Life After Married

Life After Married
Bab 168- Konsultasi


__ADS_3

Sebuah benda bergerak-gerak di atas permukaan kulit yang buncit. Pada sebuah layar monitor terlukis sebuah gambar menyerupai bentuk wajah hanya saja tidak begitu jelas.


Ternyata itu adalah video USG seorang bayi yang berada dalam perut seorang wanita, Dinda yang tengah berbaring di atas ranjang pasien. 


Netranya terus menatap layar monitor di samping kepalanya, sesekali bibirnya tersenyum melihat perkembangan bayinya. 


Sang dokter pun menjelaskan, jika bayinya sangat sehat. Namun saat akan mengatakan jenis kelamin bayi itu Dinda, menolak. Biarkan itu menjadi kejutan untuknya nanti. 


"Bayinya sehat ya Bu Dinda, pokoknya jangan terlalu stres dan makan-makanan yang enak-enak dan bergizi. Bu Dinda yakin tidak ingin tahu jenis kelaminnya?" 


"Biarkan itu menjadi kejutan Dok," 


"Oh, begitu. Biar suprise ya Bu." Kata Dokter itu yang tersenyum, Dinda hanya mengangguk. 


"Suaminya tidak ikut Bu?" 


"Biasalah Dok, pekerjaan. Tadi bilangnya mau ngantar tapi sampai sekarang belum sampai. Dokter tidak tahu saja laki-laki." Dokter itu lagi-lagi tersenyum.


Di angkatnya sebuah alat yang menempel pada perut Dinda, kain sipon yang menutup tubuhnya pun di tarik, untuk menutupi perutnya. 


Dengan perlahan tubuh Dinda terbangun, lalu duduk sejenak untuk merapikan pakaiannya. Perlahan kedua kakinya di turunkan lalu melangkah menuju meja dokter dan duduk di kursi yang sudah tersedia. 


Mereka kembali berbincang sekaligus konsultasi. Di tengah-tengah pembicaraan tiba-tiba sebuah deringan ponsel terdengar. Dinda, membuka tasnya mengambil sebuah benda pipi yang mengganggu pembicaraannya bersama dokter. 


Di tatapnya sebuah nama yang tertera pada layar bening berwarna. Sedetik Dinda meminta izin untuk menjawabnya dulu, sang dokter pun mengangguk, dengan segera layar datar itu ia sentuh, di dekatkannya pada daun telinga. 


"Halo Mas," ucapnya pada seseorang di sebrang sana. Dari kata sapaan yang Dinda ucapkan, sudah pasti yang menghubunginya adalah Willy. 


"Sayang, kamu sudah sampai di rumah sakit? Aku baru saja sampai. Maaf aku terlambat." Terdengar nafas yang tersengal-sengal, sepertinya Willy tengah berlari atau memang sedang terburu-buru. 


Dinda hanya menghela nafasnya panjang. Lalu berkata, "Tunggu saja di depan. Aku sudah selesai, sebentar lagi aku keluar," ujarnya. 


Sedetik langkah Willy, terhenti antara lanjut atau berbalik sebab, langkahnya sudah sampai di dalam lorong rumah sakit yang entah masih jauh atau sudah dekat dengan ruangan dokter kandungan. 


"Ya sudah aku tunggu di sini, jangan matikan teleponnya." Akhirnya Willy memutuskan untuk menunggu saja.


"Kenapa? Kamu tinggal bilang saja di mana nanti aku ke sana." 


"Tidak-tidak, pokoknya tidak boleh di matikan. Aku menunggu di dekat apotek." 


"Hm … baiklah." 


Dinda, menurunkan ponselnya sejenak. Lalu pamit pada dokter yang sudah memeriksa kandungannya.


"Dokter, maaf ya saya harus segera pergi. Suami saya menunggu di luar. Terimakasih Dokter." 


"Sama-sama Bu Dinda, sehat terus ya ibu dan janinnya." 


Mereka berdiri bersamaan, Dokter hanya mengantarkan Dinda hingga pintu, setelahnya Dinda melangkah sendiri di temani suara Willy di ujung sana. 


Benda pipih itu ia dekatkan kembali pada telinga kanannya. 

__ADS_1


"Halo sayang?" 


"Hm … aku di sini Mas, kenapa?" 


"Bagaimana keadaan bayi kita?" 


"Sehat." 


"Hanya itu?" 


"Apa lagi?" 


"Ish … aku menyesal karena terlambat. Seharusnya aku bisa melihat wajah bayi kita." 


"Belum jelas Mas." 


"Lalu bagaimana dengan jenis kelaminnya? Apa terlihat?" Willy begitu antusias dan tidak sabar ingin tahu apa jenis kelamin anaknya. 


"Terlihat. Kamu mau tahu Mas?" 


Willy tersenyum, tidak peduli dengan semua orang yang berlalu-lalang melihat tingkahnya yang sangat aneh. 


"Apa? Aku ingin tahu sayang." 


"Hm … rahasia." 


"Rahasia?" 


Baru saja senyumnya mengembang, ternyata jawaban Dinda, tidak sesuai keinginannya. Malah membuatnya jadi penasaran. 


