masih bisa mendengarku? Pak!"


Dengan cepat Danu menghubungi dokter agar cepat datang. Tubuh Fras Danu pindah kan ke atas sofa yang ia lentangkan. Pintu segera dia kunci takut jika ada seseorang yang masuk. apa lagi jika Rita yang melihat ini sudah pasti wanita itu akan tahu apa yang menyebablkan Fras tergeletak dan jatuh pingsan.


******


Di tempat lain Dinda dan Syena pergi jalan-jalan menikmati harinya penuh suka cita. Hingga saat menjelang sore Willy mengajak Dinda ke suatu tempat.


Sebuah rumah yang cukup besar penuh dengan tanaman bunga. Halaman yang luas dan pagar yang tinggi.


"Kenapa masuk ke rumah ini?" tanya Dinda heran saat mobil Willy masuk ke sebuah rumah.


Belum menjawab pertanyaan Dinda, Willy segera menginjak rem lalu mematikan mesin mobilnya.


"Ini rumah nenek ku kita mampir sebentar." Ujar Willy yang membuka seatbeltnya.


"Kalau begitu aku dan Syena pulang saja."


Entah kenapa Dinda merasakan hal yang lain. Perasaan takut dan ragu menjadi satu. Rasanya belum siap jika harus bertemu dengan keluarga Willy.


"Kenapa pulang? Masuk dulu aku ingin memperkenalkan mu pada nenek. Tenang saja nenek ku baik."

__ADS_1


"Tapi …"


"Nenek!" ucap Willy yang melihat neneknya keluar dari rumahnya.


Willy segera turun dan berlari ke arah neneknya. Meninggalkan Dinda yang masih ragu untuk keluar dari dalam mobil.


"Nenek apa kabar?"


"Siapa kamu?" Nenek itu terlihat membenarkan kaca matanya. "Willy!" teriaknya dengan girang.


"Nah itu nenek ingat. Nanti biar Willy belikan kaca mata lagi yang lebih bagus. Biar nenek tidak salah lihat." Candanya.


"Kau ini selalu saja mengejek ku." Nenek itu memukul bahu kekarnya namun tidak terlalu keras karena itu tidak mungkin, tangan nenek sudah tidak terlalu bertenaga.


"Bersama siapa kamu datang?" tanya Nenek yang membuat Willy kebingingan ternyata Dinda tidak mengikutinya. Dan saat melihat ke belakang ternyata Dinda masih berada di tempat.


Willy hanya geleng-geleng kepala.


"Hei anak siapa ini?"


Sontak Willy menoleh ke arah sang nenek. Matanya terkejut melihat Syena yang sudah menarik-narik tangan neneknya.


"Syena!" Dinda tidak kalah terkejut dan langsung turun dari mobil.


"Willy apa ini cicit nenek? Oh lucunya kapan kamu menikah kenapa nenek rofak tahu."


Nenek itu meraih Syena pada gendongannya.


"Nenek maaf itu anak ku. Syena, sini nak sama Mama." Dinda langsung mengambil Syena dan memangkunya.


Nenek itu terlihat heran karena tidak pernah bertemu Dinda sebelumnya.


"Ini Dinda calon mantu nenek."


"Calon mantu?"


"Dinda Nek, salam kenal." Dinda menjabat tangan nenek lalu mencium punggung tangannya.


Nenek itu masih kebingungan. Calon mantu berarti calon istri. Lalu anak kecil itu siapa?


Willy dan Dinda memasuki rumah neneknya. Mereka duduk di ruang keluarga. Willy menjelaskan tentang hubungannya dengan Dinda dan status Dinda yang sudah pernah menikah bahkan memiliki anak.


Namun sepertinya nenek itu tidak terlalu mempermasalahkan. Karena dirinya terlihat enjoy bermain bersama Syena.


"Adu duh lucunya."


Dinda terlihat tenang saat Syena dan nenek itu begitu akrab. Setidaknya tidak ada lagi ketakutan pada dirinya.


"Willy?" panggil seorang wanita yang membuat mereka menoleh ke sumber suara.


"Mama! Mama ada di sini?" Ternyata itu adalah ibunya. Benar-benar momen yang pas untuk Dinda.


Willy segera beranjal dan bangun dari duduknya menghampiri sang ibu yang masih berdiri.


"Kapan Mama datang?"


"Baru semalam sampai. Siapa ini Wil?" tanya wanita itu.

__ADS_1


Dinda yang sadar akan di tanya langsung bangun lalu membungkuk hormat. Memperkenalkan dirinya pada ibu nya Willy.


"Dinda."


"Mayang," jawabnya. "Tumben kamu bawa cewek Wil."


"Sekalian saja kami pergi jalan-jalan."


"Mayang duduk lah. Ada calon mantu itu harus di sambut."


Mayang hanya tersenyum lalu duduk di samping nenek itu.


Mayang belum menyadari kehadiran Syena. Saat hendak duduk Mayang melirik ke arah neneknya. Yang sedang tertawa bersama.


"Ini siapa?"


"Syena, anak ku tante," jawab Dinda.


"Anak!" Mayang terlihat tidak suka, senyuumnya perlahan memudar.


Di saat sedang berkumpul Willy beranjak pergi karena harus mengangkat telepon. Tinggal lah mereka bertiga di ruangan itu.


"Jadi kamu sudah pernah menikah?" tanya Mayang tanpa melihat ke arah Dinda.


"Iya tante."


"Cerai atau …."


"Kami pisah karena cerai," jawab Dinda yang sudah tahu maksud perkataan Asih.


Tidak mudah menerima seorang wanita yang mempunyai masa lalu. Apa lagi masa lalu itu terus menghantui.


Mayang beranjak dari duduknya pamit untuk pergi ke kamarnya. Saat melewati kamar, Mayang berpapasan dengan Willy yang baru saja mengakhiri obrolannya pada sambungan telepon.


"Willy, Mama mau bicara."


Willy yang hendak melangkah pun terpaksa berhenti dan masuk ke dalam kamar ibunya.


"Ada apa Ma?"


"Siapa Dinda? Apa hubunganmu dengannya?"


"Dia kekasih ku calon istriku."


"Kamu yakin? Dia sudah pernah menikah dan punya anak."


"Lalu dimana masalah nya?" tanya Willy santai.


"Willy, tidak mudah menjalani hubungan dengan seorang wanita yang mempunyai masa lalu."


"Aku tidak mengerti apa maksud Mama."


Mayang membuang nafasnya kasar. Terlihat jelas kekecewaan pada raut wajahnya. Sepertinya Mayang tidak menyukai hubungan ini.


...----------------...


Maaf ya jika ada typo dalam part ini. Author udah ngantuk banget nih mata udah gak mampu melek lagi. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya like, komen, dan Vote nya. 🙏

__ADS_1


Terima kasih sampai jumpa besok.


Udah gak tahan nih pengen bobo 😪😪


__ADS_2