Life After Married

Life After Married
Istirahatlah


__ADS_3

"Sayang mami pasti baik-baik saja," lirih Lea sembari mengelus lengan suaminya itu.


Tatapan mata Bian masih lurus memandang pemandangan di dalam ruang ICU itu. Benar-benar hal yang tidak diinginkan, melihat maminya terbaring lemah dalam ruang ICU seperti saat ini. Selama ini Dwita jarang sekali sakit, sekalinya sakit langsung masuk ruang ICU.


"Sayang yang penting saat ini kita banyak berdoa untuk mama." Lea masih coba menguatkan suaminya. Kini tangan keduanya saling bertautan menggenggam satu sama lain. Seolah saling memberikan kekuatan atas apa yang terjadi saat ini.


Mata Bian dan Lea tidak pernah barang sedetikpun beralih dari Dwita. Hanya memandang Dwita dan berdoa yang dapat mereka lakukan. Berharap Dwita segera melewati masa kritisnya.


Laki-laki paruh baya berbadan tinggi kekar itu sudah kembali berdiri didekat Bian dan Lea. Matanya juga menatap kearah Dwita, binar kesedihan jelas terlihat. Namun sekuat tenaga Pranoto harus bisa terlihat kuat didepan anak-anaknya.


"Pi bagaimana kata dokter?" tanya Bian menatap Pranoto.


Rasanya enggan menjawab pertanyaan dari Bian. Namun tidak mungkin juga Pranoto menyembunyikan ini semua dari anaknya. Karena Bian juga berhak tahu tentang masalah penyakit yang diderita Dwita. Sebelum menjawab, Pranoto menarik napasnya dalam kemudian menghembuskan dengan kasar.


"Mami kamu mengalami serangan jantung," ucap Pranoto pelan. Bahkan hampir tak terdengar, jika saja Bian dan Lea memperhatikan gerak mulutnya.

__ADS_1


Penyataan Pranoto yang singkat dan padat itu membuat pasangan suami istri didepannya terperangah. Seolah tidak percaya akan pernyataan tersebut. Pasalnya selain tidak ada riwayat penyakit jantung. Dwita juga rutin mengikuti senam, menjaga pola makan diet, dan sekali cek up kesehatannya.


"Serangan jantung?" ucap Bian dan Lea bersamaan dengan saling bertatapan. Kemudian keduanya kembali menatap Pranoto seolah meminta penjelasan lebih detail. Sementara Pranoto hanya menjawabnya dengan anggukan kepala yang mantap.


"Lalu kapan mami akan sadar Pi?" tanya Bian.


"Dokter belum bisa memprediksi," jawab Pranoto.


"Masa tidak bisa diprediksi sih Pi? Ini rumah sakit internasional terbaik dan termahal lho," protes Bian.


Bersamaan dengan obrolan saat itu berlangsung. Seorang perawat dari dalam ruang ICU dengan sopan memberikan kode dan meminta izin untuk menutup korden penutup jendela ruang ICU. Itu artinya saat ini waktunya untuk istirahat.


"Papi ... sayang ... sebaiknya kita kembali ke ruang tunggu yuk," ajak Lea.


"Sudah waktunya istirahat," lanjutnya.

__ADS_1


Dua lelaki kekar itu masih mematung ditempatnya masing-masing. Meskipun korden telah ditutup dan tidak bisa melihat Dwita yang sedang di dalam. Keduanya mengangguk lemah mendengar ajakan Lea.


Dengan langkah gontai, mereka bertiga melangkah ke ruang tunggu VIP. Sebuah ruangan mewah yang terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan toilet. Ruangan yang akan menjadi tempat singgah selama menunggu hingga Dwita sadar.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Suasana rumah sakit sudah semakin sunyi. Tidak ada lagi penunggu pasien lainnya yang berpapasan saat ketiga orang itu berjalan menuju ruang tunggu VIP.


Sesampainya di dalam ruang tunggu VIP. Bian langsung menghempaskan tubuhnya secara kasar di sofa. Memijit pangkat hidungnya dengan ritme cepat. Sungguh rasanya pening sekali dengan keadaan saat ini.


"Sayang sebaiknya kita istirahat dulu," ucap Lea mengelus dahi suaminya.


Bian menurut, keduanya membersihkan diri dan kemudian istirahat.


Lalu bagaimana dengan liburan/ honeymoon ke Maldives? 😭😭😭


Pengen banget dikomen sama pembaca. Bingung deh sebenarnya novelku ini ada yang baca enggak sih. Heheh

__ADS_1


__ADS_2