Namun, Willy hanya bisa membuang nafas kasar. Tidak ada salahnya jika itu akan menjadi surprise nanti. 


"Jangan cemberut," ucapan Dinda membuatnya berbalik. Ternyata Dinda, sudah berada di belakangnya. 


Tatapan Willy seperti orang bingung lalu, menurunkan ponselnya memindahkan ke dalam saku celananya. 


"Aku ingin kita berdua yang melihat sama-sama, makanya lain kali jangan terlambat lagi," kesal Dinda, dengan bibir mencebik.


Willy, tersenyum manis lalu melangkah mendekati Dinda, dan memeluknya. 


"Maaf ya. Janji, nanti tidak akan terlambat lagi." 


"Janji-janji." 


"Ya bagaimana lagi, sidangnya selesai di luar dugaan." 


"Iya-iya. Sekarang kita jemput Syena, setelah itu kita ke rumah Karin, aku ingin lihat persiapan pernikahan mereka." 


"Baik Nyonya, ayo." 


Willy menyimpan tangan kanannya di atas pinggang, melengkung menyerupai huruf D, Dinda yang terkekeh langsung melingkarkan tangannya, mereka pun melangkah bersamaan berjalan bak seorang ratu dan raja. 

__ADS_1


Saat tiba di lobby, tidak sengaja mata Dinda, menangkap satu sosok yang ia kenal. Sepasang pasutri yang menunggu di depan meja resepsionis. Membuat langkahnya terhenti. 


"Kamu kenapa sayang?" tanya Willy mengejutkannya.


"Tidak ada apa-apa, hanya kaki terasa pegal," ujarnya memberi alasan. Namun, Willy menganggapnya dengan serius. 


"Kita duduk dulu di sana." 


Willy membawa Dinda duduk di antara para pasien yang menunggu. Dengan sabar dan lembut Willy memijat-mijat kedua kaki Dinda bergantian. 


Tiba-tiba suara spiker membuat Dinda menoleh, pada seorang wanita dan pria yang bangun dari duduknya. Mereka berdua mengambil kartu pendaftaran, lalu di tunjukan oleh seorang perawat menuju ruangan dokter spesialis. 


"Dokter psikiater dan kejiwaan? Siapa yang gila?" batin Dinda. 


"Sayang?" 


"Iya Mas?" 


"Apa sudah enakan? Tidak pegal lagi?" 


"Tidak, kita lanjut lagi saja yuk Mas, takut Syena menunggu." 


"Iya." 


Willy menuntun Dinda, berjalan keluar dari rumah sakit. 


*****


"Sayang kenapa aku harus berobat? Aku 'kan tidak sakit." Velove menolak untuk masuk ke ruangan psikiater. 


"Sayang, kamu enggak sakit kok. Hanya saja kamu sering kelelahan dan pikiran kamu juga jadi stres, kita berobat ya," bujuk Rey, akhirnya Velove, pun mau. 


Sesampainya di dalam mereka duduk berdampingan, di depan seorang dokter. Dokter menyarankan agar Velove berbaring di kursi khusus. 


Berbagai pengobatan Velove lakukan, di antaranya psikoterapi dokter pun melakukan berbagai terapi untuk kesembuhan pasiennya. 


Velove, masih berbaring dengan kedua mata terpejam. Fungsinya untuk merilekskan pikirannya, supaya tenang. 


Selagi menunggu Rey, bertanya tentang perkembangan kesehatan Velove, pada dokter. Termasuk menanyakan tentang kehidupan rumah tangganya. Apa yang akan terjadi pada Velove, jika tahu bahwa dirinya memiliki istri selain dia. 


"Bagaimana keadaan ya Dok? Apa bisa lebih cepat untuk sembuh?" 


"Kita lihat dulu perkembangan mentalnya. Mungkin Bu Velove terlihat baik-baik saja, tetapi tidak dengan pikirannya. Yang terpenting dukungan keluarga untuk tetap berada di sampingnya, dan buat suasana hatinya bahagia." 


"Tapi Dok, bagaimana jika Velove tahu tentang kebenaran yang selama ini saya sembunyikan. Saya terpaksa berbohong demi kesembuhannya, tetapi bagaimana jika kebenaran itu terungkap? Pada akan terjadi hal fatal?" 


Dokter itu menatap Rey, dengan datar. 


"Velove hampir saja membunuh bayinya. Itu artinya penyakit Bipolar yang di deritanya sudah sangat parah. Boleh saja anda mengatakan kebenaran itu, tetapi jika dia tidak menerima akan sangat sulit … yang ada penyakit mentalnya semakin parah. Jika itu menyakiti hatinya, yang tidak bisa di relakan. Bisa saja mentalnya akan tergoncang berpikir jika tidak ada yang menyayanginya lagi, kemungkin terburuknya dia bisa saja bunuh diri untuk menghakhiri hidupnya." 


Sedetik tatapan Rey, beralih pada Velove yang tengah berbaring. Tidak adakah jalan yang lain? Sampai kapan akan terus seperti ini. Mungkin dirinya bisa saja diam, tetapi bagaimana jika Velove, tahu dengan sendirinya. 

__ADS_1


__ADS_2